
*Keris Pemuja Bulan (Kerja Bu)*
Mau tidak mau, Ragabidak meninggalkan kudanya. Satu centeng ditugaskan untuk menjaga kuda. Sementara sembilan centeng lainnya ikut mendaki menuju hulu Sungai Hijau.
Setelah sedikit mendaki, ternyata hulu sungai bercabang. Ragabidak memilih melakukan pendakian ke kanan ke dalam hutan, karena ke arah sanalah letak Mata Air Pahit berada.
Setelah terus mendaki di dalam hutan, akhirnya mereka tiba di sebuah danau yang tidak begitu besar. Separuh dari pinggiran danau itu ditumbuhi oleh pepohonan bambu. Namun, ada tiga jenis pohon besar yang tumbuh begitu menonjol. Arah tumbuh ketiga pohon condong ke arah atas air danau, sehingga jika daun-daunnya gugur atau dahannya patah, makan akan jatuh ke air.
Danau itulah yang disebut Mata Air Pahit.
“Gusti, bagaimana caranya mencari Keris Pemuja Bulan di mata air seluas ini?” tanya salah satu centeng yang bernama Kerangat.
“Aku mengajak kalian untuk menyelam mencari,” kata Ragabidak.
Lelaki yang selalu irit bicara itu lalu membuka bajunya. Para centengnya hanya berdiri di pinggir danau sambil memandangi majikannya.
“Ayo menyelam!” kata Ragabidak sambil mendorong punggung seorang centengnya.
Jbur!
Centeng yang didorong pun terlompat jatuh ke dalam danau dan sempat gelagapan.
“Hahaha!” tawa centeng yang lain.
“Kalian menunggu aku lempar juga ke air?” tanya Ragabidak dengan mata mendelik.
“Tidak, Gusti!” jawab mereka, lalu buru-buru meletakkan senjata celuritnya dan melucuti pakaiannya, termasuk celana mereka juga buka. Mereka tidak mau pulang dengan celana basah.
Jbur jbur jbur …!
Akhinrya ke delapan centeng itu berlompatan terjun ke air. Menyusul kemudian Ragabidak. Ia juga membuka celananya, tetapi masih memakai celana cawat.
Kesepuluh lelaki itu lalu berenang menyelam.
“Kita terlambat,” kata Wangiwulan.
Alma Fatara, Rawil Sembalit dan Wangiwulan mengintai aktivitas Ragabidak dari balik pepohonan bambu di sisi lain danau.
“Bukankah lelaki itu yang menyeret Kakang Rawil tadi?” tanya Alma.
“Iya. Namanya Ragabidak,” jawab Rawil Sembalit.
“Itu kakakku,” kata Wangiwulan.
“Akan timbul masalah jika kalian berdua terlihat oleh Ragabidak,” kata Alma.
__ADS_1
“Lalu bagaimana? Tidak mungkin kita menunggu sampai gelap,” kata Wangiwulan.
“Aku beranggapan, jika malam justru peluangnya lebih besar untuk menemukan keris itu. Biasanya sebuah pusaka yang memiliki kekuatan besar, akan bercahaya di saat gelap,” kata Alma. “Kita harus menunggu mereka pergi dari sini.”
Sementara itu, hari terus menuju senja. Berulang kali Ragabidak dan kesembilan centengnya timbul tenggelam di danau kecil itu. Untuk mencari sebuah benda di dasar, keluasan danau termasuk memberi kesulitan, terlebih waktu tinggal satu jam lagi menuju magrib.
Tidak adanya perubahan dari cara pencarian yang dilakukan oleh Ragabidak dan para centeng pilihannya, menunjukkan bahwa mereka belum ada tanda-tanda menemukan sesuatu yang dicurigai sebagai benda pusaka.
“Aaak!” jerit tiba-tiba seorang centeng yang sedang menyelam.
Jeritannya terdengar ketika dia muncul ke permukaan dengan cara yang kacau, karena bukan dia yang berenang, tetapi diberenangkan oleh seekor ular besar.
“Ada penunggunya!” seru tertahan Wangiwulan terkejut.
Alma Fatara dan Rawil Sembalit juga terkejut. Mereka melihat ular hitam setebal paha orang dewasa melilit kuat seorang centeng. Air mata air itu seketika dibuat bergolak.
“Aaak!” centeng itu masih menjerit kesakitan dalam lilitan.
“Ada ulaaar! Ada ulaaar!” teriak centeng yang lain saat dia muncul ke permukaan untuk mengambil napas. Dia sangat terkejut ketika melihat temannya tahu-tahu sudah meregang nyawa dililit oleh seekor ular besar lagi menyeramkan.
Beberapa centeng yang sudah muncul ke permukaan langsung terkejut. Buru-buru mereka berenang menuju pinggir dengan perasaan panik.
Ular hitam itu kini berdiri di tengah-tengah danau dengan tubuh atas melilit tubuh si centeng. Kepala ular itu berdiri tinggi di atas kepala centeng, mulutnya rapat mendesis dengan lidah hijaunya yang bercabang bergetar di luar.
Cprok!
Alangkah terkejutnya semua orang, saat melihat ular itu akhirnya mencaplok kepala si centeng bulat-bulat. Sungguh pemandangan yang mengerikan.
Zurss!
Ragabidak cepat menghentakkan lengan kirinya. Maka seberkas sinar merah melesat cepat menghantam tengkuk ular.
Arrrk!
Hantaman itu membuat kepala dan tubuh atas ular itu terhentak, Sang ular meraung keras. Hal itu membuat kepala centeng di dalam mulut ular termuntahkan dalam kondisi berlendir hijau dan sudah rusak tidak jelas. Sementara lilitan pada tubuh centeng dilepas.
Ular besar itu tidak menderita luka apa pun pada punggung kepalanya, tetapi ia marah kepada Ragabidak. Ia melepaskan korbannya, tetapi beralih kepada Ragabidak yang masih berada di air.
“Aku harus menolong kakakku!” kata Wangiwulan.
“Biarkan!” cegah Alma. Lalu katanya dengan yakin, “Kakak Kakak Wangi tidak akan apa-apa.”
Seeet! Zurss!
Ular hitam itu bergerak tiba-tiba melesat menyerang Ragabidak, mulut lebarnya menganga mempelihatkan taring dan lidah bercabangnya. Namun, Ragabidak menyambutnya dengan seberkas sinar merah seperti tadi.
__ADS_1
Sinar itu menghantam moncong si ular, membuat kepalanya terhentak ke belakang. Setelah itu, Ragabidak berenang cepat menuju pinggir.
“Cepat, Gusti!” teriak para centeng yang masih bertelanjang ria di pinggir danau.
Ragabidak berenang cepat sambil menengok ke belakang. Namun ternyata, ular besar itu tidak terlihat mengejar.
Suasana sore itu benar-benar berubah menegangkan.
Setelah Ragabidak tiba di pinggir, ia dan centeng-centengnya melihat centeng yang jadi korban dan sudah mati, kembali dililit oleh ular. Penunggu danau itu lalu menarik korbannya masuk ke dalam air.
“Sial!” maki Ragabidak.
“Gusti Ragabidak! Gusti Ragabidak!” teriak seorang lelaki dari kejauhan.
Ragabidak cepat memandang ke arah jauh. Sementara para centeng menengok ke belakang. Mereka melihat seorang centeng berseragam sama dengan yang lainnya, yaitu hitam, berlari terburu-buru datang ke danau mata air itu.
Ragabidak cepat naik ke darat.
“Gusti Ragabidak! Raden Runok Ulung datang menyerang ke rumah!” teriak centeng yang datang itu dengan napas tersengal-sengal.
“Apa?!” kejut Ragabidak. Pikirnya, jika Raden Runok Ulung sendiri yang datang menyerang sampai ke rumah, berarti perkaranya sudah berstatus luar biasa.
Keterkejutan juga dialami oleh Wangiwulan. Namun, berita itu membuatnya terdiam bingung.
Ragabidak buru-buru mengenakan celananya. Tanpa peduli lagi dengan bajunya, Ragabidak cepat berkelebat pergi meninggalkan centeng-centengnya yang juga berlomba-lomba berpakaian.
“Aku harus pulang membantu Ayah!” kata Wangiwulan di persembunyiannya.
“Jangan!” cegah Alma. “Kakak dan Kakang jangan lupa, permusuhan ini memburuk karena ulah siapa? Jika kalian sampai muncul, justru kalian akan semakin disalahkan. Aku tahu yang menyebabkan Raden Runok Ulung sampai menyerang ke kediaman Kakak. Biar aku yang melerai mereka. Kalian kembalilah ke hutan untuk menemui Anjengan dan yang lainnya. Malam ini juga, kalian harus pergi meninggalkan Kademangan!”
“Tapi Alma, Ayah dan Raden Runok Ulung memiliki kesaktian yang tinggi,” kata Wangiwulan berat untuk menuruti anjuran Alma.
“Jika Kakang Rawil dan Kakak Wulan meragukan aku, maka aku pun akan lepas tangan dan tidak peduli dengan urusan keluarga kalian. Ingat, aku dan keempat sahabatku ingin terlibat karena ingin menyatukan kalian dan cinta kalian. Jika kalian tidak mau menurut, apa boleh buat. Aku tidak akan ambil peduli dengan dua keluarga raden dan Pusaka Pemuja Bulan,” ujar Alma.
Rawil Sembalit dan Wangiwulan jadi terdiam mendengar kata-kata Alma yang mengancam. Rawil Sembalit meraih tangan kanan kekasihnya dan menggenggamnya, memberi kode dalam genggamannya. Wangiwulan memandang kekasihnya yang kemudian mengangguk kepadanya.
“Baiklah, Alma. Kami percayakan kepadamu,” kata Wangiwulan akhirnya.
“Pergi temui Anjengan dan kawan-kawan, lalu pergilah malam ini juga. Aku akan berusaha untuk mencegah jatuhnya nyawa,” tandas Alma.
Clap!
Tiba-tiba Alma menghilang begitu saja karena terlalu cepatnya dia melesat. Tingkat kesaktian Wangiwulan belum mampu mengikuti level gerakan Alma Fatara. Karenanya, ia dan kekasihnya hanya bisa terkejut mendapati Alma tahu-tahu menghilang.
Sementara itu, para centeng sudah berlari turun meninggalkan danau Mata Air Pahit. Mereka harus merelakan kematian satu orang teman mereka. (RH)
__ADS_1