Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mak Baut 33: Membekukan Sungai


__ADS_3

*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*


 


Alma Fatara menatap tajam kepada keenam anggota bajak laut berbadan besar-besar itu. Namun kemudian, Alma tertawa sendiri memperlihatkan gigi ompongnya.


Sess! Bresk!


Sambil tertawa terbahak seperti itu, tiba-tiba Alma Fatara melesatkan senjata Bola Hitam ke permukaan air sungai.


Tawa Alma ternyata membuat lawan-lawannya sedikit lalai.


Ketika air sungai tiba-tiba membeku dan mengeras, lalu menjalar cepat ke arah hulu, hanya Si Keong Samudera dan rekan serakitnya yang melompat naik ke udara, menghindari jalaran beku yang menjerat rakit-rakit itu.


Empat bajak laut di dua rakit lainnya ternyata berotak lemot, loading pikirannya lelet, mungkin karena jarak dengan wifi-nya kejauhan. Kaki-kaki mereka lebih dulu terjerat beku bersama rakit dan air sungai yang tiba-tiba mengeras sekeras batu. Bukan hanya kaki mereka yang diselimuti lapisan kristal dingin dengan cepat, tetapi juga tubuh hingga ke ujung rambut.


Empat bajak laut itu berubah menjadi patung es. Kehebatan Bola Hitam itu mengejutkan Mbah Hitam, sebab baru kali ini ia menyaksikan kehebatan pusaka yang sejak ia bersama Alma, bisa dia rasakan keberadaannya.


Sementara Si Keong Samudera dengan rekannya yang bernama Kungkung Jengo, turun mendarat di rakitnya yang kini telah berselimut es tebal. Keduanya langsung bisa merasakan kedinginan, tetapi mereka tetap harus tampil perkasa.


“Perempuan setan dari mana itu? Lebih mengerikan daripada hantu laut!” kata Si Keong Samudera.


Apa yang terjadi di sungai, ternyata menarik perhatian Pangeran Derajat Jiwa dan Arung Seto.


“Gila!” sebut Derajat Jiwa terperangah melihat kesaktian Alma.


Namun, apa yang terjadi di bawah tidak menjadi perhatian pasukan yang sedang panik setelah merobohkan dinding mayat.


Keenam anggota bajak laut yang telah menunggu di balik dinding mayat juga terkejut, melihat apa yang dialami oleh Si Keong Samudera dan rekan-rekan. Namun, mereka juga punya tugas lain dan lawan lain.


Mereka yang telah memegang guci berisi minyak lalu melempar apa yang mereka pegang.


Prak! Prak! Prak!


Keenam guci minyak itu jatuh dan pecah di atas tumpukan mayat, juga mengenai tubuh prajurit yang berkumpul di depan dinding mayat yang tinggal setinggi pinggang.


“Minyak! Munduuur!” teriak pemimpin prajurit. Ia cepat membaca situasi.


Buru-buru puluhan prajurit yang berdesakan itu bergerak mundur, terutama mereka yang tubuhnya terkena cairan minyak.


Sementara itu, salah satu anggota bajak laut sudah siap memanah dengan anak panah yang sudah berapi. Lelaki berusia tiga puluhan tahun itu hanya tersenyum setan sambil membidikkan panahnya.


Set! Blup!


Ketika anak panah berapi itu melesat dan menancap di tubuh salah satu mayat prajurit, api langsung berkobar besar dan menjalar.


“Mundur! Munduuur!” teriak pemimpin prajurit.


Namun, padatnya para prajurit dan banyaknya bebatuan di tanah justru membuat pasukan itu berjatuhan karena saling dorong.


Kini yang ada di depan mereka adalah dinding api. Asap hitamnya jadi menghalangi pandangan.


Set! Blup!


Tiba-tiba satu panah berapi melesat dan menancap di tubuh seorang prajurit yang terkena minyak.


“Aaak …!” jerit prajurit itu ketika minyak di tubuh dan pakaiannya membuat api langsung membakar menyelimuti tubuhnya.


Rekannya sesama prajurit segera membantu untuk memadamkan api.


Set! Prak!

__ADS_1


Di saat seperti itu, tiba-tiba sebuah guci muncul melesat dari balik api lalu tepat menghantam prajurit yang terbakar. Akibatnya, pecahan guci membuat minyak pecah menyebar ke prajurit yang lain. Api pun langsung membesar dan menjalar ke beberapa prajurit lain.


“Aaak …!” jerit para prajurit itu.


Prajurit yang tidak terbakar memilih mundur karena takut kejadian seperti itu terulang lagi.


“Lompat ke sungai!” teriak pemimpin prajurit cepat.


Mendengar itu, para prajurit yang terbakar cepat berlari sambil menjerit panjang. Lima prajurit yang terbakar sama-sama melompat ke sungai, tepat pada bagian air yang tidak membeku.


Prak prak prak!


Dinding mayat yang berubah menjadi dinding api semakin tinggi berkobar ketika tiga guci berisi minyak kembali dilempar ke tumpukan mayat.


“Pasukan panah, majuuu!” teriak Pangeran Derajat Jiwa.


“Majuuu!” teriak pemimpin prajurit panah.


Drap drap drap!


Seratus pasukan panah segera bergerak maju di saat pasukan pendobrak dinding mayat bergerak mundur.


Pasukan panah segera membentuk dan menyusun formasi di belakang pasukan yang sempat mundur dengan kacau.


“Panah!” perintah pemimpin prajurit panah.


Set set set …!


Pasukan panah memanah jauh ke atas depan, melewati dinding api dengan hanya menduga-duga keberadaan target yang tidak bisa mereka lihat.


Sementara itu, di sisi bawah.


“Pendekar Sungai Darah Roh, seraaang!” teriak Alma Fatara.


Tanpa mengenal rasa dingin, mereka bergerak penuh semangat, berlari di atas es seperti berlari di atas tanah.


Set set set!


“Adaw! Akk! Aw! Adduh!” pekik keempatnya saat mereka kompak terpeleset di atas es yang licin sebelum sampai kepada target mereka.


“Hahahak …!” tawa terbahak Alma Fatara melihat teman-temannya jatuh berseluncur tanpa kendali.


Alma lalu melompat ke medan es. Dia langsung berseluncur seperti atlet ski profesioal ke arah Si Keong Samudera dan Kungkung Jengo, yang sudah menunggu dengan kaki berdiri agak gemetar.


“Aku cacah kau, Bocah Bebek!” teriak Si Keong Samudera sambil maju berlari meninggalkan rakit esnya, dengan kapak besar siap mengayun.


Set! Bdak!


“Hahahak!”


Apes bagi Si Keong Samudera yang gagah di lautan, kaki besarnya terpeleset di atas es, membuatnya terbanting keras.


Alma yang melesat ke arahnya, jadi tertawa terbahak dan mengerem laju tubuhnya.


“Ini benar-benar pertarunganmu yang buruk, Paman. Hahaha!” kata Alma lalu dia berkelebat menginjak kepala Si Keong Samudera sebagai tolakan.


Tubuh Alma melesat di udara menerjang kepada Kungkung Jengo yang tidak berani ke mana-mana.


Wuut! Tak! Bak!


Kungkung Jengo yang bersenjata tongkat besar seperti alu ibu-ibu penumbuk beras, menyambut kedatangan Alma dengan sabetan keras tongkatnya.

__ADS_1


Namun, Kungkung Jengo dibuat terkejut karena tongkatnya terhenti oleh sesuatu yang tidak terlihat, mencegah tongkatnya menghantam tubuh Alma.


Alma yang menggunakan dua ujung Benang Darah Dewa-nya untuk menahan kedatangan tongkat, dengan leluasa menghantamkan batang kakinya ke sisi kepala Kungkung Jengo.


Seperti digampar king kong, itulah yang dirasakan oleh lelaki bertubuh besar berotot itu.


Prak!


Begitu keras kepala Kungkung Jengo menghantam lantai es yang keras, sampai-sampai esnya berdarah.


“Mati kau, Bocah Bebek!” teriak Si Keong Samudera dari belakang Alma. Kali ini dia tidak terpeleset lagi.


Kapak besar Si Keong Samudera berkelebat cepat dari samping, bermaksud memenggal kepala Alma dari belakang.


Alma yang memiliki insting tingkat tinggi, berbalik dengan gerakan lebih cepat dan tinju tangan kanan juga berkelebat.


Drak!


Sebelum kapak besar Si Keong Samudera sampai ke sasaran, justru tinju kanan Alma yang lebih dulu sampai ke kayu gagang kapak. Gagang kayu keras itu patah, membuat kapak terpental jauh.


Si Keong Samudera yang sejak tadi menahan gigilan, tangannya menjadi gemetar karena efek hantaman tenaga dalam Alma.


Alma sendiri tidak berhenti. Dia terus bergerak lincah dengan tubuh berputar dan kedua tangan kosong yang mengibas berputar.


Set set!


“Akk!” jerit Si Keong Samudera ketika jari-jari tangan Alma yang mengibas menyayat tubuh depannya.


Salah satu faktor yang membuat lawan Alma selalu berada dalam bahaya adalah ketidaktahuan bahwa Alma memiliki jari-jari tangan setajam pedang. Seperti saat ini, dua sayatan panjang merobek perut dan dada Si Keong Samudera. Itu membuat orang besar itu termundur lalu jatuh terpeleset lagi di lantai es.


“Sangat berbahaya jika orang-orang seperti kalian dibiarkan hidup lebih lama di muka bumi!” desis Alma Fatara kepada Si Keong Samudera.


“Heaaakrr!” teriak Si Keong Samudera sambil hendak mengirimkan ilmu tinjunya kepada Alma.


Namun, teriakannya berujung jeritan ketika ada dua benang bergerak sangat cepat menusuki wajah Si Keong Samudera, otomatis membatalkan tinjunya. Benang Darah Dewa yang menusuk berulang kali dengan kecepatan mesin, tidak hanya menusuki wajah “tampan” Si Keong Samudera, tapi juga menusuk kedua bola mata.


“Aakk!” jerit Si Keong Samudera semakin tinggi.


Saat itu juga, Si Keong Samudera menjadi buta dan tidak bisa melihat lagi. Ia kemudian merasakan serangan pada wajahnya berhenti, tetapi ganti merasakan ada benang yang melilit leher besarnya.


Set!


Ketika Benang Darah Dewa miliki Alma melilit leher Si Keong Samudera dan menghentaknya, maka leher itu putus seperti tahu diiris pisau.


Seiring darah yang muncrat ke mana-mana, kepala besar Si Keong Samudera jatuh menggelinding ke lantai es.


“Ha-ha-hancur!” teriak Gagap Ayu sambil melompat menonjok dada sesosok patung es bajak laut.


Prakr!


Patung yang membeku itu hancur seperti es yang digebuk batu besar. Mengerikan melihat potongan-potongan tubuh beku dengan darah yang juga membeku berserakan.


“Sambut kedatangan Dewi Laut!” teriak Anjengan sambil melompat dengan tangan terentang.


Bak! Prak!


Tubuh besar berlemak itu menabrak patung es yang lain hingga kedua kaki patung patah. Lalu Anjengan jatuh menimpa patung besar tersebut hingga hancur.


Iwak Ngasin dan Juling Jitu juga mendapat jatah satu patung es bajak laut untuk dihancurkan sekaligus membunuhnya. (RH)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Ayo baca, like dan komen juga di chat story Om Rudi yang berjudul "Narator Horor"!



__ADS_2