Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
SMP 20: Getar Cinta di Tangga Bukit


__ADS_3

 *Setan Mata Putih (SMP)*


 


“Uwaaah!” sorak sebagian besar anggota Pasukan Genggam Jagad ternganga seperti orang udik, saat mereka melihat peti-peti harta rampasan dibuka satu demi satu.


Jiwa-jiwa yang masih doyan kepeng emas intan permata, segera merangsek maju hendak menjamah harta itu, seperti si hidung belang yang sedang melihat tubuh wanita cantik sedang bertelekan tanpa bantal, bukan tanpa busana.


Seperti seuntai pepatah mengatakan, “Di mana ada semut berkumpul, di sana pasti ada yang kesemutan”.


“Huwaaah!” jerit ketakutan para pendekar yang hendak menjamah kepeng emas, perak dan perhiasan. Mereka sontak bermunduran serentak seolah ada buaya yang siap menerkam.


Tidak ada seorang pun yang sempat menyentuh sekepeng pun dari harta yang banyak itu, harta yang bisa dipakai biaya nikah sepuluh kali.


Mundur serentaknya para pendekar yang silau oleh harta itu, tidak lain adalah karena kemunculan ular hitam besar yang tiba-tiba, langsung melingkari peti-peti berwarna-warni tersebut. Ular itu tidak lain adalah sosok jelmaan Mbah Hitam.


“Jangan sampai kalian aku telanjangi satu-satu jika ada sekepeng pun yang berkurang!” teriak Cucum Mili lantang mengancam.


“Eit eit eit! Jangan coba-coba!” seru Geranda sambil maju ke dekat ular Mbah Hitam. “Aku adalah Bendahara Kerajaan Siluman. Harta ini murni milik Kerajaan Siluman!”


“Tenang … tenang!” seru Juling Jitu, tampil pula ke depan. “Gusti Ratu Alma Fatara bukan pecinta harta. Jika harta ini tidak dikembalikan ke pemiliknya, aku yakin, kita semua akan mendapat bagian. Hahaha!”


Setelah Juling Jitu tertawa sendiri, para pendekar yang berharap tinggi mendapat jatah kepeng, jadi ikut tertawa mencairkan suasana yang sempat tegang.


“Aku sudah mengutus Panglima Arung Seto untuk melapor kepada Gusti Ratu. Kita tunggu apa keputusan dari puncak Bukit Selubung!” seru Cucum Mili.


Arung Seto naik bersama Gede Angin menuju puncak Bukit Selubung untuk melapor apa yang telah terjadi selagi Alma Fatara tidak ada.


“Belik Ludah!” panggil Semai Cinta yang telah tiba di lokasi rekan-rekan sekerajaannya.


Belik Ludah yang sedang seru-serunya menonton keramaian dari sebelah belakang kerumunan, segera menengok ke belakang. Beberapa pendekar juga ikut menengok.


“Kakak Cantik ada perlu denganku?” tanya Belik Ludah seraya tersenyum malu-malu kelilipan.


“Hihihi! Ada tugas dari Gusti Ratu,” jawab Semai Cinta yang didahului tawanya karena merasa lucu melihat ekspresi tabib gemuk belia itu.


“Tugas apa, Cinta?” Segara, pemuda berambut gondrong berbibir tebal seksi, kepo bertanya.


Pertanyaan Segara itu membuat Semai Cintai hanya tersenyum tipis, sehingga manisnya pun tipis. Ia tidak menjawab, tapi segera memberikan bungkusan kain kepada Belik Ludah.


“Isinya jarum beracun. Namanya Jarum Kuku Rambut. Jika bisa dijadikan senjata, maka berikanlah kepada Juling Jitu,” ujar Semai Cinta.

__ADS_1


“Sepertinya ada gadis cantik yang menyebut namaku dengan syahdu,” ucap Juling Jitu yang tiba-tiba muncul menyeruak dari balik tubuh rekan-rekannya. Dengan gaya berlagak seganteng Arung Seto, dia tersenyum jumawa bak seorang pangeran yang juling.


“Jangan genit atau aku adukan kau kepada istrimu!” hardik Alis Gaib sambil melempar wajah Juling Jitu dengan segumpal daun yang diremas-remas.


Terkejut Juling Jitu.


“Hahaha! Aku tidak genit, hanya belajar merayu untuk istriku tercinta,” kilah Juling Jitu.


Sementara itu, Belik Ludah mengabaikan urusan orang dewasa 21+ itu. Ia sibuk memeriksa senjata yang dikirim oleh Alma Fatara.


“Sepertinya itu sangat berbahaya, Belik,” kata Segara sambil dekat-dekat ke sisi Semai Cinta dengan perhatian pura-pura tertuju kepada jarum beracun di tangan Tabib Bocah.


“Jika terkena Jarum Kuku Rambut ini, dalam sepuluh hitungan akan mati,” jelas Belik Ludah tanpa berani menyentuh langsung jarum yang berderet pada sebuah lipatan kain.


“Semai Cinta, apakah kau tidak …?” tanya Segara sambil menengok ke sisi kirinya, di mana ada keberadaan Semai Cinta. Namun, kata-kata pemuda berbibir tebal itu terputus, ketika dia tidak melihat adanya Semai Cinta.


“Hahahak …!” Jadilah Segara bahan tertawaan oleh rekan-rekannya. Pada akhirnya dia menertawai dirinya sendiri. Dilihatnya Semai Cinta sudah melangkah pergi menuju tangga bukit.


“Nanti aku akan buatkan ramuan agar Kakang Juling kebal racun jarum ini,” kata Belik Ludah kepada Juling Jitu.


“Jangan sebut ‘Kakang Juling’, tapi ‘Kakang Jitu’,” ralat Juling Jitu.


Sementara itu, di punggung bukit, Arung Seto dan Gede Angin berpapasan dengan Tampang Garang dan kesepuluh wanita cantiknya. Jika berpapasan dengan sesama lelaki, mungkin Arung Seto dan Gede Angin tidak akan memilih mengalah. Namun, karena Tampang Garang memiliki buntut sepuluh wanita, itupun cantik-cantik, jadi Arung Seto dan Gede Angin berhenti sejenak dan berdiri lebih ke pinggir.


“Hahaha!” Tampang Garang hanya tertawa. Meski tampangnya sudah seperti terumbu karang karena jerawat yang besar-besar, tetapi rasa percaya dirinya tinggi lantaran ada sepuluh wanita cantik di belakangnya.


Arung Seto dan Gede Angin membiarkan kesebelas orang itu berjalan turun dengan nyaman.


Tanpa terkecuali, kesepuluh wanita penyandang busur itu melirik lekat kepada paras Arung Seto yang tampan, termasuk Janda Belia yang sedang berduka, hingga mereka melalui posisi sang pemuda. Rata-rata mereka tersenyum manis lagi lembut kepada pemuda tampan itu.


Mau tidak mau Arung Seto balas tersenyum manis kepada mereka, menciptakan ilustrasi tembakan bunga-bunga ke udara yang membuat hati-hati mereka berdesir-desir, seolah-olah setiap sinyal yang mereka keluarkan berjodoh semua.


Setiap Anggota Sayap Panah Pelangi memiliki harum tubuh yang berbeda-beda. Itu bisa dinikmati oleh penciuman Arung Seto dan Gede Angin. Hanya aroma tubuh Tampang Garang yang tidak meninggalkan kesan di hati dan pikiran.


Hal itu menunjukkan bahwa secara bertahap Arung Seto kini menjadi dambaan hati banyak wanita di dalam Pasukan Genggam Jagat. Sepertinya Nining Pelangi belum mengetahui perkembangan berbahaya ini.


Namun, satu keanehan terjadi. Ketika Aren Jingga yang berjalan di urutan kesembilan lewat di depan Arung Seto dan Gede Angin, aroma harumnya justru membuat kedua lelaki itu langsung merasa pusing dan pandangannya jadi berputar. Meski tidak sekencang komedi putar, tetapi itu membuat kedua lelaki itu limbung.


Memang, spesial pakai telor bagi Aren Jingga, harum tubuhnya memang bisa membuat pusing bagi yang tidak biasa menciumnya atau tingkat ketahanannya hanya selevel rata-rata.


Melihat limbungnya kedua lelaki itu, padahal posisi mereka cukup tinggi di atas bukit, Sekar Mekar yang berada diurutan kesepuluh cepat mencekal pergelangan tangan Gede Angin. Sementara Jentik Melati yang paling belakang cepat memegangi lengan kanan Arung Seto.

__ADS_1


Jika Jentik Melati yang tubuhnya harum melati jadi terpaku karena menahan dan memeluk lengan kekar Arung Seto, maka berbeda dengan Sekar Mekar yang menahan tangan Gede Angin.


“Aku tidak kuat!” pekik Sekar Mekar yang berusaha menahan kelimbungan tubuh besar Gede Angin yang sangat berat.


“Aaa!” jerit Gede Angin ketika pegangan tangan Sekar Mekar lepas karena tidak sanggup menahan berat tubuh yang oleng.


Bduk blug blug …!


Dari pada jatuh bersama, Sekar Mekar terpaksa memilih selamat dengan melepas Gede Angin. Tubuh Gede Angin jatuh berguling-guling di tanah bukit yang miring tajam.


Semua terkejut, termasuk Jentik Melati dan Arung Seto yang terpaku dalam pose setengah berpelukan, seolah sedang sesi foto prewedding.


Demi menyelamatkan nyawa si raksasa kecil, kesembilan wanita lainnya segera raih busur dan pasang anak panah dengan gerakan yang cepat. Lalu ….


Set set set …!


Keren! Sembilan anak panah melesat berurutan di udara dengan rapi.


Teb teb teb …!


Kesembilan anak panah itu melewati luncuran tubuh Gede Angin, kemudian menancap dalam satu saf seperti pagar.


Tubuh besar Gede Angin akhirnya menabrak deretan pagar anak panah itu. Lebih lebarnya badan Gede Angin dibandingkan ketinggian pagar, membuat tubuhnya bisa melindas pagar anak panah itu. Namun, hambatan itu membuat kecepatan gelindingan tubuh Gede Angin tersendat dan sempat melambat. Kondisi itu cepat dimanfaatkan olehnya untuk meraih berpegangan pada dua anak panah, sehingga tubuhnya tertahan dan berhenti.


Namun, kedua anak panah yang dipegang bergerak akan tercabut dari tanah.


Set! Tseb!


“Aaak …!”


Sebelum kedua anak panah itu tercabut, satu anak panah dari Tampang Garang telah lebih dulu melambung cepat di udara, lalu jatuh tepat di antara dua paha Gede Angin, sehingga bisa menjadi pengganjal tambahan bagi tubuhnya.


Namun, anak panah itu membuat Gede Angin menjerit panjang lagi keras. Panah itu sempat menusuk sedikit daging paha kirinya.


Teriakan Gede Angin yang kencang sampai mengejutkan pasukan yang ada di bawah dan terdengar sampai ke puncak.


Pada akhirnya, Gede Angin bisa terselamatkan sebelum sampai ke kaki bukit. Sementara Jentik Melati harus rela melepas kenaikan Arung Seto ke puncak bukit, bukan ke puncak asmara. Yang paling penting baginya saat itu adalah hatinya berbunga-bunga penuh bunga melati. (RH)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Audio Book Om Rudi "MARANTI" sudah up loh, yuk putar, dengar, like, dan komen! Sambil nunggu Alma Fatara up.

__ADS_1


__ADS_2