
*Perguruan Bulan Emas (Guru Bule)*
Alangkah gembiranya Juling Jitu. Di waktu istirahat itu, ia mendapatkan senjata keris-keris beracun dari Mbah Hitam.
"Meminum tiga pil obat ini, sudah cukup membuatmu kebal terhadap racun dari senjata ini," ujar Mbah Hitam kepada Juling Jitu.
Maka, Juling Jitu meminum tiga pil kecil obat penawar bawaan keris-keris kecil warisan Pendekar Keris Peri yang tewas di tangan Alma Fatara.
Anjengan dan yang lainnya duduk mengerumuni Juling Jitu untuk menyaksikan penyerahan senjata yang sudah diteliti oleh kesaktian Mbah Hitam.
"Bagaimana?" tanya Mbah Hitam kepada Juling Jitu setelah beberapa saat ia menelan tiga pil obat penawar keris.
"Aku merasakan ada hawa panas yang sedang menjalar di dalam tubuhku," jawab Juling Jitu.
"Waaah! Tenaga dalammu bisa-bisa meningkat pesat, Jitu," kata Alis Gaib.
"Sepertinya demikian. Hahaha!" kata Juling Jitu lalu tertawa. "Tapi ...."
"Ta-ta-tapi ke-ke-kenapa?" tanya Gagap Ayu.
"Rasa panasnya semakin panas," jawab Juling Jitu dengan ekspresi wajah agak panik.
"Itu karena kau terlalu banyak dosa, Jitu," celetuk Anjengan.
"Hahaha!" tawa mereka di saat Juling Jitu agak cemas.
"Tambah panas," ucapnya lirih.
Mbah Hitam dan yang lainnya bisa melihat kulit wajah Juling Jitu mulai memerah dan berkeringat, seperti sedang makan mie rebus rasa cabe setan level iblis.
"Aduh-aduh, tambah panas badanku, Mbah!" keluh Juling Jitu yang sudah mulai tidak betah.
Pemuda tampan bermata juling itu bergerak berdiri. Kulit wajah, leher dan tangannya terlihat semakin merah seperti udang rebus.
"Panas, Mbah! Panas, Mbah!" erang Juling Jitu sambil mengipas-ngipas lehernya dengan kelima jari tangan kanannya, persis banci salon perempatan.
"Jitu, sepertinya kau akan berubah menjadi siluman Kepiting Rebus!" seru Tampang Garang.
"Yang benar, Mbah? Aduh aduh aduh, tambah panaaas! Bagaimana ini, Mbah?" tanya Juling Jitu panik sambil loncat-loncat kecil di tempat.
"Aku juga tidak tahu," kata Mbah Hitam.
"Haaah!" pekik Juling Jitu mau menangis.
Ia buru-buru berlari menuju ke tempat Alma yang sedang mengobati Gede Angin dengan kesaktian Bola Hitam.
"Gusti Ratuuu!" panggil Juling Jitu seraya menangis tanpa air mata, tetapi bermandi peluh.
"Siapa kau?" tanya Alma Fatara terkejut saat menengok dan melihat Juling Jitu yang mukanya gelap karena terlalu merah seperti siluman. Bahkan ada asap-asap halus yang keluar dari pori-pori wajah Juling Jitu.
"Aku Juling Jitu, Gusti Ratuuu! Huu huu huu!" jawab Juling Jitu sambil menangis.
__ADS_1
"Hihihi ...!" tawa Cucum Mili melihat kondisi Juling Jitu.
"Hahahak ...!" tawa terbahak Alma Fatara. "Ilmu apa yang kau miliki, Jitu? Setahuku Guru tidak pernah menurunkan ilmu semacam ini."
"Aku jadi seperti ini setelah makan pil penawar racun keris-keris kecil itu. Aku mau terbakar rasanya, Gusti Ratu. Tolong aku, Gusti Ratuuu!" jawab Juling Jitu dengan panik.
"Hihihi! Sepertinya aku pernah melihat orang yang gejalanya seperti ini," kata Cucum Mili.
"Kau tahu apa yang terjadi denganku, Ratu Kepiting?" tanya Juling Jitu cepat.
"Hihihi!" Cucum Mili justru melanjutkan tertawa di balik cadarnya, sampai-sampai sepasang matanya terlihat memejam.
Mbah Hitam, Anjengan dan yang lainnya sudah berkumpul pula. Mereka sangat penasaran akan apa yang dialami oleh Juling Jitu.
"Itu reaksi obat perkasa Cumi Merah. Lihat saja Juling Jitu kecilmu menjadi besar. Hihihi!" jawab Cucum Mili lalu tertawa panjang lagi.
"Hahahak ...!"
Tak ayal lagi, tawa mereka pun meledak beramai-ramai seperti suara setan hutan yang sedang dapat mangsa besar.
Rasa panas yang sangat, Juling Jitu rasakan pada kepalanya. Selain itu, Juling Jitu juga merasaka pada titik sensitifnya, hanya saja dia malu jika mengungkapkan rasa itu. Karena terlalu panik dan ketakutannya, ia tidak sadar bahwa ketika ia datang menghadap kepada Alma, bagian depan celananya sangat menonjol.
Maka, panik bercampur malu yang dirasakan oleh Juling Jitu. Tega-teganya dia menyuguhkan keperkasaannya ke depan wajah Alma Fatara. Namun, ia lebih cemas dengan nasib yang akan dialaminya karena panas di dalam tubuhnya.
"Maafkan aku, Gusti Ratu! Maafkan aku!" ucap Juling Jitu sambil turun bersujud dua kali, tapi ia kembali bangun dengan wajah sudah bersimbah air mata ketakutan. "Tapi bagaimana dengan rasa panas ini?"
"Hahaha! Pergilah cari air buat berendam!" perintah Alma Fatara sambil terus tertawa.
"Alis Gaib, antar Juling Jitu pergi ke sungai di sebelah barat!" perintah Anjengan.
"Hahahak ...!" semakin ramai mereka tertawa.
"Biar aku yang membawanya sebagai tanggung jawabku," kata Mbah Hitam yang tiba-tiba berubah menjadi ular hitam besar.
Mbah Hitam langsung melilit tubuh Juling Jitu dan membawanya pergi.
"Eh, ayo lihat, ayo lihat!" ajak Anjengan kepada rekan-rekannya. Ia lalu berlari mengikuti Mbah Hitam.
Mereka pun ramai-ramai mengejar Mbah Hitam. Mereka ingin tahu apa yang akan terjadi terhadap Juling Jitu. Atau di luar dugaan, Mbah Hitam akan jadi korban pelecehan seksual oleh Juli Jitu.
Alma Fatara dan Cucum Mili tetap bertahan di tempatnya sambil menunggui Gede Angin yang terbaring tidak sadarkan diri karena lukanya yang parah.
"Apakah benar yang Kakak Putri katakan itu?" tanya Alma Fatara.
"Iya, aku yakin itu pil perkasa Cumi Merah. Bajak laut lelaki sering memakan pil itu untuk bisa menunggangi empat kuda betina. Hihihi! Sepertinya Juling Jitu makan terlalu banyak. Satu pil saja, khasiatnya berlaku untuk dua hari," jelas Cucum Mili.
"Hah! Dua hari? Hahahak!" kejut Alma lalu tertawa terbahak. Lalu tanyanya kemudian, "Tapi ... apakah Juling Jitu akan menuntut penyaluran birahi?"
"Untuk itu aku tidak tahu. Namun dugaanku, jika tidak dikeluarkan, aku khawatir akan ada yang meledak. Mungkin Gusti Ratu bisa membayangkan cara kerjanya," kata Cucum Mili.
"Hahaha! Aku masih terlalu kecil untuk membayangkan cara kerjanya."
"Maksudku, cara kerja kekuatan yang terus berkembang, tetapi tidak ada jalan untuk keluar. Aku khawatir akan berdampak pada syaraf atau aliran darah, atau pada Juling Jitu kecil sendiri," tandas Cucum Mili.
__ADS_1
"Hahahak!" Alma Fatara tertawa lagi. "Jika begitu, tolong Kakak Putri pergi tanyai para gadis itu, siapa yang mau menikah dengan Juling Jitu."
"Baik," ucap Cucum Mili patuh. Pendekar bercadar yang kini menyandang pedang itu segera bangkit dan melangkah pergi.
Kemudian, sekali kelebatan tubuh, Cucum Mili sudah tiba di belakang Tampang Garang dan Geranda serta para gadisnya.
"Hai, para gadis!" panggil Cucum Mili dari belakang, mengejutkan mereka yang sedang menontoni Juling Jitu di sungai kecil.
"Ada apa, Putri Angin Merah?" tanya Anjengan dengan menyebut julukan baru Cucum Mili.
Mereka semua jadi beralih kepada Cucum Mili.
"Gusti Ratu Alma memintaku untuk menanyakan kepada kalian, siapa yang mau menikah dengan Juling Jitu," ujar Cucum Mili.
"Apa?!" kejut para gadis itu. Lalu jawabnya kompak, "Tidak mau!"
"Kenapa mendadak sekali, Putri?" tanya Geranda.
"Juling Jitu makan pil perkasa Cumi Merah terlalu banyak. Jika air kehidupannya tidak disalurkan, aku khawatir kekuatan pil itu akan meledakkan jantungnya," jelas Cucum Mili dengan menambah sedikit bumbu rekayasa.
"Berarti Juling Jitu terancam akan mati?" tanya Anjengan trerkejut.
"Ta-ta-tapi, aku su-su-sudah bercita-cita menikah de-de-dengan kakaknya Ke-ke-ke ...."
"Kera?" terka Anjengan dan yang lainnya kompak, memotong kata-kata Gagap Ayu.
"Bu-bu-bukaaan. Dengan kakaknya Ke-ke-kembang Bulaaan!" tegas Gagap Ayu.
"Kakang Arung Seto?" sebut Kembang Bulan.
"Iya. Hihihi!" jawab Gagap Ayu lalu tertawa genit.
"Sayang, aku sudah bosan melihat seluruh seluk beluk Juling Jitu sejak bayi. Jadi aku sudah tidak punya rasa kepadanya," ucap Anjengan dengan nada sedih. "Jika memang harus kehilangan, apa boleh buat."
"Kau ti-ti-tidak boleh bi-bi-bicara seperti itu, Anjeng!" hardik Gagap Ayu.
"Biar aku yang menikah dengan Juling Jitu," kata Penombak Manis tiba-tiba.
Perkataan itu membuat yang lainnya seketika terdiam dan fokus memandang kepada Penombak Manis.
"Tangkap!" teriak Anjengan tiba-tiba.
Serentak dan cepat, Anjengan, Gagap Ayu, Tampang Garang, dan Alis Gaib menyergap Penombak Manis. Mereka mencekal kedua lengan dan kaki Penombak Manis lalu mengangkatnya bersama.
"Apa yang kalian lakukan?!" pekik Penombak Manis mencoba berontak.
"Lempaaar!" perintah Anjengan.
Keempat orang itu kompak melempar tubuh Penombak Manis ke bawah, yaitu ke sungai, di mana di bawah Juling Jitu sedang berendam sambil memegangi kelelakiannya di dalam air.
Jbur!
Terkejut Juling Jitu, saat tahu-tahu Penombak Manis terjun di depannya. Juling Jitu memandang ke atas, kepada rekan-rekannya.
__ADS_1
"Penombak Manis akan menjadi istrimu, Jitu. Hari ini juga kalian akan menikah!" seru Cucum Mili.
"Apa?!" pekik Juling Jitu syok, karena Penombak Manis bukan tipenya. (RH)