
*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*
Selama satu setengah hari, pasukan Bajak Laut Ombak Setan bekerja serius mempersiapkan diri untuk menyambut serangan pasukan kerajaan.
Ronggo Palung telah menempatkan orang-orang andalannya di tiga jalan akses masuk menuju Ibu Kota Balongan.
Ketika sang surya condong ke arah barat, tiga rombongan Pasukan Pertama dari Kerajaan Singayam sudah mendekati Ibu Kota Balongan melalui jalan yang berbeda.
Untuk masuk ke Ibu Kota Balongan, ada tiga jalan umum yang bisa dilalui, yaitu jalan utara, jalan pinggir sungai dan jalan yang melewati Kademangan Dulangwesi. Pasukan Kerajaan Singayam memutuskan melewati ketiga-tiganya.
“Wik wik wik wik wik! Wik wik wik wik wik!”
Tiba-tiba terdengar suara lengkingan tanda bahaya bagi Bajak Laut Ombak Setan di jalan utara.
Suara itu juga membuat Arya Mungkara mengangkat tangannya memberi tanda berhenti kepada pasukannya.
“Berhenti!” teriak Bandeng Prakas sebagai wakil dari Arya Mungkara.
Tiga ratus prajurit pejalan kaki dan lima puluh prajurit berkuda segera berhenti.
“Suara apa itu?” tanya Arya Mungkara.
“Itu seperti suara tanda. Kita harus hati-hati, waspadai adanya penyergapan,” kata Bandeng Prakas.
“Kirim dua prajurit berkuda lebih dulu untuk memastikan keamanan jalan di depan!” perintah Arya Mungkara.
Bandeng Prakas lalu memerintahkan dua orang prajurit berkuda untuk maju. Tanpa merasa gentar, kedua prajurit berkuda tersebut segera menggebah kencang kudanya. Kedua kuda itu berlari maju meninggalkan pasukannya.
Sementara itu, di tempat persembunyiannya, ada tiga anggota bajak laut yang saling memberi kode. Mereka bertiga bersembunyi di tiga titik berbeda, tetapi bisa saling melihat. Dua di antaranya adalah Belalang Laut dan Kelabang Basah.
Anggota yang lain bernama Colong Larik, seorang lelaki kurus bersenjata logam seperti piring di kedua sisi pinggangnya.
Dari ketiga orang bajak laut itu, Kelabang Basah yang memimpin.
Kelabang Basah dan Colong Larik bersembunyi di atas pohon besar yang berbeda dan saling berseberangan jalan. Sementara Belalang Laut bersembunyi di balik semak belukar, tepat di sisi jalan.
Kelabang Basah memberi isyarat gerakan jari kepada Colong Larik dan Belalang Laut. Tanda itu memberi tahu larangan bertindak dan membiarkan dua kuda itu berlalu.
Dua prajurit berkuda dibiarkan berlalu tanpa mendapat serangan. Sementara Arya Mungkara memilih menahan dulu laju pasukannya.
Arya Mungkara dan Bandeng Prakas memperhatikan daerah di sisi kanan dan kiri jalan. Mereka pun memperhatikan atas pepohonan yang tumbuh, tetapi mereka tidak melihat ada hal yang mencurigakan.
Setelah menunggu, dua prajurit penunggang kuda akhirnya pulang kembali.
“Lapor, Kepala! Hingga sekitar seratus tombak ke depan, aman!” lapor prajurit berkuda itu kepada Arya Mungkara.
Arya Mungkara lalu memberi tanda kepada pasukannya.
“Majuuu!” teriak Bandeng Prakas.
__ADS_1
Pasukan kembali bergerak maju dengan kecepatan pejalan kaki.
Sementara itu, Kelabang Basah memberi tanda kepada kedua rekannya agar bersiap-siap.
Ketika Arya Mungkara dan pasukannya melintas tepat di depan semak belukar, tempat Belalang Laut tiarap tanpa suara “wik wik”, Kelabang Basah memberi tanda kepada wanita kurus bersenjata dua pedang itu.
Sret!
Set set set …!
Setelah tanda itu, Belalang Laut tiba-tiba menarik seutas tali dari beberapa utas tali yang ada di sekitarnya.
Suara tarikan tali itu terdengar oleh Arya Mungkara dan Bandeng Prakas serta para prajurit. Mereka terkejut dan langsung siaga. Namun, belum lagi keterkejutan mereka bisa dikontrol, puluhan anak panah bermunculan dari dalam semak belukar, menyerang Arya Mungkara dan pasukannya dari samping.
“Akh! Akh! Akh …!” jerit para prajurit yang anggota tubuhnya ditusuki oleh batang-batang anak panah.
Sejumlah prajurit langsung bertumbangan. Ada yang sekedar terluka dan ada yang langsung tewas karena terkena pada bagian vital, seperti leher dan jantung.
Arya Mungkara dan Bandeng Prakas harus melompat ke udara dari atas punggung kudanya, demi menghindari serangan tiba-tiba itu.
Sret! Sret!
Set set set …!
Belalang Laut yang belum menampakkan diri, kembali menarik dua utas tali yang menjadi kunci senjata tersembunyi di balik semak belukar.
Karena dua tali yang ditarik oleh Belalang Laut, maka jumlah anak panah yang melesat dari dalam semak belukar jumlahnya dua kali lipat.
Namun, jumlah prajurit yang terkena justru lebih sedikit, karena mereka sudah siap dan berlindung menggunakan perisai. Anak-anak panah itu bertancapan di tameng-tameng yang terbuat dari kayu tebal.
Kelabang Basah cepat memberi tanda kepada Colong Larik yang berada di atas pohon, tapi posisinya berseberangan dengan Belalang Laut.
Sret!
Set set set …!
“Akh! Akh! Akh …!”
Colong Larik menarik tali panjang yang terulur rapi ke bawah dan tenggelam di dalam semak belukar.
Setelah itu, dari semak belukar lainnya berlesatan hujan anak panah. Kali ini lebih menargetkan barisan belakang dan pasukan berkuda.
Sejumlah prajurit harus bertumbangan lagi. Sejumlah kuda yang terkena panah berubah menjadi liar, semakin membuat kacau pasukan itu. Bahkan ada kuda yang berlari liar menabrak prajurit lain.
“Posisi lingkaran bertahan!” teriak Arya Mungkara cepat setelah melihat serangan itu datang dari dua arah sisi jalan. Namun, mereka belum melihat keberadaan musuh.
“Lingkaran bertahan!” teriak ketiga pemimpin prajurit cepat.
Tiga kelompok pasukan pejalan kaki cepat bergerak membentuk tiga formasi lingkaran besar. Para prajurit itu memasang kuda-kuda dengan tameng menjadi dinding pelindung. Di dalamnya, ada pasukan panah dan para pemimpin prajurit, termasuk Arya Mungkara dan Bandeng Prakas berlindung di dalam lingkaran formasi.
Sret! Sret!
__ADS_1
Set set set …!
Teb teb teb …!
Belalang Laut kembali menarik dua utas tali yang terakhir. Hujan anak panah serupa kembali muncul dari dalam semak belukar. Namun kali ini, hujan anak panah itu menuai hasil yang sedikit, hanya beberapa anak panah yang mengenai kaki prajurit atau berhasil masuk ke dalam lingkaran lewat atas. Anak panah lebih banyak bertancapan di bidang perisai.
“Panah!” teriak Arya Mungkara sambil menunjuk ke arah semak belukar yang menjadi sumber serangan.
“Panah!” teriak Bandeng Prakas pula di lingkaran yang lain.
Set set set …!
Maka para prajurit panah segera melepas hujan panah dengan target semak belukar, meski mereka tidak melihat keberadaan seorang pun musuh.
Dari puluhan anak panah yang menghujani semak belukar tempat Belalang Laut bersembunyi, ternyata ada satu anak panah yang tepat menyerang Belalang Laut.
Tek!
Dengan sigap Belalang Laut menangkis menggunakan satu pedangnya. Hal itu membuat gerakannya terlihat oleh Arya Mungkara.
“Di sana!” pekik Arya Mungkara lalu cepat meloncat ke udara untuk mendapat posisi bidik yang tepat.
Set!
Arya Mungkara yang ahli memanah melepaskan anak panahnya, tepat ke titik ia melihat pergerakan Belalang Laut yang berpakaian warna ungu.
“Akk!” pekik Belalang Laut dengan tubuh berguling ke samping.
Bidikan Arya Mungkara terlalu cepat dan sempat menusuk perut samping wanita itu.
Meski demikian, Belalang Laut bisa langsung melompat terbang seperti belalang.
Suass! Bluar!
Tubuh Belalang Laut melesat terbang melintas di atas jalan, di atas kepala-kepala para prajurit. Namun, sambil melintas seperti itu, Belalang Maut melesatkan satu bola sinar merah dari tangannya, tepat ke dalam lingkaran formasi.
Tak ayal lagi, bola sinar merah itu meledakkan tanah tengah-tengah lingkaran prajurit yang memuat puluhan orang. Puluhan prajurit yang berkerumun dalam satu lingkaran tersebut berpentalan berantakan. Bahkan Arya Mungkara ikut terpental, tetapi ia hanya luka ringan karena ada benteng tenaga dalam yang melindunginya.
Sementara itu, beberapa prajurit tewas dengan anggota tubuh hancur, dan lebih banyak lagi yang menderita luka.
“Akh! Akh! Akh …!” jerit para prajurit itu saling menimpali.
“Panah!” teriak Bandeng Prakas di formasi lain, sambil menunjuk ke arah pergerakan Belalang Laut.
Set set set …! (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ayo baca, like dan komen juga di chat story Om Rudi yang berjudul "Narator Horor"!
__ADS_1