
*Dendam Wanita Gila (Dewa Gi)*
Setelah pelantikan Suraya Kencani sebagai Ketua Perguruan Bulan Emas, Alma Fatara mengumpulkan para petinggi perguruan serta Rereng Busa, Balito Duo Lido, Cucum Mili, Anjengan, dan Mbah Hitam. Sebelum meninggalkan Perguruan Bulan Emas, Alma Fatara harus memastikan sejumlah rencana agar bisa berjalan dengan semestinya.
Ternyata, hal yang pertama yang dibahas adalah perkara keuangan perguruan yang menipis.
“Dua pesta yang kita adakan telah menyedot dana yang besar, membuat keuangan perguruan tidak baik, Gusti Ratu,” lapor Jamir Beroto, Kepala Pemelihara Perguruan.
“Selama ini kalian mendapat sumber penghasilan dari mana?” tanya Alma Fatara.
“Dari pajak keamanan untuk daerah Bukit Tujuh Kepala dan sekitarnya,” jawab Jamir Beroto.
“Hah! Kalian memungut pajak?” tanya Alma Fatara terkejut.
“Benar, Gusti Ratu. Dengan demikian, daerah Bukit Tujuh Kepala aman dari kelompok-kelompok perampok atau pengacau. Karena, jika ada kelompok perampok di daerah ini, mereka akan kami basmi,” jelas Galak Gigi.
“Hentikan itu secara bertahap. Buatlah sumber penghidupan untuk perguruan menggunakan cara yang lain. Jangan malu untuk melakukan sesuatu yang kalian anggap rendah, asalkan itu tidak menyalahi aturan main!” perintah Alma Fatara.
“Baik, Gusti Ratu,” ucap Suraya Kencani.
“Perguruan ini adalah daerah berhutan dan di belakang ada sungai besar. Di bawah air terjun pun daerah yang subur dengan hutan. Aku pikir, banyak cara untuk menghasilkan sumber penghidupan, apakah berupa tanaman atau hewan peliharaan. Dan aku lihat, ternyata sebagaian murid perguruan ini cekatan saat membangun panggung. Kita bisa menjual jasa pembangunan. Tidak perlu malu. Semakin tinggi seorang pendekar, maka semakin dalam dia akan merunduk. Tidak seperti aku. Hahaha!” tutur Alma yang ujung-ujungnya tertawa.
“Hahaha!” tawa sebagian dari mereka mengiringi tawa sang ratu.
“Bagaimana dengan usulanku, Tetua?” tanya Alma Fatara kepada Suraya Kencani.
“Aku bisa menangkap apa yang Gusti Ratu maksud. Nanti aku akan merundingkan lebih rinci tentang kemungkinan-kemungkinan yang bisa kami kembangkan, termasuk jasa pembangunan itu,” jawab Suraya Kencani.
__ADS_1
“Baik, aku kira permasalahan keuangan perguruan akan disikapi lebih lanjut. Nanti aku akan memintah Geranda untuk menyerahkan separuh kekayaannya ke perguruan,” kata Alma Fatara. “Pertemuan sepekan lalu, aku pernah memerintahkan kalian untuk memikirkan cara bagaimana bisa mengenali abdi Kerajaan Siluman dari wilayah lain. Apakah di antara kalian sudah ada yang menemukan ide?”
“Untuk mengenali seseorang jelas harus melihat tanda pengenalnya,” kata Rereng Busa. “Sebagai contoh. Jika dalam perjalanan kita berpapasan dengan satu pasukan. Maka yang kita kenali adalah ciri pakaian para prajuritnya atau lambang benderanya.”
“Di wilayah barat ada satu kelompok seperti bajak laut, tapi mereka bukan bajak laut. Namanya Pemburu Pesisir Barat. Mereka memiliki lambang gigi atas yang bertaring. Jadi, setiap anggotanya memiliki tato gambar gigi bertaring pada bagian tangannya. Jika ada yang tidak memiliki tato itu, berarti bukan anggota mereka,” kata Cucum Mili.
“Tapi tato apa yang cocok untuk kita? Tato Kepiting?” tanya Anjengan.
“Hahahak!” tawa Alma Fatara tiba-tiba karena nama kepiting disebut. Sebab, hanya dia, Anjengan dan Mbah Hitam yang tahu bahwa Putri Angin Merah adalah pendekar yang berjuluk asli Ratu Kepiting.
“Aku tidak setuju jika memakai tato kepiting!” tolak Cucum Mili lantang.
“Hahaha!” tawa Alma lagi, tapi lebih pendek.
“Setiap kerajaan memiliki bendera, setiap pasukan memiliki bendera, dan setiap perguruan memiliki bendera. Namun, sepertinya Kerajaan Siluman belum memiliki bendera,” kata Balito Duo Lido.
“Baik baik baik. Aku akan menjadikan bendera sebagai tanda pengenal. Bendera akan menjadi lambang kekuasaan Kerajaan Siluman. Kain kecil bergambar yang sama dengan bendera akan menjadi tanda pengenal setiap abdiku,” kata Alma Fatara.
“Semalam aku bermimpi aneh dan hebat. Aku memiliki laba-laba raksasa yang aku tunggangi. Laba-laba itu berwarna ungu kehitam-hitaman. Jadi, aku menetapkan, laba-laba besar berwarna ungu gelap menjadi simbol Kerajaan Siluman. Gambar itulah yang akan dipasang di kain bendera dan kain pengenal. Warna bendera Kerajaan Siluman adalah hitam. Jadi, setiap perguruan yang berada di bawah perintah Kerajaan Siluman, wajib memiliki dua bendera, yaitu bendera perguruan dan bendera Kerajaan Siluman. Aku ingin, sebelum aku melanjutkan perjalananku menuju Kerajaan Jintamani, sudah ada beberapa contoh bendera yang nanti akan aku pilih salah satunya,” tutur Alma Fatara.
“Baik, Gusti Ratu!” ucap mereka serentak.
“Tapi, Gusti Ratu, tanda pengenal kain bergambar akan sangat muda disusupi oleh teliksandi,” kata Tangkar Biawak selaku Kepala Latih.
“Agar tidak terjadi penyusup yang mengaku sebagai rakyat Kerajaan Siluman, aku wajibkan kepada setiap lingkungan rakyat Kerajaan Siluman di semua daerah, agar melakukan pertemuan wajib yang rutin di setiap tingkatan. Itu bertujuan agar sesama rakyat Kerajaan Siluman bisa saling mengenal. Jadi, jika ada penyusup yang menggunakan tanda pengenal kita, maka kalian akan mudah mengenalinya sebagai orang asing,” kata Alma Fatara.
Para petinggi itupun manggut-manggut membenarkan pemikiran ratu mereka.
“Mbah Hitam, ingat-ingat peraturan yang aku buat agar nanti dicatat di Kitab Hukum Kerajaan Siluman!” perintah Alma Fatara.
__ADS_1
“Baik, Gusti Ratu,” ucap Mbah Hitam patuh.
“Seharusnya aku mengangkat seorang juru tulis,” ucap Alma pelan, tapi kepada dirinya sendiri.
“Maaf, Gusti Ratu,” ucap Ki Jandila. “Gusti Ratu akan pergi berkelana jauh, pastinya akan jauh dari kami dan rakyat Kerajaan Siluman di daerah lain. Apa jadinya jika Gusti Ratu ingin memberi perintah kepada semua pemimpin daerah dan perguruan? Jika mengirim utusan berkuda, tentunya akan memakan waktu yang lama.”
“Aku punya jalan keluar untuk hal itu. Ada satu ilmu yang bernama Titah Mimpi. Orang yang memiliki ilmu itu, bisa datang ke dalam mimpi siapa saja yang dikehendakinya. Aku sarankan Gusti Ratu memiliki ilmu itu,” kata Rereng Busa.
“Ilmu yang tepat. Lalu kepada siapa aku harus berguru?” tanya Alma Fatara.
“Pergilah ke Bukit Selubung. Temui Raja Tanpa Gerak. Dia yang memiliki ilmu itu. Mintalah kitab Titah Mimpi itu, tapi dengan syarat, Gusti Ratu harus menyebut namaku,” kata Rereng Busa.
“Semudah itu?” tanya Balito Duo Lido tidak percaya.
“Hehehe!” kekeh Rereng Busa.
“Tapi di mana Bukit Selubung itu?” tanya Alma Fatara.
“Di arah timur Bukit Tujuh Kepala. Mudah menemukannya. Jika Gusti Ratu melihat tanah tinggi hijau yang memiliki pohon tinggi terlalu miring, maka itulah Bukit Selubung,” jawab Rereng Busa.
“Baik, dari sini aku akan langsung ke Bukit Selubung. Hahaha!” kata Alma Fatara semangat, lalu tertawa. “Oh iya, Ki Jandila. Jangan lupa perhatikan perawatan luka-luka para tahanan. Setelah ini, aku akan menawarkan kepada para tahanan itu untuk mengabdi kepada Kerajaan Siluman.”
“Baik, Gusti Ratu,” ucap Ki Jandila. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Mau lebih kenal dengan Om Rudi, yuk kunjungi segaris perjalanan Om di Noveltoon di cerpen yang berjudul "Perjalanan Novel Buku Tulis". Cari di profil, ya.