
Wanita itu duduk bersila di antara dua kelompok pohon bambu yang tumbuh di pinggir sungai. Duduknya beralaskan dedaunan bambu kering. Ia mengenakan pakaian warna-warni seperti kombinasi warna pelangi, begitu semarak. Kepalanya di tutupi oleh caping bambu besar berwarna alami. Rambutnya terurai panjang sepunggung. Meski bercaping, tetapi wajah cantiknya yang matang tetap terlihat.
Meski ia sedang memancing di tempat yang sepi, yang rasanya sulit ada lelaki lewat, ia tetap mendandani wajahnya dengan cantik. Lingkar mata berwarna hitam cantik, pipi berwarna kemerahan dan bibir berwarna merah terang. Bedaknya cukup tebal. Di sisi kirinya ada keranjang bambu kecil berisi beberapa ekor ikan yang sudah dipancingnya.
Wanita cantik berusia empat puluh tahun itu bernama Wiwi Kunai. Salah satu kesehariannya adalah memancing ikan untuk konsumsi sehari-hari. Terkadang ia pergi menjualnya ke kademangan jika sedang puasa ikan. Ia tahu bahwa selain daging, manusia juga akan sehat badannya jika makan buah-buahan dan sayur-mayur, sehingga kebutuhan empat sehat lima sempurna terpenuhi.
Tiba-tiba kekusyukan Wiwi Kunai terusik oleh hanyutnya sebuah tangan yang menggapai, cukup jauh di tengah. Tidak berapa lama, dari dalam air timbul separuh tubuh anak perempuan sambil menyemburkan air dari dalam mulutnya.
“Eh, anak itu hanyut, tetapi bisa menyemburkan air. Bukankah di hulu hanya ada hutan dan jurang?” pikir Wiwi Kunai tidak habis pikir.
Jelas-jelas kondisi anak perempuan yang dilihatnya itu sedang hanyut, tetapi ia bisa mengatur posisi tubuhnya di air.
“Anak yang menarik!” ucap Wiwi Kunai semangat.
Wanita itu lalu menarik kailnya. Mata pancing yang kosong dari ikan itu melambung ke belakang. Wiwi lalu kembali mengayunkan dengan kencang. Entah bagaimana ceritanya, mata kail itu kemudian terlempar sangat jauh ke tengah sungai yang berarus deras, padahal tali senar pancing yang panjang awalnya hanya beberapa depa, jadi berlipat-lipat lebih panjang.
Mata pancing tepat jatuh pada tubuh anak perempuan yang hanyut. Ketika Wiwi menarik kailnya, maka mata pancing mengait pakaian si anak. Entah bagaimana ceritanya? Senar pancing yang panjang tertarik memendek sendiri, menarik tubuh anak perempuan itu ke tepi, tepatnya ke depan Wiwi Kunai duduk.
Setelah ditarik ke pinggir, anak perempuan yang adalah Alma Fatara itu, jadi bisa berenang normal mendekati posisi Wiwi Kunai.
“Pruuut!”
Dengan seenaknya, Alma menyemburkan air yang ada di dalam mulutnya ke atas, tepat ke pangkuan Wiwi.
“Bocah Cucut!” maki Wiwi Kunai sambil melompat bangun menghindari air semburan itu.
“Hahahak …!” tawa Alma Fatara melihat tindakan Wiwi Kunai.
“Ada yang lewat!” kata Wiwi Kunai sambil mengambil sebatang bambu.
Ujung bambu itu lalu disodokkan ke punggung Alma, mendorong tubuh anak itu tenggelam bersama kepala-kepalanya. Alma sempat gelagapan, tetapi ia tidak kuasa untuk menolak atau melawan. Di dalam air, entah bagaimana bisa, Alma tidak bisa melepaskan diri dari tekanan ujung bambu yang seolah melekat kuat.
Dari arah hulu, tampak seorang lelaki berenang cepat karena mengikuti arah arus. Namun, ketika lelaki yang adalah Jura Paksa itu melihat keberadaan Wiwi Kunai yang sedang memancing, ia berenang agak ke tepi.
“Wahai wanita yang cantik, yang sedang memancing cinta, apakah kau melihat ada anak perempuan hanyut yang lewat?!” teriak Jura Paksa dari tengah sungai.
Wiwi Kunai tidak menjawab. Ia lepas tangannya yang menekan ujung bambu ke air, lalu menunjuk ke arah hilir. Anehnya, meski bambu itu sudah tidak ditekan, tetapi batang bambu itu bergeming, tidak naik ke atas karena daya apungnya.
“Terima kasih!” teriak Jura Paksa sambil lambaikan satu tangannya kepada Wiwi Kunai. Ia lalu melanjutkan berenangnya ke arah hilir.
Setelah pemuda itu pergi jauh, Wiwi Kunai menarik bambunya ke atas, membuat tubuh Alma Fatara kembali mengambang naik ke permukaan dan timbul.
__ADS_1
“Uhhuk uhhuk uhhuk!” batuk Alma dengan mata yang memerah. Rupanya ada air yang tertelan lewat di tenggorokannya.
“Ayo kita pulang!” ajak Wiwi Kunai sambil bangkit berdiri. Ia mengangkat keranjang bambunya.
Alma lalu bergerak ke tepi lalu merayap naik sendiri ke darat. Wiwi Kunai melangkah ke arah barat, sementara Alma lalu berjalan ke arah timur dalam kondisi kuyup.
“Eh eh eh, ikut aku pulang!” kata Wiwi Kunai saat mengetahui Alma malah berjalan ke lain arah.
“Tidak mau!” teriak Alma sambil berlari hendak kabur.
Seeet!
Wiwi Kunai mengayunkan kailnya yang bisa memanjang sekehendaknya. Tali pancing menjangkau Alma dan melilit tubuhnya bersama kedua tangannya. Wiwi lalu menariknya.
“Aaak!” jerit Alma kesakitan, karena merasakan kulitnya seolah mau teriris oleh senar pancing.
“Jika tidak mau sakit, jangan menahan!” kata Wiwi Kunai lalu berjalan sambil menarik pancingnya.
Mau tidak mau, Alma harus mengikuti langkah Wiwi Kunai agar tidak menciptakan daya tarik pada senar pancing. Wajah cantik Alma tampak merengut.
Akhirnya Alma memilih berlari kecil dan berjalan di sebelah Wiwi Kunai. Mereka berjalan menjauh dari pinggir sungai.
Setelah itu, di tengah sungai bermunculan puluhan orang yang berenang mengikuti arus. Mereka tidak lain adalah Sugang Laksama, Cucum Mili dan para anak buahnya. Mereka tidak mampir, tetapi terus berenang menuju hilir.
“Kenapa?” tanya Wiwi Kunai tanpa melirik.
“Kalau aku tinggal di rumah Bibi, aku bisa diajari kesaktian?” tanya Alma, seolah ia tidak peduli lagi dengan kondisinya yang terlilit.
“Ilmuku terlalu mahal untuk diajarkan. Kau bisa membayarnya?” tanya balik Wiwi Kunai.
“Aku tahu, Bibi bukan perempuan gila harta,” kata Alma.
“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Wiwi Kunai yang melihat Alma sebagai anak yang pemberani, mudah akrab, dan sepertinya cerdas.
“Hahaha!” tawa Alma terbahak, seolah jumawa. “Orang sakti kalau mau jadi orang kaya adalah gampang, cukup memeras orang kaya yang tidak sakti.”
“Itu cara jahat, tidak boleh!” hardik Wiwi Kunai.
“Aku hanya memberi contoh, Bibi. Wah, kalau Bibi tidak suka cara jahat, berarti Bibi orang baik. Tapi, kenapa aku diikat seperti kambing?” kata Alma.
“Jika aku memancing, semua ikan yang aku dapatkan adalah menjadi milikku. Salah satu ikan itu adalah kau. Aku tidak peduli kau anak manusia atau anak dedemit, pokoknya kau adalah ikan tangkapanku!” tandas Wiwi Kunai.
__ADS_1
“Itu terlalu jahat, Bi. Kau samakan aku dengan binatang. Begini saja, Bi, kita buat kesepakatan. Aku carikan Bibi pemuda tampan, Bibi ajari aku ilmu kesaktian,” usul Alma.
“Dasar Bocah Cucut!” rutuk Wiwi Kunai. “Apa tujuanmu menjadi sakti, apalagi kau perempuan?”
“Kalau aku sakti, aku bisa menjaga diri, Bi. Tidak seperti tadi, aku mau ditelanjangi ramai-ramai gara-gara aku dituduh mengambil Bola Hitam. Sampai aku dikejar-kejar ke dalam hutan dan jatuh ke jurang,” kata Alma.
“Oh, jadi karena itu kau sampai hanyut,” ucap Wiwi Kunai. “Sehebat apa dirimu sampai tidak tenggelam saat hanyut?”
“Aku ini jago dalam berenang, Bi. Aku tinggal di Desa Iwaklelet di Pantai Parasemiris, tiap hari aku berenang di laut.”
“Tapi kenapa kau tidak hitam?”
“Hahaha! Itulah hebatnya aku, Bi. Tapi aku juga tidak tahu. Teman-temanku hitam-hitam, tetapi aku tetap yang paling cantik, banyak disukai oleh ikan-ikan. Hahaha!”
Alma tertawa dengan gaya khasnya.
Wiwi Kunai lalu melepaskan lilitan kailnya.
“Pancing Bibi hebat, seandainya aku punya pancing seperti ini, aku pasti bisa membuat Ayah jadi orang kaya.”
“Bagaimana caramu membuat kaya ayahmu dengan kail sakti?”
“Aku akan pergi melaut ke tengah samudera dan memancing ikan-ikan besar. Hahaha!” jawab Alma sambil membayangkan melaut lalu pulang dengan perahu hampir tenggelam karena kelebihan muatan ikan.
“Hihihi!” tawa Wiwi Kunai kali ini. Lalu katanya, “Aku tahu di mana kau bisa mengambil kail sakti seperti punyaku.”
“Di mana, Bi?” tanya Alma cepat.
“Akan aku beri tahu jika kau mau tinggal bersamaku selama lima tahun,” kata Wiwi Kunai.
“Tidak bisa ditawar jumlah tahunnya?” tanya Alma.
“Tidak, itu harga pas!” tandas Wiwi Kunai.
“Tapi aku boleh pulang sesekali ke rumahku di Desa Iwaklelet?”
“Boleh.”
“Baik, sepakat!” kata Alma semangat sambil menjulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan tanda sepakat.
“Sepakat! Hihihi!” kata Wiwi Kunai lalu tertawa sambil menjabat tangan kecil Alma. Ia menilai Alma sebagai anak yang cerdas dan lucu. “Panggil aku Bibi Wiwi Kunai!”
__ADS_1
“Panggil aku Alma Fatara!” (RH)