
*Perguruan Bulan Emas (Guru Bule)*
"Eit, tunggu!" kata Anjengan sambil merentangkan kedua tangan berlemaknya, menahan langkah Gagap Ayu, Kembang Bulan dan Alis Gaib. Sementara Penombak Manis dibiarkan berjalan bersama Geranda di tengah-tengah pasar sore itu.
"Ada apa?" tanya Kembang Bulan.
"Ada le-le-lelaki tampan?" tanya Gagap Ayu.
"Coba lihat Penombak Manis!" kata Anjengan sambil menunjuk dengan pandangan matanya.
"Iya, tapi kenapa dengan Manis?" tanya Alis Gaib.
"Setahuku, jika wanita yang baru disodok di malam pertama, jalannya pasti seperti monyet besar. Apalagi Juling Jitu sedang di masa perkasa-perkasanya. Lalu kenapa jalan Penombak Manis biasa-biasa saja, seperti tidak pernah disodok?" heran Anjengan.
"Eh, iya iya iya. Ja-ja-jalannya no-no-normal-normal saja," timpal Gagap Ayu.
"Hihihi ...!" tawa Alis Gaib tiba-tiba. Lalu katanya, "Karena Penombak Manis sudah tidak perawan lagi."
"Haaa!" pekik Anjengan, Gagap Ayu dan Kembang Bulan terkejut.
Suara kejut mereka sampai terdengar oleh Penombak Manis di depan sana. Ia menengok kepada rekan-rekannya.
"Apa yang kalian lakukan? Aku bisa membaca wajah-wajah iri kalian!" seru Penombak Manis dengan tatapan yang tajam curiga.
"Semua wanita di Bajak Laut Ombak Setan tidak ada yang perawan," kata Alis Gaib.
"Oooh!" desah ketiga wanita yang masih perawan statusnya.
Mereka lalu kembali berjalan menyusul Geranda dan Penombak Manis.
"Berarti kau juga sudah tidak perawan?" tukas Anjengan kepada Alis Gaib.
"Iya, tapi aku selalu rasa perawan," jawab Alis Gaib enteng, tanpa beban.
"Hahaha! Di mana adanya, sudah tidak perawan tapi rasa perawan?" kata Anjengan yang didahului tertawa.
"Hihihi!" Alis Gaib, Gagap Ayu dan Kembang Bulan hanya tertawa.
"Su-su-sudah berapa le-le-lelaki yang kau ni-ni-nikmati, Alis?" tanya Gagap Ayu penasaran.
"Aku boleh tidak secantik kau, Ayu, tapi jangan tanya jika untuk urusan menaklukkan lelaki. Aku sudah pernah merasakan lima belas rasa lelaki. Hihihi!"
"Lima belas?!" sebut ulang Anjengan dan Kembang Bulan terkejut.
"Li-li-lima belas?" ucap Gagap Ayu pula, seakan tidak percaya.
Bagaimana Gagap Ayu ikhlas untuk percayaa? Dari segi kecantikan wajah, Gagap Ayu lebih cantik. Dari segi keindahan tubuh, Gagap Ayu lebih menggiurkan dibandingkan Alis Gaib.
"Hihihi! Jika kau lelaki, aku bisa membuktikan kepadamu, Ayu," kata Alis Gaib.
"Ti-ti-tidak, terima kasih. Hihihi!" tolak Gagap Ayu cepat, lalu tertawa.
__ADS_1
Geranda benar-benar menjadi sultannya Pasukan Genggam Jagad. Ia benar-benar membebaskan para wanita itu untuk berbelanja. Namun, karena waktu yang diberikan oleh Alma Fatara terbatas, mereka membeli barang-barang yang seperlunya saja.
Anjengan begitu gembira, karena barang yang dibutuhkannya ia temukan ada dijual di pasar itu. Untungnya lengkap, hingga size besar pun ada dijual. Mungkin karena penjualnya juga seorang wanita yang gemuk.
Demi suaminya yang tercinta, Penombak Manis membeli pakaian baru, tetapi yang ukuran besar agar bisa sedikit penutupi penampakan pusaka suaminya.
Sementa Gagap Ayu, Kembang Bulan dan Alis Gaib lebih membeli perhiasan ringan, tapi bisa mempermanis penampilan wajah mereka.
"Panglima Anjengan, bukankah ini bagus?" tanya Kembang Bulan sambil menyisipkan sebuah jepit rambut di sisi kiri kepala Anjengan.
"Aku memang cantik memakai ini, tetapi aku panglima, bukan putri adipati sepertimu," kata Anjengan lalu mencabut jepit rambut itu dan meletakkan kembali di meja lapak pedagang asesoris.
Tiba-tiba suasana pasar diusik oleh lari kencang seorang anak remaja lelaki bertubuh gemuk dan berkulit sawo matang. Anak itu memiliki rambut keriting yang lebat. Di badannya ada tas selempangan berbahan daun pandan yang dianyam.
"Aaa ...!" teriaknya dengan wajah panik sambil berlari sekencang-kencangnya di jalan tengah pasar.
Anak remaja gendut itu tidak lain adalah Belik Ludah, anak yang pernah mengobati Giling Saga saat diracun di kedai ayam panggang madu Mbah Lawut.
Tindakan dan teriakannya membuat warga desa terkejut.
Seet!
Duk!
"Akk!" jerit Belik Ludah saat sebutir kelapa melesat cepat di udara dan menghantam punggungnya.
Remaja itu pun terdorong tersungkur mencium tanah pasar.
Tidak berapa lama, seorang lelaki muncul berlari di udara, mengejutkan warga pasar. Orang itu datang dari arah kelapa yang menyerang Belik Ludah tadi.
Ia mendarat di dekat tubuh Belik Ludah yang belum bangun dan masih menangis. Ketika tangan kekarnya yang dililit oleh tali tambang berwarna merah hendak mencengkeram tengkuk Belik Ludah, tiba-tiba sesosok lelaki yang lebih tua berkelebat di udara dengan kedua kaki menendang kuat.
Dak dak!
Dua tendangan itu ditangkis dengan batang tangan yang berbalut tali, tapi kekuatan tendangan itu membuat si lelaki berbaju putih tanpa lengan terjajar beberapa tindak.
"Tambang Api, anak ini milikku!" seru lelaki separuh abad berjubah hitam kepada orang yang baru diserangnya. Dia memegang sebuah ring rotan besar yang lubangnya bisa dimasuki oleh tubuh.
"Sembarangan!" bentak lelaki yang disebut bernama Tambang Api. "Anak itu tidak bertuan, siapa pun berhak memilikinya!"
"Bapaaak!" teriak Belik Ludah dengan mulut yang terbuka lebar selebar-lebarnya, memperlihatkat ludahnya yang lengket dan satu ingusnya mengalir keluar.
Keributan itu menjadi pusat perhatian warga pasar kademangan itu, termasuk perhatian Alma Fatara dan pasukannya. Mereka menjauhi pusat keributan tetapi membentuk lingkaran, seolah sedang menonton sabung ayam.
"Diam!" bentak lelaki berjubah hitam sambil memukul pelan kepala Belik Ludah dengan gelang rotan itu.
"Aaa ...! Bapaaak!" jerit Belik Ludah lagi kian histeris dan mengiba memanggil ayahnya.
"Eh, aku bilang diam, ya diam! Kalau masih teriak-teriak, aku gantung kau di gunung!" ancam lelaki berjubah hitam.
Belik Ludah jadi diam, tapi tetap menangis sesegukan.
__ADS_1
"Gelang Rotan, biarkan anak itu bersamaku agar kau tidak menyesal!" kata Tambang Api.
"Cuih!" Lelaki berjubah hitam yang disebut bernama Gelang Rotan itu meludah ke tanah. "Apakah kau pikir, jika pendekar semakin tua lalu semakin lemah? Berkacalah ke sumur!"
"Aaah, peduli kambing! Hiaaat!" seru Tambang Api lalu berlari maju menyerang Gelang Rotan.
Gelang Rotan sigap menangkis tinju-tinju keras Tambang Api dengan senjata gelang rotannya. Tidak hanya bertahan, Gelang Rotan juga melakukan agresi.
Tambang Api dan Gelang Rotan bertarung sengit. Ketika Tambang Api mulai bermain tali, Gelang Rotan pun meningkatkan permainan jurusnya.
Saking serunya pertarungan itu, sesekali keduanya tanpa sadar bergerak ke arah penonton, membuat penonton jadi panik dan menjauh.
Das!
Pada satu ketika, gelang rotan Gelang Rotan berhasil menghantam lambung Tambang Api, membuat lelaki berusia empat puluhan tahun itu semakin gusar. Jelas dia tidak mau malu di depan publik.
Tambang Api mulai memainkan talinya bisa menjadi berapi tanpa membakar habis tali itu sendiri.
Untuk sementara, Gelang Rotan memilih hanya menghindar, karena tanah saja dibakar oleh sabetan tambang api itu, apalagi jika mengenai kulit.
"Jangan terus menghindar seperti kupu-kupu perempuan, Gelang Rotan!" ejek Tambang Api.
"Berengsek! Baru bisa seperti itu aku sudah terlalu bangga!" maki Gelang Rotan. "Karena kau meminta, akan aku beri kau!"
Sreeet!
Gelang Rotan lalu menarik kedua sisi gelang besarnya. Tiba-tiba gelang rotan itu berubah menjadi rantai gelang besar yang terdiri dari tujuh gelang yang saling menaut. Ketujuh gelang itu bersinar kuning. Sepertinya Gelang Rotan lulusan akademi sirkus negeri sebelah.
Dengan rantai gelang-gelang itu, Gelang Rotan jadi memiliki senjata berjangkauan panjang.
Wesst! Blet blet!
Ketika Gelang Rotan mengayunkan rantai gelangnya, Tambang Api melompat mundur menghindar sambil melesatkan dua gulungan tambang apinya, yang kemudian ujungnya melilit gelang sinar kuning yang paling ujung.
Selanjutnya, terjadi saling tarik. Tambang Api menarik dengan kedua tambang apinya. Gelang Rotan memegang satu gelangnya dengan dua tangan.
Kedua pendekar itu saling mengerahkan tenaga saktinya untuk menang dalam menarik. Meski bukan acara agustusan, mereka berdua tetap bertekad tidak mau kalah.
Namun tidak lama kemudian, terlihat kuda-kuda Tambang Api terseret maju, menunjukkan bahwa dia tertarik yang artinya tenaganya kalah kuat.
"Lihat anak itu!" teriak Tambang Api sambil mengalihkan pandangannya.
Maksud awal hanya bermaksud mengecoh Gelang Rotan, tapi kemudian Tambang Api jadi terkejut sendiri. Pasalnya dia tidak melihat keberadaan Belik Ludah, si bocah gendut yang mereka perebutkan.
Ketika Gelang Rotan menengok ke arah pandangan Tambang Api, ia juga terkejut karena tidak melihat keberadaan Belik Ludah.
Gelang Rotan lalu menghentakkan rantai gelangnya, membuat senjata itu bergerak menggelombang. Gerakan senjata tersebut membuat lilitan tambang api jadi lepas. Gelang Rotan melenyapkan tujuh gelangnya dan berubah kembali jadi satu gelang rotan.
"Ke mana anak itu?" tanya Gelang Rotan gusar. (RH)
__ADS_1