
*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*
Ineng Santi dan Nining Pelangi beserta Pasukan Sayap Pelangi bergerak menyebar memasuki kebun kopi. Mereka bergerak setengah berlari menerobos di antara pohon-pohon kopi. Kuda-kuda mereka tinggalkan di luar kebun.
Ineng santi dan Nining Pelangi berlari berdampingan dalam jarak dua tombak.
Pergerakan mereka mengejutkan seorang lelaki bertubuh kokoh dan berwajah keras. Ekspresinya dingin dan datar sedatar permukaan meja. Lelaki bertelanjang dada dan berkeringat itu sedang memikul dua karung berisi kopi sekaligus.
“Kisanak, berhenti!” seru Nining Pelangi.
Seruan sang panglima membuat beberapa anggota Pasukan Sayap Pelangi segera datang mengepung lelaki berambut pendek tersebut.
“Kisanak, apakah kau Bandar Bumi?” tanya Nining Pelangi.
“Bukan, aku Bandar Langit,” jawab lelaki itu tanpa cemas dengan kondisinya yang sudah dikepung oleh para pendekar wanita.
“Jangan berbohong!” tukas Nining Pelangi galak dengan mata mendelik keduanya.
“Dia memang bukan Bandar Bumi, Panglima!” sahut Murai Ranum yang memang mengenal Bandar Bumi.
“Lalu di mana Bandar Bumi?” tanya Nining Pelangi lagi, masih galak segalak jika cemburu setengah buta.
“Cari saja di rumahku,” kata Bandar Langit dengan tenang, seolah tidak ada ketegangan di mana-mana.
Mendengar itu, Ineng Santi bergerak lebih dulu dengan berkelebat di udara, seolah ia sudah tahu letak rumah Bandar Langit. Itu karena wajah Bandar Langit menunjukkan satu arah saat menjawab.
Nining Pelangi terkejut melihat pergerakan cepat Ineng Santi.
“Cari rumah itu!” perintah Nining Pelangi, lalu dia buru-buru berkelebat menyusul Ineng Santi.
Pasukan Sayap Pelangi segera berhamburan berkelebat seperti sekelompak belalang. Mereka meninggalkan lelaki yang memang bernama Bandar Langit, adik dari Bandar Bumi.
Bandar Langit melanjutkan perjalanannya membawa pikulannya ke tujuan, yaitu gudang penyimpanan kopinya yang terpisah jauh dari rumahnya.
Tidak butuh waktu lama untuk menemukan rumah Bandar Langit yang sederhana. Namun, di depan pintunya ada dua orang lelaki berpakaian biru gelap dan bertopeng kain.
Ineng Santi dengan ringan mendarat di depan kedua penjaga bertopeng itu. Meski kedatangannya terkesan damai, tetap saja membuat kedua penjaga itu terkejut dan langsung cabut pedang.
Set set! Tseb tseb!
“Ak! Ak!” jerit kedua lelaki bertopeng saat tiba-tiba dari arah lain melesat dua batang tombak. Masing-masing menusuk tembus tubuh mereka.
Ineng Santi sampai terkejut atas serangan yang dilakukan oleh Gendis dan Lilis Kelimis.
__ADS_1
Suara berisik yang terjadi di luar rumah ternyata memancing seorang pemuda keluar hingga di ambang pintu. Pemuda tampan kurang sedikit itu tidak lain adalah Tenggak Telaga, putra lelaki Bandar Bumi. Pakaian bagusnya kontras dengan kondisi rumah tersebut.
Tenggak Telaga terkejut melihat kehadiran beberapawa wanita cantik dan tidak cantik, plus tergeletak matinya dua penjaga.
Tenggak Telaga cepat berbalik hendak berlari masuk.
“Eiit, mau ke mana, Tampan?” tanya Murai Ranum yang sudah lebih dulu mendarat tepat di belakang Tenggak Telaga. Dia langsung merangkul leher pemuda itu, tepatnya mencekiknya dari belakang dengan tangan kiri dan tangan kanan mengancam menggunakan pedang yang sudah dicabut.
Penyergapan itu membuat Tenggak Telaga tidak bisa berkutik.
Brak!
Tiba-tiba terdengar suara hantaman di sisi belakang rumah. Ineng Santi, Nining Pelangi dan beberapa wanita lainnya segera berkelebatan naik ke atap rumah.
Dari atap rumah itu, mereka melihat seorang lelaki berpakaian kuning mewah sedang berlari kencang berusaha kabur meninggalkan rumah. Sepertinya dia usai menjebol dinding bagian belakang rumah. Dia membawa sekotak kayu berukir berwarna biru terang.
Lelaki itu tidak lain adalah Bandar Bumi. Dilihat dari cara larinya yang enteng, menunjukkan bahwa Bandar Bumi termasuk lelaki berkesaktian.
Namun, lari Bandar Bumi harus terhenti karena tiga wanita muda telah menghadangnya. Ketiga wanita itu adalah Alis Gaib pembawa panji pasukan, Roro Wiro dan Mayang Wangi.
Wuzz!
Bandar Bumi menghentakkan lengan kanannya yang seketika melesat sinar lonjong warna kuning.
Siss! Bluar!
Lesatan kedua sinar yang sangat cepat bertemu singkat di tengah jarak, menimbulkan ledakan tenaga sakti yang cukup kuat. Hasilnya, Roro Wiro terjajar beberapa tindak, sementara Bandar Bumi terhempas terjengkang.
Prakr!
Keterjengkangan itu membuat kotak biru Bandar Bumi terlepas dari pelukan. Hantaman pada tanah membuat kotak itu terbuka dan isinya terburai berserakan di tanah. Isinya adalah beberapa perhiasan emas, tidak begitu banyak. Selain itu, ada juga sebuah pisau kecil sepanjang sejengkal dan benda besi seperti sebuah kunci.
“Bandar Bumi, jangan lari kau!” seru Ineng Santi sambil berkelebat turun ke dekat Bandar Bumi.
“Tahan, Ineng Santi!” seru Nining Pelangi sambil cepat berkelebat menyusul Ineng Santi.
Sementara itu, Bandar Bumi buru-buru memungut kembali perhiasan, pisau dan kuncinya. Benda-benda berharga itu cepat dimasukkan kembali ke dalam kotak kayu, kecuali pisau yang ia cabut sehingga menunjukkan bilahnya berwarna hitam kemerah-merahan.
“Ada apa?” tanya Ineng Santi kepada Nining Pelangi yang mendarat di sisinya.
“Aku yang harus membunuh Bandar Bumi!” tegas Nining Pelangi.
“Tidak, aku yang sudah berjanji kepada Demang Mahasugi akan membawa mayat Bandar Bumi!” tandas Ineng Santi pula.
“Tapi aku adalah panglima di sini. Aku yang berhak menentukan!” kata Nining Pelangi lagi.
__ADS_1
Perdebatan itu membuat anggota Pasukan Sayap Pelangi jadi memandang kepada kedua wanita cantik berbeda kelas itu. Maksudnya kelas kecantikannya.
“Kenapa kau tidak bersahabat denganku?” tanya Ineng Santi dengan tatapan curiga.
“Karena aku tidak suka denganmu. Kakang Arung Seto suka melirikmu!” jawab Nining Pelangi jelas.
“Oooh, baiklah jika kau panglimanya. Selesaikanlah, tapi jangan salahkan aku jika tanggung jawabku dipertanyakan nanti,” kata Ineng Santi.
“Huh!” dengus Nining Pelangi.
Wanita berkepang itu lalu menyalakan kesepuluh jari hitamnya menjadi membara.
“Kau sudah ditetapkam hukuman mati oleh Ratu Siluman, Bandar Bumi!” seru Nining Pelangi lalu bergerak maju menyerang Bandar Bumi.
Sambil tetap memeluk erat kotak kayu birunya, Bandar Bumi bergerak secepat mungkin menghindari serangan berbahaya jari-jari Nining Pelangi.
Sementara itu, personel Pasukan Sayap Pelangi diam menonton, karena belum ada perintah dari panglima mereka.
Tukss!
Pada satu kesempatan, Bandar Bumi sulit menghindar, kecuali dengan menangkiskan kotak kayunya. Jari-jari tangan membara Nining Pelangi mendorong keras kotak kayu itu, sehingga hangus berlubang dan muncul api yang membakar.
Tiba-tiba di udara telah berputar salto sosok lelaki berpakaian merah gelap dan turun tepat di dekat Nining Pelangi dan Bandar Bumi.
Lelaki berusia separuh baya itu langsung menusukkan salah satu tombak trisulanya ke tangan Nining Pelangi yang membolongi kotak perhiasan. Buru-buru Nining Pelangi menarik pulang kampung tangannya guna menghindari serangan pendatang baru itu.
Wuut!
Gagal dengan tusukannya, lelaki itu mengibaskan tombak trisula lainnya untuk menjangkau perut Nining Pelangi, tetapi wanita itu gesit mundur lagi menjauhi garis orbit ujung mata trisula tersebut.
“Kanjeng, pergilah, biar aku yang mengurus mereka!” kata lelaki yang selama ini adalah pendekar yang menjadi sais kereta kuda Bandar Bumi.
“Baik,” ucap Bandar Bumi sambil memadamkan api kecil yang membakar peti kayunya, meski ia bingung harus kabur lewat mana, sebab ia sudah dikepung.
“Tapi serahkan peti itu!” pinta lelaki bertombak trisula itu sambil menatap Nining Pelangi penuh waspada.
“Kau gila, Kurabolong!” maki Bandar Bumi. “Aku sudah membayarmu selama ini, tetapi kau masih menginginkan hartaku!”
“Ini situasinya berbeda, Kanjeng. Jika aku pergi, aku yakin Kanjeng tidak akan selamat,” kata lelaki yang bernama Kurabolong.
“Aaah! Kalian terlalu lama tawar-menawar!” teriak Nining Pelangi kesal sambil maju merangsek maju.
Hal itu mendorong Kurabolong menyambut Nining Pelangi dengan tusukan tombak trisulanya. Dengan lihainya Nining Pelangi mengelak dan dilanjutkan serangan jari-jari yang rapat.
Tanpa berkata apa-apa, Ineng Santi lalu berkelebat menerjang ke arah Bandar Bumi. Melihat hal itu, Nining Pelangi merasa kesal, tetapi dia pun tidak bisa mencegah tindakan Ineng Santi karena sedang bertarung dengan Kurabolong.
__ADS_1
Bandar Bumi mengaktifkan kesaktian pisau kecilnya demi tidak mati dalam pertarungan. (RH)