
*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*
Nenek Cuping memberikan dubang, tempat meludah sirih dari bahan batok kelapa, kepada Balito Duo Lido.
Baru saja nenek gemuk itu hendak menyendok nasi, tiba-tiba ….
“Nenek Balito!” sebut Alma sambil menepuk paha si nenek.
“Ayam kawin terus! Ayam kawin ayam kawin, terus-terusan. Eh ketagihan kawin!” pekik Balito Duo Lido terkejut latah, sambil kedua tangannya diangkat ke atas seperti gerakan monster dan bibir tuanya berucap tapi dalam kondisi monyong.
“Hahahak …!”
Meledaklah tawa Alma Fatara dan rekan-rekan, bahkan Mbah Hitam tersenyum manis semanis daging durian, bukan kulit durian.
“Kau jangan mengagetkan aku, Alma. Aku ini orangnya latah!” hardik Balito Duo Lido yang justru membuat Alma terus tertawa.
“Aku tidak mengagetkanmu, Nenek. Aku hanya mau bertanya, bagaimana bisa kau pernah satu kamar dengan guruku. Jika guruku lelaki, mungkin aku bisa mengerti jika kalian pernah satu kamar. Hahaha!” kata Alma yang bisa langsung mengakrabkan diri dengan pemimpin Desa Tinggelos itu.
“Apakah aku masih terlihat cantik, Alma, Riring, Putri?” tanya Balito kepada Alma, Riring Belanga dan Putri Angin Merah, sambil mengedip-ngedipkan sepasang mata tuanya.
“Masih,” jawab Riring Belanga.
Balito Duo Lido memang masih memiliki sisa-sisa kecantikan pada wajahnya, terutama pada bagian bentuk mata.
“Sepuluh tahun yang lalu bahkan aku masih terlihat sangat cantik,” kata Balito Duo Lido sambil menyendok nasi dan lauk. Lalu ceritanya, “Sekitar dua puluh tahun yang lalu, ada sebuah pertandingan pendekar persilatan yang diadakan oleh Kerajaan Singayam. Hadiahnya jabatan di kemiliteran dan banyak harta. Banyak sekali pendekar yang hadir untuk bertanding. Para pendekar disediakan penginapan oleh pihak kerajaan. Saat itu, aku satu kamar dengan Pemancing Roh. Lucunya dia itu, dia datang, tapi tidak ikut bertanding.”
“Nenek, berarti kau kenal dengan banyak pendekar sakti?” tanya Alma.
“Hihihi! Hampir semua pendekar masa lalu aku kenal. Eh tidak, tetapi mereka yang mengenalku karena aku terkenal cantik di kalangan pendekar lelaki dan selalu dicemburui pendekar wanita. Amm,” jawab Balito Duo Lido lalu mulai menyuap.
“Apakah Nenek Balito tahu pendekar sakti ganteng, cebol, dan suka menunggang kambing?” tanya Alma.
“Eh, di mana kalian pernah bertemu orang itu?” Balito Duo Lido malah cepat bertanya balik.
“Hari ini di jalanan,” jawab Alma.
“Lalu di mana dia?” tanya Balito Duo Lido seolah ia pun ingin sekali bertemu dengan lelaki yang Alma maksud.
__ADS_1
“Sudah pergi,” jawab Alma.
“Aduuuh! Kalian rugi besar jika membiarkannya pergi begitu saja. Seharusnya kalian menahannya lama-lama, jika perlu mengikatnya. Hihihi!” kata Balito Duo Lido lalu tertawa sendiri.
“Kenapa bisa seperti itu, Nek?” tanya Cucum Mili penasaran juga.
“Dia itu adalah Malaikat Serba Tahu, orang sakti yang tahu segala hal. Dia tempat semua orang bertanya berbagai rahasia dan masa depan.”
Terkejutlah Riring Belanga, Cucum Mili dan Mbah Hitam mendengar nama Malaikat Serba Tahu, sebab mereka juga tahu tentang orang sakti yang selalu ingin ditemui oleh setiap pendekar.
“Tapi dia tidak tahu siapa nama ayah dan ibuku, Nek,” kata Alma.
“Mmm, ayamnya enak sekali,” ucap Balito Duo Lido saat merasakan ayam opor pedasnya. “Siapa yang memasak ayam ini?”
“Aku!” jawab Iwak Ngasin, Anjengan dan Gagap Ayu bersamaan sambil kompak tunjuk tangan seperti anak PAUD.
“Aku doakan semoga kalian semua mendapat jodoh yang sesuai!” kata Balito Duo Lido.
“Kok yang sesuai, Nek?” tanya Anjengan.
“Sayang sekali,” ucap Cucum Mili menyesal. “Padahal aku bisa bertanya tentang hubunganku dengan Sugang Laksama.”
“Kau kekasihnya Pendekar Pedang Dedemit?” tanya Balito Duo Lido.
“Aku kekasih gelapnya,” jawab Cucum Mili jujur.
“Hahaha! Jangan kecil hati Kakak Putri. Kau bisa mencontoh aku, tanpa memburu cinta, banyak lelaki yang mengharapkanku,” kata Alma Fatara.
“Aku kalah telak denganmu untuk segala hal,” kata Cucum Mili yang membuat Alma hanya terus tertawa.
“Berarti Nenek Balito juga mengenal guruku?” tanya Riring Belanga.
“Kenal. Rereng Busa yang kurus itu. Kami akrab. Kami pernah lama bersama,” jawab Balito Duo Lido, padahal Riring Belanga belum menyebut siapa nama gurunya. Ia bisa menerka dari kesepuluh jari tangan hitam Riring Belanga. Namun, ekspresi wajah si nenek datar-datar saja.
“Nenek Balito pernah disakiti oleh Kakek Rereng Busa, ya?” terka Alma Fatara.
“Itu sudah menjadi nasib semua wanita, pernah disakiti oleh seorang lelaki,” kata Balito Duo Lido. Lalu tanyanya kepada Nenek Cuping, “Cuping, berapa kali kau disakiti oleh lelaki?”
__ADS_1
“Lebih dari sepuluh kali,” jawab Nenek Cuping.
“Berarti Kakak Putri masih beruntung,” kata Alma.
“Jika Nenek Balito akrab dengan guruku, berarti Nenek Balito tahu tentang Telur Gelap?” tanya Riring Belanga.
“Ayam kawin enak enak enak! Ayam kawin ayam kawin, eh ayam kawin enak sekali, ah ah ah!” latah Balito Duo Lido yang kali ini pakai mendesah-desah seperti sedang keenakan.
“Hahahak …!” tawa terbahak Alma dan rekan-rekan.
“Kenapa kau tiba-tiba menyebut nama benda itu?” tanya Balito Duo Lido serius.
“Justru karena kami tidak tahu benda apa itu, kami menyebutnya, Nek,” kata Alma Fatara. “Kakek Rereng Busa ditangkap oleh orang-orang Perguruan Bulan Emas dan disandera. Hanya Telur Gelap yang bisa menebus nyawanya,” kata Alma.
“Bebek bunting!” maki Balito Duo Lido, tapi bukan latah. “Beruntung kalian bertemu dengan Malaikat Serba Tahu, jadi kalian ditunjuki ke arah yang tepat.”
“Tolong beri tahu kami, apa yang harus kami lakukan agar bisa mendapatkan Telur Hitam,” desak Riring Belanga.
“Dulu, aku, Rereng Busa, Wulan Kencana, dan Pendekar Tongkat Roda sangat akrab sampai ke tahap bermain hati. Tapi ujung-ujungnya kami saling menjauh karena konflik bersama. Rereng Busa kemudian mendirikan Perguruan Jari Hitam, Wulan Kencana mendirikan Perguruan Bulan Emas, Pendekar Tongkat Roda tetap menjadi pendekar, dan aku menyepi di Desa Tinggelos. Pendekar Tongkat Roda memiliki seekor monyet besar kesayangan. Monyet besar ini bernama Abang Ayu karena memiliki bulu yang merah. Pada bagian belakang leher Abang Ayu ada benjolan daging sebesar telur. Karena warnanya hitam, jadi Pendekar Tongkat Roda menyebutnya Telur Gelap,” tutur Balito Duo Lido.
Alma Fatara dan Riring Belanga saling pandang.
“Jika Telur Gelap itu hanya sebuah daging tumbuh di tubuh seekor monyet, lalu apa istimewanya? Sampai-sampai begitu istimewa sebanding dengan nyawa Kakek Rereng Busa,” tanya Alma.
“Aku yakin, Malaikat Serba Tahu tidak pernah tahu tentang Telur Gelap. Ia hanya tahu dari kesaktiannya tentang orang yang tahu. Dan aku hanya tahu bahwa Telur Gelap adalah nama dari daging tumbuh di leher Abang Ayu,” tandas Balito Duo Lido.
“Tapi kenapa Perguruan Bulan Emas begitu menginginkan Telur Gelap, sampai-sampai berbuat licik meracuni guruku untuk mendapatkannya?” tanya Riring Belanga yang akalnya belum bisa menerima keterangan dari Balito Duo Lido.
“Aku sangat tidak tahu. Wulan Kencana sangat kejam jika sampai meracuni Rereng Busa hanya demi sebuah daging penyakit. Setahuku hubungan Wulan Kencana sangat tidak baik dengan Pendekar Tongkat Roda. Mungkin dia begitu menginginkan Telur Gelap, tapi tidak mungkin meminta langsung kepada Pendekar Tongkat Roda,” tutur Balito Duo Lido.
“Jadi Nenek Balito benar-benar tidak tahu kehebatan atau keistimewaan dari Telur Gelap?” tanya Alma lagi.
“Tidak!” tegas Balito Duo Lido.
“Jika tidak begitu istimewa, lalu kenapa tadi Nenek Balito latah saat mendengar Telur Gelap disebut?” tanya Alma kritis.
“Aku terkejut karena Telur Gelap adalah nama yang menurutku tidak mungkin disebut lagi, kecuali sedang bermain bersama Abang Ayu,” jawab Balito Duo Lido. (RH)
__ADS_1