Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
SMP 17: Menculik Jasad Golono


__ADS_3

*Setan Mata Putih (SMP)*


 


Rombongan pasukan pimpinan Wulung terus berjalan mengikuti dua kereta kuda yang berlari pelan. Namun, tanpa mereka sadari, mereka diikuti oleh sekelompok orang berpakaian serba biru gelap. Orang-orang itu menutup wajahnya seperti ninja dan bergerak di balik semak belukar dan pepohonan.


Orang-orang berpakaian biru gelap itu tidak hanya berlari senyap di sisi kiri dari pasukan, tetapi beberapa di antaranya bisa terbang melompat dari satu pohon ke pohon yang lain. Orang-orang itu menyandang senjata perupa pedang.


Namun, gerakan senyap kelompok tidak dikenal itu tanpa sengaja tertangkap mata oleh salah satu centeng.


“Kita diikuti!” teriak centeng tersebut terkejut.


Seketika pasukan prajurit dan centeng itu tegang. Sontak mereka berhenti dan memandang ke sekitar.


“Siaga!” teriak Wulung keras, setelah dia juga melihat adanya pergerakan orang berpakaian serba biru gelap.


Pasukan ituapun bersiaga dengan senjata dihunus masing-masing.


Karena pasukan yang ingin ditargetkan sudah mengetahui akan disergap, salah seorang lelaki bertopeng kain yang ada di atas dahan pohon segera bertindak.


“Seraaang!” teriak lelaki yang sepertinya adalah pemimpin kelompok berpakaian biru.


“Seraaang!” teriak puluhan lelaki berpakaian biru gelap yang keluar dari balik semak belukar, balik batang pohon dan dari atas pohon.


“Habisi mereka semua!” teriak pemimpin para penyergap itu.


Kelompok berseragam biru menyerang pasukan Kademangan Kubang Kepeng dengan penuh semangat. Baru saja melompat ke tengah-tengah barisan pasukan, pedang mereka langsung beraksi ganas.


Satu dua tiga, prajurit dan centeng segera berguguran. Rupanya skill bertarung kelompok bertopeng lebih baik dibandingkan para prajurit dan centeng. Mental tarung pasukan Kademangan Kubang Kepeng sudah jatuh lebih dulu.


Wulung, Regang, Buritan, dan Gaeng Lemu tidak mau kalah. Sebagai pemimpin dan pendekar, keempatnya memiliki kesaktian yang lebih tinggi dari pasukannya. Para penyerang yang datang kepada mereka, tidak sungkan-sungkan mereka bunuh.


Para prajurit penjaga kereta kuda juga mendapat serangan. Dengan cepat mereka dilumpuhkan. Setelah itu, dua orang bertopeng menggotong jasad Golono dan membawanya lari.


“Berhenti!” teriak Wulung yang terkejut melihat penculikan mayat itu.


Wulung berkelebat cepat untuk menggagalkan penculikan itu. Namun, kedatangan Wulung mendapat penghadangan dari anggota lain penyergap itu.


Bukan hanya mayat Golono yang berusaha diculik, tetapi peti-peti harta juga dirampok.


“Kurang ajar!” maki Buritan saat melihat peti-peti harta diangkuti.


Buritan cepat menyerang orang-orang yang merampoki peti harta. Namun, Buritan dihadang oleh pemimpin kelompok berpakaian biru. Pertarungan sengit langsung terjadi.


Menghadapi lawan yang tangguh, Buritan segera mengeluarkan ilmu tinjunya yang bersinar biru.


Bug!

__ADS_1


Pada satu kesempatan, kedua pendekar itu beradu tinju. Ternyata tinju sinar biru Buritan kalah kuat oleh tinju pemimpin penyergap itu.


Buritan terlempar terjengkang dengan darah merembes di sela bibir. Sementara lawannya hanya termundur dua tindak.


Di sisi lain, Wulung, Regang dan Gaeng Lemu mendapat pengeroyokan dari para lelaki bertopeng bersenjata pedang.


Mengetahui lawannya jauh lebih kuat, Buritan cepat berteriak.


“Serang orang itu!” teriak Buritan kepada beberapa centeng yang mengeroyok musuh.


Tiga orang centeng segera beralih menyerang pemimpin penyergap itu.


Sing! Set set set!


“Ak! Ak! Akh!”


Pemimpin penyergap itu meloloskan pedangnya dan dengan lihai menghabisi ketiga penyerangnya. Buritan hanya bisa mendelik melihat ketiga centengnya tewas dalam sekali serang.


Sreet! Srak!


Pemimpin kelompok bertopeng itu menggores tanah dengan pedangnya, membuat tanah terlempar naik ke udara. Setelah itu, pemimpin bertopeng menampar tanah yang terbang dengan sisi tipis pedangnya.


Tamparan yang bertenaga dalam itu membuat uraian tanah itu berlesatan menyerang Buritan. Buritan cepat memasang batang tangan kanannya di depan wajah guna melindungi matanya. Ia mengerenyit ketika merasakan uraian tanah itu bisa menyakiti tubuhnya.


Set set! Tseb!


Ia harus terkejut, karena musuhnya sudah berada di depannya menyerang dengan pedang. Buritan berupaya menghindari beberapa sabetan, tetapi pada akhirnya, nasibnya harus berakhir dengan satu tusukan pedang yang menembus perutnya.


Nasib sama dialami oleh Regang. Ketua Tiga Centeng itu harus berakhir nyawanya dengan sejumlah luka pedang dari para pengeroyoknya. Kesaktiannya tidak bisa berbicra banyak menghadapi empat orang musuh.


Sementara itu, Gaeng Lemu mengamuk degan ilmu jari-jarinya yang mengandung listrik bertegangan secukupnya. Jari-jari itu bisa membuat lawan yang terkena jadi tersengat luar dalam, tetapi tidak sampai semaput. Usai tersengat, musuhnya masih bisa melawan ulang atau mencoba peruntungannya kembali.


Tiba-tiba pemimpin kelompok bertopeng kain biru merusak kejayaan tarung Gaeng Lemu. Ia masuk ikut campur dalam pertarungan.


Tak!


“Akk!” jerit tertahan Gaeng Lemu ketika tusukan jari tangannya diadu dengan tinju pemimpin musuh. Terdengar suara tulang jarinya yang berbunyi seiring dengan jeritannya.


Set set set!


Serangan pedang yang cepat membuat Gaeng Lemu harus termundur-mundur karena kewalahan.


Ketika pemimpinnya berhenti menyerang, ketiga lelaki berseragam biru serentak menyerang dengan pedangnya masing-masing.


Jika yang menyerang masih level anak buah, Gaeng Lemu masih bisa besyukur, karena masih bisa mengimbangi meski dikeroyok tiga pedang sekaligus.


Seet! Tseb!

__ADS_1


“Aaak!”


Namun, ketika sedang asik-asiknya mempecundangi ketiga lawannya, Gaeng Lemu harus terkejut dan menjerit dengan pedang telah menancap dalam di dadanya.


Tiba-tiba saja satu pedang melesat terbang begitu cepat dari belakang punggung lawan, membuat Gaeng Lemu tidak bisa mengelak atau menangkis sedikit pun. Pemimpin penyergap itu memanfaatkan terhalangnya pandangan Gaeng Lemu untuk menyerang secara mendadak.


Maka tinggallah Wulung yang berjuang mati-matian. Bukan lagi untuk menggagalkan upaya penculikan mayat atau perampokan harta, tapi untuk sekedar mempertahankan nyawa.


Di sisi lain, pasukan prajurit dan centeng telah berkurang drastis. Namun, bukan berarti pihak musuh tidak ada yang tewas, beberapa dari mereka harus meregang nyawa karena dikeroyok. Memang, jumlah pasukan kademangan lebih banyak.


Dak! Set! Ting!


“Akk!” jerit Wulung ketika sebilah pedang melesat kepadanya.


Usai membunuh Gaeng Lemu, dengan santainya pemimpin penyergap itu menendang sebilah pedang yang tergeletak di tanah. Pedang itu melesat menyerang Wulung.


Wulung yang terkejut dengan sigap menangkis pedang tersebut. Meski pedang itu bisa dibelokkan, tetapi masih sempat menyayat lengan kiri.


Tsek!


“Aaak!”


Satu tusukan pedang dari pengeroyoknya masuk pula ke perut Wulung, tetapi pemimpin prajurit itu menahannya dengan cara menangkap ujung pedang menggunakan genggaman tangan kiri, sampai-sampai telapak tangannya berdarah.


Set!


“Aaak!”


Selanjutnya, tangan kanan Wulung yang berpedang balas mambabatkan pedangnya ke leher lawan. Dengan demikian, untuk sementara Wulung lepas dari serangan.


Darah membanjiri lengan dan perut Wulung. Tusukan pada perut berhasil merobek kulit selebar dua jari.


Bak cess! Bak cess! Bak cess!


“Ak! Ak! Ak!”


Tiba-tiba terdengar ramai suara jeritan melengking.


Pemimpin kelompok bertopeng cepat menengok ke sumber jeritan. Dia melihat tiga anak buahnya bertumbangan sambil berusaha memadamkan sinar kuning yang menyala seperti suar di dada-dada mereka.


Satu pria tampan berpakaian warna hitam …. Eh, bukan pria tampan, tapi seorang gadis cantik seperti lelaki, sedang menghajari para lelaki bertopeng. Dengan gerakannya yang cepat dan gesit, dia mendaratkan pukulan telapak tangannya ke dada-dada para lelaki bertopeng. Setiap pukulannya yang mendarat meninggalkan sinar kuning menyala awet seperti api suar.


Wanita seperti lelaki itu tidak lain adalah Roro Wiro, murid dari Setan Gagah yang dititipkan kepada Alma Fatara.


Blar blar blar …!


Belum habis keterkejutan pemimpin kelompok bertopeng, tiba-tiba semua pihak dikejutkan oleh suara ledakan beruntun di kejauhan.

__ADS_1


Tahu-tahu mereka melihat, orang-orang yang membawa lari peti-peti harta berpentalan dengan bawaan yang juga terpental. Seiring itu, di udara berkelebat sosok berpakaian merah dan bercadar merah. (RH)


__ADS_2