
*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*
“Aku akan mengobati ketua kalian, jadi harap kalian memberi jalan kepada Dewi Dua Gigi yang cantik dan sakti ini!” seru Alma Fatara kepada seluruh anggota bajak laut yang ada di lingkungan rumah Demang Baremowo itu.
“Beri jalan kepada Dewi Dua Gigi!” teriak Mutiara Laut Hitam.
Maka, para bajak laut segera membuka diri menciptakan jalan lapang untuk masuk ke halaman rumah.
Tidak berdayanya kelompok Bajak Laut Kepiting Batu, membuat keempat sahabat Alma berjalan dengan penuh percaya diri. Iwak Ngasin dan Juling Jitu bahkan mengangkat dagunya agak tinggi, seolah sengaja memperlihatkan dua lubang hidungnya yang berambut.
“Da-da-dagu tidak akan pe-pe-pernah lebih ti-ti-tinggi dari bibir,” sindir Gagap Ayu dengan gaya gagapnya.
“Siapa yang kau bicarakan, Ayu?” tanya Juling Jitu merasa tersindir.
“Alma!” jawab Gagap Ayu singkat.
“Hahaha!” tawa Alma mendengar jawaban Gagap Ayu. Ia tahu maksud dari sindiran Gagap Ayu tadi.
Setibanya di depan rumah Demang Baremowo, Alma berkata kepada Mutiara Laut Hitam karena dialah yang terlihat bertindak sebagai pemimpin setelah Udang Karang pingsan.
“Kakak Mutiara, pemilik rumah ini telah kembali, bersihkan rumah ini dari orang-orang kalian, kecuali Kakak Cucum Mili, karena aku akan mengobatinya!” perintah Alma.
“Baik,” ucap Mutiara Laut Hitam patuh. Ia mengakui bahwa Alma adalah sosok sakti yang kini memimpin di tempat itu, meski usianya masih kurang dari dua puluh tahun.
Mutiara Laut Hitam lalu bekerja untuk mensterilkan rumah Demang Baremowo dari anggota bajak laut, kecuali Cucum Mili. Dukun Sirip saja disuruh keluar oleh Mutiara Laut Hitam.
Para anggota Bajak Laut Kepiting Batu diperintahkan mundur hingga ke luar pagar. Jadi mereka berkerumun tidak teratur di depan kediaman Demang Baremowo.
Demang Baremowo dan keempat sahabat Alma menunggu di teras. Sementara Alma dan Nyi Bungkir masuk ke kamar yang adalah kamar milik Demang Baremowo dan istrinya. Dilihatnya Cucum Mili dalam kondisi terbaring lemah dengan hanya berpakaian dalam, tapi bercelana lengkap.
“Apakah Perguruan Jari Hitam tidak datang membantu ketika Paman dan Bibi diserang oleh bajak laut ini?” tanya Alma kepada Nyi Bungkir saat mereka masuk ke kamar.
“Perguruan Jari Hitam sedang dilanda masalah serius, jadi mereka tidak bisa memikirkan perkara yang lain,” jawab Nyi Bungkir.
“Perkara apa, Bi?” tanya Alma lagi sambil mengeluarkan benda berbentuk kubus berwarna biru terang.
“Sebelum serangan bajak laut ini datang, hampir semua murid Perguruan Jari Hitam pergi menuju Perguruan Bulan Emas untuk membebaskan Rereng Busa,” jawab Nyi Bungkir.
“Hah! Kakek Rereng Busa ditawan? Bagaimana bisa?” kejut Alma, merujuk kepada Ketua Perguruan Jari Hitam.
“Aku tidak tahu secara rinci konflik yang terjadi,” kata Nyi Bungkir.
__ADS_1
“Apakah kau berniat menyembuhkanku, Alma?” tanya Cucum Mili tiba-tiba, tapi bernada lemah. Sepasang matanya terpejam.
“Hahaha!” tawa Alma ringan. “Kehidupan dan peluang itu seperti roda pedati, Kakak Cucum. Setelah derita pasti akan datang masa bahagia.”
“Kalian berdua kini menertawakan aku,” ucap Cucum Mili.
“Aku hanya berusaha menghibur. Jika kau menganggap tawaku adalah menertawakanmu, maka nikmati saja derita Kakak. Hahaha!” kata Alma sambil membelah kotak biru di tangannya.
“Kau benar-benar Anak Setan!” maki Cucum Mili seperti orang tidur yang mengigau.
“Hahaha!” Alma justru tertawa. Ia tidak tersinggung sama sekali dengan makian Cucum Mili.
Alma Fatara lalu meletakkan dua bagian Bola Hitam di bawah batok kepala Cucum Mili. Setelah itu, Alma mengerahkan tenaga saktinya yang memancing Bola Hitam bereaksi untuk menyalurkan energi pengobatannya.
Setelah itu, Bola Hitam bekerja sendiri.
“Kenapa kau mau mengobatiku, Alma?” tanya Cucum Mili sambil mengerenyit-mengerenyit menahan rasa sakit yang ditimbulkan dari proses itu, meski energi yang disalurkan ke seluruh pelosok tubuhnya berhawa sejuk. Kerusakan jaringan tubuh dalam yang parah, terutama pada bagian perut, membuat pengobatan itu menimbulkan rasa sakit yang centil.
“Mendengar cerita cinta Kakak Cucum, aku jadi tidak tega jika harus membunuh Kakak. Jika aku memang berniat membunuh Kakak, bisa langsung aku lakukan. Aku suka menyaksikan sepasang kekasih yang bertemu. Entah bagaimana sambutan Kakang Sugang Laksama nanti, yang penting Kakak Cucum bisa berjumpa dengan lelaki itu,” tutur Alma Fatara.
“Hihihik huk huk!” tawa Cucum Mili lalu berlanjut terbatuk. “Ternyata ada Anak Setan yang baik juga.”
“Hahahak!” tawa Alma.
“Gelar ratu apa yang dia sandang?” tanya Cucum Mili sambil tersenyum meremehkan dengan mata yang masih terpejam.
“Tidak apa-apa, Bibi. Ratu yang jelas di sini itu adalah Kakak Cucum, karena dia adalah Ratu Kepiting,” kata Alma.
“Hihihi!” tertawa rendahlah Nyi Bungkir.
“Kau jangan menertawai keratuanku, Bungkir!” hardik Cucum Mili. Nadanya agak tinggi, mungkin pengaruh dari kondisinya yang perlahan membaik.
“Setelah Kakak sembuh, aku harus mendapat penjelasan yang terang tentang rencana kalian menguasai Kademangan Dulangwesi. Ingat, Kakak dan Bajak Laut Kepiting Batu seharusnya sudah kalah!” tandas Alma.
“Baik, baik. Aku bahkan akan merubah nama kelompokku menjadi Bajak Laut Kepiting Rebus,” kata Cucum Mili.
“Hihihi!” tawa Nyi Bungkir.
“Jangan tertawa!” bentak Cucum Mili, tapi tetap tidak membuka matanya.
“Di mana harga dirimu jika kelompokmu menyandang nama selucu itu, Cucum?” kata Nyi Bungkir.
__ADS_1
“Hahaha!” tawa Alma. “Kakak Cucum tidak perlu mengubah nama, tapi dengan syarat Kakak dan Kepiting Batu harus baik-baik kepadaku. Jika tidak, aku adalah Anak Setan yang sangat berbahaya. Hahaha!”
Sebagaimana biasa, pengobatan dengan Bola Hitam memakan waktu sekitar dua jam. Selama itu, ketiga wanita cantik itu berbincang-bincang berbagai hal, dari perkara kependekaran hingga hal memasak.
Ternyata, Alma Fatara tidak bisa memasak, kecuali memasak air. Sementara Cucum Mili hanya bisa membakar, merebus dan menjemur ikan. Berbeda dengan Nyi Bungkir, selain nyonya besar berkesaktian sebagai pendamping Demang Baremowo, dia juga wanita dapur.
“Jika kalian ingin makan enak, bebaskan semua prajurit dan pelayanku dulu,” kata Nyi Bungkir.
“Panggilkan Hitam menemuiku!” perintah Cucum Mili.
Nyi Bungkir hanya menarik kedua sudut bibirnya, tapi memenuhi permintaan Cucum Mili yang sudah membuka matanya. Alma sendiri tidak bisa meninggalkan Bola Hitam-nya, ia harus terus mengawasi pusaka sakti itu.
Tidak berapa lama, datanglah Mutiara Laut Hitam masuk ke kamar.
“Ada apa, Ketua?” tanya Mutiara Laut Hitam.
“Bebaskan semua orang yang kita tawan!” perintah Cucum Mili dengan suara yang nyaris normal.
“Baik, Ketua!” ucap Mutiara Laut Hitam tanpa membantah sedikit pun.
Mutiara Laut Hitam lalu pergi.
Para prajurit Kademangan dan para pelayan Demang Baremowo ditawan di tengah kebun yang tidak terlalu jauh dari rumah Demang. Ada belasan anggota bajak laut yang menjaga tawanan sejak awal.
“Hoekh!” tiba-tiba Cucum Mili muntah darah kental.
“Selesai,” kata Alma sambil mengambil Bola Hitam dan memasukkannya ke balik jubah hitam tebalnya.
Setelah muntah darah itu, Cucum Mili memang merasakan kondisinya sudah baik dan nyaman.
“Aku tidak tahu bahwa Bola Hitam pun bisa menjadi tabib yang ampuh,” kata Cucum Mili.
“Lalu, apakah kau masih tertarik untuk merebutnya?” tanya Alma.
“Aku yakin, jika aku mencoba lagi, kau pasti langsung membunuhku,” kata Cucum Mili.
“Hahaha! Itupun aku belum menggunakan kesaktian Bola Hitam,” tawa Alma. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ayo baca, like dan komen juga di chat story Om Rudi yang berjudul "Narator Horor"!
__ADS_1