Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mis Tegel 38: Siluman Gagak Biru


__ADS_3

*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*


 


Pagi itu, Alma Fatara dan rombongannya melanjutkan perjalanan meninggalkan Pasar Tulang. Penguasa Pasar Tulang Sudigatra melepas langsung rombongan.


Namun, rombongan Alma Fatara tidak melalui jalan umum yang biasa dipakai oleh para pendekar dan warga biasa yang datang ke dan pergi dari Pasar Tulang. Untuk sampai ke Alas Kutu yang masih dalam lingkup daerah kekuasaan Perguruan Pisau Merah, Sudigatra menunjukkan jalur khusus yang bisa memangkas perjalanan satu hari lamanya.


Orang-orang Perguruan Pisau Merah menyebutnya Jalur Siluman. Lebih dari separuh jarak tempuh di Jalur Siluman adalah jalan di bibir jurang, tetapi tidak begitu berbahaya meski mereka membawa kuda. Namun, pada beberapa titik, mereka harus menuntun kuda karena rutenya terlalu menjulang atau terlalu menukik.


Selain itu, sebelum sampai di kediaman Pendekar Tongkat Roda, mereka akan melewati kediaman Siluman Gagak Biru.


Biasanya, orang-orang Perguruan Pisau Merah menghindari kediaman Siluman Gagak Biru jika mereka melalui Jalur Siluman. Mereka lebih memilih sedikit memutar agar tidak berurusan dengan siluman udara itu.


“Kebetulan, Paman. Aku memang sedang bersemangat untuk menaklukkan para siluman,” kata Alma Fatara ketika diberi tahu tentang Siluman Gagak Biru.


“Oh iya. Gusti Ratu harus berhati-hati dengan Keluarga Tengkorak,” kata Sudigatra.


“Siapa mereka?” tanya Alma cepat.


“Keluarga besar dari Tengkorak Pedang Kilat. Keluarga Tengkorak adalah kerabat Tengkorak Pedang Kilat yang memiliki kesaktian tinggi-tinggi. Kematian anggota keluarga mereka pastinya akan menjadi kabar yang sangat menyakitkan. Dugaanku, mereka akan menuntut nyawa kepada Gusti Ratu,” jelas Sudigatra.


“Terima kasih, Paman. Aku akan tetap waspada.”


Itulah salah satu pesan Sudigatra tentang buntut dari kematian Tengkorak Pedang Kilat.


Mereka tidak begitu kesulitan untuk mengikuti Jalur Siluman. Melewati jalur itu, mereka nyaris tidak pernah bertemu dengan manusia lain. Mereka hanya sekali berpapasan dengan rombongan murid-murid Perguruan Pisau Merah yang menuju ke Pasar Tulang. Murid-murid Perguruan Pisau Merah mengenal Alma Fatara, karena mereka pernah ikut dalam sebuah peperangan di Lembah Hilang, yang salah satu punggawa peperangannya adalah Alma Fatara.


Setelah menempuh perjalanan sampai menjelang senja, tibalah rombongan Alma Fatara di sebuah sungai yang pinggirannya sangat berbatu, tetapi bagian tengahnya sangat berarus.


Kak!


Di saat mereka berhenti sejenak memperhatikan daerah sungai itu, tiba-tiba terdengar suara burung gagak, tapi hanya satu koakan.


Karena sebelumnya mereka sudah diberi tahu tentang Siluman Gagak, maka ketika mendengar suara burung, mereka langsung mendongak mencari-cari di atas, terutama di atas pepohonan.


“Di sana!” tunjuk Penombak Manis yang bisa menemukan dengan cepat.

__ADS_1


“Wah hebat, penglihatanmu bisa dengan cepat menemukannya,” puji Alis Gaib.


Penombak Manis telah memakai Sisik Putri Samudera di antara kedua alisnya, membuatnya terlihat lebih cantik beberapa puluh persen. Dengan melekatnya Sisik Putri Samudera di wajahnya, Penombak Manis memiliki penglihatan yang jauh lebih tajam dan jangkauannya lebih jauh.


Semua orang segera mendongak melihat ke arah tunjukan Penombak Manis.


Mereka semua bisa melihat seekor burung gagak warna hitam sedang bertengger di ranting kecil sebatang pohon. Gelagat aneh burung itu, sepertinya arah matanya selalu ke bawah, meski kepalanya selalu bergerak.


“Itu sih gagak biasa, bukan gagak biru,” kata Juling Jitu.


“Aku melihat ada asap biru keluar dari badan burung itu,” ujar Penombak Manis.


“Berarti Sisik Putri Samudera bekerja bagimu, Manis,” kata Alma Fatara. “Sekarang kau aku andalkan menjadi Juru Mata Pasukan Genggam Jagad. Tapi kau jangan hanya mengandalkan sisik itu, perluas pengetahuanmu tentang ilmu telik sandi dan pengintaian.”


“Baik, Gusti Ratu,” ucap Penombak Manis.


“Tampang Garang, panah burung itu!” perintah Alma Fatara.


Set!


Tanpa menyahut lagi, Tampang Garang bergerak cepat dan tahu-tahu satu anak panah telah melesat menargetkan si burung gagak.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara.


Dengan jelas mereka melihat bahwa burung gagak itu terbang lalu menghilang begitu saja, seperti tergerus angin senja.


“Apa yang ingin kau katakan sebagai sesama siluman, Mbah Hitam?” tanya Alma.


“Hamba hanya ingin mengatakan bahwa burung itu memang seorang siluman. Jika kita sudah menyerangnya, maka dia tidak akan membiarkan kita pergi dengan damai,” jawab Mbah Hitam.


“Apakah dia bisa tahu bahwa satu di antara kita adalah seorang siluman juga?” tanya Alma.


“Bisa. Setiap tubuh siluman mengeluarkan aura khusus yang hanya bisa dilihat oleh sesama bangsa siluman, atau orang yang bisa melihat siluman di balik alam manusia,” jelas Mbah Hitam.


Alma manggut-manggut.


“Kita lanjutkan perjalanan. Siluman itu pasti akan muncul lagi,” kata Alma.

__ADS_1


Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Jalan yang tersedia secara masuk akal bisa dilalui dengan berkuda adalah menyusuri sungai ke arah hulu.


Posisi mereka sendiri sudah berada di lereng utara Gunung Alasan. Mereka tinggal mengikuti sungai hingga menemukan percabangan. Arti lainnya, sungai itu adalah hasil dari pertemuan dua sungai, yang nanti akan ada di hulu. Pertemuan dua sungai itu terletak di utara Alas Kutu.


“Ada wanita di sungai!” seru Penombak Manis sambil menunjuk ke arah sungai.


Seorang wanita cantik berpakaian biru muda yang sedang bermain di air sungai, jadi terkejut mendengar suara Penombak Manis. Wanita cantik berambut panjang sebokong itu buru-buru berlari beberapa langkah, lalu terbang seperti dewi di film-film.


“Mana?” tanya Anjengan yang tidak melihat apa-apa di sungai.


“Aku juga tidak melihat siapa-siapa, Manis,” kata Tampang Garang. “Wah, jangan-jangan sekarang kau jadi suka melihat hal-hal yang aneh.”


“Kami tidak melihat siapa-siapa di sungai, Manis,” kata Geranda.


“Tadi wanita itu terbang dan menghilang di pepohonan di sana,” ujar Penombak Manis sambil menunjuk sekelompok pohon besar yang tidak jauh di pinggiran sungai.


“Menurutmu, siapa yang lebih cantik, kau atau siluman itu, Manis?” tanya Alma Fatara seraya tersenyum. Ia tidak melihat apa yang dimaksud oleh Penombak Manis.


“Sudah pasti wanita berambut panjang itu,” jawab Penombak Manis.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara sambil melirik kepada Iwak Ngasin.


“Mbah Hitam, datangi rumah siluman itu. Katakan kepadanya bahwa Ratu Siluman ingin mengambil putrinya!” perintah Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu,” ucap Mbah Hitam patuh.


Clap!


Tiba-tiba Mbah Hitam menghilang dari punggung kudanya. Kemudian mereka melihat seekor ular hitam lagi besar sedang merayap di rerumputan, meliuk-liuk menuju ke lokasi kumpulan pohon besar.


Sementara itu, Alma Fatara mengistirahatkan rombongannya.


Ses! Tes!


Di saat ular hitam merayap di rerumputan bawah pohon, tiba-tiba ada segaris sinar kuning yang mengenai kepala Mbah Hitam. Ular hitam itu hanya terdiam sejenak ketika kepalanya terkena sinar kuning yang datang dari atas.


Sedetik kemudian, Mbah Hitam melingkarkan tubuhnya dan kepalanya tegak berdiri sambil mendesis.

__ADS_1


Tiba-tiba beberapa tombak di depan Mbah Hitam berdiri seorang kakek berjubah biru gelap. Ia berambut putih, tetapi rambut gondrongnya itu dikepang tiga bagian. Sementara kepala dililit dengan ring besi dari perak.


Ia berdiri bersedekap di bawah pohon, memperlihatkan fisiknya yang masih gagah, meski jenggotnya sudah putih semua. (RH)


__ADS_2