
*Perguruan Bulan Emas (Guru Bule)*
Murid-murid Perguruan Bulan Emas telah mundur, tinggallah Buto Renggut dan Juyung Sawa yang berdiri dalam mode pasang kuda-kuda. Mereka tampak tegang berhadapan dengan sepuluh lebih murid utama Perguruan Jari Hitam.
Murid utama dari Jari Hitam bisa dilihat dari warna jari mereka yang hitam pekat. Sementara belasan lainnya dari murid Jari Hitam masih berjari warna normal.
“Aku peringatkan kalian, jika tidak ingin mati oleh kami, kembalilah pulang untuk tidur dan masak di dapur!” seru Buto Renggut. Padahal sebelumnya dia mengabaikan tahapan pemberian peringatan, sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Wakil Ketua Perguruan Bulan Emas.
“Lebih baik kami semua berkalang tanah jika tidak bisa membebaskan guru kami!” seru Rinai Serintik lantang.
“Baik jika kalian keras kepala!” teriak Buto Renggut keras, demi menutupi ketegangannya. “Kalian akan merasakan ilmu ternama Perguruan Bulan Emas, yaitu Sepuluh Purnama Kematian!”
“Jangankan hanya sepuluh purnama kematian, seribu purnama kematian pun, ayo keluarkan!” tantang Brata Ala.
Ketegangan itu menjadi tontonan warga Desa Julangangin dan beberapa pendekar yang saat itu singgah di desa. Posisi tonton mereka terbilang bagus, karena berada di ketinggian desa.
“Sepertinya akan ada korban banyak jika Buto Renggut mengeluarkan ilmu Sepuluh Purnama Kematian,” komentar seorang pendekar lelaki gemuk berpakaian berpola kulit macan tutul. Bajunya tidak berlengan, memperlihatkan lengan besarnya yang berlemak pula. Ia bernama Raja Buru, salah satu pendekar dunia persilatan.
Ia bersama dengan istrinya yang bernama Ratu Kejar. Meski gemuk, tetapi wanita itu memiliki wajah yang cantik dengan kulit yang halus dan hidung nan mancung. Usianya setara dengan Raja Buru, yaitu kisaran empat puluhan tahun.
“Aku jadi penasaran dengan kehebatan murid-murid Bulan Emas jika pertarungan berjalan adil,” kata Ratu Kejar.
Kembali ke dalam ketegangan.
“Ayo kalian maju!” teriak Buto Renggut yang sudah memegang dua senjata piringannya yang bersinar kuning.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Juyung Sawa. Ia sudah memegang dua piringan yang juga bersinar kuning.
Brata Ala, Kulung, Rinai Serintik, dan Jernih Mega sudah berdiri dengan kuda-kuda siap bertarung kembali. Kesepuluh jari tangan mereka yang hitam kini menyala membara.
“Serang!” seru Brata Ala yang kini memimpin murid-murid Jari Hitam setelah kepergian Giling Saga.
Brata Ala dan ketiga rekannya segera berlari maju ke arah Buto Renggut dan Juyung Sawa.
“Heh, tahan!” seru Buto Renggut cepat, membuat Brata Ala dan ketiga rekannya berhenti mendadak.
“Kenapa?!” tanya Rinai Serintik galak.
“Apa yang kalian lakukan, hah?! Kalian mau curang, main keroyokan?” bentak Buto Renggut.
“Hei, Keparat Orok!” seru Jernih Mega. “Kalianlah orang-orang yang tidak tahu malu. Kalian orang-orang yang licik meracuni guru kami. Hari ini kalian mengeroyok kami, kenapa minta pertarungan adil sekarang?”
“Oh baik!” sahut Buto Renggut sambil manggut-manggut. Lalu katanya kepada Juyung Sawa, “Juyung, jangan segan-segan, keluarkan ilmu Sepuluh Purnama Kematian!”
Terkesiap Juyung Sawa lalu memandang kepada rekannya.
“Buto, aku belum menguasai ilmu itu!” kata Juyung Sawa setengah berbisik kepada Buto Renggut.
“Aaah kau ini, sudah keluarkan saja, biar mereka tidak memandang remeh orang-orang Bulan Emas!” sergah Buto Renggut.
“Peduli apa dengan kalian, serang!” teriak Brata Ala berkomando lalu berlari maju.
Kulung, Rinai Serintik dan Jernih Mega berlari maju bersamaan.
__ADS_1
Set set set …!
Buto Renggut dan Juyung Sawa melepaskan sepasang piringan terbang bersinar mereka. Satu piringan menyerang satu lawan.
Jernih Mega bisa menghindar dengan memiringkan tubuh atasnya, sampai-sampai piringan lewat tipis di sisi kepalanya, masih sempat memangkas beberapa helai rambut gadis itu.
Rinai Serintik menangkis menggunakan jari-jari membaranya, membuat senjata piring itu terpantul. Kulung sendiri memilih lompatan salto menghindari serangan piringan.
Sementara Brata Ala justru menangkap piringan bersinar itu dengan jari-jari membaranya. Piringan itu lalu ia lesatkan begitu saja sejauh-jauhnya ke area kosong.
Setelahnya, keempatnya langsung maju lagi mendapatkan kedua musuhnya.
Buto Renggut dikeroyok oleh Brata Ala dan Rinai Serintik. Juyung Sawa dikeroyok oleh Kulung dan Jernih Mega. Pertarungan fisik jarak dekat pun terjadi sengit.
Sambil bertarung, Juyung Sawa bisa menangkap kedua piringan terbangnya yang melesat balik, lalu dijadikan senjata tajam dengan kondisi tetap bersinar kuning.
Berbeda dengan Buto Renggut, senjatanya yang pulang hanya satu, karena satunya lagi dibuang oleh Brata Ala.
“Aku kira orang angkuh itu akan langsung mengandalkan ilmu Sepuluh Purnama Kematian,” kata Raja Buru kepada istrinya.
“Atau dia hanya menggertak, padahal dia tidak menguasai ilmu itu. Buktinya, temannya saja tidak memiliki ilmu tersebut,” kata Ratu Kejar.
“Kau benar juga, sepertinya orang pongah itu besar mulut saja,” kata Raja Buru.
Raja Buru lalu meneriaki Buto Renggut yang beberapa waktu lalu juga sempat menantangnya adu kesaktian dengan ilmu Sepuluh Purnama Kematian.
“Buto Renggut, kenapa kau belum mengeluarkan Sepuluh Purnama Kematian? Kami menunggumu!” teriak Raja Buru.
“Buto Renggut itu mulutnya sebesar gua, tapi kelelakiannya hanya sebesar anak belut!” teriak seorang pendekar muda yang juga jadi penonton.
Meski senjata piringannya tergolong hebat, mengandung tenaga sakti yang bisa memangkas logam, tetap saja kekuatannya sama dengan jari-jari membara murid-murid Jari Hitam. Apalagi dia hanya memegang satu senjata.
Pada satu ketika, Brata Ala mencoba mendesak Buto Renggut dengan serangan tangan beritme cepat ala kung fu wing chun IP Man. Buto Renggut harus mundur-mundur sambil menangkis serangan jari-jari maut itu dengan piringannya yang hanya berdiameter satu setengah jengkal.
Tek! Sreet!
“Aaak!”
Buto Renggut menangkis serangan tangan kiri Brata Ala dengan piringannya, tapi pada akhirnya, cakaran tangan kanan Brata Ala berhasil meliuk dan masuk mencengkeram lengan kiri Buto Renggut, lalu menariknya.
Ketika jari-jari Brata Ala mencengkeram lengan lawan, dengan lunaknya jari-jari membara itu mencoblos masuk memakan kulit dan daging Buto Renggut, membuat pria paruh baya itu menjerit tertahan, terlebih ketika Brata Ala menarik cakarannya seperti sedang mengurut.
Buru-buru Buto Renggut melompat mundur mengambil jarak. Sambil menahan sakit, dia melukis di udara menggunakan piringan bersinarnya, membuat sebuah lingkaran berdiri di udara yang menghadap ke arah lawan.
Bas! Zeng zeng zeng …!
Swes swes swes …!
Buto Renggut menghentakkan lengan kirinya ke tengah-tengah lingkaran sinar kuning yang bolong. Dari telapak tangan Buto Renggut melesat beruntun lima sinar kuning berbentuk bulat pipih, tapi melesat berdiri.
Sigap bagi Brata Ala. Ia menghentakkan pula lengan kanannya dengan tinju mengepal. Sepuluh sinar biru kecil berekor juga melesat berurutan menghadang sinar kuning yang wujudnya lebih lebar.
Ctar ctar ctar …!
Lima ledakan yang sangat rapat seperti satu waktu, terjadi cukup membisingkan. Baik Buto Renggut maupun Brata Ala sama-sama terlempar mundur.
__ADS_1
Namun, ketika Brata Ala terlempar mundur, dari balik punggungnya mencelat sosok Rinai Serintik yang langsung menonjok angin.
Swes swes swes …!
Lima sinar biru kecil berekor melesat berurutan mengejar tubuh Buto Renggut yang terlempar. Dalam lambungan tubuhnya itu, Buto Renggut masih bisa melihat serangan susulan lawan yang mengancam nyawanya.
Seseset! Blar!
Tidak ada jalan lain bagi Buto Renggut selain menangkis rombongan sinar kecil itu dengan piringan yang masih tergenggam di tangannya. Beruntun sinar itu menghantam piringan yang bersinar kuning. Namun ujungnya, piringan itu dibuat hancur dan kian mendorong keras tubuh Buto Renggut menghantam tanah dengan keras.
Kejadian itu berlangsung sangat singkat, di masa tubuh Buto Renggut lepas landas.
Blugk!
“Hukhr!” Buto Renggut jatuh keras dengan punggung menghantam tanah keras dan setelahnya menyemburkan darah lewat mulut.
“Wah, jagoan kita tumbang terlalu cepat, tidak seperti harapan kita,” ucap Raja Buru sambil tersenyum tipis mengejek.
“Jika hanya seperti itu kesaktian si pecundang itu, aku juga dengan mudah bisa membunuhnya. Mana Sepuluh Purnama Kematian yang dia gembar-gemborkan itu?” kata Ratu Kejar.
“Buto Renggut!” sebut Juyung Sawa terkejut saat melihat kondisi rekan selevelnya.
Juyung Sawa yang sanggup bertahan dari gempuran kedua lawannya, cepat bertindak ketika melihat Brata Ala dan Rinai Serintik hendak menyerang Buto Renggut lagi.
Set set! Wuss!
Juyung Saga melesatkan dua piringannya yang bersinar kuning, tapi menyerang Brata Ala dan Rinai Serintik. Sedangkan untuk kedua lawannya, yaitu Kulung dan Jernih Mega, Juyung Sawa melepaskan angin pukulan demi meninggalkan keduanya.
Brata Ala dan Rinai Serintik harus menahan langkahnya karena terkejut adanya serangan dari arah lain. Keduanya terpaksa melompat menghindari dua piringan sinar kuning.
Kulung dan Jernih Mega harus melompat jauh-jauh demi menghindari angin pukulan yang menyerang.
“Kalian, lindungi Kakak Perguruan dan bantu mundur!” teriak Juyung Sawa kepada para murid Bulan Emas yang sedang menonton sambil menahan luka.
Set set set …!
Sebagian murid Bulan Emas yang berkumpul agak jauh di belakang, melesatkan senjata piringan biasa mereka yang tidak bersinar. Namun, serangan ramai itu cukup memberi pekerjaan kepada keempat murid utama Jari Hitam yang sedang bertarung.
“Cepat ambil kuda!” perintah Juyung Sawa kepada juniornya.
Juyung Sawa kembali menangkap kedua piringan bersinarnya. Menggunakan senjatanyanya itu, ia melukis dua lingkaran sinar kuning di udara, tapi arah keduanya berbeda.
Bas bas! Zeng zeng zeng …!
Juyung Sawa menghentakkan kedua telapak tangannya ke tengah-tengah lubang lingkaran sinar. Maka lima sinar kuning berwujud bulat pipih, masing-masing melesat tegak dari telapak tangan Juyung Sawa.
Lima sinar menyerang pasangan Brata Ala dan Rinai Serintik, lima sinar lagi menyerang pasangan Kulung dan Jernih Mega, di saat mereka sibuk menghidari dan menangkisi hujan piringan dari murid-murid Bulan Emas.
Sementara itu, Buto Renggut sudah dinaikkan ke punggung kuda oleh beberapa murid. Meski terluka parah, tapi Buto Renggut masih bisa menjalankan kudanya. Ia menggebah kudanya dan pergi lebih dulu meninggalkan para juniornya yang sedang menyibukkan musuh.
“Pulang ke perguruan!” perintah Juyung Sawa kepada murid-murid juniornya.
Sebagian murid harus berlari terhuyung-huyung dan dipapah oleh rekannya. Juyung Saga yang baru saja melepaskan ilmu Lingkaran Bulan Kuning, mundur belakangan sambil berjaga agar murid-murid Jari Hitam tidak mengejar.
“Biarkan mereka pulang membawa malu!” seru Brata Ala kepada rekan-rekannya.
__ADS_1
Murid-murid Jari Hitam akhirnya hanya memandangi kepergian Juyung Sawa dengan kudanya, menyusul para juniornya. (RH)