Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Kerja Bu 22: Juru Damai Asing


__ADS_3

*Keris Pemuja Bulan (Kerja Bu)* 


 


“Hahahak …! Ayo keluar!”


Selain tertawa, kali ini suara wanita itu memberi perintah kepada seseorang. Namun, mereka yang sedang tegang dalam permusuhan di halaman, juga tidak tahu siapa yang disuruh keluar.


“Jono, coba lihat siapa perempuan di dalam rumah!” perintah Nyai Kandi kepada centeng yang sejak tadi bersiaga di dekatnya.


“A-a-aku takut, Gusti,” bantah Bang Jono.


“Berhenti jadi laki-laki jika kau takut!” bentak Nyai Kandi kesal.


“Hahaha! Orang-orang bertarung sampai mati di luar, kau justru makan pisang di kolong ranjang!” kata wanita di dalam rumah dengan jelas terdengar hingga ke luar, seolah sengaja mengeraskan kata-katanya agar terdengar oleh semua orang.


Pada akhirnya, tiba-tiba seorang wanita muncul keluar sambil berlari terbungkuk, seperti usai didorong punggungnya dengan kencang. Wanita itu berakhir dengan jatuh terlutut di teras. Wanita yang keluar dan jatuh itu tidak lain adalah Lestari, pelayan perempuan Keluarga Raden Gondo Sego.


Namun, kemudian tanda tanya mereka terjawab, sebab setelah Lestari keluar, keluar pula sosok wanita cantik jelita dan masih terlihat belia. Ia mengenakan pakaian serba hitam dan berjubah hitam tebal. Rambut hitamnya terurai lurus hingga ke pinggang.


Sosok Alma Fatara yang muncul dari dalam kegelapan ruang rumah, sempat mengejutkan semua orang, karena dugaan otak mereka lebih dulu menghayalkan dedemit perempuan. Namun kemudian, pandangan mereka semua memastikan diri mereka bahwa perempuan hitam itu adalah wanita manusia, bukan wanita dedemit.


“Bola Hitam!” sebut tiga orang secara bersamaan saat melihat kemunculan Alma. Mereka adalah Raden Runok Ulung, Raden Gondo Sego dan Rawe Sego.


“Gadis itu lagi!” desis Narisantai yang mengenali wanita yang gagal dikejarnya beberapa waktu lalu. Dia bisa merasakan aura Bola Hitam, tetapi ia tidak kenal dengan Bola Hitam.


“Semua orang sedang asik-asik bertaruh nyawa demi kehormatan, eh, dia malah makan pisang di kolong ranjang!” kata Alma Fatara mengomeli Lestari.


“Jadi wanita itu adalah orang suruhanmu, Gondo Sego!” teriak Raden Runok Ulung menuding.


“Nisanak! Siapa kau?” seru Raden Gondo Sego. Ia tidak peduli dengan ocehan Alma atau apa yang diperbuat oleh Lestari, atau tudingan musuhnya.


“Aku Alma Fatara, Kek,” jawab Alma Fatara sambil tersenyum manis.

__ADS_1


Ia lalu berjalan melewati Lestari dan mendekati Raden Gondo Sego.


“Kenapa Kakek duduk di tanah?” tanya Alma sambil mengulurkan tangan kepada Raden Gondo Sego.


Dekatnya posisi Alma membuat Raden Gondo Sego begitu jelas merasakan aura kesaktian Bola Hitam yang tersimpan di balik pakaian Alma. Ingin rasanya saat itu juga Raden Gondo Sego merebut Bola Hitam, tetapi ia bingung caranya, terlebih ia terluka parah dan sulit berdiri.


Namun, Raden Gondo Sego ternyata menyambut tangan Alma Fatara dan berusaha untuk berdiri. Melihat hal itu, Nyai Kandi dan dua orang centeng segera datang membantu Raden Gondo Sego.


“Kakek disingkirkan dulu. Aih salah kata. Hahaha! Maksudku tepikan dulu!” kata Alma seperti pelawak dan tertawa, tanpa sungkan menunjukkan gusi ompongnya.


Dua centeng memapah Raden Gondo Sego pergi duduk ke sebuah kursi di teras rumah di sisi ambang pintu.


“Aaah, Kakak Cantik, bertemu lagi!” sapa Alma kepada Narisantai. Ia lalu menunjuk Suriga dan menyapanya juga, “Eeeh, Pemuda Tidak Sopan! Sepertinya kau tidak baik-baik saja. Apakah karena jatuh dari kuda?”


“Kau bawa ke mana adikku, Alma?” tanya Narisantai.


“Oh Kang Rawil maksud Kakak?” tanya Alma santai di tengah ketegangan yang masih diidap oleh dua keluarga raden itu.


“Iya. Apa yang kau perbuat terhadapnya?” tanya Narisantai.


“Apa?!” pekik anggota Keluarga Raden Runok Ulung dan Raden Gondo Sego terkejut.


“Apa yang kau lakukan kepada mereka berdua, Alma?!” tanya Narisantai dengan membentak.


“Aku dan sahabat-sahabatku ingin menyelamatkan mereka berdua dari kekejaman permusuhan kalian dan menyelamatkan cinta mereka,” jawab Alma dengan enteng.


“Kau pikir siapa dirimu?!” bentak Raden Gondo Sego.


“Kakek mempertanyakan diriku siapa, tapi Kakek tertarik dengan Bola Hitam milikku. Hahaha!” kata Alma lalu tertawa santai, membuat orang tua itu kian mendelik karena gadis itu mengetahui niatan tersembunyinya.


“Nisanak Cantik!” sebut Rawe Sego.


“Iya, Kek?” sahut Alma sambil menengok kepada Rawe Sego yang sudah menyimpan dua kujang merahnya kembali.

__ADS_1


“Namamu Alma, tetapi kami tidak satu pun yang mengenalmu. Siapa kau sebenarnya?” tanya Rawe Sego.


“Aku hanya seorang pengembara yang saat ini lewat di kademangan ini. Aku tidak bisa berdiam diri melihat betapa buruknya nasib Kakang Rawil dan Kakak Wangiwulan. Jadi aku memutuskan untuk membantu keduanya untuk selamat dari kekejaman permusuhan kalian,” jawab Alma Fatara.


“Lalu untuk apa kau datang ke mari?” tanya Rawe Sego.


“Aku tadi mendengar bahwa Raden Runok Ulung datang menyerang ke sini. Aku merasa yakin bahwa aku tahu apa alasan Kakek datang menyerang ke mari, yaitu karena salah satu cucumu yang lelaki tewas dibunuh,” kata Alma kepada Raden Runok Ulung. “Jadi aku datang untuk mencegah pertumpahan nyawa.”


“Apa? Jadi kau tahu siapa yang membunuh adikku?” tanya Narisantai.


“Aku tidak kenal wanita itu, tetapi aku tahu ciri-cirinya,” jawab Alma.


Tiba-tiba seekor kuda datang berlari masuk ke dalam halaman. Penunggangnya tidak lain adalah Ragabidak yang bertelanjang dada, tidak mengenakan baju, tetapi masih mengenakan celana. Ragabidak menghentikan kudanya sambil melihat situasi di halaman rumahnya.


Melihat ada musuh di dalam halaman rumahnya, Ragabidak cepat melompat ke sisi pamannya.


Alma Fatara hanya tersenyum kecil melihat Ragabidak baru tiba, padahal ia dan Ragabidak meninggalkan Mata Air Pahit pada waktu yang bersamaan. Namun, kecepatan lari Alma Fatara jauh lebih cepat dibandingkan lari kuda Ragabidak. Karena itulah Alma bisa tiba lebih dulu, meski tanpa mengendarai kuda atau kambing.


“Paman, apakah keluarga kita ada yang mati?” tanya Ragabidak.


“Belum. Ayahmu terluka parah,” jawab Rawe Sego.


Mendengar itu, Ragabidak cepat pergi menemui ayahnya di teras.


“Sebutkanlah ciri-ciri wanita itu, agar Raden Runok Ulung tidak berbuat sembarangan lagi,” kata Rawe Sego.


“Pembunuh Kakang Tongkat Biru adalah seorang wanita berusia kisaran lima puluh tahun, berambut sebahu dan berpakaian kuning. Dia membunuh dengan jari-jari tangannya yang menusuk Kakang Tongkat Biru,” jelas Alma.


Mendengar jawaban Alma Fatara, mereka semua saling pandang. Ternyata mereka tidak ada yang pernah melihat wanita berciri-ciri seperti yang digambarkan Alma.


“Wah, jika kalian tidak ada yang mengenalnya, berarti Kakang Tongkat Biru dibunuh oleh wanita asing,” kata Alma. “Oh ya, kesaktiannya cukup tinggi, mungkin setingkat kalian. Sebab dia juga bisa merasakan Bola Hitam milikku saat aku mengikutinya ke dalam perkebunan di sisi utara Kademangan.”


Raden Runok Ulung, Raden Gondo Sego dan yang lainnya masih terdiam, tanda mereka belum mengenali wanita yang digambarkan oleh Alma.

__ADS_1


“Oh iya!” pekik Alma tiba-tiba. “Aku sempat mendengar teman lelakinya yang lebih sakti, memanggilnya Luwing. Eh bukan, tapi Kluwing!”


“Kluwing!” sebut Raden Runok Ulung, Raden Gondo Sego, Nyai Kandi, dan Rawe Sego bersamaan. (RH)


__ADS_2