
*Perguruan Bulan Emas (Guru Bule)*
“Untuk membangkitkan tenaga sakti cadangan itu, kau cukup lemaskan semua saraf, otot dan persendianmu sampai setenang mungkin seperti orang tidur pulas. Pikiranmu, aliran napasmu, juga harus tenang. Buat setenang mungkin. Pikiranmu hanya untuk mendorong bangkitnya tenaga sakti cadangan itu. Hilangkan pikiran yang lain, hilangkan,” kata Rereng Busa kepada Dendeng Pamungkas yang duduk bersila di atas sebongkah batu besar di belakang perguruan.
“Baik, Guru,” ucap Dendeng Pamungkas.
“Cara ini bisa lebih mudah dalam kondisi berbaring, karena otot pinggang dan punggung tidak memiliki beban,” tambah Rereng Busa. “Tapi, untuk saat ini coba cara duduk terlebih dulu.”
Setelah tidak sadarkan diri yang ia tidak tahu berapa lama, Dendeng Pamungkas merasakan rasa sakit yang luar biasa pada dua luka robekan besar pada dada dan punggungnya.
Ia ingin mengerang, tapi ia teringat bahwa ia sedang berada di daerah musuh. Suara erangannya justru bisa mengundang musuh datang menemukannya. Ia akhirnya hanya bisa mengerenyit menahan rasa sakit dan pedih.
Meski ia tersadar, tetapi dia tidak bisa bergerak sedikit pun. Seluruh otot dan syarafnya seolah lumpuh.
Ia pun kembali teringat dengan tenaga cadangan yang pernah dia bangkitkan setelah mengingat pelajaran dari gurunya.
Mulailah Dendeng Pamungkas mengatur kondisi tubuh dan pikirannya. Pemuda yang dalam posisi tengkurap di dalam semak Belukar di bawah pohon besar itu, benar-benar mengosongkan daya dalam tubuhnya, seperti raga yang ditinggal nyawa. Gerakan samar pada tubuh yang menunjukkan sirkulasi napasnya, naik turun secara lembut dan teratur.
Selain napas yang bekerja menuntut keikhlasan, pikiran Dendeng pun bekerja hanya fokus kepada tenaga sakti cadangan yang pada hakekatnya dimiliki oleh setiap manusia. Melalui metode sugesti, ia berusaha memancing munculnya tenaga itu.
Drap drap drap …!
Tiba-tiba terdengar suara lari kuda yang mengejutkan Dendeng Pamungkas. Keterkejutan itu membuyarkan upayanya untuk membangkitkan tenaga cadangannya.
Setelah terdengar jauh, lalu dekat, lalu jauh lagi, Dendeng Pamungkas menyimpulkan bahwa itu adalah lari kuda murid Perguruan Bulan Emas yang melintas. Ia teringat, ketika dia dan rombongan di serang, mereka berada di antara pos penjagaan kedua dan ketiga.
Dendeng Pamungkas terpaksa harus mengulang usahanya di dalam ketidakberdayaan itu.
Serss!
Hingga setelah hampir satu jam berusaha, barulah kekuatan sakti cadangan muncul secara besar dan mengalir ke seluruh pelosok tubuh Dendeng Pamungkas. Kini ia merasakan dirinya telah bertenaga lagi.
Jari tangan adalah anggota tubuh Dendeng Pamungkas yang pertama bergerak. Selanjutnya, kedua siku Dendeng Pamungkas yang bergerak menekuk ke atas, menjadikan kedua telapak tangannya sebagai topangan yang kemudian mendorong bahunya untuk naik mengangkat kepala.
“Aghrr!” erang Dendeng Pamungkas berusaha bangkit. Kini kedua tangannya sudah menopang tubuhnya dengan lurus, kepalanya terangkat dengan wajah mengerenyit, seolah siap push-up.
Meski kini ia memiliki tenaga, tetapi rasa lemah dan sakit pada tubuhnya masih ada. Dengan gerakan perlahan, Dendeng Pamungkas mencoba bangkit berdiri. Dan itu berhasil, meski kedua kakinya gemetar.
“Aaak!” erang Dendeng Pamungkas setelah melihat area itu sepi dari orang lain.
Area sekitar terlihat agak berantakan dengan adanya sejumlah dahan dan batang pohon yang berserakan di rerumputan, sisa serangan tadi malam.
__ADS_1
Dendeng Pamungkas memeriksa lukanya yang terbilang parah. Darahnya yang bersimbah telah mengering.
“Masih untung bukan wajahku yang terkena serangan,” ucap Dendeng Pamungkas lirih sambil menyentuh lukanya dengan lembut, membuatnya kembali meringis.
Dendeng Pamungkas mencoba melangkah satu langkah.
“Aaak!” erang pemuda tampan itu lagi. Ia merasakan sakit pada setiap persendian di kakinya.
Drap drap drap …!
Tiba-tiba terdengar suara derap beberapa ekor kuda dari arah Perguruan Bulan Emas. Seketika Dendeng Pamungkas panik. Jika ia tidak segera bersembunyi, ia bisa terlihat lalu tertangkap.
Buru-buru Dendeng Pamungkas memaksa berjalan cepat untuk bergeser ke balik pohon.
Bluk!
Namun, kaki yang lemah justru membuat pemuda itu terjatuh ke dalam semak belukar.
Seiring itu, tiga ekor kuda lewat melintas.
“Kakak, tunggu!” seru Nining Pelangi sambil mengerem lari kudanya.
Riring Belanga dan Brata Ala jadi ikut menahan lari kudanya.
Suara Nining Pelangi dan namanya yang disebut, jadi mengejutkan Dendeng Pamungkas yang terdiam tegang di balik semak belukar yang agak tinggi.
“Sepertinya tadi aku melihat satu bayangan yang bergerak di sekitar pohon itu,” jawab Nining Pelangi sambil menunjuk pohon besar yang posisinya tidak jauh dari Dendeng Pamungkas.
Dugaan yang kuat membuat Dendeng Pamungkas memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya. Ia ingin memastikan dugaannya dengan mengintip siapa adanya kedua wanita yang ia dengar suaranya.
“Dendeng!” seru Brata Ala ketika ia langsung melihat kemunculan wajah Dendeng Pamungkas di balik semak belukar.
“Brata Ala!” pekik Dendeng Pamungkas cepat.
Brata Ala cepat turun dari kudanya dan berlari ke posisi Dendeng Pamungkas berada. Nining Pelangi pun turun dari kudanya. Sementara Riring Belanga tetap di pelananya.
“Syukurlan kau masih hidup, Dendeng. Aku bingung menjawab pertanyaan istrimu,” kata Brata Ala sambil membantu saudara seperguruannya itu berdiri.
“Lukamu sangat parah,” kata Nining Pelangi.
“Kita sudah bersama Kakak Seperguruan Riring Belanga. Kita sudah bertemu dengan Ketua Bulan Emas dan memastikan kondisi Guru,” kata Brata Ala sambil memapah Dendeng Pamungkas menuju kuda.
“Lalu bagaimana kelanjutannya?” tanya Dendeng Pamungkas lemah.
__ADS_1
“Kita harus menunggu kedatangan Alma membawa Telur Gelap, baru kita memutuskan tindakan berikutnya,” jawab Brata Ala.
“Alma? Maksudmu Alma Fatara?” tanya Dendeng Pamungkas terkejut.
“Iya. Alma Fatara yang membantu kita mengambilkan Telur Gelap di tangan sahabat Guru,” jelas Brata Ala. “Jika kau tidak ditemukan oleh Kulung, lalu ke mana dia?”
“Jangan tanya kepadaku,” ucap Dendeng Pamungkas yang sudah pasti tidak tahu-menahu.
Menghilangnya Kulung menjadi tanda tanya baru setelah nasib Dendeng Pamungkas diketahui.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju pos dua dan satu untuk pulang. Dendeng Pamungkas satu kuda dengan Brata Ala.
Di pos dua, mereka dibukakan jalan. Namun, ketika tiba di pos penjagaan terluar Perguruan Bulan Emas, mereka bertemu dengan satu rombongan berkuda yang ramai.
Sebagian dari rombongan itu tidak lain adalah murid-murid Perguruan Jari Hitam, di antaranya adalah Rinai Serintik dan Jernih Mega. Adapun yang lainnya adalah Alma Fatara dan pasukannya.
“Alma Fatara!” sebut Brata Ala, Dendeng Pamungkas dan Nining Pelangi.
“Hahahak …!” tawa Alma Fatara melihat kedatangan Riring Belanga. “Wah, apa yang terjadi dengan pengantin baru?”
“Apakah kau membawa Telur Gelap, Alma?” tanya Dendeng Pamungkas dengan wajah yang masih meringis menahan rasa.
“Hahaha! Tenang, semuanya teratasi oleh Ratu Siluman!” kata Alma Fatara yang didahului dengan tawa jumawanya.
“Ratu Siluman?!” sebut ulang murid-murid Jari Hitam terkejut, termasuk Riring Belanga yang heran.
“Gusti Ratu Alma sekarang adalah Ratu Siluman. Dan kami sekarang adalah … siapa?” kata Anjengan lantang lalu bertanya kepada rekan-rekannya.
“Pasukan Genggam Jagad!” teriak semua personel Pasukan Genggam Jagad sehingga terdengar ramai.
“Hahahak!” tawa Alma Fatara terbahak.
“Jumlah pengikutmu bertambah banyak, Alma,” kata Riring Belanga.
“Mereka semua abdi baruku. Banyak perubahan di dalam perjalanan kami,” kata Alma. “Bagaimana, apakah Bibi mau pulang atau ikut aku?”
“Kami akan kembali ke Perguruan Bulan Emas untuk menyambut kebebasan Guru. Beberapa murid harus membawa pulang Dendeng Pamungkas, lukanya harus segera dirawat!” tandas Riring Belanga.
“Belik Ludah, ikutlah pulang untuk memberi perawatan kepada Dendeng Pamungkas!” perintah Alma Fatara.
“Baik, Gusti Ratu!” ucap Belik Ludah patuh. (RH)
__ADS_1
YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.