
*Setan Mata Putih (SMP)*
“Mbah Lawut!” panggil seorang lelaki separuh baya berpakaian ala bangsawan berwarna perak mengilap berbahan sutera. Namanya Bandar Bumi.
Ia sedang makan bersama putranya yang juga berpakaian bagus warna biru terang, juga berbahan sutera. Nama putranya adalah Tenggak Telaga.
Keduanya sedang makan ayam panggang madu di kedai Mbah Lawut.
“Aku, Kanjeng,” sahut Mbah Lawut yang baru saja masuk dari luar kedai. Dia segera mendatangi meja tempat lelaki yang disebut “Kanjeng” itu makan.
“Siapa orang-orang yang seperti pasukan pendekar itu?” tanya Bandar Bumi.
“Ratu Siluman dan pasukannya. Mereka orang-orang Kerajaan Siluman, Kanjeng,” jawab Mbah Lawut.
“Setahuku, Kerajaan Siluman tempatnya sangat jauh,” kata Bandar Bumi yang entah ditujukan kepada siapa. “Tapi melihat gambar benderanya, aku baru kali ini melihat bendera dan panji seperti itu. Untuk apa mereka datang ke mari?”
“Hanya makan buburnya Ki Jentang,” jawab Mbah Lawut.
“Hanya? Sepertinya Mbah Lawut banyak tahu tentang orang-orang Kerajaan Siluman itu?” tanya Bandar Bumi.
“Ratu Siluman adalah orang yang mengalahkan Ketua Perguruan Bulan Emas dan kini perguruan itu berada di bawah kekuasaan Kerajaan Siluman ….”
“Apa?” kejut Bandar Bumi dan Tenggak Telaga, seolah tidak percaya.
“Benar. Orang-orang Kerajaan Siluman juga telah membunuh enam dari tujuh penguasa bukit!” tandas Mbah Lawut.
“Apa?!” pekik Bandar Bumi dan putranya kian keras.
Keterkejutan bapak dan anak itu membuat beberapa pendekar yang makan di kedai itu jadi berpaling memandang mereka.
“Berarti kabar yang aku dengar beberapa hari belakangan ini benar adanya, yakni Perguruan Bulan Emas sudah direbut oleh Ratu Siluman yang masih sangat muda,” kata Raja Buru, pendekar gemuk yang berpakaian kulit macan tutul. Lagi-lagi dia makan ayam panggang madu di kedai itu bersama istrinya. “Dia juga yang membebaskan Rereng Busa dari sandera Wulan Kencana. Jangan membuat urusan tidak menguntungkan dengan mereka, Bandar Bumi.”
“Pantas, Rereng Busa dan Balito Duo Lido begitu hormat kepada pemimpin kerajaan itu,” kata Bandar Bumi.
__ADS_1
“Karena keduanya adalah abdi dari Ratu Siluman,” timpal Mbah Lawut.
“Apa?!” kejut Bandar Bumi seorang diri, karena putranya selaku generasi milenial tidak mengenal Rereng Busa dan Balito Duo Lido.
“Kenapa Ayahanda sampai terkejut seperti itu?” tanya Tenggak Telaga.
“Ah, kau memang tidak tahu siapa Rereng Busa dan Balito Duo Lido. Jika kau takut kepada Wulan Kencana, maka seharusnya kau sama takutnya dengan kedua orang tua itu,” kata Bandar Bumi. Lalu katanya pelan, “Tapi kenapa aku merasakan aura sakti Bola Hitam?”
“Raja Buru sudah memperingatkan, jangan coba-coba buat urusan dengan mereka, Kanjeng,” tandas Mbah Lawut. Meski tidak berilmu kesaktian, tetapi Mbah Lawut tahu bahwa kematian enam penguasa bukit bukan sekedar urusan balas dendam, tetapi karena ada ambisi ingin merebut pusaka yang bernama Bola Hitam.
Mbah Lawut lalu meninggalkan meja Bandar Bumi.
“Janda Belia!” teriak satu suara lelaki yang bersumber dari arah bawah luar Desa Julang Angin, tempat kendaraan-kendaraan para pengunjung biasa ditambatkan.
“Itu suaranya Golono, Ayahanda,” kata Tenggak Telaga santui.
“Minggir kau, Muka Rusak!” bentak suara lelaki tadi, nadanya mengandung kemarahan. Lalu terdengar jeritnya, “Akh!”
Suara jerit tertahan lelaki itu seketika membuat Bandar Bumi dan Tenggak Telaga langsung menegang. Mereka kompak berdiri dari duduknya, lalu sepakat berlari ke luar kedai, meninggalkan makanannya yang belum habis.
Ia saat itu sedang berhadapan dengan Tampang Garang yang tadi disebutnya “Muka Rusak”. Namun, bukan Tampang Garang yang membuatnya jatuh, melainkan Gagap Ayu.
Wanita bertubuh mungil itu berkelebat ke sisi Tampang Garang, sambil tangan kirinya memegang sebuah mangkuk bersendok yang berisi bubur ayam.
Sebenarnya yang dihadapi oleh pemuda yang tampannya enam belas tujuh belas dengan Arung Seto itu, adalah banyak orang yang merupakan anggota Pasukan Genggam Jagad. Mereka semua sedang duduk berserakan sambil makan bubur kambing pedas karena kedai Ki Jentang tidak muat menampung mereka.
Pemuda berpedang itu datang dengan berkuda gagah. Ketika tiba di tempat parkiran kuda dan kereta kuda, ia melihat kepada salah satu wanita cantik dari Sayap Panah Pelangi yang bernama Janda Belia.
Tanpa mengenal ada banyak orang, pemuda itu langsung berjalan mencoba menerobos kerumunan, karena Janda Belia duduk di tengah-tengah keramaian teman-temannya.
Sebagai seorang pemimpin dari para wanita cantik bersenjata panah itu, Tampang Garang tampil menghadang orang asing tersebut sebelum sampai kepada Janda Belia.
Namun, Gagap Ayu tampil meninju si pemuda dari jarak jauh, karena ia tersinggung mendengar sahabatnya dimaki di depan para wanita cantik. “Muka Rusak” adalah makian yang begitu menyakitkan jika dilontarkan di depan para wanita cantik.
“Se-se-sembarangan me-me-menghina orang!” hardik Gagap Ayu.
__ADS_1
“Hahaha …!” Si pemuda yang awalnya begitu marah, tiba-tiba tertawa terbahak-bahak mendengar kegagapan Gagap Ayu.
Menyaksikan Gagap Ayu ditertawai, Tampang Garang yang kini punya busur pusaka peninggalan Kebo Pute, segera menarik senar busurnya dengan pengerahan tenaga dalam. Maka dengan sendirinya muncul anak panah sinar putih pada senar yang ditarik. Jelas arah bidikan ditujukan kepada si pemuda.
“Hahak!” Tawa pemuda ganteng itu seketika berhenti, seolah lubang knalpotnya disumbat kaos kaki. Ia mendelik melihat Tampang Garang hendak memanahnya.
“Tahan!” teriak Bandar Bumi sambil cepat berkelebat turun dan mendarat di sisi si pemuda.
Teriakan Bandar Bumi membuat Tampang Garang mengendurkan senar busurnya dan anak panahnya lenyap.
Uniknya, ketegangan itu tidak membuat puluhan anggota Pasukan Genggam Jagat ikut tegang. Mereka memilih melanjutkan menikmati kenikmatan bubur daging kambing mereka, bahkan ada yang wajahnya memerah dan berkeringat karena pedas buburnya level 18 plus.
Alma Fatara, Rereng Busa dan Balito Duo Lido hanya memantau dari kedai Ki Jentang yang posisinya nyaris sejajar dengan kedai Mbah Lawut.
“Golono, apa yang kau lakukan?” tanya Bandar Bumi dengan setengah menghardik.
“Aku hanya ingin bertemu dengan mantan kekasihku, tapi mereka menghalangiku!” jawab pemuda tampan itu dengan emosi. Lalu teriaknya memanggil, “Janda Belia, aku ingin bicara denganmu!”
“Aku tidak mau berbicara denganmu. Kita sudah tidak ada hubungan!” sahut Janda Belia akhirnya dengan wajah yang dingin.
“Kau dengar sendiri, mantan kekasihmu tidak mau lagi. Sudahlah, ada hal penting yang harus kita bicarakan!” kata Bandar Bumi.
Sementara Tenggak Telaga memandangi dari tanah atas.
“Aku tidak akan melepaskanmu, Janda Belia. Aku butuh jawaban darimu!” ancam pemuda bernama Golono itu.
Janda Belia tidak menyahut. Ia tetap duduk bersila di undakan tangga tanah sambil memegangi mangkuk buburnya.
Golono akhirnya menurut. Ia ikut dengan Bandar Bumi pergi menaiki udakan tangga menuju kedai Mbah Lawut. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Mau lebih kenal dengan Om Rudi, yuk kunjungi segaris perjalanan Om di Noveltoon di cerpen yang berjudul "Perjalanan Novel Buku Tulis". Cari di profil, ya.
__ADS_1