
Tong tong entong…!
“Desa diserang! Desa diserang…!” teriak seorang pemuda desa sambil memukul kentongan dengan semangat malam pertama.
Suara kentongan yang bertalu-talu ditambah teriakan kepanikan membuat seisi Desa Bulukubi jadi terkejut. Sontak mereka cepat ikut-ikutan panik.
Para orangtua cepat berlari ke sana ke sini mencari anak-anak mereka untuk diamankan di dalam rumah. Yang bikin repot adalah karena para anak justru bermain petak umpet di kala senja. Kaum ternak pun segera diamankan seaman mungkin, bahkan kandangnya ditutupi dengan rerumputan yang masih hijau.
Para wanita yang muda hingga tua juga harus disimpan di tempat yang teraman, yaitu di dalam kakus atau di atas pohon kelapa dan tempat aman lainnya, yang kira-kira orang jahat tidak kepikiran.
Beruntung Desa Bulukubi memiliki satgas keamanan yang dipimpin langsung oleh Kepala Desa. Jadi jika ada gangguan keamanan seperti ini, mereka bisa mengatasinya.
Kepala Desa Bulukubi adalah seorang lelaki berbadan sedang dengan usia separuh abad. Ia mengenakan blangkon warna kuning, warna blangkon yang menentang tradisi. Ia mengenakan baju warna putih celana warna hitam, seperti karyawan baru diterima kerja. Ia bernama Ki Lumoh Suwi. Ia memegang sebuah keris di tangan kirinya.
Bersama Ki Lumoh Suwi ikut serta lima belas lelaki yang rata-rata masih muda dan memiliki gaya layaknya seorang jagoan kampung, yang siap mati demi membela tanah kelahiran. Bahkan sebagian besar mereka mengenakan baju tanpa kancing, seolah sengaja memamerkan sela-sela dada mereka yang atletis. Masing-masing mereka membawa sebilah golok. Baik yang bersarung mau yang antisarung, tetap lulus sensor untuk tayang.
“Hua hua hua!” terdengar teriakan ramai banyak orang dari arah sungai.
Teriakan banyak suara itu seketika menciutkan nyali Ki Lumoh Suwi. Ia bisa langsung merasakan bahwa kelompok yang datang menyerang desa jumlahnya lebih besar dari satgas keamanannya.
Tidak perlu menunggu lama untuk membuktikan dugaan Ki Lumoh Suwi. Dari arah sungai muncul rombongan puluhan orang, hampir semuanya lelaki dan semuanya basah kuyup. Mereka mengangkat senjatanya masing-masing.
Uniknya, Sugang Laksama dan Jura Paksa tergabung dalam rombongan itu, bahkan terkesan sebagai pemimpin.
“Hua hua hua!” teriak para bajak laut yang adalah anak buah Cucum Mili.
Melihat puluhan anggota bajak laut yang bergaya lebih profesional sebagai orang-orang pembuat onar, nyali Ki Lumoh Suwi dan kelima belas satgas keamanannya gugur sebelum unjuk kelelakian.
“Hihihi! Kita disambut!” teriak Cucum Mili. Ia lalu membentak Ki Luwoh, “Kurang sopan!”
“Kurang sopan!” bentak seluruh anak buah Cucum Mili pula bersamaan.
Ki Lumoh Suwi dan kelima belas prajurit bergoloknya itu jadi tersentak kaget, sampai-sampai mereka termundur setindak.
“Kami ini tamu, kenapa disambut dengan golok, hah?!” bentak Cucum Mili.
“Karna kalian juga datang dengan senjata!” balas Ki Lumoh Suwi.
“Seraaang!” teriak Cucum Mili kepada anak buahnya.
“Hua hua hua!” teriak kelompok Bajak Laut Kepiting Batu itu sambil bergerak serentak menyerang kepada Kepala Desa dan satgas keamanannya.
“Ampun ampun ampun!” teriak para anggota satgas sambil berjongkok ketakutan dan memegangi kepalanya, tidak berani mengangkat wajahnya.
“Yaaa!” sorak para bajak laut kecewa sambil menahan serangan senjata mereka masing-masing.
__ADS_1
“Siapa kau?” tanya Cucum Mili sambil menunjuk Ki Lumoh Suwi.
“Aku kepala desa di sini,” jawab Ki Lumoh yang kini jadi merendah dan melunak, telah hilang kegarangan dan keberaniannya.
“Apakah kalian menyembunyikan anak perempuan cantik berkulit putih yang hanyut di sungai?” tanya Cucum Mili.
“Tidak!” jawab Ki Lumoh.
“Aaah! Seharusnya aku tidak bertanya, kalian pasti menjawab ‘tidak’!” kata Cucum Mili. Lalu teriaknya kepada seluruh anak buahnya, "Periksa semua rumah!"
Maka beramai-ramailah para bajak laut bergerak menyebar. Setiap rumah mereka masuki paksa, memeriksa setiap kamar hingga melongoki dalam sumur. Pintu yang dikunci dari dalam mereka dobrak.
Tindakan mereka itu membuat resah warga desa. Sejumlah anak yang sedang dalam pelukan orangtuanya jadi menangis karena takut. Bagaimana tidak takut, tampang mereka tidak ada yang ramah atau kocak. Giliran ada yang murah senyum, giginya warna hitam semua.
Ada pula bajak laut yang iseng, tidak hanya menakut-nakuti bocah, tetapi nenek-nenek peot pun dibuat sawan.
Setelah menggeledah di sana dan di sini, para bajak laut itu kembali dan melapor kepada Ratu Kepiting.
"Lapor, Ketua! Anak itu tidak kelihatan!"
"Lapooor! Kosooong!"
"Tidak ada, Ketua!"
"Anak itu tidak ada, Ketua. Yang lebih gede dan lebih cantik ada, Ketua!"
Setelah banyak anak buah yang melapor, tidak satu pun laporan yang menggembirakan.
“Tidak ada, Ketua, ayo kita pulang!” kata seorang bajak laut yang terakhir melapor.
Plak!
Cucum Mili menepuk kepala anak buahnya itu.
“Kau pikir siapa ketuanya, hah?!”
“Ketuanya Ratu Kepiting!” jawab bajak laut muda yang ubannya sudah menjamur. Namanya Sugeng Mutih.
“Kurang sopan!” bentak Cucum Mili lagi.
“Kurang Sopan!” bentak semua anak buah Cucum Mili lainnya.
Sugeng Mutih hanya menunduk bersalah.
“Kepala Desa, kami akan bermalam di sini. Layani makan dan tidur kami malam ini. Tenang saja, akan aku bayar!” kata Ratu Kepiting kepada Kepala Desa Bulukubi.
__ADS_1
“Baik,” jawab Ki Lumoh Suwi. Lalu katanya kepada kelima satgas keamanannya, “Kalian atur makan dan tempat tidur mereka. Tenang saja, nanti kalian akan dibayar!”
“Hanyut ke mana anak itu? Apakah dia hanyut lebih jauh lagi?” tanya Cucum Mili kepada Sugang Laksama yang juga tidak bisa menjawab, kecuali hanya menduga-duga.
“Lalu, jika anak itu ketemu, apakah kita harus bertarung lagi?” tanya Sugang Laksama.
“Untuk apa? Kita miliki bersama senjata itu, bukankah kau akan menikah denganku?” kata Cucum Mili.
“Hei hei hei! Apa sebenarnya yang terjadi dengan kalian berdua? Kenapa tiba-tiba membecirakan pernikahan?” tanya Jura Paksa tidak mengerti.
“Temanmu ini telah memperkosaku, jadi dia harus bertanggung jawab!” tandas Cucum Mili.
Terkesiaplah Jura Paksa mendengar hal itu. Ia cepat menarik lengan Sugang Laksama dan berbisik kepadanya.
“Kenapa kau memilih memperkosa yang tua? Yang muda dan bahkan yang suka rela pun banyak!”
“Aku tidak memperko….”
Wuss!
Tiba-tiba serangkum angin pukulan bertenaga dalam tinggi menderu ke arah kedua pemuda itu, membuat Sugang Laksama tidak melanjutkan perkataannya karena memilih melompat menghindar. Demikian pula dengan Jura Paksa.
“Kurang sopan!” maki Cucum Mili.
“Kurang Sopan!” maki seluruh anak buah Cucum Mili juga.
“Berani-beraninya menyebutku tua!” gusar Cucum Mili. Lalu teriaknya kepada Ki Lumoh Suwi, “Kepala Desa! Kamarku nanti untuk dua orang, untuk aku dan pemuda itu!”
Sugang Laksama hanya mendelik ditunjuk.
“Cucum, apakah kau mau ehem-ehem sebelum menikah?” tanya Sugang Laksama memprotes.
“Iya!” jawab Cucum Mili ketus, tapi tetap manis.
“Hahaha! Rezekimu, Sugang!” kata Jura Paksa.
Tanpa mereka ketahui, kondisi di Desa Bulukubi itu dipantau oleh seseorang dari jauh. Lelaki muda tanpa baju dan hanya bercelana hitam itu segera berlari mengendap-endap, lalu mengambil seekor kuda yang ditambatkan di dalam perkebunan.
Dengan menunggangi kuda tersebut, pemuda itu pergi meninggalkan Desa Bulukubi.
Menjelang gelap, ia akhirnya tiba di Desa Tulukotek yang merupakan ibu kota bagi Kademangan Telubotak.
“Ada apa, Giling?” tanya Demang Banuseta saat pemuda dari Desa Bulukubi menghadap.
“Desa Bulukubi dikuasai bajak laut, Ki Demang!” lapor pemuda bernama Giling.
__ADS_1
“Apa?!” kejut Demang Banuseta.
Demang Banuseta adalah seorang lelaki berusia lima puluh tahun. Tubuhnya agak gemuk dan agak pendek, plus rambutnya lurus agak gondrong. Ia selalu menyandang sebuah keris keren di pinggang belakangnya. (RH)