Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Dewa Gi 1: Heboh Wanita Gila


__ADS_3

*Dendam Wanita Gila (Dewa Gi)*


“Hiks hiks hiks!”


Terdengar suara tangis Gelis Sibening meratapi kondisi suaminya yang menderita luka senjata tajam yang parah.


Dendeng Pamungkas sudah diobati oleh Belik Ludah. Dua luka besarnya sudah dibaluri oleh obat racikan Bocah Tabib.


Seperti saat ini, Belik Ludah sedang menumbuk beberapa jenis daun dan akar-akaran di batok kelapanya di teras rumah sewa. Rupanya dia memiliki alat ulekan terbuat dari kayu sonokeling.


Dari dalam rumah muncul Penombak Manis dengan kondisi pakaian agak basah. Sepertinya dia baru selesai mainan air, yang pastinya bukan main tembak-tembakan air.


“Belik, perempuan itu sudah kami mandikan dan pakaikan baju baru,” kata Penombak Manis.


“Iya, sebentar. Aku sedang membuat ramuan untuk luka dalam kakak itu,” kata Belik Ludah. “Oh ya, Kak. Aku butuh air mendidih untuk merendam ramuan ini nanti.”


“Baik, Bocah Tabib,” ucap Penombak Manis patuh.


“Hehehe!” kekeh Belik Ludah sambil tetap mengulek bahan-bahan di dalam tempurung kelapa.


Penombak Manis kembali masuk ke dalam rumah untuk mengerjakan apa yang diminta oleh sang tabib muda.


Tidak berapa lama, Belik Ludah selesai menghaluskan racikannya. Hasilnya ia tumpahkan di sebuah piring kayu.


Ia lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Dilihatnya di ruang depan, Dendeng Pamungkas berbaring beristirahat di atas sebuah tikar pandan. Di sisinya duduk bersimpuh wanita cantik yang adalah istrinya, Gelis Sibening. Istri muda itu sedang menangis meratapi kondisi suaminya.


Dendeng Pamungkas saat ini sedang tidak sadarkan diri. Namun, Belik Ludah selaku tabibnya sudah mengatakan bahwa nanti setelah sadar, kondisi Dendeng Pamungkas akan lebih segar.


Belik Ludah langsung menuju ke dapur. Di sana ada Penombak Manis dan Alis Gaib sedang menyalurkan hal yang bukan hobinya, yaitu memasak.


“Kakak Manis, ini ramuannya. Jangan direbus, tapi nanti direndam di air panas yang sudah tidak di atas api. Nanti airnya disaring untuk diminum kakak dekil tadi,” kata Belik Ludah.


“Baik,” ucap Penombak Manis lalu menerima pemberian tabib kecil itu.


Belik Ludah lalu berbalik dan langsung pergi ke kamar yang pintunya hanya bertirai.


Ketika dia masuk, di atas sebuah tempat tidur terbaring seorang wanita muda nan cantik jelita. Kulit wajahnya berwarna putih susu. Hanya saja bibirnya pecah-pecah. Rambutnya panjang dan masih basah. Pakaiannya yang berwarna kuning adalah pakaian baru yang menggantikan pakaian kotor dan baunya. Wanita itu dalam kondisi tidak sadarkan diri.


Belik Ludah menghampiri wanita cantik yang seperti putri tidur itu. Namun, sedikit pun Belik Ludah tidak punya pikiran mesum atau cenderung kepada hal yang kotor. Belik Ludah adalah anak yang lugu, isi kepalanya masih natural dan belum terkontaminasi tontonan cabul seperti remaja-remaja masa depan.


Dak!


“Aak!”


Tiba-tiba Belik Ludah memukulkan batok kelapanya ke jidat wanita yang dibawa oleh Penombak Manis, Alis Gaib, Geranda, dan Gede Angin itu. Meski dalam kondisi pingsan, wanita yang adalah Suraya Kencani itu langsung menjerit sadar.


Getokan Belik Ludah itu ternyata membuat jidad Suraya Kencani memerah dan benjol.

__ADS_1


“Anak babi hutan terlalu jahat sampai hamil anak setan bebek nyungsep di kolong jembatan kayu setaaan!” teriak Suraya Kencani keras, cepat dan panjang.


“Huwwaaa …!” jerit Belik Ludah terkejut dan ketakutan sambil berlari kencang ke luar kamar.


Gelis Sibening, Penombak Manis dan Alis Gaib terkejut mendengar makian Suraya Kencani dan jeritan Belik Ludah. Ketiga wanita itu cepat bergerak ke kamar.


Wuss!


Namun, belum lagi salah satu dari mereka menyingkap tirai kamar, tiba-tiba satu angin keras bertiup dari dalam kamar, menghempaskan ketiga wanita tersebut berjatuhan di ruang tamu.


“Bebek Setan! Babi Setan! Sapi Setan! Kambing Setan! Ayam Setan! Kucing Setan! Tikus Setan!” maki Suraya Kencani sambil berjalan terhuyung menuju ke luar rumah.


“Eh eh eh! Nisanak!” panggil Alis Gaib bermaksud menahan.


“Apa?!” teriak Suraya Kencani sambil berbalik dengan wajah garang, memperlihatkan giginya yang sebagian berwarna hitam dan berkarang karena terlalu lama tidak terawat.


Penombak Manis, Alis Gaib dan Gelis Sibening hanya bisa terkejut dan mundur setindak. Sementara Suraya Kencani kembali berbalik dan berjalan terhuyung keluar rumah. Penombak Manis dan Alis Gaib segera mengejar.


Sementara itu, Belik Ludah berlari ke tempat Geranda dan Gede Angin berada, yaitu di warung bubur kambing pedas Ki Jentang.


“Kakang Geranda! Kakang Gede! Tolong!” teriak Belik Ludah sambil berlari masuk ke kedai bubur yang tidak ada spanduk bertuliskan “bubur ayam kambing”-nya.


Di kedai itu juga ada beberapa murid Jari Hitam yang tidak hitam jarinya ikut makan. Mereka semua ditraktir oleh Geranda, orang kayanya Pasukan Genggam Jagad yang pinggang dan kudanya penuh kepeng.


Kedatangan Belik Ludah yang berlari kencang dan terengah-engah mengejutkan mereka, termasuk Ki Jentang, pemilik kedai yang adalah seorang lelaki separuh baya gemuk berperut gendut.


“Ada apa, Belik?” tanya Geranda cepat.


“Ah, kau ini ada-ada saja,” kata Geranda menganggap lelucon.


“Tolong, Kakang. Aku takut dia malah mati jika kesurupan seperti itu,” desak Belik Ludah.


“Hah! Separah itu?” kejut Gede Angin. Ia lalu buru-buru bangun dari duduknya dan bergegas keluar.


Dak!


“Hahaha!” tawa Geranda dan rekan-rekan Jari Hitam saat kepala Gede Angin yang tinggi terbentur ambang batas atas pintu kedai.


Papan pintu itu sampai patah. Seperti tidak kesaktian, Gede Angin tinggal merunduk sedikit lalu keluar. Geranda dan yang lain jadi ikut keluar.


Tidak berapa lama, dari pusat desa muncul berjalan terhuyung seorang wanita cantik jelita berpakaian warna kuning. Namun, mereka tidak mengenalnya, baru kali ini melihatnya.


Di belakang wanita cantik berlari kecil Penombak Manis dan Alis Gaib.


“Cantik sekali!” ucap Geranda terpukau.


“Iya, sangat cantik!” ucap Gede Angin pula.

__ADS_1


Namun, keduanya dan yang lainnya, yang terpana saat melihat kejelitaan Suraya Kencani, tiba-tiba terkejut ketika ….


“Bebek Setan! Babi Setan! Sapi Setan! Kambing Setan! Ayam Setan! Kucing Setan! Tikus Setan!” maki Suraya Kencani sambil berjalan terhuyung. Kalimat itu dia suarakan berulang-ulang dengan kencang-kencang.


Makian-makian langka itu membuat warga sekitar yang mendengarnya jadi penasaran untuk melihat siapa dan ada apa.


“Wadduh! Kok jadi seperti itu?” ucap Geranda.


“Hahaha!” Gede Angin justru tertawa mendapati kenyataan yang ada.


Dalam waktu singkat, ramailah warga desa dan sejumlah pendekar yang sedang singgah di tempat itu, di tempat yang ternama dengan kedai ayam panggang madu Mbah Lawut dan kedai bubur kambing pedas Ki Jentang.


“Itu itu itu!” tunjuk Belik Ludah.


“Geranda, jangan biarkan wanita itu pergi! Dia wanita yang kita bawa untuk diobati!” seru Alis Gaib.


“Hadang, hadang! Jangan biarkan lewat!” teriak Geranda cepat kepada teman-teman murid-murid Jari Hitam.


Para lelaki itu segera menyebar menghadang Suraya Kencani sambil merentangkan tangan, seperti orang yang sedang mengepung ayam betina yang lepas dari kandang.


Dihadang seperti itu, Suraya Kencani jadi berhenti melangkah dan memandangi para penghadang itu dengan tatapan yang tajam dan marah.


“Aaargk! Setan-setan kuburan babi sapi ayam bebek kambing kucing tikus banci keterlaluan tidak punya ekor mati di dalam tungku biar jadi setaaan!” teriak Suraya Kencani.


“Hahaha …!” tawa Geranda dan rekan-rekan yang baru kali ini mendengar caci makian unik seperti itu.


Ditertawakan seperti itu, Suraya Kencani jadi memandang liar seperti orang panik.


“Hei!” bentak Suraya Kencani sangat keras, sepertinya mengandung tenaga dalam.


Teriakan itu mengejutkan mereka semua, karena efeknya sampai ke dalam dada.


“Nisanak Cantik, kau tidak boleh pergi. Gusti Ratu memerintahkan kami untuk mengobatimu!” seru Geranda berusaha bersikap bersahabat.


Tuk tuk tuk!


Tiba-tiba dari belakang, Penombak Manis bergerak cepat dan menyarangkan beberapa totok yang membuat Suraya Kencani mematung dan membisu.


“Fukrrr!” Tiba-tiba Suraya Kencani menyemburkan darah dan jatuh, tapi sudah terbebas dari totokan.


Alangkah terkejutnya mereka melihat itu, terutama Penombak Manis. Ia menduga bahwa totokannya yang menyebabkan Suraya Kencani muntah darah.


“Suraya Dewi Kahyangan!” sebut seorang lelaki tua sambil berjalan cepat menghampiri Suraya Kencani.


Mendengar dirinya dipanggil dengan nama seperti itu, terkejutlah Suraya Kencani dan langsung menengok, melihat siapa orang yang memanggilnya. (RH)


 

__ADS_1



YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.


__ADS_2