
*Keris Pemuja Bulan (Kerja Bu)*
Jaran Telu adalah seorang pemuda berusia dua puluh delapan tahun, lebih tua dari Rawil Sembalit. Sosoknya sedang, tapi memiliki tubuh yang berotot keras. Ia mengenakan pakaian pendekar warna biru dan putih. Rambut gondrongnya ia limpahkan di sisi kanan kepala dan pundak. Ia seorang yang tampan dengan kumis tipis.
Jaran Telu mendarat dengan mantap, beberapa langkah dari tubuh Rawil Sembalit yang masih tengkurap di tanah jalanan.
Set!
Jaran Telu mengibaskan sedikit tangan kanannya, yang tenaga tidak tampaknya langsung memotong tali yang mengikat tangan Rawil Sembalit.
“Beraninya kalian membuat adikku seperti ini!” desis Jaran Telu sambil menatap tajam kepada Dugalara dan Ragabidak. “Kalian beraninya hanya kepada orang yang lemah.”
“Cuih!” Dugalara meludah ke tanah. “Jika tahu dirinya lemah, lalu kenapa berani-beraninya dia menggoda adikku? Dia bahkan kuat untuk menghamili adikku!”
“Apa?!” kejut Jaran Telu.
Mendengar itu, maka hebohlah warga yang telah berkumpul di sisi kanan-kiri jalan.
“Ini menarik, Alma. Sepertinya ini cerita tentang cinta terlarang,” kata Anjengan, setengah berbisik kepada Alma.
Alma Fatara hanya mengangguk tanpa komentar.
Jaran Telu lalu berjongkok di depan kepala Rawil Sembalit. Terlihat jelas wajah adiknya yang bengkak dan berdarah, tetapi dia masih melihat mata adiknya seperti mata ikan yang terkapar di darat.
“Rawil, katakan dengan jujur. Apakah kau telah menghamili perempuan murahan Keluarga Gondo Sego?” tanya Jaran Telu sambil menatap tajam kepada wajah Rawil Sembalit.
“Jaga mulutmu, Jaran!” teriak Dugalara gusar.
Namun, Jaran Telu tidak mengindahkan teriakan Dugalara.
“Kami saling mencintai, Kakang Jaran. Tidak ada yang menodai siapa. Kami saling cinta,” kata Rawil Sembalit lemah.
“Tidak akan pernah ada hubungan baik antara Keluarga Raden Runok Ulung dengan Keluarga Gondo Sego, meski itu adalah cinta!” teriak Jaran Telu keras kepada adiknya.
Jaran Telu kembali berdiri. Dia mencabut tongkat birunya yang berbahan kayu kuat lagi keras.
“Meskipun adikku telah menghamili adik kalian, aku tetap akan memperhitungkan penghakiman kalian terhadap adikku!” teriak Jaran Telu sambil menunjuk Dugalara dengan ujung tongkatnya. “Siapa yang berani melewati Garis Merah, maka mati! Siapa yang mau mati, ayo maju!”
“Serang!” Dugalara yang masih duduk di punggung kudanya, memberi perintah kepada Warga Sengko dan pasukannya.
“Seraaang!” teriak Warga Sengko sambil berlari maju bersama pasukannya.
__ADS_1
Jaran Telu pun bersiap dengan tongkatnya.
“Tahan!” teriak Alma menggelegar tiba-tiba.
Teriakan Alma itu mengejutkan semua orang dan sukses membuat Warga Sengko dan pasukannya berhenti mendadak. Alma berjalan ke tengah jalan dan berdiri tepat di Garis Merah yang memisahkan dua pihak yang berseteru.
Semua mata fokus mendelik kepada gadis cantik jelita itu. Sebagian mendelik karena marah dan sebagian lainnya mendelik karena terkesima oleh kecantikan Alma.
“Hahaha!” tawa Alma.
“Hahaha!” tawa para warga juga. Meski sebelumnya sudah pernah melihat ompongnya Alma, tetapi mereka kembali menertawakan ketika melihatnya lagi karena memang lucu.
“Tunggu, Paman! Tahan, Kakang!” seru Alma kepada Dugalara dan juga kepada Jaran Telu. “Kalian boleh bertarung, tetapi si kakang itu perlu dipinggirkan dulu!”
Alma menunjuk Rawil Sembalit.
“Jangan ikut campur!” teriak Warga Sengko sambil melompat dan mengayunkan celuritnya kepada Alma.
Set! Buk!
Dengan lihainya Alma menghindari sabetan celurit sambil kakinya menusuk ke perut Warga Sengko. Pimpinan centeng itu terlempar ke tanah dan bergulingan dua kali.
“Sabaaar! Hanya sebentar!” seru Alma dengan tenang. Ia lalu berkata kepada sahabatnya, “Iwak Ngasin, Juling Jitu! Amankan penghamil perempuan itu, dia harus bertanggung jawab!”
“Silakan, silakan dilanjut, Paman, Kakang!” kata Alma sambil tersenyum lalu berjalan ke pinggir, kembali ke kedudukannya semula.
Dari arah belakang Jaran Telu muncul puluhan orang berseragam merah gelap bersenjata pedang. Mereka berlari datang lalu berhenti berbaris di belakang Jaran Telu memenuhi lebar jalan.
“Orang-orang Raden Runok Ulung sudah datang, ayo semuanya menjauh!” teriak seorang warga yang bisa menduga seperti apa kacaunya perseteruan itu ke depannya. Sebab, ini bukan kali pertama dua keluarga itu bertarung.
Seluruh warga selain kedua kubu segera menjauh, termasuk Alma Fatara dkk.
Wess! Zeng!
Tiba-tiba di udara muncul kelebatan sesosok tubuh berpakaian putih. Sosok wanita itu langsung melesatkan seberkas cahaya merah berpijar ke arah Ragabidak. Namun dengan tangkas Ragabidak menangkis serangan itu dengan telapak yang seperti memegang tameng sinar kuning sekecil piring.
Blar!
Sinar merah berpijar itu dipantulkan ke samping, menyasar kepada Anjengan.
“Kodok beranak!” teriak Anjengan memaki sambil gesit menghindari sinar merah,
__ADS_1
Sinar merah itu menghancurkan sebatang pohon petai.
“Berani-beraninya menyerangku!” teriak Anjengan sambil bergerak maju hendak melabrak Ragabidak. Namun, langkahnya tidak maju-maju karena tangannya dipegangi oleh Alma.
“Eeeh, jangan ikut campur!” kata Alma.
“Huh!” Anjengan hanya mendengus dan menelan amarahnya.
Dan kini, seorang wanita dewasa, tapi cantik memukau mata setiap lelaki, berdiri di samping Jaran Telu. Wanita bersenjata pedang itu menata rambutnya seperti ibu-ibu, membuatnya seperti tante-tante karir. Ia adalah Narisantai, kakak dari Rawil Sembalit dan Jaran Telu. Meski usianya sudah tiga puluh lima tahun, tetapi ia berstatus janda perawan.
“Kakang Dugalara, Kakang Ragabidak!” seru Narisantai. “Kalian tahu, di antara dua keluarga kita, akulah yang tersakti. Apakah kalian mau bunuh diri memulai pertarungan?”
“Adikmu yang tidak berguna itu yang memulai masalah. Jika dia tidak merayu dan menghamili adikku, kami pun tidak akan semarah ini!” balas Dugalara.
“Apa?!” kejut Narisantai. “Baik, kalian telah menghakimi adik kami. Aku minta kalian kembali, biar aku yang mengajari adikku, atau mayat akan bergelimpangan di Garis Merah ini.”
Swiss!
Narisantai meloloskan pedangnya yang langsung mengibas. Tiba-tiba di atas garis merah, telah melayang tetap lima bola sinar merah redup.
Dugalara dan Ragabidak terkejut melihat Narisantai sudah mengeluarkan ilmu Lima Mata Setan Neraka. Hawa panas yang menyengat dari kelima bola sinar merah itu sangat terasa di kulit wajah, bagi mereka yang berjarak maksimal lima tombak.
“Aku bertanya-tanya, bagaimana bisa adikku yang tidak berkesaktian bisa merayu dan menghamili adikmu yang berkesaktian. Maka berikan kami kesempatan untuk bertanya kepada Rawil Sembalit dan mendengarkan pengakuannya yang lengkap,” ujar Narisantai.
Dugalara tidak langsung menjawab. Ia memandang kepada adiknya, seolah minta pendapat. Ragabidak mengangguk tanda setuju. Ragabidak tahu bahwa mereka tidak bisa menahan kekuatan ledakan ilmu Lima Mata Setan Neraka.
“Mundur!” teriak Dugalara.
Ragabidak segera naik ke kudanya.
“Jika sampai kau tidak menghukum adikmu dengan setimpal, maka aku bersumpah akan mengebiri Rawil Sembalit!” ancam Dugalara.
“Aku pastikan tidak akan mengecewakan kalian!” tandas Narisantai.
Dugalara dan Ragabidak lalu membalikkan arah kudanya, menyusul kemudian Warga Sengko dan para anak buahnya.
Namun, baru saja mereka berbalik, tiba-tiba ….
Set! Bluar bluar bluar …!
Ilmu Lima Mata Setan Neraka yang mampu membuat mundur kubu Raden Gondo Sego, membuat Gagap Ayu penasaran. Maka ia pun usil dengan melesatkan sebutir kerikil.
__ADS_1
Kerikil itu melesat mengenai bola sinar merah paling pinggir. Maka satu ledakan hebat terjadi, tetapi disusul ledakan empat bola sinar lainnya.
Semua terkejut, terutama Narisantai yang punya ilmu. Keterkejutan itu diiringi oleh terpentalnya orang-orang terdekat oleh sumber ledakan, kecuali Narisantai dan Alma Fatara. (RH)