
*Perguruan Bulan Emas (Guru Bule)*
Tiga puluh murid Perguruan Bulan Emas mengepung lima belas murid Perguruan Jari Hitam, yang dalam posisi berkumpul menumpuk satu dalam formasi pertahanan yang disebut Pertahanan Kuncup Jari.
Namun, kondisi itu terlihat kacau karena keberadaan lima belas kuda di dalam pengepungan tersebut. Kuda-kuda itu bergerak panik pula di dalam pengepungan dan posisinya justru menjadi benteng hidup bagi grup murid Perguruan Jari Hitam.
Pengepungan itu sendiri dipimpin oleh Buto Renggut dan Juyung Sawa yang kini duduk di atas kudanya masing-masing.
“Bunuh mereka semua!” perintah Buto Renggut.
“Serang!” teriak pemimpin murid melanjutkan perintah Buto Renggut.
Sebanyak separuh dari murid Bulan Emas segera bergerak maju serentak melewati kuda-kuda yang menghalangi mereka. Keberadaan para kuda yang tidak bisa diam, membuat mereka sulit untuk melesatkan senjata piringannya.
“Buto, bukankah Wakil Ketua memerintahkan untuk memberi peringatan terlebih dahulu?” kata Juyung Sawa.
“Ah, sama saja. Mereka tidak akan mau disuruh pulang. Mereka datang ke sini memang niatnya mati,” kata Buto Renggut.
Maka pertarungan massal pun terjadi. Murid-murid Bulan Emas sebagai agresor, yang menjadikan piringannya sebagai senjata seumpama pisau. Sementara Dendeng Pamungkas dan kawan-kawan bertarung untuk bertahan.
Ternyata jari-jari hitam bisa diadu dengan pisau piringan. Beda hal dengan murid Jari Hitam yang belum berjari hitam, mereka terpaksa harus lebih hati-hati menghadapi serangan pisau-pisau piringan itu.
Serangan itu membuat para kuda jadi kacau dan tidak mau ambil pusing. Mereka akhirnya berlarian satu per satu meninggalkan lingkaran pertarungan.
Namun, ada sejumlah warga Desa Julangangin yang berinisiatif mengejar kuda-kuda yang lari dan mengamankannya di luar area pertarungan. Mereka pikir, “sayang” jika hewan-hewan bernilai ekonomis itu hilang begitu saja.
Meski formasi murid-murid Jari Hitam mode bertahan, tetapi mereka juga bisa memukul balik para penyerangnya. Adapun cara kerja Pertahanan Kuncup Jari, barisan terluar yang merupakan murid-murid handal akan menghadapi semua serangan tanpa ada langkah mundur. Dalam pertarungan, barisan terluar akan ada masanya maju satu atau dua langkah terbatas, yang membuat lingkaran merenggang. Pada saat itulah, murid-murid di barisan dalam akan keluar dengan cepat beberapa langkah melakukan serangan kilat, lalu mundur lagi ke dalam lingkaran pertahanan. Ritme-ritme gerakan dan serangan yang keluar masuk terjadi dengan teratur.
Seperti pada saat Dendeng Pamungkas, Taring Yoyong dan murid barisan terluar menghadapi serangan murid-murid Bulan Emas sambil mendesak balik sejauh dua langkah, tiba-tiba murid-murid Jari Hitam di barisan dalam bergerak keluar dengan langkah dan serangan yang cepat lagi mengejutkan.
Buk buk buk …!
Tinju dari murid-murid Jari Hitam lapisan dalam yang datang mengejutkan, berhasil menghantam tubuh dan wajah murid-murid Bulan Emas, ketika mereka sibuk bertarung dengan lapisan luar.
Setelah menghantam lawan dalam sekali gebrakan tinju, lapisan dalam kembali mundur dan berlindung di balik punggung pelapis luar.
“Boleh juga,” ucap Buto Renggut agak terkejut melihat para juniornya kena mental. Lalu teriaknya, “Formasi Maut Bersayap!”
“Formasi Maut Bersayap!” teriak pemimpin murid.
__ADS_1
Set set set …!
Lima belas murid yang belum maju serentak melesatkan piringan terbangnya. Sementara kelima belas lainnya yang sudah sempat maju bertarung, cepat mundur ambil posisi. Mereka juga lalu menerbangkan piringannya.
“Perisai Bersatu!” seru Dendeng Pamungkas cepat.
Serentak murid-murid Jari Hitam yang berada di lapisan dalam saling memegang bahu saudaranya. Mereka serentak menyalurkan tenaga dalam yang kemudian menjalar dan menciptakan dinding perisai tenaga dalam yang bening transparan. Namun, perisai itu tidak meliputi Dendeng Pamungkas, Taring Yoyong dan mereka yang termasuk barisan luar.
Ting ting ting …!
Sing sing sing …!
Sebagian dari piringan-piringan terbang itu langsung menyerang lapisan luar pertahanan murid-murid Jari Hitam. Namun, piringan-piringan itu bisa ditangkis dengan jari-jari yang kebal senjata tajam.
Tidak mungkin bagi Dendeng Pamungkas dan rekan-rekan barisan luar bisa menangkis semua piringan, sehingga sebagian dari serangan juga menyerang lapisan dalam.
Namun, piringan-piringan yang menyerang barisan dalam pertahanan murid Jari Hitam, membentur lapisan dinding tenaga dalam yang tidak terlihat jelas karena tanpa warna. Piringan-piringan terbang itu memantul melesat balik ke pemiliknya.
“Serang terus!” teriak Juyung Sawa kepada para juniornya.
Cara yang sama kembali dicoba oleh murid-murid Bulan Emas. Murid-murid Jari Hitam tetap bertahan dengan cara yang sama, kembali menggagalkan agresi murid-murid Bulan Emas yang jumlahnya lebih banyak.
“Serang lagi. Kita lihat, seberapa lama mereka bisa bertahan!” teriak Buto Renggut.
Sejauh ini, Dendeng Pamungkas dan rekan-rekannya bisa bertahan dalam kegigihan. Namun yang jadi masalah, pertahanan Perisai Bersatu yang ada di barisan dalam mulai melemah. Murid-murid yang berjari normal itu tidak bisa terus-menerus mengalirkan tenaga dalamnya untuk tetap mempertahankan dinding perisai.
Set!
“Akk!” jerit seorang murid Jari Hitam di barisan dalam, ketika satu piringan hitam berhasil menembus perisai tenaga dalam yang mulai melemah dan menyayat lengan kiri.
“Perisai Bersatu melemah!” seru seorang murid di lapisan dalam.
Kondisi itu membuat mereka berubah cemas.
“Bersiap menyerang ke luar!” kata Dendeng Pamungkas yang hanya didengar di antara mereka. Ia tidak mau ambil risiko untuk terus-terusan bertahan sampai pertahanan mereka hancur.
“Jangan berhenti, sebentar lagi pertahanan mereka jebol!” teriak Juyung Sawa.
Sweeest!
Tiba-tiba dari arah lain, enam bola sinar kecil berekor tipis berwarna biru melesat cepat seperti iringan jet tempur mini, yang menyerang keberadaan Buto Renggut dan Juyung Sawa.
__ADS_1
“Keparat kurap!” maki Buto Renggut terkejut bukan main sambil melompat meninggalkan punggung kudanya.
“Keparat mules!” maki Juyung Sawa pula dan melakukan hal yang sama dengan Buto Renggut.
Ctar ctar ctar …!
Enam ledakan terjadi ketika keenam sinar itu menghantam lahan kosong.
“Dendeng Pamungkas, kami datang!” teriak seseorang yang sudah berkelebat di udara tinggi, bersama enam rekan lainnya. Orang yang berteriak itu tidak lain adalah Brata Ala, salah satu murid utama Perguruan Jari Hitam.
Brata Ala, Kulung, Rinai Serintik, Jernih Mega dan ketiga murid Jari Hitam lainnya yang sedang menunggu kabar di pusat Desa Julangangin, dengan segera mendapat kabar tentang kedatangan rombongan murid Jari Hitam yang lain. Mereka juga mendapat kabar bahwa rombongan itu mendapat serangan mendadak dari murid-murid Perguruan Bulan Emas yang jumlahnya lebih banyak.
Ketujuh murid utama dari Rereng Busa itu langsung menyerang para murid yang melesatkan piringan-piringan terbang.
Cas cis cus …!
Bak bik buk …!
“Akk! Akk! Akk …!”
Ketujuh murid utama Jari Hitam itu dengan mudah menyarangkan serangan jari-jari dan tinju mereka kepada murid-murid Bulan Emas yang dilawannya. Serangan jari-jari hitam itu dengan mudahnya membolongi kulit dan daging lawan.
Serangan bantuan itu mengacaukan formasi dan serangan murid-murid Bulan Emas.
Melihat kemunculan para seniornya, Dendeng Pamungkas dan yang lainnya jadi tersenyum sumringah.
“Serang!” teriak Dendeng Pamungkas berkomando.
“Hiaat!” teriak rekan-rekan Dendeng Pamungkas bersamaan sambil menyear ke segala arah. Mereka keluar dari pertahanannya dan mendatangi para murid Bulan Emas di tempatnya.
“Gelis sayangku, ikut aku!” panggil Dendeng Pamungkas.
Gelis Sibening yang sejauh ini masih aman, segera berlari menyusul suaminya. Ternyata Dendeng Pamungkas mengajaknya bertarung bersama, sama seperti jika mereka tidur bersama di dalam kamar.
Dalam waktu yang tidak lama, murid-murid Bulan Emas justru dibuat berantakan oleh para murid Jari Hitam, meski jumlah mereka masih lebih banyak. Masalahnya, masuknya ketujuh murid utama Jari Hitam sangat mengubah peta pertarungan.
Satu per satu murid-murid Bulan Emas bertumbangan dengan luka lubang pada anggota tubuhnya dan mengeluarkan banyak darah.
Buto Renggut dan Juyung Sawa jadi terbelalak melihat para juniornya bertumbangan dan berjeritan. Piringan-piringan terbang sudah tidak sejaya tadi di udara.
Kedua murid utama Wulan Kencana itu tidak menyangka bahwa murid-murid Bulan Emas bisa kalah dengan cepat, padahal jumlah mereka jauh lebih banyak.
__ADS_1
“Munduuur!” perintah Buto Renggut. (RH)