
*Perguruan Bulan Emas (Guru Bule)*
Rombongan Brata Ala sudah tiba di dekat Desa Julangangin. Tengah malam sudah berlalu. Mereka bergerak tertatih-tatih tanpa penerangan. Mereka yang menderita luka sudah semakin lemah.
Drap drap drap ...!
"Berhenti!" seru Brata Ala kepada rekan-rekannya, ketika mereka mendengar suara lari beberapa ekor kuda.
Mereka pun berhenti dan merunduk di rerumputan pinggir jalan dekat undakan tangga Desa Julangangin.
Tidak berapa lama, tiga ekor kuda datang berlari mendekat. Meski gelap, tapi Brata Ala dan rekan-rekan masih bisa melihat bayangan hitamnya yang lebih hitam. Ada tiga ekor kuda, salah satu kuda ditunggangi oleh dua orang wanita.
Ketika melihat bayangan bentuk rambut dari perempuan yang dibonceng kuda, Brata Ala dan rekan-rekan jadi menduga-duga.
"Rambut perempuan itu seperti Nining Pelangi," bisik Jernih Mega kepada Brata Ala.
"Aku rasa hanya mirip," kata Brata Ala berbisik pula.
"Mereka berhenti," ucap Jernih Mega lagi.
Ketiga kuda itu memang dihentikan di dekat undakan tangga Desa Julangangin. Para penunggangnya yang terdiri dari satu lelaki dan tiga wanita, memerhatikan suasana desa yang penerangannya sudah sangat sedikit. Warga yang sudah pada tidur membuat banyak dian-dian di rumah sudah dimatikan.
Hanya ada satu dua obor yang menyala berjauhan posisinya.
"Sepertinya kita tidak sendirian di sini!" kata nenek gemuk bertongkat yang menunggang kuda sendirian. Nada bicaranya seolah ia sedang sambil mengunyah sesuatu.
Perkataan wanita tua itu mengejutkan Brata Ala dan rekan-rekannya. Maksud perkataan si nenek itu bisa mereka pahami dengan jelas.
"Kalian sudah ketahuan, ayo keluar!" seru wanita yang lain dengan nada lantang lagi tegas, wajahnya menghadap ke area tempat Brata Ala dan rekan-rekannya berada.
Brata Ala dan rekan-rekan sebenarnya tidak bersembunyi. Jika saat itu terang, para penunggang kuda itu bisa melihat Brata Ala dengan mudah. Namun karena gelap, mereka tidak terlihat, tetapi terdengar keberadaannya oleh kesaktian dari penunggang kuda itu.
"Siapa kalian?" tanya Brata Ala yang maju seorang diri, lebih mendekat ke posisi ketiga kuda.
"Brata Ala?" tanya wanita yang dibonceng. Rupanya ia kenal dengan suara Brata Ala.
__ADS_1
"Nining Pelangi?" tanya balik Brata Ala sambil memusatkan pandangannya ke atas kuda yang ditunggangi dua wanita.
"Iya, aku Nining Pelangi bersama kakak seperguruan Riring Belanga!" jawab Nining Pelangi sumringah dengan nada yang tinggi.
"Kakak seperguruan Riring Belanga?" sebut beberapa suara lelaki dan wanita bersamaan dari belakang Brata Ala. Nadanya gembira, tapi seakan tidak percaya.
"Apa yang terjadi dengan kalian?" tanya Riring Belanga cepat saat yakin bahwa orang-orang di dalam kegelapan itu adalah murid-murid Perguruan Jari Hitam.
Maka, segeralah Brata Ala dan rekan-rekannya berdatangan mendekati kuda-kuda itu. Nining Pelangi dan kakaknya segera turun dari kuda. Sementara nenek Balito Duo Lido dan Arung Seto tetap duduk di punggung kuda.
"Hormat kami, Kakak Seperguruan Riring Belanga!" ucap Brata Ala dan rekan-rekan sambil menjura hormat.
"Apa yang terjadi?" tanya Riring Belanga lagi setelah mengangguk.
"Apa yang terjadi dengan kalian?" tanya Nining Pelangi sambil menghambur kepada murid wanita yang terluka parah.
Jress!
Tiba-tiba Balito Dua Lido melempar sebola api ke tanah, di tengah-tengah mereka, sehingga wajah-wajah mereka terlihat, meski tidak seterang pagi hari.
"Lalu di mana Giling Saga?" tanya Nining Pelangi, karena Giling Saga adalah pemimpin awal mereka.
"Giling Saga pergi menyusup terlebih dulu, tapi nasibnya tidak jelas, karena tidak kembali kepada kami," jawab Rinai Serintik.
"Di mana murid-murid lainnya?" tanya Riring Belanga.
"Ada di pusat Desa Julangangin. Dendeng Pamungkas tidak jelas nasibnya karena terkena serangan di perguruan musuh. Kulung yang pergi mencari Dendeng Pamungkas juga belum kembali," jawab Brata Ala.
"Baik, kalian tangani luka-luka kalian itu segera dan makamkan rekan yang tewas. Besok pagi kita akan bicarakan kembali masalah ini!" perintah Riring Belanga.
"Baik, Kakak Seperguruan," ucap Brata Ala.
Brata Ala lalu menghadap kepada rekan-rekannya dan berkata kepada mereka.
"Kita kembali ke rumah sewa. Rinai, kau layani Kakak Seperguruan. Dan Sakala, temui Kepala Desa untuk menyewa satu rumah lagi!"
"Baik!" ucap mereka bersamaan.
__ADS_1
"Nenek Balito, kita istirahat di sini. Besok pagi saja kita pergi ke Perguruan Bulan Emas," ujar Riring Belanga.
"Baik," ucap Balito Duo Lido. Lalu katanya kepada Arung Seto, "Ayo, Tampan. Kita cari tempat untuk tidur!"
"Ayo, Nek!" sahut Arung Seto, lalu turun dari kudanya.
Riring Belanga, Balito Duo Lido dan Arung Seto menuntun kudanya untuk ditambatkan di palang kayu dekat tanah berundak, tempat biasa para pendekar menambatkan kudanya di kala siang hari.
Sementara Brata Ala dan rekan-rekannya sudah bergerak naik ke Desa Julangangin.
"Lalu bagaimana dengan murid-murid yang kau pimpin, Nining?" tanya Jernih Mega kepada Nining Pelangi.
"Kakak Riring memerintahkan mereka untuk kembali, alasannya hanya akan merepotkan dan berisiko buang nyawa," jawab Nining Pelangi.
"Kakak Riring benar. Kami diserang oleh orang Bulan Emas yang kesaktiannya lebih tinggi dari kami semua. Kami dibuat porak-poranda," kata Jernih Mega. "Aku mengkhawatirkan Dendeng Pamungkas."
Murid-murid Perguruan Jari Hitam yang tinggal menunggu di rumah sewa tiba-tiba gempar melihat kepulangan para seniornya dalam kondisi buruk. Melihat Brata Ala dan sebagian dari rombongan terluka, murid-murid yang berjari normal itu segera sibuk membagi tugas.
"Kakang Brata, di mana Kakang Dendeng?" tanya Gelis Sibening cemas, karena dia tidak melihat keberadaan suami tampannya.
"Dia aku tugaskan bersama Kulung untuk mengintai pergerakan murid-murid Perguruan Bulan Emas," jawab Brata Ala berdusta, demi menjaga hati dan perasaan wanita cantik itu.
"Oh, tapi ... Kakang Dendeng tidak apa-apa?" tanya Gelis Sibening lagi.
"Semoga, Gelis," jawab Brata Ala sambil menyerahkan tangan kanannya kepada juniornya yang ingin membersihkan luka jari-jarinya yang terpotong. "Kau bantulah kakak seperguruanmu yang terluka!"
"Baik," ucap Gelis Sibening patuh, meski ada segumpal kecemasan di hatinya. Ia pun pergi bergabung dengan murid-murid perempuan lainnya untuk menangani luka-luka seniornya.
Beberapa murid lelaki bekerja mengurus lima murid yang tewas, termasuk Taring Yoyong.
Di sisi lain, murid yang bernama Sakala pergi membangunkan Kepala Desa untuk keperluan mendesak. Namun kemudian, Kepala Desa membangunkan sejumlah warga untuk membantu murid-murid Perguruan Jari Hitam yang sedang kemalangan.
Kepala Desa dipanggil khusus oleh Riring Belanga sebagai pejabat militer Kerajaan Singayam. Mengetahui status Riring Belanga, Kepala Desa pun merepotkan diri dalam rangka menyambut kedatangan pejabat, meski Riring Belanga tidak menggunakan statusnya untuk dilayani. Namun hal itu membuat Riring Belanga, Balito Duo Lido dan Arung Seto mendapat tempat tidur yang nyaman. Mereka bertiga memang lelah karena memaksa terus berkuda di kala malam, demi tiba lebih cepat. (RH)
YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung nunggu Alma up.
__ADS_1