Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Guru Bule 30: Cinta Setia Rereng Busa


__ADS_3

*Perguruan Bulan Emas (Guru Bule)*


 


“Ringgi, pergi kejar penyusup yang kabur itu. Bunuh saja jika tertangkap!” perintah Silang Kanga menyikapi laporan kaburnya penyusup yang adalah Giling Saga.


Mendelik marah Brata Ala dan Nining Pelangi mendengar perintah “bunuh” itu, karena orang yang akan dibunuh adalah saudara seperguruan mereka. Namun, Riring Belanga cepat memberi isyarat tangan tersembunyi agar kedua adik seperguruannya itu tenang.


“Baik, Guru!” ucap Ringgi patuh seraya menjura hormat, lalu menjura hormat juga kepada Wulan Kencana, “Murid izin pergi, Guru!”


Ringgi segera berdiri yang diikuti oleh Kanan Satu dan Kanan Dua, yang merupakan dua pengawalnya. Di belakang, Ringgi mengajak semua murid perguruan.


“Aku akan kembali datang ke sini saat Telur Gelap telah tiba. Kami undur diri!” seru Riring Belanga ketika Ruangan Purnama itu cukup terlihat sibuk.


“Jika Telur Gelap sudah di tanganku, maka guru kalian aku bebaskan!” sahut Wulan Kencana dari balik tirai singgasananya.


Riring Belanga lalu bangkit yang diikuti oleh Brata Ala dan Nining Pelangi. Mereka memberi hormat sekedarnya, lalu berbalik pergi. Sementara Balito Duo Lido masih duduk di mejanya.


“Apakah kau tidak mau berbicara denganku, Wulan?” tanya Balito Duo Lido.


“Aku tidak akan berbicara kepadamu. Jika kau mau di sini silakan, tapi jangan membuat onar,” jawab Wulan Kencana.


“Aku mau bertemu dengan Rereng Busa,” ujar Balito Dua Lido.


“Pergilah ke penjara!” perintah Wulan Kencana.


Sekeluarnya dari Ruang Purnama yang ada di dalam tebing batu yang mengapit perguruan itu, Ringgi langsung didatangi oleh seorang murid dengan wajah yang tegang.


“Ketua Ringgi, ada wanita liar mengamuk di daerah belakang perguruan. Dia membunuh beberapa murid!” lapor murid tersebut.


Tanpa berkata lagi, Ringgi segera berkelebat cepat berlari di udara menuju ke area belakang perguruan yang berhawa dingin. Puluhan murid segera berlari bergerombol menuju daerah belakang juga.


Sementara itu, dua murid utama perempuan yang merupakan bagian dari pengawal keamanan Wulan Kencana, mendampingi Balito Duo Lido menuju ke penjara Kamar Batu Baja.


Setibanya di area belakang yang ada tiang-tiang kayu tinggi setinggi dua kali tinggi orang normal, Ringgi dan murid-murid junior menemukan seorang wanita kumal berambut gimbal dan awut-awutan sedang duduk mencangkung.


Wanita gila yang adalah Suraya Kencani itu, duduk di atas tumpukan enam mayat lelaki berseragam kuning. Ia memegangi rantai panjang yang adalah bagian dari rantai yang membelenggu badannya.


“Hihihi …!” Suraya Kencani tertawa terkikik panjang yang membuat Ringgi dan puluhan murid perguruan itu merinding semua jenis bulunya.


Meski merinding, tetapi puluhan murid itu tetap berlari membentuk formasi mengepung. Mereka tidak mengenal siapa perempuan yang memandang tajam dari balik rambutnya yang menutup sebagian wajahnya. Namun, Ringgi ternyata kenal.


“Nenek Kencani!” seru Ringgi mengenal.


Terkejutlah murid-murid yang lain mendengar Ringgi menyebut wanita gila itu “Nenek”. Sebab, jelas-jelas terlihat bahwa wanita liar itu memiliki fisik yang masih muda.

__ADS_1


“Monyet perempuan lelaki tidak pernah dibuntingi biawak sampai tua rentah jadi bebek panggang dimakan setaaan!” teriak Suraya Kencani keras, panjang dan cepat.


Terkejut seluruh murid yang mengepung mendengar makian aneh itu. Namun kemudian, para murid itu tertawa.


“Hahahah …!” tawa para murid, karena mereka menilai makian perempuan liar itu lucu.


“Jangan tertawa kalian!” bentak Ringgi.


Seketika suasana sunyi tercipta dan tawa mereka ditahan mendadak. Mereka kembali tegang dalam kondisi siap tarung. Senjata piringan sudah tergenggam di tangan masing-masing. Suara air terjun terdengar dari kejauhan.


“Nenek Kencani, apa yang kau lakukan? Kau telah membunuh murid-murid kakakmu!” teriak Ringgi marah.


“Setan! Setan! Setan …!” sebut Suraya Kencani sambil mendelik dan menghentakkan wajahnya setiap menyebut kata “setan”. Ia menyebut “setan” tanpa berhenti dengan wajah dihentak-hentakkan seperti gerakan penari jaipong lelaki kepada penari wanita.


“Kanan Satu, pergi laporkan kepada Wakil Ketua bahwa adik Ketua lepas dan mengamuk!” perintah Ringgi kepada Kanan Satu dengan setengah berbisik.


“Baik,” ucap Kanan Satu sambil mengangguk.


Kanan Satu segera berbalik dan berlari pergi.


“Kalian semua bubar dan menjauh!” perintah Ringgi kepada seluruh murid yang mengepung Suraya Kencani.


“Hihihi …!” tawa melengking Suraya Kencani mendengar perintah Ringgi.


Semua murid perguruan yang mengepung cepat bergerak bubar diri dan mengambil tempat yang cukup jauh. Maka, tinggallah Ringgi dan Kanan Dua yang berada tidak begitu jauh dari posisi Suraya Kencani dan tumpukan mayat. Mayat yang paling bawah adalah Senggawa.


“Errgg!”


Terdengar Suraya Kencani menggeram, memaksa Ringgi berhenti maju setelah tiga langkah.


“Nenek Kencani, berhentilah membunuh kami,” kata Ringgi dengan nada lembut.


“Setan!” maki Suraya Kencani sambil menunjuk wajah Ringgi dengan tangan kiri.


Cring! Crak!


Sementara tangan kanan wanita gila itu mengayunkan rantai panjangnya.


Rantai itu bergerak cepat bergelombang lalu menebas mengarah kepala Ringgi. Dengan mudah Ringgi melompat menghindar ke jarak yang lebih jauh.


Sementara itu, Balito Duo Lido sudah tiba di depan sel yang memenjarakan Rereng Busa. Sel itu tidak dalam kondisi terkunci. Ada dua murid Bulan Emas yang masih tergeletak tidak sadarkan diri. Kedua murid wanita yang mengawal Balito Duo Lido memilih menunggu di luar sel.


“Rereng Busa!” panggil Balito Duo Lido saat melihat keberadaan Rereng Busa, yang ternyata sedang makan dengan cara wajah langsung ke makanan, tidak menggunakan jari tangan.


Kedua tangan kakek kurus itu hanya berfungsi sebagai penjepit mangkuk.

__ADS_1


“Balito!” pekik Rereng Busa terkejut, lalu tersenyum lebar.


“Sahabatkuuu!” pekik Balito Duo Lido sambil berlari masuk dan menghambur memeluk erat Rereng Busa. “Hihihiks!”


Balito Duo Lido mendadak menangis.


“Eh eh eh! Kenapa kau menangis seperti ini? Seperti masa lalu saja,” kata Rereng Busa yang juga berusaha membalas pelukan sahabat karib dan lamanya itu.


“Keterlaluan Wulan Kencana membuatmu seperti ini!” maki Balito Duo Lido sambil melepas pelukannya. Sambil memegang rantai di tubuh Rereng Busa dia bertanya, “Bukankah belenggu seperti ini tidak ada artinya bagimu?”


“Hehehe!” kekeh Rereng Busa. “Aku hanya menunaikan janjiku kepada Wulan. Aku telah berjanji di kala aku menjadi kekasihnya bahwa aku akan membantunya untuk menjadi pendekar yang paling sakti.”


“Kau tahu, karena keputusanmu yang terlalu tunduk kepadanya, beberapa muridmu sudah tewas dibunuh oleh murid Wulan Kencana,” ungkap Balito Duo Lido.


Terkesiap sepasang mata tua Rereng Busa.


“Kau harus melawan Wulan Kencana, Rereng!” tandas Balito Duo Lido.


Rereng Busa menarik napas panjang.


“Ini harga seuntai janji seorang pendekar. Dan kau tahu, cintaku kepada Wulan Kencana akan selalu besar dan akan aku bawa sampai mati. Bahkan jika dia membunuhku, aku tidak akan marah ….”


“Kau selalu menjadi bodoh, Rereng!” maki Balito Duo Lido pelan.


Rereng Busa hanya tersenyum mendengar penilaian nenek gemuk itu.


“Bagaimana kau bisa tahu kondisiku, Balito?” tanya Rereng Busa mengalihkan pembicaraan.


“Aku juga tidak tahu. Tiba-tiba ada Ratu Siluman yang masih sangat muda datang menemuiku dan menanyakan tentang Telur Gelap. Nama anak sakti itu adalah Alma Fatara,” kata Balito Duo Lido yang mulutnya masih merah oleh kunyahan sirih.


“Alma Fatara murid Wiwi Kunai dan Garudi Malaya?” terka Rereng Busa menegaskan.


“Oh, aku justru tidak tahu jika dia itu murid kedua orang sakti itu,” kata Balito justru terkejut.


“Bagaimana Alma bisa tahu tentang perkara yang menimpaku?” tanya tanya Rereng Busa.


“Dia datang bersama muridmu yang menjabat di Kerajaan Singayam ke desaku. Aku datang ke sini bersama Riring Belanga. Sementara Alma dan para abdinya pergi menemui Tongkat Roda untuk meminta Telur Gelap. Tidak lama lagi Alma pasti akan tiba di sini,” kata Balito Duo Lido. “Apakah kau tahu, kenapa Wulan Kencana memerlukan daging penyakit monyetnya Tongkat Roda.”


“Untuk memiliki kesaktian seratus kesaktian. Hanya itu yang dia katakan kepadaku tentang Telur Gelap. Awalnya aku lupa tentang Telur Gelap itu. Dia yakin, dengan menyanderaku, Tongkat Roda pasti akan datang membawa telur itu cepat atau lambat,” jelas Rereng Busa.


“Jadi karena janjimu di masa lalu, kau sudi diperlakukan sehina ini oleh Wulan Kencana?” terka Balito Duo Lido.


“Aku memang bukan pecinta sejati, tetapi aku memiliki cinta yang abadi kepada Wulan Kencana,” tandas Rereng Busa.


“Aku pun jadi tidak bisa berkata apa-apa mendengar pendirianmu itu, meskipun aku tetap menilai bahwa apa yang kau anut itu adalah salah,” kata Balito Duo Lido. (RH)

__ADS_1


 


YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.


__ADS_2