Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
DEKET 22: Atur Siasat


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)* 


 


“Hahaha …!” tawa Betok, Kungkang dan Jungkrik berkepanjangan, heboh sendiri di dalam rombongan puluhan pendekar berkuda itu.


Rombongan yang dipimpin oleh Ratu Siluman Alma Fatara itu sudah meninggalkan kediaman Demang Mahasugi. Mereka langsung menuju ke Kademangan Nuging Muko yang adalah kademangan tetangga di sisi barat.


“Hei! Kenapa kalian bertiga tertawa terus? Kalian gila?” hardik Nuri Glatik dengan mata mendelik.


“Hehehe! Kami terlalu gembira,” jawab Jungkrik.


“Iya. Kami seperti pendekar sungkuran. Eh ealah, seperti pendekar sungguhan maksudku. Hahaha!” kata Kungkang, kemudian tertawa lagi.


“Biar gendut-gendut seperti kucing hamil, kami terlihat gagah jika berkuda bersama pendekar sungguhan. Hehehe!” kata Betok pula lalu terkekeh.


“Jadi, kalau Pendekar Nuri ingin pendekar yang gemuk jantan, bisa pilih kawin. Eh ealah, bisa pilih kami maksudku. Hehehe!” kata Kungkang lagi.


“Kalian belum pernah merasakan sumpalan tinju mautku rupanya,” kata Nuri Glatik marah.


Terkejut ketiga orang gemuk itu mendengar ancaman pendekar wanita itu.


“Ja-ja-jangan, Pendekar Nuri,” ucap Jungkrik seraya tersenyum getir.


“Hahaha!” tawa sejumlah anggota Pasukan Genggam Jagad menyaksikan tingkah ketiga pengurus kuda tersebut.


Sementara itu, Penombak Manis mendekatkan kudanya kepada kuda Alma Fatara.


“Gusti Ratu, ada yang mengikuti kita sejak kita meninggalkan kediaman Demang,” lapor Penombak Manis yang sejak tadi mendapati pergerakan tidak jelas agak jauh dari posisi rombongan mereka.


“Biarkan saja. Namun, jika ada perkembangan baru dari para pengintai itu, laporkan. Mereka tidak akan berani menyergap rombongan kita, kecuali orang-orang itu berniat merebut Bola Hitam,” kata Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu,” ucap istri Juling Jitu itu patuh.


“Panglima Tampang Garang!” panggil Alma Fatara.


“Hamba, Gusti Ratu!” sahut Tampang Garang yang kudanya berjalan tepat di belakang barisan kuda Alma Fatara dan kelima pengawalnya.


Kuda para panglima berjalan dalam satu barisan di belakang barisan kuda sang ratu yang bersama dengan Ineng Santi dan Kembang Bulan. Sebagai Pembawa Pedang Ratu Siluman, Kembang Bulan sekarang harus selalu dekat dengan sang ratu.


“Jika ada serangan dari penguntit, segera pasukanmu amankan lingkar luar rombongan!” perintah Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu,” sahut Tampang Garang.


“Panglima Besar!” sebut Alma Fatara tanpa menengok kepada Anjengan yang berkuda sejajar dengan panglima lainnya.


“Hamba, Gusti Ratu!” sahut Anjengan.


“Ingatkan seluruh pasukan untuk tetap waspada. Jika sampai memasuki Kademangan Nuging Muko kita belum mendapat serangan, laksanakan rencana yang telah kita atur!” perintah Alma Fatara.

__ADS_1


“Baik, Gusti Ratu!” ucap Anjengan bersemangat.


Setelah itu, rombongan tersebut terus berjalan dalam kecepatan sedang. Warga kademangan hanya bisa berhenti dan memandangi pasukan besar tersebut berlalu, seperti kemarin ketika Pasukan Genggam Jagad memasuki kademangan tersebut.


Tidak berapa lama, Penombak Manis kembali mendekati kuda sang ratu.


“Jumlah mereka semakin banyak, Gusti Ratu. Rata-rata berpedang dan bertopeng kain biru gelap. Beberapa berpakaian pendekar,” lapor Penombak Manis.


“Panggilkan salah satu pengurus kuda Demang Mahasugi yang gendut-gendut itu!” perintah Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu,” ucap Penombak Panis patuh.


Penombak Manis segera memutarbalikkan kudanya dan pergi ke posisi kuda ketiga trio gendut.


Ketiga pemuda gendut usia kepala tiga itu terdiam saat si wanita pesek menatap mereka bertiga dengan tatapan tajam.


“Kau!” Penombak Manis menunjuk Kungkang.


“Hah! Aku, Pe-pe-pendekar,” sahut Kungkang terkejut bercampur takut.


“Kau dipanggil, Gusti Ratu. Cepat maju ke depan!” perintah Penombak Manis.


“Apa? Dipanggil Gusti Rakus? Eh ealah, dipanggil Gusti Ratu maksudku,” tanya Kungkang seakan tidak percaya, dengan gaya khasnya terpeleset kata karena lidahnya yang becek.


“Cepat maju!” sentak Betok sambil menepak bokong kuda Kungkang.


“Jiaaa!” pekik Kungkang terkejut karena kudanya terkejut dan berlari kencang tiba-tiba.


Si kuda sampai melewati posisi Alma Fatara, lalu baru bisa dikendalikan oleh Kungkang.


“Hahaha …!” tawa Alma Fatara yang melihat kepanikan Kungkang.


Akhirnya Kungkang bisa menghadap bersama kudanya.


“Hamba menghadap, Gusti Ratu!” teriak Kungkang begitu semangatnya.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara melihat antusias Kungkang.


“Siapa namamu, Kakang?” tanya Alma Fatara.


“Kangkung!” jawab Kungkang begitu cepat, seperti peserta cerdas cermat berhadiah janda daun.


“Hahahak!” tawa Alma Fatara.


“Eh ealah, Kungkang maksudku, Gusti Ratu. Hehehe!” ralat Kungkang.


“Hihihi!” tawa Gagap Ayu dan keempat anak buahnya yang cantik-cantik, plus Kembang Bulan dan Ineng Santi.


Ditertawakan oleh delapan wanita cantik, jelas membuat Kungkang bahagianya tidak ketulungan, meski harus menanggung malu. Apalagi dipanggil “Kakang” oleh sang ratu.

__ADS_1


“Apakah Kakang Kangkung? Eh ealah, Kakang Kungkang maksudku. Hahahak!” ucap Alma Fatara sengaja menggoda Kungkang.


“Hahahak!” tawa Kungkang dengan ikhlas.


“Hihihi …!” Meledak lagi tawa para wanita yang bersama Alma Fatara dan barisan panglima.


“Apakah Kakang Kungkang hapal jalan menuju Kademangan Nuging Muko?” tanya Alma Fatara.


“Sangat tahu, Gusti Ratu. Aku lahir di Kademangan Nuging Muko, jadi sangat lapar …. Eh ealah, sangat hapal maksudku, Gusti Ratu,” jawab Kungkang.


“Hahahak!” Alma Fatara masih tertawa jika mendengar Kungkang salah kata, demikian pula dengan yang lainnya, sebab baru kali ini mereka menemukan fenomena seperti ini.


Namun bagi Alma Fatara, karakter Kungkang mengingatkannya kepada Ayu Wicara, sahabatnya yang menikah dengan Debur Angkara, Pendekar Desa Iwaklelet.


“Seberapa jauh lagi kita akan memasuki Kademangan Nuging Muko?” tanya Alma Fatara.


“Setelah kebun pisang di depan sana, kita akan melewati kaki bukit kecil. Setelah itu kita akan memasuki Kademangan Muka Nungging. Eh ealah, Kademangan Nuging Muko maksudku,” jawab Kungkang.


“Hahahak!” tawa Alma Fatara dan yang lainnya.


“Kembalilah, Kakang Kungkang. Persiapkan senjata untuk bertarung di bukit!” perintah Alma Fatara.


“Hah! Bertarung?” kejut Kungkang dengan wajah cemas. “Hamba permisi, Gusti Ratu!”


Dengan membawa wajah cemasnya, Kungkang menggebah kudanya ke barisan belakang.


“Para Panglima, persiapkan diri untuk pertarungan di kaki bukit!” perintah Alma Fatara tanpa menengok ke belakang.


“Baik, Gusti Ratu!” ucap para panglima di belakang barisan Alma Fatara.


Panglima Tampang Garang, Panglima Arung Seto dan Panglima Nining Pelangi segera melarikan kudanya mundur ke belakang untuk menyeru pasukannya masing-masing.


Setelah ketiga panglima kembali ke barisan depan, Penombak Manis kembali mendatangi Alma Fatara untuk melaporkan hasil dari pengamatan mata tajamnya.


“Gusti Ratu, sepertinya aku melihat keberadaan dua pemuda anggota Keluarga Tengkorak yang membawa telur bebek kemarin. Mereka bersama kelompok bertopeng,” lapor Penombak Manis.


“Panglima Besar!” panggil Alma Fatara.


“Hamba, Gusti Ratu!” sahut Anjengan lalu lebih mendekat kepada kuda Alma Fatara.


“Saat pasukan panah memancing musuh, serukan pertempuran!” perintah Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu,” ucap Anjengan patuh.


“Tampang Garang!” panggil Alma Fatara.


Giliran Tampang Garang yang maju mendekat lagi.


“Setibanya pasukan kita di kaki bukit, serang pasukan musuh yang mengintai untuk memancing mereka menyerang kita!” perintah Alma Fatara.

__ADS_1


“Baik, Gusti Ratu,” jawab Tampang Garang yang masih menyandang busur biru terangnya. Itu menunjukkan bahwa dia belum menguasai cara menghilangkan busur tersebut, karena memang tidak semudah belajar bercinta melakukannya. (RH)


__ADS_2