Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mak Baut 1: Menyerang Balongan


__ADS_3

*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*


 


“Seraaang …!” teriak seorang lelaki tinggi besar berotot, tapi sedang bergelantungan dengan satu tangan di sebatang dahan pohon besar, sementara tangan kirinya menggenggam golok panjang yang punggungnya bergerigi seperti gergaji.


“Woi woi woi …!”


Tiba-tiba dari balik pohon-pohon perkebunan yang paling dekat dengan pusat Kadipaten Balongan, bermunculan puluhan orang bersenjata macam-macam. Perawakan mereka, baik laki-laki dan sejumlah perempuan tidak ada yang rapi, terkesan berantakan apa adanya. Namun, para lelakinya memiliki badan yang berotot, bertato dan berkulit hitam-hitam.


Mereka semua berteriak ramai dan keras seperti meneriaki maling ayam kepergok.


Warga ibu kota Kadipaten Balongan yang mendengar teriakan ramai-ramai itu terkejut dan penasaran. Namun, rasa penasaran mereka segera terjawab saat melihat serombongan orang liar muncul tiba-tiba dengan berbagai senjata sudah terangkat tinggi-tinggi. Mereka pun semakin terkejut dan buru-buru berjeritan lari terbirit-birit, tapi tidak sampai terkencing-kencing.


“Ada perampok menyeraaang!” teriak seorang warga lelaki sambil berlari meninggalkan kambing kesayangannya.


“Lari lari lari! Ada penjahaaat!” teriak seorang pedagang buah yang memikul dagangannya. Karena beban pikulannya memberatkannya, terpaksa itu dicampakkannya seperti kekasih yang selingkuh.


“Ayo sembunyi! Ayo sembunyi! Ada penjahat kelamiiin!” teriak seorang warga perempuan sambil berlari terbirit-birit.


“Ada setaaan!” teriak seorang pemuda setan, eh salah, maksudnya pemuda desa yang terobsesi dengan dunia persetanan.


Set! Tseb!


“Aaak! Aku matiiikh!” jerit pemuda itu di akhir hayatnya, setelah sebatang anak panah menancap di punggungnya dan tembus ke dada.


“Kurang garam! Kami bukan setan, tapi kami Ombak Setan!” maki seorang lelaki kurus bertelanjang dada, bergigi hitam-hitam dan bermata merah. Ia bersenjatakan panah. Ia mendatangi pemuda yang dibunuhnya lalu mencabut anak panahnya dengan hentakan yang kasar.


“Hahaha! Tetap saja sama-sama setan!” kata seorang temannya yang berlari melintas di sisinya.


“Woi woi woi …!” teriak para penyerang itu liar.


Warga ibu kota Kadipaten Balongan berubah panik dan ketakutan. Terlebih ketika para penyerang itu mulai masuk ke pusat Ibu Kota yang ramai permukiman.


Brak brak brak …!


Sejumlah rumah warga yang mereka datangi didobrak dengan kasar lalu isi rumah diamuk.


Kaum wanita pun jejeritan karena ketakutan, bahkan sampai menangis. Kaum lelaki di dalam rumah di suruh berkumpul dengan cara ditendang-tendang. Jika melawan sedikit saja, warga lelaki langsung dibunuh.


Setelah penghuni rumah keluar dengan ketakutan, rumah mereka kemudian dibakar. Bukan hanya satu atau dua rumah, hampir setiap rumah yang mereka masuki.

__ADS_1


“Seraaang …!” teriak Gendas Pati, Komandan Keamanan Ibu Kota. Dia menunggang kuda dengan penampilan seorang punggawa prajurit, tapi bertelanjang dada. Ia memelihara sebaris kumis tebal.


“Seraaang …!” teriak para prajurit Kadipaten yang berseragam merah gelap beramai-ramai.


Para prajurit Kadipaten yang jumlahnya juga puluhan menyerang para penjahat yang sedang membuat kekacauan.


“Woi woi woi! Ada prajurit, bunuuuh!” teriak salah seorang penjahat memberi tahu temannya, padahal mereka sama-sama melihat.


“Woi woi woi …!” teriak para penjahat itu lagi dengan girang, seolah senang mendapat lawan yang sepadan, yaitu para prajurit Kadipaten.


Pertempuran antara para penjahat dengan pasukan prajurit Kadipaten terjadi.


“Hahahak!” tawa beberapa penjahat, seolah menikmati setelah berhasil membunuh prajurit.


“Woi woi woi!” teriak seorang penjahat sambil mengejar seorang prajurit yang melarikan diri.


Set! Tseb!


“Aakh!” jerit prajurit yang kabur dengan tubuh jatuh tersungkur. Di punggungnya tertancap tombak.


Ternyata pertempuran berjalan tidak seimbang. Para prajurit itu rupanya bukan lawan para penjahat yang bisa disebut adalah kumpulan pendekar.


Melihat pasukannya berguguran satu demi satu, Komandan Gendas Pati menggebah kudanya berniat menabrak atau menebas seorang penjahat.


Karena tidak menabrak targetnya, Gendas Pati menebaskan pedangnya dengan kuat kepada seorang penjahat berkapak besar. Penjahat itu menangkis dengan kapak besarnya, sampai-sampai pedang Gendas Patih pata dua.


“Hahahak!” tawa lelaki gemuk tinggi yang berperut gendut bersenjata kapak besar itu. Ia menertawakan pedang Gendas Pati yang patah.


Karena pedangnya patah, Gendas Pati memutuskan melompat dari kudanya. Ia langsung menyerang lelaki besar itu dengan tendangan bertenaga dalam maksimal. Maksimal setinggi tenaga dalam yang Gendas Pati miliki.


Pak!


Dengan kokoh, lelaki besar berkumis merah itu justru memberikan lengan besarnya sebagai sasaran dari tendangan Gendas Pati.


Gendas Pati justru terdorong dan mendarat sempoyongan nyaris jatuh. Sementara si lelaki gemuk bergeming di tempatnya berdiri.


“Hahahak!” tawa si lelaki besar. “Aku akan mencium bokongmu jika kau bisa membunuh Si Keong Samudera ini! Hahaha!”


Lelaki besar yang mengaku bernama Si Keong Samudera itu lalu mengibaskan kapak besarnya. Meski besar, tetapi senjata itu diperlakukan seperti senjata yang ringan. Namun, Gendas Pati yang sudah tidak bersenjata cepat merunduk.


Buk buk buk …!

__ADS_1


Laksana seorang petinju kelas dunia, Gendas Pati mendaratkan tinju bertubi-tubi ke perut Si Keong Samudera yang gendut seperti orang hamil.


“Hahahak!” Si Keong Samudera malah tertawa mendapat serangan seperti itu.


Buk!


Tahu-tahu kaki kanan Si Keong Samudera sudah bergerak cepat menendang perut Gendas Pati. Sang komandan terlempar terjengkang.


Ctas ctas!


“Akk!” pekik tertahan Gendas Pati dengan tubuh terhentak, ketika tiba-tiba ada dua utas tambang besar datang melecuti tubuhnya.


Pemilik dua tambang berwarna hitam itu adalah seorang wanita berkulit hitam dan berhidung pesek. Ia mengepang dua rambutnya yang kemerahan karena sering terpanggang matahari.


“Hiaaat!” teriak Si Keong Samudera sambil mengapak senjatanya.


Gendas Pati mendelik melihat kapak yang hendak memenggal lehernya. Buru-buru ia berguling ke samping menjauhi musuh.


Crekk!


“Aaak!” jerit Gendas Pati saat kapak itu menebas tanah, tetapi ujung runcing kapak masih bisa menjangkau bahu kirinya. Luka menganga pun tercipta di bahunya.


Ctas ctas!


“Akk!” jerit Gendas Pati lagi ketika dua tambang kembali mencambuk tubuhnya sampai ada luka garis berdarah pada kulitnya.


“Jangan bunuh dia, Luli!” kata lelaki tinggi besar bersenjata golok gergaji kepada gadis bersenjata tambang. Dia berkata sambil berjalan dengan langkah yang cepat. Dialah pemimpin gerombolan penjahat itu.


“Baik, Ketua!” sahut wanita pesek yang bernama Luli.


“Hah! Selamat kau, Kisanak!” kata Si Keong Samudera sambil meletakkan begitu saja mata kapaknya ke dada Gendas Pati.


Meski tidak ditekan, tetapi berat kapak itu tetap memberi tekanan kepada kulit dada Gendas Pati, sehingga sedikit membelah kulit. Gendas Pati hanya bisa meringis tanpa bisa melawan lagi.


Luli yang memiliki gulungan tali setebal telunjuk segera mengikat Gendas Pati.


Ketika Gedas Pati dan puluhan pasukannya bertumbangan, dari arah kediaman Adipati muncul pasukan berkuda berjumlah dua puluh ekor kuda. Di belakangnya berlari pasukan panah.


“Ayo tunjukkan siapa kaliaaan!” teriak lelaki besar yang tadi disebut Ketua kepada seluruh anak buahnya.


“Kami adalah Bajak Laut Ombak Setan! Hahahak!” teriak orang-orang itu serempak menyebut identitas kelompoknya, lalu tertawa ramai-ramai.

__ADS_1


“Seraaang!” teriak si ketua lagi.


“Woi woi woi …!” teriak mereka ramai-ramai penuh semangat menyongsong kuda-kuda yang datang berlari kencang. (RH)


__ADS_2