
*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*
Swess! Swess!
Alma Fatara cepat memunculkan dua sinar emas menyilaukan mata, memberi aura yang menakutkan kepada siapa pun.
“Jika kalian melukai satu saja sahabatku, maka aku tidak akan segan-segan membunuh kalian!” seru Alma kepada kesepuluh bajak laut yang menyandera Iwak Ngasin, Juling Jitu, Anjengan, dan Gagap Ayu.
Kondisi berubah tegang. Keempat sahabat Alma hanya bisa mengerenyit menahan sakit pada leher mereka yang tercekik. Wajah mereka berempat memerah dan urat-uratnya bertonjolan.
“Lepaskan mereka!” perintah Cucum Mili kepada para anak buahnya. Dia sudah kembali berdiri dengan sempurna setelah jatuh keras.
Para anggota bajak laut itu memandang ketua mereka.
“Ketua, biarkan kami menyandera mereka, agar Ketua bisa menang!” sahut pria tinggi besar berotot dan berbaju hitam ketat. Dia adalah Udang Karang yang berstatus sebagai Wakil Ketua.
“Aku sedang bertarung satu lawan satu dengan bocah ini untuk merebut Bola Hitam. Kalian jangan mengacaukan pertarunganku. Mau ditaruh mana bokongku jika kalian berbuat curang seperti itu?” kata Cucum Mili.
“Di taruh di belakang anu, Ketua!” celetuk Paus Ijo yang berdiri menyendiri bersama Gede Gaya yang bertubuh mini.
“Kurang sopan!” bentak Cucum Mili kepada Paus Ijo.
“Kurang sopan!” bentak anak buah yang lain kepada Paus Ijo mengikuti ketuanya.
Paus Ijo hanya merengut diam.
“Lepaskan mereka atau nanti aku menghukum kalian!” ancam Cucum Mili kepada Udang Karang dan kesembilan rekannya yang berdiri berkelompok di belakang Iwak Ngasin dan ketiga rekannya.
“Lepaskan!” perintah Udang Karang kepada rekan-rekannya.
Para anggota bajak laut itu kemudian menarik senjatanya dari kulit Iwak Ngasin cs. Mereka pun melonggarkan tali tambang yang menjerat leher Iwak Ngasin cs.
Tanpa aba-aba lagi, Iwak Ngasin dan ketiga rekannya langsung lari menjauhi gerombolan bajak laut itu.
“Awas kalian nanti! Beraninya main belakang dan main keroyokan!” teriak Juling Jitu setelah jauh dari para anggota bajak laut.
“Selamat kalian kali ini!” sahut Udang Karang.
Sementara itu, Alma Fatara telah memadamkan dua sinar emas di tangannya, yang merupakan sinar emas dari ilmu Pukulan Bandar Emas.
“Bagaimana, Kak Cucum?” tanya Alma kembali fokus kepada Cucum Mili.
“Bagaimana kau bisa tidak teracuni oleh Asap Setan-ku?” Cucum Mili malah balik bertanya. Ia sangat penasaran dengan lolosnya Alma dari asap beracun.
“Aku perenang manusia terbaik. Aku bisa menahan napas lebih lama dari dirimu,” jawab Alma.
“Kau jangan bercanda, bertarunglah dengan serius!” bentak Cucum Mili.
“Kakak yakin mau bertarung dengan serius?” tanya Alma, kali ini ekspresinya dingin.
__ADS_1
“Benar-benar sombong! Dasar Keong Mencret!”
“Hahahak …!” Meledak tawa Alma Fatara mendengar makian Cucum Mili.
“Dalam beberapa tahun ini aku gencar meningkatkan kesaktian demi menjemput suamiku. Aku yakin bahwa Wiwi Kunai bukanlah lawanku sekarang!” koar Cucum Mili.
“Hahaha! Sepertinya Kakak terlalu lama di laut sehingga tidak mengenal baik kesaktian guruku,” kata Alma.
“Aku tidak peduli! Bertarunglah dengan serius, Alma!” teriak Cucum Mili gusar lalu menghentakkan kedua lengannya ke bawah.
Kulit kedua tangan Cucum Mili kini membara kuning, bahkan membuat lengan bajunya terbakar sebatas lengan.
“Aku beri kau satu kesempatan untuk mencoba!” seru Alma pula bersikap serius.
Kedua wanita cantik itu maju bersamaan, kemudian bertemu di pertengahan jarak. Cucum Mili dengan ganas menyerang Alma menggunakan pukulan-pukulan tangan membaranya.
Alma yang memiliki kecepatan gerak tinggi, mampu mengimbangi gerakan Cucum Mili. Alma terlihat tidak berani menangkis serangan tangan Cucum Mili. Ia lebih memilih menghindar dengan menjaga jarak, sehingga serangan Cucum Mili tidak pernah menemui sasaran. Bahkan untuk mengenai pakaian Alma, Cucum Mili pun tidak mampu.
“Kepiting busuk, aku tidak menyangka bocah ini bisa cepat sekali. Dilatih seperti apa dia oleh Wiwi Kunai?” batin Cucum Mili.
Taps taps!
Setelah terjadi pertarungan cukup lama tanpa hasil, pada satu ketika, kedua telapak tangan Alma tiba-tiba menangkap kedua tinju panas Cucum Mili. Ketua Bajak Laut Kepiting Batu itu tidak tahu bahwa Alma kebal terhadap api dan panas, termasuk kebal terhadap senjata tajam, padahal Alma tidak pernah belajar debus.
Mendelik terkejut sepasang mata Cucum Mili melihat Alma berani menangkap tinju membaranya.
“Kau terjebak, Kakak!” seru Alma sambil tersenyum lebar, memperlihatkan ompong khasnya.
“Aaak …!” jerit panjang Cucum Mili. Di saat kedua tangannya ditahan kuat oleh Alma, Cucum Mili merasakan seperti ada ratusan jarum yang menusuk-nusuk perutnya.
Rasa tusukan ratusan jarum itu adalah kerja Benang Darah Dewa, senjata yang keluar dari balik jubah Alma dan menusuki perut Cucum Mili secepat jarum mesin jahit.
Cess cess!
Sebelum perutnya hancur ditusuki oleh senjata Alma yang sulit dilihat, Cucum Mili cepat kerahkan ilmu Telapak Roh Laut. Tangan Cucum Mili yang kuning membara tiba-tiba berubah bersinar ungu, membuat Alma melepaskan cengkeramannya.
Alma langsung bergerak mundur dengan cepat, tapi Cucum Mili telah melesatkan dua sinar ungu berwujud telapak tangan.
Blar blar!
Alma Fatara tidak sempat menghindar dan terpaksa ia menahan dengan tinju bersinar ungu berpijar. Dua ledakan terjadi di depan tubuh Alma, tetapi kekuatan ilmu Telapak Roh Laut tidak bisa mengungguli ilmu Tinju Roh Bumi.
Terbukti, jika Alma hanya terjajar beberapa tindak, Cucum Mili justru terjengkang keras.
“Fukrr!” Cucum Mili menyemburkan darah segar lewat mulutnya.
“Ketua!” teriak para anggota Bajak Laut Kepiting Batu terkejut.
Mereka sangat cemas. Meski Cucum Mili adalah ketua yang galak, tetapi dia adalah ketua yang sangat dicintai oleh anak buahnya yang jumlahnya puluhan. Yang hadir di tempat itu saat ini belum sampai setengah dari jumlah anggota Bajak Laut Kepiting Batu seluruhnya.
Namun, Cucum Mili cepat bangkit. Ia merasakan sakit yang parah pada perutnya. Dilihatnya baju biru gelapnya berlumuran darah pada bagian perut. Tubuhnya terasa sakit semua. Ia menyingkap bagian perutnya untuk melihat luka tusukannya.
__ADS_1
Ada banyak luka tusukan sebesar jarum di perut Cucum Mili dan mengeluarkan banyak darah. Benang Darah Dewa tidak hanya menusuk kulit Cucum Mili sehingga mengeluarkan darah, tetapi juga menusuk sampai ke dalam perut, merusak jaringan usus. Selain terluka dalam, raga Cucum Mili juga sudah terluka.
“Bagaimana, Kak? Apakah kau mengaku kalah?” tanya Alma.
“Aku belum mengeluarkan kesaktianku yang sebenarnya!” teriak Cucum Mili.
“Tapi tubuhmu sudah rusak di perut. Jika kau memaksa, luka dalammu akan tambah parah!” kata Alma mengingatkan.
“Aku tidak terima jika harus menyerah dengan kepiting mencret sepertimu!” geram Cucum Mili.
Ketua bajak laut itu lalu melakukan gerakan tangan bertenaga dalam tinggi. Tiba-tiba sepasang mata Cucum Mili menyala merah, sama seperti mulutnya yang merah oleh darah.
Sius sius!
Tubuh Cucum Mili kini diselimuti oleh gelang-gelang sinar merah dari atas kepala sampai kaki.
Ziuzz Ziuzz! Blar blar!
Ketika Cucum Mili menghentakkan kedua lengannya secara bergantian, maka melesatlah gelombang ring sinar merah yang jumlahnya banyak dan bersusulan.
Dengan gesit Alma melompat ke sana, ke mari, menghindari serangan ilmu pamungkas Cucum Mili, meninggalkan ledakan dahsyat di belakang.
Cucum Mili juga bergerak ke sana ke mari sambil terus melesatkan gelombang gelang-gelang sinar merah memburu Alma. Namun, Alma terlalu lincah.
“Hahahak …!” tawa Alma sambil dengan entengnya melesat ke sana ke sini.
Ziuzz ziuzz …! Blar blar …!
Medan tarung itu benar-benar dibuat porak poranda. Jalan Kademangan Dulangwesi yang awalnya bagus, kini seperti area penggalian arkeolog. Lubang-lubang besar yang tercipta membuat seekor kerbau pun tidak bisa lewat, apalagi sebuah pedati.
Dalam upayanya itu, Cucum Mili mengerenyitkan wajah, menahan rasa sakit di dalam tubuhnya. Yang pasti, luka dalamnya dan dalam perutnya semakin memburuk.
Ziuzz ziuzz! Blang blang!
“Kepiting busuk!” maki Cucum Mili terkejut bukan main saat Alma berhenti menghindar, tetapi tubuhnya telah dilindungi oleh ilmu Tameng Balas Nyawa.
Dua gelombang gelang sinar merah yang menyerang Alma menghantam dinding sinar ungu. Kedua gelombang sinar itu berbalik menyerang Cucum Mili sendiri. Keasikan menyerang dan ditambah kondisi tubuh yang semakin buruk, membuat Cucum Mili tidak bisa menahan atau menolak kesaktiannya sendiri.
Brass brass!
“Akk!” pekik Cucum Mili ketika dua gelombang ilmu Gelang-Gelang Laut-nya menghantamnya.
Tubuh Cucum Mili terpental terlempar jauh.
“Ketuaaa!” teriak terkejut kedua belas anggota bajak laut bersamaan.
Udang Karang cepat berlari seperti badak bermaksud menangkap tubuh Cucum Mili.
“Ketua! Aku menangkapmu!” teriak Udang Karang.
Blugk!
__ADS_1
Karena jarak yang jauh, Udang Karang cepat melompat seperti pemain voli yang mengejar keluar lapangan untuk menyelamatkan bola sendiri. Namun apa daya, tangan Udang Karang tidak sampai dan tetap saja tubuh Cucum Mili jatuh menghantam tanah dengan keras. (RH)