
*Dendam Wanita Gila (Dewa Gi)*
Sebagai Kepala Penjaga Lantai Tiga, Kawal Rindu wajib tahu semua sistem keamanan di lantai tiga, yang merupakan tempat persemayaman Ketua Perguruan Bulan Emas, termasuk sistem keamanan rahasia di dua kamar pribadi Wulan Kencana.
Karena Ratu Siluman Alma Fatara telah menjadi pemimpin tertinggi di perguruan itu, tidak ada tempat peristirahatan yang layak baginya, kecuali kamar pribadi peninggalan Wulan Kencana.
Wulan Kencana memiliki dua kamar, yaitu kamar pribadi untuk tidur, makan, cuci, mandi, kakus, dan kamar depan yang berfungsi untuk menemui para murid dan petinggi perguruan yang datang menghadap.
Selain dijaga oleh murid-murid utama wanita, kedua kamar itu juga memiliki sistem keamanan berupa senjata rahasia yanga terpendam di lantai, dinding hingga langit-langit kamar. Senjata rahasia di kamar pribadi lebih banyak daripada yang ada di kamar depan.
Kawal Rindu menjelaskan dengan rinci semua sistem keamanan rahasia yang ada. Jika Alma Fatara ingin menempati dua kamar itu, mau tidak mau dia harus menghindari menyentuh atau menginjak beberapa benda atau titik.
Greg!
Satu petak lantai yang sengaja diinjak oleh Alma tiba-tiba bergerak masuk ke dalam sejauh beberapa jari saja, padahal tadi Kawal Rindu sudah mengingatkan agar tidak menginjaknya.
Set set!
Tiba-tiba dari dalam dinding di sisi belakang mereka melesat dua anak panah kecil. Kawal Rindu langsung melompat bersalto di udara menghindari serangan. Sementara sang ratu tidak bergerak menghindar sedikit pun. Namun, tahu-tahu kedua anak panah kecil itu sudah terhenti di udara, tepat di belakang punggung. Kedua anak panah itu telah ditangkap oleh kedua ujung Benang Darah Dewa yang keluar dari balik jubah Alma Fatara.
“Aku hanya ingin mencoba,” kata Alma Fatara kepada Kawal Rindu.
“Iya, Gusti Ratu,” ucap Kawal Rindu. “Untuk kamar ini, ada dua murid yang menjadi pelayan setia. Mereka akan bertugas menyiapkan segala keperluan yang Gusti Ratu perlukan di dalam kamar.”
“Tidak perlu. Aku sudah besar, bisa mengurus diriku sendiri. Lebih baik tempatkan mereka di tugas yang lain,” kata Alma Fatara.
“Baik, Gusti Ratu,” ucap Kawal Rindu patuh.
“Tolong Bibi Kawal Rindu pergi memanggil Kakek Rereng Busa dan Nenek Balito Duo Lido untuk datang ke kamar depan,” kata Alma.
“Baik, Gusti Ratu. Tapi, apakah Gusti Ratu sudah mengingat semua pantangan yang tadi hamba sebutkan semua?” kata Kawal Rindu.
“Hahaha! Sejak kecil aku adalah anak yang cerdas. Aku sudah menghapalnya semua,” tandas Alma yang didahului dengan tawanya.
Kawal Rindu ikut tertawa, tapi kecil. Ia lalu menjura hormat dan berbalik pergi.
Sepeninggal Kawal Rindu, Alma Fatara kembali berjalan-jalan di kamar megah yang luas itu. Di kamar itu ada ranjang megah berkelambu berwarna serba jingga, ada meja rias lengkap dengan pupur, gincu dan cermin meja yang agak kusam berbingkai emas. Ada pula sebuah rak yang berisi beberapa kitab berbentuk buku dan gulungan, serta beberapa senjata. Bagian sisi depan kamar adalah lantai yang lebar dan kosong, bisa digunakan untuk berlatih. Ada pula meja dan kursi berukir untuk makan, serta kamar mandi yang besar lengkap dengan kolam kecil untuk berendam.
Setelah puas melihat barang-barang milik Wulan Kencana, Alma Fatara lalu melakukan pelanggaran terhadap semua larangan di kamar itu.
Set set set …!
__ADS_1
Teb teb teb …!
Anak panah, pisau terbang hingga piringan logam dari berbagai arah berlesatan menyerang Alma bersusul-susulan. Dengan tangkas dan gesit Alma menghindari semua serangan senjata itu. Senjata-senjata itu bertancapan di bagian-bagian kamar hingga memecahkan porselen keramik hias.
Kegaduhan yang terjadi di dalam kamar itu mengejutkan para penjaga di kamar depan karena mereka mendengar apa yang terjadi.
Empat murid wanita yang duduk bersila di depan ruang bertirai jingga segera bangkit dan berlari ke kamar dalam.
“Gusti Ratu!” sebut mereka saat masuk ke kamar yang pintunya memang tidak dikunci. Namun kemudian, mereka hanya bisa terdiam melihat apa yang terjadi.
“Hahaha …!” tawa terbahak Alma Fatara melihat kedatangan keempat murid tersebut.
Mereka hanya terkejut menyaksikan keadaan kamar yang berantakan. Senjata rahasia berupa anak panah, pisau terbang hingga piringan terbang bertancapan di mana-mana.
“Kembalilah, aku hanya mencoba semua senjata rahasia yang ada!” perintah Alma Fatara sambil tersenyum. “Aku ingin mandi sejenak. Jika kedua tetua telah datang, minta agar menunggu sejenak!”
“Baik, Gusti Ratu!”
Keempat murid itu lalu menjura hormat dan balik kanan.
Di sinilah untuk pertama kalinya Alma bermanja ria dengan fasilitas mandi yang terbilang mewah pada masa itu.
“Hahaha!” Sesekali ia tertawa sendiri menikmati kenyamanan yang tidak bisa ia temukan saat mandi di laut atau di sungai.
Kali ini Alma Fatara tidak tampil dengan pakaian khasnya yang berwarna serba hitam, tetapi ia mengenakan pakaian warna serba jingga milik Wulan Kencana. Pakaiaannya bermodel jubah pula dengan baju lebih bermotif indah dengan sulaman berwarna senada. Alma tetap membiarkan rambutnya terurai lurus dengan satu belahan jalan tol kutu di tengah kepalanya. Wajahnya begitu bercahaya di ruangan yang terangnya temaram oleh dian-dian hias di beberapa sudut ruangan.
“Hahaha…! Maafkan aku, Tetua. Aku tertarik merasakan kenyamanan hidup Wulan Kencana, jadi kalian harus menunggu agak lama,” kilah Alma Fatara yang didahului dengan tawa khasnya.
“Hihihi! Kau harum sekali,” kata Balito Duo Lido.
“Sepertinya ini pertanda bahwa dia mulai mencoba memikat lawan jenis,” celetuk Rereng Busa.
“Hahahak …!” tawa terbahak Alma mendengar perkataan Rereng Busa.
Alma lalu duduk di atas bantalan yang dia posisikan di depan kedua tetua itu. Ia tidak tertarik untuk duduk di dalam kotak tirai jingga, yang biasa digunakan oleh Wulan Kencana.
“Aku ingin menagih cerita darimu, Kek,” ujar Alma Fatara.
“Baik, baik, baik,” ucap Rereng Busa manggut-manggut. Ia lalu langsung mulai bercerita, “Awalnya, Suraya Kencani berkesaktian lebih tinggi dari kakaknya. Itulah dasar pokok yang menjadi penyebab kemalangannya, sebab Wulan Kencana memiliki rasa iri yang tinggi. Suatu hari Wulan mengajak Suraya ke salah satu kediaman seorang pendekar sahabat yang bernama Perkasa Rengkah. Entah bagaimana prosesnya, di sana Suraya diracun oleh Wulan sehingga menjadi lemah tanpa bisa menggunakan kesaktiannya. Di sana ….”
Tiba-tiba Rereng Busa berhenti bercerita karena ia tiba-tiba menahan gejolak batin yang begitu sedih. Hingga akhirnya, lelaki tua itu mengusap air matanya yang bergulir di pipi keriputnya.
Agak terkejut Alma Fatara dan Balito Duo Lido melihat Rereng Busa menangis. Sang nenek lalu mengusap-usap punggung sahabat yang sebenarnya selalu ia taksir.
__ADS_1
Setelah bisa mengendalikan emosinya, Rereng Busa kembali melanjutkan kisahnya.
“Di sana Suraya Kencani diperkosa dalam kondisi lemah. Bukan hanya Perkasa Rengkah yang memerkosanya, tapi ada tujuh lelaki. Wakil Ketua Perguruan Bulan Emas yang kau usir tadi, adalah salah satu dari ketujuh lelaki itu ….”
“Biadab!” pekik keras Alma Fatara tiba-tiba.
Hal itu membuat Rereng Busa, Balito Duo Lido, dan keempat murid penjaga yang duduk di depan tirai, jadi terkejut. Mereka melihat wajah jelita dan mata sang ratu memerah. Alma Fatara terlihat sangat marah, satu ekspresi yang sangat jarang ia alami.
“Ketujuh lelaki itu harus mati!” geram Alma Fatara sambil menatap wajah Rereng Busa lekat-lekat, seolah-olah lelaki tua itu adalah salah satu pelakunya.
“Eh, Alma. Bukan aku pelakunya!” kata Rereng Busa cepat, mencoba mengingatkan Ratu Siluman.
“Ya, aku tahu, Kek!” ucap Alma Fatara sambil meredakan ekspresinya, membuat Rereng Busa lega. “Tapi sepertinya aku pernah mendengar nama Perkasa Rengkah hari ini. Siapa dia, Kek?”
“Perkasa Rengkah adalah Ketua Perguruan Amuk Bumi di Bukit Satu,” jawab Rereng Busa.
“Oooh ya,” ucap Alma yang baru teringat. “Jangan kau katakan bahwa lelaki-lelaki lainnya adalah ketua perguruan yang ada di bukit lain?”
“Benar. Kecuali Silang Kanga yang Gusti Ratu usir, enam lelaki lainnya saat ini berkuasa di enam bukit dari Bukit Tujuh Kepala,” jawab Rereng Busa.
“Baik … baik …. Aku akan membantu Nenek Suraya untuk membalas dendam. Akan aku beri kejutan orang-orang bejat itu pada hari pesta di perguruan ini,” kata Alma Fatara dengan nada menaruh dendam pula.
“Kebinatangan itu, apakah Wulan Kencana yang menjadi otaknya?” tanya Balito Duo Lido menerka.
“Benar,” jawab Rereng Busa dengan lemah dan sedih.
“Seharusnya aku membunuh Wulan Kencana hari ini,” sesal Alma Fatara. “Orang-orang jahat seperti mereka tidak bisa dibiarkan hidup!”
“Lalu apa yang terjadi setelah petaka bagi Suraya itu?” tanya Balito Duo Lido.
“Silang Kanga melumpuhkan kesaktian Suraya. Kondisi itu membuat Suraya menjadi gila. Setelah kejadian itu, Wulan Kencana dengan mudah mengambil kitab Dewi Belia yang bisa membuatnya berubah dari tua menjadi muda. Namun, selama ini Suraya Kencani berusaha membangkitkan kembali kesaktiannya setelah lebih dua puluh tahun di penjara di perguruan ini ….”
“Tunggu, Kek!” potong Alma Fatara. “Bagaimana Kakek Rereng bisa tahu semua? Bukankah Kakek lama berpisah dengan Wulan Kencana?”
“Wulan Kencana yang menceritakan semuanya kepadaku. Saat aku diracun dan diculik ke perguruan ini, Wulan Kencana melepas rindu kepadaku dengan cara banyak bercerita tentang apa saja, termasuk kejahatan-kejahatannya yang ia anggap bagian dari siasat untuk menjadi pendekar nomor satu di dunia. Selain itu, aku ditempatkan di sel penjara yang berhadapan dengan sel yang mengurung Suraya Kencani. Meski dia gila, tetapi aku dan Suraya sering berbincang. Dia mau berbincang denganku karena aku dan dia dulu sangat akrab,” jelas Rereng Busa.
“Aku berharap kegilaan Nenek Suraya bisa dikurangi selama sepekan ke depan,” kata Alma Fatara. Sepertinya dia punya satu rencana terpendam untuk Suraya Kencani. (RH)
__ADS_1
YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.