Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
SMP 30: Kesaktian Raja Tanpa Gerak


__ADS_3

*Setan Mata Putih (SMP)*


Ireng Keling mengendalikan keempat gulungan benangnya yang ada di punggungnya. Untuk melesatkan keempat benangnya, Ireng Keling harus membungkuk ruku sambil menghentakkan kedua tangannya.


Tanpa suara, keempat ujung benang yang tidak terlihat dalam gelapnya malam, melesat menyerang ke arah Raja Tanpa Gerak yang masih berdiri di tempatnya, belum bergeser sedikit pun. Bahkan untuk menggaruk kaki yang gatal pun tidak dilakukan.


Meski gelap, tetapi Raja Tanpa Gerak bisa mendeteksi pergerakan empat benang milik Ireng Keling. Keempat benang itu terus mengulur kencang, tetapi satu pun tidak ada yang sampai kepada Raja Tanpa Gerak. Semua benang menumpuk setengah depa dari tubuh si kakek, seolah ada dinding kaca yang menahan benang-benang itu untuk maju.


“Hiaaat!” teriak Ireng Cadas sambil melompat tinggi di udara dengan kedua tangan terangkat ke belakang memegang gada besarnya.


Beng!


Ketika Ireng Cadas mengayunkan gada besarnya ke arah kepala Raja Tanpa Gerak, pada jarak satu depa dari kepala si kakek, gada itu seperti menghantam dinding baja yang begitu keras. Gada Ireng Cadas sampai terpental lepas jauh dari tangan. Demikian pula tubuh besar Ireng Cadas terpental dan jatuh berdebam.


Ireng Segaris tidak mau kalah mencoba. Dia berjumpalitan ke depan dengan kedua kaki bersinar biru. Gerakannya diakhiri salto yang tinggi dengan kaki menghentak ke bawah, tepatnya ke arah Raja Tanpa Gerak.


Gerakan Ireng Segaris yang indah laksana atlet senam lantai profesional, berujung dengan lesatan sinar biru dari kaki.


Sess! Blarr!


Sinar biru melesat deras dan meledak satu depa dari tubuh Raja Tanpa Gerak. Hasilnya, Ireng Segaris terhempas jatuh ke tanah, sementara si kakek hanya terjajar setindak.


Melihat Raja Tanpa Gerak telah goyah, Ireng Keling cepat berteriak.


“Kiamat Serentak Tingkat Langit!”


Ketiga Ireng itu lalu memasang kuda-kuda yang kokoh, kedua tangannya bergerak pelan tapi bertenaga tinggi. Sebentar kemudian, ketiganya kompak menghentakkan lengan kanannya.


Zurs zurs zurs!


Blar blar!


Tiga sinar hijau menyilaukan mata melesat bersamaan ke satu target. Namun, pada jarak satu depa di depan Raja Tanpa Gerak, ketiga sinar hijau itu meledak dahsyat seperti kembang api mahal.


Hasilnya, ketiga Ireng berjengkangan dengan darah bermuntahan dari mulut-mulut mereka bertiga. Sementara Raja Tanpa Gerak termundur tiga tindak.


“Uhhuk!” Raja Tanpa Gerak terbatuk sekali saja, tidak banyak-banyak.


Tusk!


Tanpa menjerit, tiba-tiba Raja Tanpa Gerak terhentak kecil saat merasakan ada sesuatu yang menyengat kaki kanannya.


Set!


Refleks Raja Tanpa Gerak menyentilkan jari tengahnya ke bawah. Maka, seekor ular kecil yang mematuk kaki Raja Tanpa Gerak langsung mati dengan kepala pecah. Ular milik Ireng Segaris itu ternyata bisa mendekati si kakek tanpa terdeteksi. Mungkin karena si kakek fokus kepada ketiga lawannya.


“Hahaha! Kena dia!” tawa Ireng Segaris dengan mulut yang merah oleh darah.


Baks!


“Hukrr!”

__ADS_1


Tiba-tiba dada Ireng Segaris dihantam oleh satu tenaga yang tidak terlihat, bersamaan ketika tangan kanan Raja Tanpa Gerak bergerak menghentak kecil.


Dengan mulut yang kembali menyemburkan darah, Ireng Segaris terlompat mundur dan jatuh dengan punggungnya. Setelah itu, nyawa lelaki kurus tersebut raib. Ia tewas dengan tulang dada yang remuk.


“Ireng Segaris!” pekik Ireng Keling saat melihat kematian rekannya.


“Aku rasa kehilangan satu nyawa cukup untuk menghentikan niat kalian,” kata Raja Tanpa Gerak berusaha mencegah bencana lebih lanjut.


“Kau pikir kami hanya sehebat ini, Raja Tanpa Gerak? Akan aku tunjukkan!” teriak Ireng Keling.


Ia lalu menghentakkan tangan kanannya lurus ke atas. Kini keempat rol benangnya bersinar merah. Mulailah keempat benang itu beraksi.


Keempat ujung benang bergerak naik, lalu saling bertemu di udara gelap. Mereka menyatu dengan saling melilit membentuk kepang benang.


Seet!


Kepang benang bersinar merah itu lalu melesat lurus menyerang seiring tubuh Ireng Keling yang bergerak maju pula.


Tek!


Namun, lagi-lagi benang itu tertahan oleh tenaga di depan tubuh Raja Tanpa Gerak. Benang itu berubah sekeras besi dan terus mendorong.


Setelah berusaha, ujung kepang benang itu akhirnya berhasil bergerak maju, seperti pergerakan jarum suntik menusuk bokong. Ujung benang bergerak pelan mendekati tubuh Raja Tanpa Gerak. Si kakek justru dengan mudahnya menempelkan ujung jari telunjuknya ke ujung benang yang datang.


Sezrrr!


“Aakk!” jerit Ireng Keling saat tubuhnya tersengat tinggi seiring jari Raja Tanpa Gerak bertemu dengan ujung benangnya.


Baru kali ini ada listrik bisa disalurkan oleh media benang.


Baks!


Pada saat mengejang itu, dada Ireng Keling dihantam oleh tenaga kiriman Raja Tanpa Gerak. Ketua Lima Pembunuh Gelap itupun terlempar ke belakang, lalu jatuh berdebam dengan kondisi sudah tanpa nyawa.


Ireng Keling senasib dengan Ireng Segaris yang tewas dalam kondisi tulang dada remuk.


Melihat kematian ketuanya, Ireng Cadas hanya bisa terbeliak dan langsung berpikir ulang sepuluh putaran lapangan bola voli.


“Bagaimana pertimbanganmu, Kisanak?” tanya Raja Tanpa Gerak kepada Ireng Cadas.


“Betul, kebahagiaan itu tidak selalu diukur dengan bayaran tinggi, tapi juga bisa diukur jika nyawa ada di badan!” sahut satu suara perempuan tiba-tiba.


Ireng Cadas menengok melihat siapa yang bicara. Ternyata Alma Fatara yang sedang duduk di pinggir teras sambil makan sesuatu di wadah piring dengan santainya. Kedua kakinya menggantung ke bawah sebatas lutut.


“Keselamatan nyawa Paman cukup Paman tebus dengan memberi tahu siapa yang membayar kalian sebenarnya. Apakah Demang Mahasugi atau Bandar Bumi?” ujar Alma Fatara lagi.


Terkejut Ireng Cadas, termasuk Ireng Kemilau yang sedang bertarung melawan Ineng Santi, saat mendengar nama Bandar Bumi disebut.


“Pembunuh putra Demang berada dalam tawanan kami. Jadi tidak usah mencoba membohongi kami, Paman,” kata Alma Fatara lagi.


“Bi-bi-biar aku hi-hi-hitung sampai tiga. Ji-ji-jika tidak mau me-me-mengaku, ki-ki-kita bunuh saja, Kek,” kata Gagap Ayu yang muncul pula di teras dengan membawa sepiring makanan malam.

__ADS_1


Kali ini, Ireng Cadas tidak bisa tertawa mendengar kata-kata gagap Gagap Ayu. Suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja.


“Silakan, Ayu,” kata Raja Tanpa Gerak.


“Sa-sa-satu!” hitung Gagap Ayu.


“Du-du-dua!” Kali ini Alma Fatara ikut menghitung dan ikut gagap.


“Hahaha!” tawa Alma singkat, lalu ikut menghitung lagi.


“Ti-ti ….”


“Hentikan!” seru Ireng Cadas cepat, memotong hitungan Gagap Ayu dan Alma Fatara.


Alma Fatara dan Gagap Ayu pun berhenti menghitung.


“Kami memang dibayar dan diperintah oleh Bandar Bumi,” aku Ireng Cadas yang saat itu kondisinya sudah terluka parah. Mungkin akan berbeda ceritanya jika dia masih segar bugar.


Sementara itu di sisi lain, pertarungan antara Ineng Santi dan Ireng Kemilau jadi terhenti. Ineng Santi sudah mengalami luka dalam, terlihat dari darah yang merembes di sudut bibirnya. Kondisi yang sama juga dialami oleh Ireng Kemilau. Kedua wanita berbeda usia itu tampaknya memiliki tingkat kesaktian yang seimbang.


Namun tidak bagi Anjengan yang melawan Ireng Gempita.


Pertarungan kelas berat itu berjalan tidak seimbang, karena faktanya tingkat kesaktian Anjengan jauh di bawah Ireng Gempita.


Blet! Blet!


Dua selendang Ireng Gempita berhasil membelit tubuh berlemak Anjengan lalu melontarkannya ke udara.


Bugk!


“Akk!” jerit Anjengan saat ia tidak mampu mengontrol jatuh tubuhnya yang dilambungkan oleh selendang lawan. Tubuh itu menghantam bumi bukit dengan keras.


Blet! Blet!


Kembali dua selendang Ireng Gempita melesat dan menjerat perut dan leher Anjengan. Kali ini, selendang-selendang itu berusaha mencekik Anjengan.


Set! Set!


Namun, Pedang Macan Setan masih tergenggam kuat di tangan Anjengan. Dengan pedang itu dia memutus kedua selendang yang membelitnya.


“Hiaaat!” teriak Anjengan sambil berlari maju dan menyabet-nyabetkan pedangnya.


Wusss!


Namun, Ireng Gempita menghentakkan kedua lengannya, melepaskan angin pukulan yang keras. Anjengan yang maju langsung terhempas berguling-gulingan seperti gentong besar.


“Hahahak!” tawa Alma Fatara melihat kakak angkatnya bernasib demikian. (RH)


 


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


PENGUMUMAN!


Novel keempat Pendekar Sanggana sudah rilis yang berjudul PUTRA MAHKOTA SANGGANA. Cek di profil Om Rudi. Namun, up-nya masih lambat untuk beberapa bulan pertama.


__ADS_2