
*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*
Adipati Adya Bangira segera pergi menemui istrinya dan putranya.
“Di mana adikmu, Arung Seto?” tanya Adipati Adya Bangira.
“Eee … Ariang Banu ada di belakang bersama pasukan berkuda yang aku pimpin,” jawab Arung Seto terlihat kikuk.
“Apa yang terjadi dengan adikmu, Arung?” tanya sang ayah yang curiga bahwa putranya itu menyembunyikan sesuatu.
“Ariang Banu sudah tewas terkena racun, Adipati,” celetuk Pangeran Derajat Jiwa.
Terkejutlah Adipati Adya Bangira dan Aning Sulasih, istrinya.
“Ariang Banuuu!” pekik Aning Sulasih histeris lalu menangis dan memeluk suaminya.
“Arung, ambil jasad adikmu!” perintah Adipati Adya Bangira, berusaha tegar. Ia sebenarnya sudah siap menghadapi kondisi terburuk. Baginya kondisi itu jauh lebih baik dari yang terburuk.
“Baik, Ayahanda!” ucap Arung Seto patuh.
Arung Seto lalu naik ke kudanya dan segera menggebah kudanya pergi ke belakang pasukan.
Sementara itu di arena pertarungan yang sudah banyak mayat bergelimpangan, Alma Fatara duduk bersila dua tombak di depan Ronggo Palung.
Lelaki berbadan besar berotot yang berjuluk Hantu Dasar Laut itu hanya menatap tajam kepada Alma Fatara, sambil ia menyelesaikan pengobatan dirinya.
“Paman, masih mau mengajakku berlayar?” tanya Alma Fatara sambil tersenyum menggoda, tanpa memperlihatkan dua gigi kosongnya.
“Mati kau!” teriak Ronggo Palung tiba-tiba sambil menghentakkan kedua otot dadanya yang besar.
Zers! Zing!
Bang! Dask!
“Akk!” pekik Ronggo Palung sambil terlempar seperti bola ditendang lalu berguling-guling di tanah.
Yang baru saja terjadi adalah ketika Ronggo Palung berteriak dan menghentakkan otot dadanya, dari badan berototnya melesat sinar merah berwujud kutang tanpa tali. Alma yang sudah siap langsung mengaktifkan ilmu Tameng Balas Nyawa. Pastinya sinar merah kutang itu berbalik ketika menghantam dinding ungu bening.
Ronggo Palung pun terhantam ilmunya sendiri. Dengan sela bibir yang merembeskan darah, Ronggo Palung cepat bangkit. Tidak mungkin dia menggunakan ilmu yang sudah gagal sebelumnya.
Ronggo Palung berdiri dengan kuda-kuda yang kuat. Selanjutnya dia banting kedua tangannya dari atas ke bawah.
Jleg! Jleg! Jleg!
Tiba-tiba sebuah kurungan sinar hijau berbentuk gelas raksasa terbalik jatuh dari langit dan mengurung Alma Fatara. Seperti semut ditakup gelas hijau bening. Kurungan yang jatuh dari atas itu bukan hanya satu, tetapi tiga kurungan yang terkesan menumpuk dan berlapis.
__ADS_1
Namun, hal itu tidak membuat Alma Fatara kebingungan. Dia langsung menghantamkan Bola Hitam miliknya ke dinding kurungan.
Bong! Krerek! Buss! Prakr!
Setelah Bola Hitam menghantam dinding sinar hijau, dinding itu berubah jadi kristal seperti kaca. Lalu Alma hancurkan dengan ilmu Tinju Roh Bumi. Ternyata dindingnya ada tiga lapis, jadi Alma pun melakukan penghancuran sebanyak tiga kali ulang pula.
Zweerss!
“Awas, Almaaa!” teriak para fans Alma.
Ternyata Ronggo Palung sudah menunggu keluarnya Alma dari kurungan. Sebuah kumpulan api besar seperti ombak sumarni (tsunami) sudah bergerak mengerikan hendak menerkam Alma.
Meski ia kebal terhadap api, tetapi untuk yang ini Alma tidak mau anggap sepele.
Clap! Bruss!
Ombak api raksasa itu menghantam posisi Alma ketika Alma tahu-tahu menghilang dari tempatnya. Arena tarung itu seketika terbakar secara luas.
Kuda-kuda Riring Belanga, Arya Mungkara dan Bandeng Prakas sampai meringkik karena merasakan panas dari lautan api yang diciptakan oleh Ronggo Palung. Mereka segera mundur lebih menjauh, termasuk para prajurit.
“Di mana anak setan itu?” tanya Ronggo Palung kepada dirinya sendiri.
“Paman memang sudah tua, sampai tidak melihat aku ada di mana,” kata Alma tiba-tiba dari sisi belakang Ronggo Palung.
“Anak setaaan!” teriak Ronggo Palung sambil mengibaskan kedua tangan besarnya yang bersinar biru gelap ke belakang.
Wuut!
Tus tus!
“Aaak!” jerit Ronggo Palung saat merasakan dua lututnya ditusuk oleh sesuatu yang tidak terlihat. Sesuatu itu adalah dua ujung Benang Darah Dewa. Alma sering melumpuhkan lawan dengan menyerang lututnya.
Ronggo Palung langsung jatuh terlutut yang disambut oleh sepakan Alma ke dagunya. Ronggo Palung jatuh terjengkang. Jatuhnya biasa, tidak begitu membuat terluka.
“Hahahak!” tawa Alma Fatara sambil berdiri kembali.
Buru-buru Ronggo Palung bergerak bangkit.
“Aaak!” jeritnya tertahan dan jatuh lagi. Kedua lututnya sangat sakit dan sudah tidak sanggup membuatnya berdiri.
“Hahaha! Paman, aku beri tiga pilihan. Pertama, emas. Kedua, pisau. Ketiga, semut. Paman pilih salah satu sebagai cara mati Paman,” ujar Alma.
Ronggo Palung hanya mendelik mendengar tawaran itu.
“Kau yang harusnya mati, Anak Setan!” teriak Ronggo Palung sambil menghentakkan kedua otot dadanya.
Zers! Zing!
__ADS_1
Bang! Dask!
“Akk!” pekik Ronggo Palung sambil terlempar seperti bola ditendang lalu berguling-guling di tanah.
Ia melakukan serangan yang sama seperti sebelumnya, yaitu melesatkan sinar merah berwujud kutang tanpa tali.
“Hoekh!” Ronggo Palung muntah darah kental, menunjukkan luka dalamnya kian parah.
Alma Fatara mendatangi Ronggo Palung dengan langkah yang tenang.
“Baiklah, Paman. Karena kau tidak memilih apa yang aku tawarkan, jadi aku yang menentukan cara matimu,” kata Alma. Lalu katanya bernada tegas, “Nyawamu sebagai bayaran atas ratusan nyawa yang telah kau bunuh!”
Sess! Bug!
Alma Fatara tiba-tiba melesatkan Bola Hitam dan tepat menghantam dada Ronggo Palung yang sudah tidak bisa berbuat banyak.
Ronggo Palung hanya bisa mendelik terkejut tanpa suara. Setelah terkena hantaman Bola Hitam, tiba-tiba tubuh Ronggo Palung mematung dengan kulit tubuh berubah menjadi pucat abu-abu, termasuk rambutnya.
“Terbayar sudah,” ucap Alma Fatara lalu melangkah pergi melewati sisi tubuh Ronggo Palung yang terlutut.
Ketika ujung jubah hitam Alma menyenggol wajah Ronggo Palung, wajah itu langsung ambyar seperti debu.
Wuss!
Dan setelah itu ada satu angin alam yang berembus agak kencang. Maka semakin ambyar sosok kaku Ronggo Palung, seperti patung abu yang tertiup angin.
“Sungguh mengerikan kesaktian Bola Hitam,” ucap Riring Belanga.
Memang seperti itulah akibat dari terkena langsung Bola Hitam, senjata sakti yang banyak diinginkan oleh para pendekar dunia persilatan. Namun terkadang, para pendekar itu bingung bagaimana cara merebut Bola Hitam jika pemiliknya memiliki kesaktian tinggi dan bahkan menggunakan Bola Hitam sebagai senjata.
Alma Fatara langsung menuju kepada Adipati Adya Bangira dan istrinya Aning Sulasih.
“Paman Adya!” ucap Alma sambil menjura hormat.
“Alma, kau kembali menyelamatkan kami. Kami sangat berterima kasih,” ucap Adipati Adya Bangira.
“Aku datang memang untuk memastikan keselamatan, Paman. Namun sayang, aku dan teman-temanku tidak bisa mencegah korban nyawa yang begitu banyak,” ucap Alma sedih. “Aku turut berduka atas tewasnya Kakang Ariang Banu, Paman.”
“Padahal Aring Banu selalu merindukanmu, Alma. Hiks hiks hiks!” ucap Aning Sulasih seraya masih menangis.
“Tidak apa-apa, Ibu. Setidaknya Kakang Ariang Banu gugur sebagai seorang pahlawan, sama seperti para prajurit yang lain,” ucap Alma berusaha menghibur.
Tiba-tiba terdengar suara pergerakan pasukan dari dalam Ibu Kota. Pasukan itu datang dari arah belakang pasukan pimpinan Riring Belanga. Pasukan yang baru datang tidak lain adalah Pasukan Pamungkas pimpinan Pangeran Sugang Laksama. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Sambil menunggu up dari Om Rudi yang sedang sakit, ayo baca, like dan komen juga di chat story yang berjudul "Hantu Pelakor"!