Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mis Tegel 19: Sang Adipati Mundur


__ADS_3

*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*


Sess! Blar!


Adipati Dodo Ladoyo menghentakkan lengan kanannya ke arah atap kedai makan, tempat Tampang Garang bersembunyi.


Satu larik sinar merah melesat menghancurkan sebagian atap kedai. Namun, Tampang Garang sudah siap jika diserang. Ketika diserang, Tampang Garang justru menjebol atap dan jatuh ke dalam kedai. Ia mendarat dengan apik dan langsung pasang pose siap memanah.


Tampang Garang mengarahkan anak panahnya ke arah sang adipati.


“Sekali lagi kau bertindak gegabah dengan menyerang orang-orangku, maka jangan rindukan kedua putrimu,” kata Alma Fatara mengancam. “Mana yang kau pilih, nyawa anakmu atau Bola Hitam?”


Adipati Dodo Ladoyo tidak langsung menjawab. Jelas ia dilanda dilema. Pastinya ia tidak mau kehilangan kedua putri cantiknya, tetapi ia begitu penasaran ingin memiliki pusaka yang bernama Bola Hitam.


“Jika Gusti Adipati tidak bisa bertindak, serahkan wanita itu kepada kami!” seru Ki Rusuh, Ketua Perguruan Tongkat Dua.


Adipati Dodo Ladoyo tidak langsung menanggapi. Sang adipati masih dilanda galau.


“Jangan sampai prajuritku melihat tanda perintah membunuh,” kata Alma Fatara yang didampingin oleh Cucum Mili.


“Mundur!” teriak Adipati Dodo Ladoyo mengambil keputusan.


“Pasukan, munduuur!” teriak Komandan Gegap Rawu kepada pasukannya.


Maka, Pasukan Keamanan Kadipaten segera mengendurkan kuda-kudanya dan kemudian bergerak berkumpul kembali. Setelah itu mereka bergerak mundur menjauh dari depan kedai.


“Ratu Siluman, lepaskan putriku!” seru Adipati Dodo Ladoyo yang belum ikut mundur.


“Eh, jangan sebut aku Ratu Siluman. Namaku Alma Fatara, Ratu Dewi Dua Gigi!” kata Alma.


“Alma Fatara?” sebut ulang Pengemis Tongkat Celaka.


Ucapan Pengemis Tongkat Celaka membuat Alma beralih memandang kepada orang tua itu.


“Kenapa, Kek?” tanya Alma seraya tersenyum.


“Kau pembunuh Pengemis Batok Bolong!” tuding Pengemis Tongkat Celaka.


“Benar. Apakah Kakek mau balas dendam?” tanya Alma tetap tenang.


“Tentu!” tegas Pengemis Tongkat Celaka.


“Jika demikian, tahan dulu maksudmu, Kek. Biar aku selesaikan dulu urusanku dengan Paman Adipati. Bola Hitam tidak akan ke mana-mana sampai kalian merasakan batunya,” kata Alma Fatara.


Alma lalu kembali fokus kepada Adipati Dodo Ladoyo.


“Jika Paman masih betah dengan jabatan sebagai adipati, lebih baik Paman bersikap bijak. Aku tidak sulit untuk mengirim pesan kepada Putra Mahkota Pangeran Sugang Laksama melaporkan kelakuan rampok Paman. Bahkan jika aku memilih jalan pintas, Paman pun bisa aku bunuh saat ini juga,” kata Alma Fatara penuh ancaman.


“Sombong sekali anak ini. Atau, mungkinkah dia memang bisa dengan mudah membunuhku?” pikir Adipati Dodo Ladoyo.


Sang adipati lalu menengok jauh ke belakang, melihat putrinya yang masih digantung di bawah ancaman pedang.


“Aku akan mundur, tapi bebaskan putriku!” tuntut Adipati Dodo Ladoyo.


“Aku akan bebaskan, tapi hanya satu putrimu yang aku bebaskan,” kata Alma.

__ADS_1


Terkesiap kembali Adipati Dodo Ladoyo mendengar perkataan Alma. Itu berarti putrinya yang satu lagi masih disandera oleh anak buah Alma.


Alma lalu memberi tanda kepada Cucum Mili.


Ctar!


Cucum Mili lalu melesatkan satu benda kecil seperti kelereng ke langit yang kemudian meledak nyaring.


“Itu tanda apa, Jitu?” tanya Iwak Ngasin yang melihat samar dan mendengar ledakan di atas kedai makan.


“Itu pasti tanda perintah membebaskan gadis ini. Tidak mungkin Alma memerintahkan membunuh orang tidak bersalah,” jawab Juling Jitu lalu memutus tali pengikat tangan Surken yang menggantungnya.


Jleg!


Kedua kaki Surken mendarat di lantai tribun, membuat Iwak Ngasin langsung tersadar akan suatu hal.


“Jangan lepaskan totokannya, Jitu!” kata Iwak Ngasin cepat.


Tuk tuk!


Namun, Juling Jitu sudah terlanjur membebaskan totokan pada tubuh Surken.


“Lelaki bajingan tupai tikus botak!” maki Surken tiba-tiba sambil tahu-tahu bergerak brutal menyerang Iwak Ngasin dengan penuh kemarahan, seperti gadis cantik kesurupan.


Iwak Ngasin menangkis dan menghindari serangan Surken dalam kondisi kewalahan. Ketika menangkis, Iwak Ngasin bisa merasakan besarnya tenaga serangan Surken.


Bdak!


Saking kewalahannya, Iwak Ngasin sampai jatuh terjengkang sendiri ketika menghindari kibasan kaki kanan Surken.


Drak!


Ketika kaki kiri Surken datang mengapak kepada Iwak Ngasin, pemuda itu buru-buru berguling ke samping, memilih terjun ke bawah karena saat itu posisinya ada di pinggir belakang tribun.


Hantaman tumit kaki Surken membuat papan tribun patah. Hal itu menunjukkan betapa ia bernafsu untuk membunuh Iwak Ngasin.


Cprak!


Iwak Ngasin yang terjun dari atas tribun, jatuh seperti kodok di tanah becek berlumpur. Ia pun kotor pada wajah dan tubuh.


“Matilah kau lelaki tikus gundul!” teriak Surken kembali memaki.


Sess! Jbruak!


Alangkah terkejutnya Iwak Ngasin, tahu-tahu Surken sudah melesatkan selarik sinar merah dari atas. Buru-buru Iwak Ngasin melompat ke samping, tetapi agak telat.


Meski sinar merah itu tidak tepat mengenai Iwak Ngasin, tetapi daya ledaknya ketika menghancurkan tanah becek mementalkan tubuh pemuda jangkung itu. Iwak Ngasin jatuh berguling-guling di tanah berlumpur.


“Kau tidak akan selamat, bajing busuk!” teriak Surken lagi sambil berkelebat dan melesatkan kembali selarik sinar merah.


Lagi-lagi Iwak Ngasin dibuat pontang-panting. Ia masih selamat, tapi tubuhnya kembali terpental lalu jatuh tersungkur mutlak mencium tanah lumpur.


Set!


Melihat Iwak Ngasin benar-benar diambang penghakiman, Juling Jitu yang masih di atas tribun melesatkan pedang di tangannya menyerang Surken dari samping.

__ADS_1


Serangan pedang terbang itu membuat Surken menahan langkahnya sejenak, membiarkan pedang lewat di depannya. Namun, hal itu memberi kesempatan bagi Iwak Ngasin yang kesakitan untuk kabur.


“Jangan lari kau, Bajing Sawah!” teriak Surken sambil cepat berkelebat mengejar Iwak Ngasin. Surken benar-benar sakit hati kepada Iwak Ngasin.


Kembali ke kedai makan.


“Paman bisa lihat ke panggung arena,” kata Alma kepada Adipati Dodo Ladoyo.


Adipati Dodo Ladoyo dan para pendekar segera melihat ke arah panggung arena. Ternyata sekeliling panggung kembali ramai oleh warga Ibu Kota, tapi jarak mereka dari panggung lebih jauh. Orang-orang itu sedang heboh menyaksikan seekor ular hitam besar yang sedang melilit tubuh Kinai, putri sang adipati yang lain.


“Kinai putriku!” sebut Adipati Dodo Ladoyo kian terkejut setelah memastikan apa yang sedang ditonton oleh warga.


“Putri Paman yang satu itu akan dibebaskan oleh prajurit silumanku jika Paman menyediakan kami sebelas kuda yang kuat dan sehat. Ditambah Paman harus bayar ganti rugi kedai ini dan membayar semua makanan kami. Permintaanku tidak sulit bagi Paman, bukan?” ujar Alma Fatara sambil tersenyum. “Sekarang Paman pergilah, siapkan permintaan kami!”


Dengan menunjukkan wajah yang memendam amarah besar, Adipati Dodo Ladoyo berbalik pergi.


Dengan mundurnya sang adipati, maka kedai makan dan sekitarnya bersih dari kekuatan militer kadipaten.


Mundurnya sang adipati segera disikapi oleh keempat guru tongkat. Pengemis Tongkat Celaka, Dempak Debar, Ki Rusuh, dan Satria Tongkat Ular segera memberi tanda kepada murid-muridnya yang berbaris di belakang mereka.


Para murid yang totalnya berjumlah tiga puluh satu orang, bergerak serempak menyebar ke depan kedai, mengepung posisi Alma Fatara dan Cucum Mili setengah lingkaran.


“Heaah!” teriak para pendekar itu sambil menghentakkan tongkatnya mengarah ke depan, dengan kuda-kuda siap bertarung.


“Hahahak!” tawa Alma Fatara karena agak terkejut mendengar teriakan kompak mereka. Lalu ucapnya datar, “Tampang Garang.”


Set! Tseb!


“Aak!” jerit seorang murid bertongkat saat tahu-tahu sebatang anak panah telah menusuk tembus paha kanannya.


Setelah melepas anak panahnya, Tampak Garang langsung isi ulang busurnya dengan posisi siap bidik.


“Hiaat!” teriak seorang pendekar bertongkat berinisiatif maju lebih dulu setelah satu rekannya tumbang terluka.


Set! Tseb!


“Aak!”


Namun, baru maju selangkah saja, anak panah Tampang Garang sudah melesat menusuk tembus pahanya.


Jitunya panah Tampang Garang membuat murid-murid yang lain jadi berdebar untuk maju lebih dulu menyerang. Mereka takut terkena panah.


“Hahaha! Ternyata Tampang Garang benar-benar pemanah handal,” puji Alma yang didahului dengan tawanya.


Tampang Garang yang sudah kembali dalam pose siap bidik, hanya tersenyum tipis mendengar pujian junjungannya.


Melihat keraguan para muridnya untuk menyerang, para guru tongkat segera bertindak.


“Serang!” teriak keempat guru itu bersamaan, sehingga terdengar lucu karena terkesan rebutan berteriak.


“Seraaang!” teriak para murid tongkat ramai-ramai sambil maju menyerang ramai-ramai.


“Majulah jika ingin mati!” teriak Cucum Mili sambil melompat tinggi naik ke udara dengan kesepuluh jari tangan menjepit delapan butir kelereng.


Alma Fatara sendiri hanya tertawa melihat serbuan itu. Sementara Tampang Garang bekerja seperti mesin melakukan pemanahan berulang dalam ritme cepat. (RH)

__ADS_1


__ADS_2