Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Kerja Bu 15: Iwak Ngasin Tertangkap Basah


__ADS_3

*Keris Pemuja Bulan (Kerja Bu)* 


 


Di bawah sebatang pohon besar yang memiliki akar besar lagi tinggi, Iwak Ngasin telah mendudukkan tubuh Wangiwulan dengan bersandarkan pada dinding akar yang setinggi pinggang. Akar besar itu sangat bagus untuk tempat bersembunyi.


Kondisi Wangiwulan yang terluka parah sudah dalam kondisi terpejam matanya. Namun, masih terlihat jelas gerakan napas pada tubuhnya.


Sementara Iwak Ngasin yang awalnya gembira karena berhasil menolong dan menggendong tubuh si gadis cantik itu, kini jadi bingung.


“Aduh, bagaimana ini? Aku tidak tahu Alma ada di mana, hanya dia yang bisa mengobatinya. Seharusnya sebelum pergi berkelana, Guru mengajarkan ilmu pengobatan,” keluh Iwak Ngasin. Ia bicara sendiri seperti pelakon sinetron.


Iwak Ngasin mengerenyit karena lelah hati. Ia memandangi wajah cantik Wangiwulan yang masih belepotan oleh darah.


“Kasihan sekali. Dia begitu cantik, tapi harus menderita seperti ini. Seandainya dia adalah kekasihku, tidak akan pernah akan aku biarkan dirinya menderita,” kata Iwak Ngasin kepada dirinya sendiri.


Breeet!


Iwak Ngasin lalu merobek kain bajunya, buka baju Wangiwulan. Ia lebih mendekat kepada Wangiwulan.


“Nisanak, apakah kau bisa mendengarku?” tanya Iwak Ngasin.


Wangiwulan tidak menjawab, sepasang kelopak matanya masih terpejam, membuatnya terlihat seperti putri tidur yang sedang terluka.


“Maaf, aku akan membersihkan darah di wajahmu,” ujar Iwak Ngasin.


Tetap tidak ada jawaban dari Wangiwulan.


Iwak Ngasin lalu agak membungkuk di depan tubuh Wangiwulan. Ia julurkan tangannya ke wajah Wangiwulan. Seiring itu, jantung Iwak Ngasin berdebar-debar indah. Apalagi jika melihat dua benjolan besar di dada Wangiwulan. Desir-desir asik bahkan mengalir bergelombang ke bawah perut Iwak Ngasin. Ia begitu jelas merasakan sesuatunya menegang sekeras kayu.


“Cantik sekali,” ucap Iwak Ngasin tanpa bisa mengendalikan lidahnya, karena terlalu terpesonanya ia oleh kecantikan gadis yang sangat dekat di depannya itu.


“Ehhem ehhem!” dehem satu suara wanita tiba-tiba.


Itu bukan deheman Wangiwulan, karenanyalah Iwak Ngasin terkejut dan cepat berdiri. Ia menjauhkan tangannya dari wajah Wangiwulan.


Iwak Ngasin cepat menengok ke kanan, kiri dan belakang. Ia mencari sumber suara deheman itu. Namun, ia tidak menemukan seorang pun perempuan. Lelaki pun tidak ada.


“Siapa sih? Pasti ada yang usil,” ucap Iwak Ngasin lirih.


Sekali lagi dia mengedarkan pandangannya ke sekitar, tetapi memang tidak ada sesiapa.


“Pasti hanya dedemit yang mau menggoda. Tidak bisa lihat lelaki tampan,” ucap Iwak Ngasin, lalu geleng-geleng kepala.


Iwak Ngasin kembali beralih kepada Wangiwulan. Ia kembali agak membungkuk dan mengulurkan tangannya ke wajah si gadis, sementara sesekali matanya mencuri pandang ke dada.

__ADS_1


“Ehhem ehhem!” dehem seorang wanita lagi. Kali ini suara dehemannya lebih keras sehingga Iwak Ngasin yang kembali terkejut bisa yakin dari mana sumber suara itu.


Iwak Ngasin cepat mendongak ke atas.


“Hahahak!”


Seiring Iwak Ngasin melihat sosok berpakaian serba hitam di atas pohon, suara tawa wanita yang terbahak seperti bapak-bapak terdengar kencang.


“Almaaa!” teriak Iwak Ngasin mendelik.


“Kau tertangkap basah olehku, Iwak!” kata Alma sambil menunjuk wajah sahabatnya dari atas.


“Memangnya aku berbuat apa?”


“Hahahak!” tawa Alma Fatara sambil melompat dan melayang turun dengan lembut di dekat sahabatnya itu. “Kau tertangkap basah mau berbuat cabul kepada seorang gadis cantik!”


“Sembarangan jika bicara!” hardik Iwak Ngasin. “Aku hanya ingin membersihkan wajahnya yang cantik itu.”


“Aku melihat wajahmu kau letakkan di dada kakak itu!” tukas Alma.


“Aku tidak melakukannya sedikit pun. Itu karena kau melihatku dari atas!” bantah Iwak Ngasin sewot.


“Hahahak! Minggir!” perintah Alma.


Iwak Ngasin lalu bergeser ke kanan untuk memberi ruang bagi Alma.


Alma lalu meraih tubuh Wangiwulan kemudian memanggulnya.


“Eh, mau kau bawa ke mana gadisku?” tanya Iwak Ngasin cepat.


“Gadismu?” tanya Alma dengan tatapan curiga kepada sahabatnya itu.


“Eh, anu. Hehehe! Maksudku gadis ini,” kata Iwak Ngasin salah tingkah sambil cengengesan.


“Teman-teman kita menunggu di hutan seberang sungai. Lebih baik aku mengobati di sana, agar yang lain tidak menunggu dan menduga-duga,” kata Alma.


Alma Fatara lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Iwak Ngasin megikuti.


“Di mana Juling Jitu, Iwak?” tanya Alma, bermaksud mencandai sahabatnya.


“Tadi dia yang bermaksud menolong gadis cantik ini ….”


“Gadis cantik ini itu siapa? Aku atau yang aku panggul ini?” tanya Alma memotong.


“Gadis yang terluka ini.”

__ADS_1


“Oh, jadi aku tidak cantik?” tanya Alma.


“Hahaha! Kalau kau terlalu cantik, sampai-sampai aku tidak berani menggodamu,” kata Iwak Ngasin.


“Hahahak!” tawa Alma.


Saat melintasi jalan pinggir kademangan, tiba-tiba tiga ekor kuda yang muncul dari tikungan jalan berlari kencang menghadang perjalanan Alma Fatara dan Iwak Ngasin.


“Berhenti!” seru salah satu penunggang kuda.


Orang yang berseru itu adalah seorang pemuda tampan berpakaian serba hitam. Kain bahan pakaiannya tergolong jenis mahal. Ia membawa busur pada bahu kanannya dan dua busur pada tabung bambunya. Ada pula sebuah pedang yang menggantung di pelana kudanya. Pemuda berambut pendek itu mengenakan ikat kepala kain warna merah. Usianya masih tergolong belia, mungkin seumuran dengan Alma. Ia bernama Suriga, putra bungsu Raden Gondo Sego.


Adapun dua lelaki penunggang kuda lainnya yang berusia lebih tua bernama Keling dan Basgoro. Lelaki bernama Keling memiliki tubuh kurus, tapi berotot kencang. Kekurusannya membuat dua tulang pipinya menonjol keras dengan mata cekung seperti pecandu narkoba.


Kontras dengan Basgoro. Dia memiliki tubuh yang besar dan berotot. Empat sehat lima sempurna sepertinya terpenuhi dalam pola makannya sehari-hari.


Mereka berdua adalah pengawal Suriga, sang tuan muda. Di bagian belakang kuda Keling terikat kuat bangkai seekor harimau. Sementara di kuda Basgoro terikat kuat dua bangkai rusa bertanduk.


Sepertinya mereka bertiga baru pulang dari berburu.


Alma Fatara dan Iwak Ngasin terpaksa berhenti, meski mereka berdua tidak suka memilih berhenti.


“Nisanak, siapa wanita yang kau bawa itu?” tanya Suriga sambil menunjuk.


“Tidak sopan,” ucap Alma pelan, tapi masih terdengar oleh ketiga lelaki berkuda itu.


“Apa maksudmu?” tanya Suriga.


“Seharusnya kau turun dulu dari kudamu, perkenalkan dirimu, kemudian baru menanyakan siapa diriku, lalu kau tanyakan wanita yang aku bawa ini,” jelas Alma.


“Benar. Memangnya kau siapa sampai sesombong itu? Apakah hanya karena kalian memiliki kuda? Apakah kalian tidak tahu sedang berhadapan dengan seorang ratu?” kata Iwak Ngasin.


“Kalian jangan bertele-tele. Katakan, siapa wanita itu! Sebab aku seperti mengenalnya!” tandas Suriga.


“Baiklah,” kata Alma mengalah. Ia berjalan mendekati samping kuda Suriga dan berkata, “Kau lihat sendiri wajahnya.”


Posisi kepala Wangiwulan ada di belakang tubuh Alma dan wajahnya menghadap ke dalam. Namun, ketika jarak Alma dan kuda tinggal beberapa langkah dan Suriga belum lagi memastikan siapa adanya gadis di bahu Alma, tiba-tiba ….


Tus tus!


Tiba-tiba kuda Suriga terkejut dan meringkik keras sambil mengangkat tinggi kedua kaki depannya. Suriga yang terkejut, spontan berpegangan kuat pada tali kendali kuda agar tidak terjatuh. Selanjutnya, kuda itu berlari liar meninggalkan tempat tersebut.


“Kejar!” teriak Keling sambil cepat menggebah kudanya mengejar junjungannya.


Basgoro juga cepat mengejar Suriga dengan kudanya.

__ADS_1


“Hahahak!” tawa terbahak Alma dan Iwak Ngasin bersamaan.


Yang terjadi adalah Alma mengeluarkan Benang Darah Dewa dari balik pakaiannya. Benang merah halus itu tidak terlihat oleh Suriga. Dua ujung benang itu menusuk samping bokong kuda Suriga yang mengejutkan dan menyakiti si kuda. (RH)


__ADS_2