Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Kerja Bu 28: Rebutan Mbah Hitam


__ADS_3

*Keris Pemuja Bulan (Kerja Bu)* 


 


Iwak Ngasin dan Juling Jitu bertugas membawa obor sebagai penerang jalan. Yang namanya pendekar tidak perlu penerangan yang terlalu terang untuk berjalan.


Zezz zezz!


Sesekali ada suara desisan ular terdengar oleh mereka, tapi tidak selalu. Itu tanda bahwa Mbah Hitam benar-benar mengawal langkah mereka sepulang dari Mata Air Pahit.


“Alma, kenapa kau tidak menyuruh Mbah Hitam mengawal kita dengan wujud manusianya?” tanya Anjengan.


“Be-be-belut. Eh, kok sa-sa-salah? Betuuul!” sahut Gagap Ayu pula.


Belum juga Alma menjawab, Juling Jitu sudah menyergah.


“Enak saja. Jika dia benar-benar bergabung bersama kita, itu membuat aku tidak nyaman!”


“Aku juga tidak nyaman,” timpal Iwak Ngasin pula, menguatkan Juling Jitu.


“Dasar pe-pe-pe ….”


“Peyek?” terka Juling Jitu memotong perkataan Gagap Ayu.


“Pe-pe-penakuuut!” tegas Gagap Ayu.


“Siapa yang penakut?” sanggah Juling Jitu sewot.


“Benar, siapa yang takut?!” Iwak Ngasin juga ngegas kepada Anjengan dan Gagap Ayu.


“Jika tidak takut, berarti kalian tidak masalah jika Mbah Hitam berjalan bersama kita,” tandas Anjengan.


“Be-be-betul. Jika ka-ka-kalian tidak se-se-setuju, be-be-berarti kalian ta-ta-takut,” kata Gagap Ayu.


“Aku tidak takut!” kata Iwak Ngasin.


“Aku juga. Mana ada ceritanya Pendekar Tampan Iwaklelet takut,” sesumbar Juling Jitu dengan menyebut julukannya.


“Mbah Hitam! Bergabunglah dengan kami dalam wujud manusiamu!” teriak Alma tiba-tiba yang mengejutkan Juling Jitu dan Iwak Ngasin.


“Hamba, Gusti Ratu!” ucap Mbah Hitam yang tiba-tiba muncul berdiri di tengah-tengah keempat sahabat Alma. Suaranya belum berubah, masih kakek-kakek.


“Jiaaa!” pekik Iwak Ngasin dan Juling Jitu terkejut bersamaan, sambil melompat menjauhi sosok Mbah Hitam yang muncul dalam wujud pemuda tampannya, yang kata Gagap Ayu “tampannya keterlaluan”.


“Hahahak!” tawa Alma Fatara dan kedua gadisnya melihat kedua sahabat lelakinya itu.


Sementara Mbah Hitam tetap kalem layaknya seorang pengawal.


“Aduuuh, gantengnya!” ucap Anjengan begitu girang sambil meraih lengan kanan Mbah Hitam dan memeluknya dalam rangkulan. Ia tidak risih ketika dadanya harus tertekan oleh lengan kekar Mbah Hitam.


“Hihihi! Wa-wa-wanginya!” ucap Gagap Ayu pula tidak mau kalah dari Anjengan sambil meraih lengan kiri Mbah Hitam dan memeluknya pula.


Sosok Mbah Hitam wujud manusia memang memiliki harum daun pandan pada tubuhnya. Itu akan tercium jika berada sangat dekat dengannya, seperti posisi Anjengan dan Gagap Ayu sekarang ini.


“Apa yang kalian berdua lakukan? Kenapa jadi kecentilan seperti ini?” hardik Alma Fatara.

__ADS_1


“Jika aku tidak cepat bertindak, nanti Mbah Hitam direbut Gagap Ayu!” kilah Anjengan.


“Me-me-memangnya Mbah Hitam akan ja-ja-jatuh tersungkur ke-ke-kepadamu?” tanya Gagap Ayu tapi bernada menyudutkan. Ia masih tetap memeluk lengan kekar Mbah Hitam.


“Hah! Kau pikir kau lebih cantik dariku? Kau hanya unggul gagap dari aku!” balas Anjengan.


“Itulah ke-ke-keunggulanku yang ti-ti-ti ….”


“Keunggulan apa? Nanti jika kau main kuda-kudaan, nikmatnya juga gagap. Hahaha!” ejek Anjengan memotong perkataan Gagap Ayu.


“Ku-ku-kurang ajar!” maki Gagap Ayu sambil menyeberangkan tendangannya ke pinggul Anjengan.


“Kau berani kepadaku?” bentak Anjengan lalu bergerak menyerang balik Gagap Ayu.


Gagap Ayu cepat berkelit menghindar.


“Se-se-sejak kapan aku ta-ta-takut kepada ubur-ubur, hah?!” balas Gagap Ayu.


“Aku cekik kau, Ikan Teri!” ancam Anjengan lalu kembali menyerang Gagap Ayu.


“Aku ke-ke-kempiskan kau, Pe-pe-penyu Ha-ha-hamil!” balas Gagap Ayu sambil meladeni serangan Anjengan.


Pertarungan dengan saling serang fisik dan verbal itu terjadi.


Iwak Ngasin segera memberi kode mata kepada Juling Jitu. Keduanya lalu kompak membuang obor dan menyergap Anjengan dan Gagap Ayu dari belakang. Mereka memeluk kuat perut kedua gadis itu.


“Jangan bertengkar, Anjengan!” kata Iwak Ngasin sambil menarik mundur Anjengan yang terus berusaha menyerang Gagap Ayu.


“Berhenti, Gagap Ayu!” teriak Juling Jitu juga sambil menarik mundur tubuh Gagap Ayu yang lebih enteng.


Anjengan terus berusaha menjangkau Gagap Ayu dengan tinjunya, tapi sudah tidak sampai. Demikian pula Gagap Ayu, kakinya berusaha menjangkau Anjengan, tapi sudah menjauh.


Tiba-tiba Anjengan berbalik dan mendorong tubuh Iwak Ngasin hingga terjengkang.


“Kurang ajar kau, Iwak! Kau memegang-megang dadaku!” maki Anjengan kepada Iwak Ngasin.


“Aku tidak memegang dadamu, tapi memegang perutmu!” bantah Iwak Ngasin, masih dalam kondisi setengah berbaring.


“Kau memegang dadaku, aku yang merasakan!” tandas Anjengan.


“Hahaha! Jangan salahkan aku, sebab perut dan dadamu sama-sama berlemak!” kilah Iwak Ngasin.


Gagap Ayu juga mendorong tubuh Juling Jitu dengan keras hingga nyaris jatuh pula.


“Untuk apa pe-pe-peluk aku? Memangnya aku ba-ba-bantal gu-gu-guling?!” bentak Gagap Ayu.


Tanpa mereka sadari, Alma Fatara dan Mbah Hitam sudah berjalan agak jauh meninggalkan keributan itu.


“Maaf, Gusti Ratu. Bagaimana dengan mereka?” tanya Mbah Hitam.


“Bertengkar itu sudah permainan mereka sehari-hari. Nanti akan damai dengan sendirinya,” jawab Alma.


“Almaaa!” teriak Gagap Ayu yang terkejut saat melihat Alma dan Mbah Hitam sudah pergi.


Teriakan Gagap Ayu langsung menyadarkan ketiga lainnya. Iwak Ngasin dan Juling Jitu cepat memungut obor yang masih menyala. Mereka lalu berlari menyusul Gagap Ayu dan Anjengan yang sudah lebih dulu mengejar Alma dan Mbah Hitam.

__ADS_1


“Mbah Hitam, apakah kau sudah punya istri?” tanya Alma ketika keempat sahabatnya sudah bergabung.


“Sudah, Gusti Ratu,” jawab Mbah Hitam sambil terus berjalan di sisi kanan Alma.


“Lalu di mana istrimu?” tanya Alma.


“Entahlah. Dia pergi meninggalkan aku, Gusti Ratu,” jawab Mbah Hitam.


“Apakah dia siluman ular juga?” tanya Alma lagi.


“Iya. Dia sangat cantik,” jawab Mbah Hitam.


Alma lalu berkata kepada Anjengan dan Gagap Ayu.


“Hati-hati jika kalian memperebutkan Mbah Hitam, dia punya istri siluman ular juga,” kata Alma.


Anjengan dan Gagap Ayu mendelik bersama. Keduanya segera melihat ke sekitar, takut jika tiba-tiba ada siluman ular lain yang muncul.


“Hahahak!” tawa Alma yang melihat ekspresi sahabatnya.


Akhirnya mereka tiba di pinggir Sungai Hijau pada sisi untuk menyeberang ke pusat Kademangan.


Sezt!


Tiba-tiba Alma melesatkan sinar kuning tipis berbentuk lengkungan. Sinar itu menebas dahan besar sebuah pohon yang tumbuh miring ke arah tengah sungai.


Bruss!


Dahan besar dan panjang itu jatuh ke air yang gelap.


“Ayo, kalian menyeberanglah!” perintah Alma kepada rekan-rekannya.


Keempat sahabat itu segera berebutan berlompatan ke atas dahan di air, sebelum tenggelam terbawa arus. Dengan bantuan dahan itu, keempatnya bisa melompat hingga ke seberang.


Sementara Alma dan Mbah Hitam menyeberang dengan berlari di atas permukaan air sungai.


Setelah menyeberang, mereka pergi menuju ke kediaman Raden Runok Ulung. Suasana kademangan itu sepi. Rumah-rumah warga sudah tertutup semua, tetapi masih terlihat ada dian-dian kecil yang menyala di dalam rumah.


Namun, berbeda ketika mereka semakin dekat dengan tujuan. Mereka semua mendengar ada suara gamelan di tengah malam itu, tetapi suara gamelannya tidak begitu ramai, seolah-olah hanya terdiri dari beberapa alat musik saja.


“Wah, ada pesta,” kata Juling Jitu senang.


“Berarti ada sinden atau penari cantik, Jitu,” kata Iwak Ngasin senang pula.


“Sepertinya berasal dari kediaman Raden Runok Ulung,” kata Alma mengomentari pula.


“Bu-bu-bukankah mereka se-se-sedang berduka?” timpal Gagap Ayu.


Ketika mereka telah tiba di luar pagar halaman, mereka bisa melihat suasana ramai di halaman kediaman besar Keluarga Raden Runok Ulung. Suara musik gamelan memang bersumber dari rumah itu. Terdengar ada seorang lelaki sedang nembang dengan nada yang sedih dan syair mengandung kemalangan.


Ada banyak obor yang dinyalakan dan dipasang tersebar. Di gerbang pagar ada hiasan lilitan kain serba putih. Di tanah ada dua hamparan kain putih yang masing-masing di atasnya terdapat tempat bakar kemenyan, potongan kepala ayam, dan piring anyaman bambu berisi beberapa jenis buah.


Di dalam halaman dan teras rumah ramai duduk anggota keluarga besar dan para centeng. Mereka khusyuk mendengarkan tembang yang dinyanyikan oleh Raden Runok Ulung sediri.


Kepala keluarga itu duduk bersimpuh di atas sebuah bantal di teras. Di belakangnya duduk para anggota keluarga besar. Di sisi kanan ada tim pemain gamelan yang hanya terdiri dari tiga orang. Sementara para centeng berbaris duduk bersila di tanah tanpa alas menghadap ke teras atau penembang.

__ADS_1


Alma Fatara dan pengikutnya memilih berdiri menuggu di depan pintu pagar halaman. Alma memutuskan untuk menunggu hingga Raden Runok Ulung menyelesaikan ritual dukanya.


Narisantai yang duduk di barisan belakang bergerak bangkit ketika melihat keberadaan tamu yang tidak diundang itu. Ia berjalan pergi untuk menemui Alma dan rekan-rekannya. (RH)


__ADS_2