
*Setan Mata Putih (SMP)*
Benar kata Ketua Perguruan Jari Hitam Rereng Busa. Mempelajari ilmu Titah Mimpi tidak sulit, terlebih bagi seorang sakti seperti Alma Fatara yang dibekali kecerdasan tinggi sejak kecil.
Awal malam itu, di puncak Bukit Selubung, Alma Fatara duduk bersimpuh di tanah rumput di halaman depan pondok Raja Tanpa Gerak. Di atas rumput tepat di hadapannya, terhampar selembar kitab dari rangkaian daun lontar. Itulah Kitab Titah Mimpi yang telah diberikan oleh Raja Tanpa Gerak kepadanya.
Di sisi kanan dan kiri Alma Fatara dipasang sebatang kayu setinggi kepala orang berdiri sebagai tempat obor, guna menerangi bacaan sang ratu.
Sementara itu, keempat gadis cantik berseragam kuning pengawal pribadi Alma Fatara duduk bersila dengan kusyuk di teras pondok. Adapun ketuanya, Gagap Ayu, sedang bahu-membahu memasak di dapur bersama Ineng Santi.
Sambil mengatur aturan pernapasannya secara normal, Alma Fatara melakukan gerakan tangan secara perlahan untuk mempengaruhi aliran udara di dalam paru-paru. Alma Fatara bisa merasakan pergerakan udara di dalam dadanya menjadi agak berbeda dari pernapasan biasa.
Pernapasan dan gerakan tangan yang serupa terus Alma Fatara lakukan berulang-ulang, sampai pada akhirnya dia bisa merasakan dengan jelas pergerakan udara di dalam tubuhnya.
Setelah tahapan itu dirasa sudah matang, maka Alma Fatara meningkatkan pembelajarannya ke tahap berikutnya, yaitu mencoba masuk ke alam mimpi orang yang ditargetkan.
Untuk menargetkan seseorang, caranya mudah, hanya dengan berkonsentrasi dalam membayangkan sosok dan wajah orang yang ditarget. Tinggal cara masuk ke alam mimpi orang tersebut yang perlu upaya konsentrasi dan sugesti yang kuat.
Alma Fatara sebelumnya sudah menugaskan Juling Jitu untuk tidur lebih awal, bersamaan dengan waktu Alma Fatara mempelajari Kitab Titah Mimpi. Ia bermaksud masuk ke alam mimpi sahabatnya itu. Membayangkan wajah Juling Jitu sangatlah mudah, karena dia memiliki satu kelebihan pada matanya.
Pada saat percobaan pertama dilakukan dengan sepasang mata terpejam, Alma Fatara bisa menemukan dimensi lain yang ia duga adalah jalan masuk ke alam mimpi. Namun, ia masih melihat kegelapan di dalam penglihatannya yang tertutup.
Percobaan kedua pun Alma Fatara lakukan. Ada perkembangan bagus. Alma Fatara berhasil melihat sebuah pemandangan terang di alam terbuka. Dia bisa melihat keberadaan dua orang manusia, lelaki dan perempuan di kejauhan. Keduanya sedang duduk berdampingan. Si lelaki merangkul pundak si wanita. Alma Fatara tidak begitu jelas mengenali wajah keduanya, tetapi dari ciri-cirinya, lelaki itu sepertinya adalah Juling Jitu.
Alma Fatara terkesiap ketika tiba-tiba ada enam orang lelaki berpedang datang menyergap pasangan tersebut. Pada saat itu pula, Alma Fatara kembali kepada pandangan aslinya, yaitu kegelapan. Hal itu membuat Alma Fatara membuka matanya.
“Aku sudah bisa melihat mimpi Juling Jitu, tetapi aku belum bisa masuk,” batin Alma Fatara.
Alma Fatara kembali berkonsentrasi, mengatur napas, melakukan gerakan kedua tangan perlahan, lalu memejamkan mata dan memulai sugestinya kembali.
Tidak bisa cepat, Alma Fatara membutuhkan waktu untuk berproses. Hingga pada akhirnya, Alma Fatara berhasil masuk ke dalam mimpi Juling Jitu. Dilihatnya Juling Jitu sedang berpelukan dengan Yuyu Serindu dan ingin melakukan acara temu bibir.
Kali ini Alma Fatara tidak sekedar bisa melihat dari jauh, tapi merasa sudah bisa masuk bergabung. Alma Fatara marah melihat pemandangan tersebut. Bukan karena dia iri, tetapi karena Juling Jitu sudah beristri.
“Juling Jitu!” teriak Alma Fatara.
__ADS_1
Alangkah terkejutnya Juling Jitu dan Yuyu Serindu mendengar panggilan itu. Acara temu bibir pun gagal menempel karena mereka langsung berpaling ke arah sumber suara.
“Begitu mudahnya kau menduakan Penombak Manis, Jitu!” tukas Alma Fatara sambil menunjuk wajah Juling Jitu.
Nah, seperti itulah proses Alma Fatara mempelajari ilmu Titah Mimpi, tidak butuh waktu lama. Namun, menurut keterangan Raja Tanpa Gerak, dibutuhkan latihan rutin untuk menjangkau mimpi dari target yang jaraknya jauh. Jika orang yang ditargetkan mimpinya berjarak dekat, memang mudah melakukannya.
“Ada yang datang!” seru Tabir Gemas saat melihat pergerakan bayangan hitam yang muncul dari arah tangga bukit. Pergerakan bayangan hitam yang tidak wajar, membuat gadis bermata sipit itu yakin bahwa bayangan tersebut bukan teman atau bagian dari mereka.
Set set set!
Benar saja, bersamaan dengan seruan Tabir Gemas, bayangan hitam itu melesatkan sejumlah benda ke arah Alma Fatara.
Set set set …!
Keempat Anggota Lima Dewi Purnama itu serentak melesatkan satu piringan perak terbang mereka.
Ting ting ting …!
Serangan gelap berupa paku-paku besar itu dihadang oleh keempat piringan terbang sehingga menimbulkan percikan kembang api. Paku-paku itu berguguran.
Kini, beberapa tombak di depan sana, berdiri seorang lelaki berambut panjang seperti wanita. Dia berpakaian serba hitam. Sosoknya yang gelap karena jauh dari pencahayaan obor, terlihat berperawakan gagah.
“Siapa yang berani menyerang Ratu Siluman?” tanya Alma Fatara sambil bangkit berdiri.
Alma Fatara yang telah menyimpan kitabnya, berjalan maju melewati antara tubuh pengawalnya. Maka dua sosok berpakaian serba hitam saling berhadapan.
“Siapa kau, Nisanak?” tanya lelaki yang baru saja menyerang Alma Fatara.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara mendengar pertanyaan lelaki itu. “Lalu kau pikir aku siapa, Paman?”
Alma Fatara tahu bahwa lelaki itu memiliki umur kisaran separuh baya.
“Aku pikir kau Ineng Santi,” jawab lelaki itu sambil melangkah maju lebih mendekat, sehingga wajah tegasnya memiliki codetan luka, terlihat samar oleh cahaya obor.
“Apakah kau pernah bertemu dengannya, Paman?” tanya Alma Fatara bersikap santai.
“Belum,” jawab lelaki itu datar, mencoba mengimbangi gaya Alma Fatara. Selaku seorang pendekar yang merasa sakti, tidak sepatutnya dia tegang menghadapi gadis belia seperti Alma.
__ADS_1
“Jika Paman melihat Ineng Santi yang cantik dan lucu, Paman pasti tidak tega untuk membunuhnya,” kata Alma Fatara. “Jika Paman belum pernah bertemu Ineng Santi, berarti Paman ingin membunuhnya karena diperintah oleh seseorang?”
“Benar. Aku dibayar oleh Demang Mahasugi untuk membunuhnya karena Golono telah dibunuhnya!” tandas lelaki itu.
“Sayang sekali, padahal aku sudah mengirim utusan ke kediaman Demang Mahasugi,” kata Alma Fatara. “Apa boleh buat, mungkin sudah rezekinya Paman untuk mati di sini. Namun sebelum itu, aku ingin tahu nama Paman.”
“Si Paku Renggut Nyawa. Itu namaku,” jawab lelaki tersebut.
“Hahaha! Aku kira Renggut Perawan,” kata Alma Fatara yang didahului oleh tawanya.
Empat gadis di belakang Alma Fatara hanya tersenyum.
“Apa boleh buat, aku harus bertindak kejam dengan gadis semuda kau, Nisanak. Aku pun perlu tahu nama korban yang akan aku bunuh,” kata Si Paku Renggut Nyawa.
“Sebenarnya percuma aku memperkenalkan namaku, karena Paman pun tidak akan bercerita kepada orang lain siapa yang membunuhmu, Paman. Namun setidaknya, Paman bisa bercerita kepada arwah-arwah yang lain,” sesumbar Alma Fatara.
“Hahaha! Kecil-kecil sesumbarnya tinggi juga,” tawa Si Paku Renggut Nyawa.
“Namaku Alma Fatara, aku Ratu Siluman, Ratu Kerajaaan Siluman,” kata Alma Fatara memperkenalkan diri.
“Baiklah, karena aku sudah menyerangmu lebih dulu, ini memang harus diselesaikan sebelum aku membunuh Ineng Santi!” tandas Si Paku Renggut Nyawa.
“Paman, kau Pembunuh bayaran yang tidak tahu perhitungan. Bagaimana kau bisa mengenyampingkan keberadaan kakeknya Ineng Santi, yaitu Raja Tanpa Gerak?”
“Sudah ada orang lain yang akan mengurus Raja Tanpa Gerak,” kata Si Paku Renggut Nyawa.
Tiba-tiba dari tangga bukit muncul lima sosok manusia lain dengan perawakan yang berbeda-beda. Gelapnya malam membuat mereka terlihat dalam wujud siluet saja.
Kelima orang itu berjalan tidak ke arah Alma Fatara dan calon lawannya, tetapi lebih ke arah samping pondok Raja Tanpa Gerak.
“Baiklah jika seperti itu. Silakan, Paman,” kata Alma Fatara. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Audio Book Om Rudi "MARANTI" sudah up loh, yuk putar, dengar, like, dan komen! Sambil nunggu Alma Fatara up.
__ADS_1