Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Guru Bule 18: Penyerang Tidak Terlihat


__ADS_3

*Perguruan Bulan Emas (Guru Bule)*


Jalan satu-satunya untuk menuju ke pos kedua adalah mengikuti jalan yang ada, karena di antara mereka tidak ada yang tahu di mana posisi pos dua. Cara yang masuk akal untuk mengetahuinya adalah dengan mengikuti jalan yang sering dilalui oleh kuda dan manusia.


Setelah menyusuri jalan selama sekitar dua puluh menit, Brata Ala dan rekan-rekan akhirnya melihat titik-titik api obor di kejauhan.


Menduga kuat bahwa itu adalah pos penjagaan kedua dari Perguruan Bulan Emas, Brata Ala kembali melakukan briefing sejenak. Ia memerintahkan menggunakan cara yang sama seperti penyergapan di pos pertama.


Mereka kembali bergerak sesenyap mungkin mendekati pos yang formatnya berbeda dengan pos pertama. Pos kedua itu lebih berbentuk barikade pagar kayu balok berduri beberapa lapis. Jika ada orang yang ingin lewat, pagar-pagar setinggi dada itu harus digeser satu demi satu.


Dengan berpenerang empat tiang obor bambu, pos itu dijaga oleh delapan lelaki berseragam warna kuning.


Sama seperti sebelumnya, kelima belas murid Jari Hitam mendekati pos itu dengan halus.


Pak!


Sehingga ketika Brata Ala bertepuk tangan sekali dengan keras, kedelapan penjaga itu terkejut dua kali. Pertama, terkejut mendengar tepukan tunggal itu, kedua, terkejut karena tahu-tahu belasan orang muncul mendadak dari dalam kegelapan yang langsung menyerang.


Kedelapan penjaga itu tidak sempat memberikan perlawanan karena mereka lebih dulu tumbang oleh serangan jari-jari hitam yang tidak biasa.


Brata Ala dan rekan-rekan kembali membersihkan pos itu dari tubuh murid Bulan Emas. Para korban dipindahkan ke tempat yang tersembunyi dan diikat kuat.


Setelah itu, rombongan Brata Ala melanjutkan operasinya menuju pos tiga. Sama caranya, mereka hanya mengikuti jalan tunggal yang sudah ada.


Namun, belum lagi mereka melihat keberadaan pos tiga, tiba-tiba ....


Set set set ...!


"Awas!" teriak Brata Ala kencang saat melihat lesatan empat benda berbentuk piringan yang bersinar kuning.


Keempat piringan sinar kuning itu melesat terbang secara acak. Empat piringan itu mirip jenisnya seperti piringan sinar milik Buto Renggut dan Juyung Sawa.


Sontak murid-murid Jari Hitam menyalakan kesepuluh jari tangannya menjadi membara merah. Menyalanya jari-jari mereka membuat posisi mereka jadi terlihat. Hanya dengan ilmu Jari Hitam Membara yang bisa menangkis ketajaman piringan bersinar kuning itu.


Sing sing!


Brata Ala dan Jernih Mega yang mendapat serangan itu, menangkis dengan jari-jarinya. Sementara dua piringan lagi bisa dengan mudah dihindari oleh yang lain.


Set set set ...!


Tiba-tiba area sisi barat berubah terang terbatas dengan kemunculan sepuluh piringan bersinar. Namun, sinarnya bukan kuning, tapi keemasan. Kesepuluh piringan itu langsung melesat ke berbagai arah.


Set set!


"Aaak!" jerit Brata Ala dan seorang rekannya bersamaan, ketika jari-jari mereka yang menangkis serangan piringan bersinar emas itu terpangkas putus seperti golok tajam memangkas sesisir pisang.


Syets!


"Hekrr!" pekik Taring Yoyong ketika dia menangkis piringan sinar emas di depan lehernya. Selain lima jari tangannya terpotong enteng, piringan itu juga mengenai lehernya, menimbulkan luka robek yang besar. Ia roboh dengan darah memancur deras.

__ADS_1


"Taring Yoyooong!" pekik Jernih Mega yang tidak mendapat serangan.


Broks! Set set!


"Akkh!" pekik Dendeng Pamungkas pula.


Berbeda dengan yang lainnya, khusus Dendeng Pamungkas, dia diserang oleh dua piringan bersinar emas. Uniknya, dua piringan itu lebih dulu menjebol batang besar sebuah pohon, tempat Dendeng Pamungkas berlindung. Dua piringan itu menyayat dada dan punggung Dendeng Pamungkas.


"Dendeeeng!" teriak beberapa murid Jari Hitam terkejut saat melihat suami Gelis Sibening itu langsung tumbang.


"Akk! Akk!" jerit dua murid Jari Hitam lainnya yang terkena sambaran piringan bersinar emas. Bahkan satu di antaranya harus langsung tewas karena piringan itu menjebol perutnya hingga bolong.


Serangan dahsyat itu benar-benar membuat Brata Ala dan rekan-rekannya sangat terkejut. Kekuatan serangan sepuluh piringan bersinar emas itu tidak seperti empat piringan bersinar kuning sebelumnya.


Sepuluh piringan bersinar emas memiliki kecepatan lesat yang lebih tinggi dari piringan bersinar kuning, juga memiliki kekuatan yang jauh lebih tajam. Terbukti, piringan bersinar emas itu bisa memotong jari-jari Brata Ala dan rekan-rekan dengan mudah, padahal mereka mengerahkan ilmu Jari Hitam Membara yang tidak mempan oleh piringan bersinar kuning.


Brata Ala dan rekan-rekannya tidak siap menghadapi serangan sepuluh piringan bersinar emas itu. Akibatnya, sangat fatal karena satu serbuan itu langsung melukai dan membunuh mereka.


Sebelumnya, serangan pertama yang berupa empat piringan bersinar kuning, memaksa kelima belas murid Jari Hitam menampakkan posisinya dengan nyala jari-jari mereka yang membara. Dengan terlihatnya posisi mereka di dalam kegelapan, pemilik sepuluh piringan bersinar emas dengan mudah menargetkan murid-murid Rereng Busa tersebut.


Setelah serangan mengejutkan itu, sepuluh piringan bersinar emas padam dan menghilang dengan sendirinya, sehingga suasana yang sempat terang, kembali gelap gulita.


"Padamkan jari-jari kalian! Mundur!" teriak Brata Ala cepat sambil menahan rasa sakit pada tangan kanannya.


Serentak murid-murid Jari Hitam memadamkan jari-jari tangannya. Mereka yang selamat dari sergapan piringan-piringan terbang yang tiba-tiba itu, segera membantu dan memapah rekan mereka yang terluka.


Seorang rekan wanita segera menghampiri Rinai Serintik dan membantunya menarik tubuh Taring Yoyong di dalam gelap.


Set set set ...!


Tanpa terlihat orang pemilik serangan, kembali dari kegelapan sisi barat, muncul sepuluh piringan bersinar emas yang melesat cepat menyebar membawa kengerian.


Jari-jari tangan yang tidak menyala, sedikit memberi keuntungan bagi murid-murid Jari Hitam. Namun, tetap ada beberapa di antara mereka yang menjadi target dari serangan gelombang kedua itu.


Set! Broks broks!


"Akk ...!"


Seorang murid Jari Hitam yang menjadi target tidak mampu bergerak lebih cepat dari serangan salah satu piringan bersinar emas. Ia menjerit ketika lengan kirinya putus tersambar piringan yang menyerangnya.


Beberapa batang pohon tumbang atau rusak karena dihantam dengan ganas oleh piringan-piringan bersinar emas itu.


Sementara yang lain bisa menghindar dengan cara merunduk lebih rendah dari ketinggian lesatan kesepuluh sinar tersebut.


Melihat serangan kesepuluh piringan bersinar emas itu sangat ganas, Brata Ala dan Kulung cepat melakukan serangan perlindungan, setelah kesepuluh piringan sinar emas itu kembali lenyap dan untuk sejenak alam kembali gulita.


"Mundur! Mundur!" teriak Brata Ala seperti orang panik.


Swes swes swes ...!

__ADS_1


Swes swes swes ...!


Sebelum musuh kembali menggempur dengan piringan sinar emas, Brata Ala menghentakkan tinju kirinya melesatkan sepuluh sinar biru kecil berekor ke area sebelah barat, yang menjadi asal serangan sepuluh piringan bersinar emas.


Kulung juga menghentakkan kedua tinjunya yang melesatkan dua puluh sinar biru kecil ke area barat.


Ctar ctar ctar ...!


Tiga puluh ledakan nyaring terjadi beruntun dan rapat di sisi barat, tetapi tidak terlihat satu pun ada orang lain yang menjadi musuh mereka.


Pada saat serangan dilakukan oleh Brata Ala dan Kulung, rekan-rekan yang lain bergerak cepat mundur sambil membawa yang tewas dan terluka. Mereka bergerak cepat menjauhi titik pertarungan.


Setelah serangan tadi, Brata Ala dan Kulung juga bergerak cepat, mundur sambil siaga waspada. Brata Ala harus menahan sakit pada tangan kanannya yang buntung jari-jarinya.


Set set set ...!


Tiba-tiba serangan sepuluh piringan sinar emas kembali muncul dan berlesatan dengan ganas mengejar Brata Ala dan rekan-rekan. Namun, serangan itu muncul dari sisi selatan, bukan barat. Serangan itu memangkas dan menghancurkan para penghalang yang berupa pepohonan yang banyak tumbuh di sekitar.


Cukup jauhnya jarak yang sudah tercipta, membuat Brata Ala dan rekan-rekannya cukup aman. Mereka cukup mudah untuk menghindar.


Setelah serangan piringan lenyap, tidak ada serangan lagi yang menyusul. Brata Ala dan rekan-rekan bisa mundur semakin jauh.


Hingga mereka mundur jauh, Brata Ala dan rekan-rekan tidak melihat sosok orang yang menyerang mereka.


"Di mana Dendeng Pamungkas?" tanya Brata Ala saat meriksa kelengkapan personelnya, baik yang tewas, luka dan yang sehat.


Terkejutlah mereka mendengar pertanyaan Brata Ala. Sebab, mereka tidak menemukan keberadaan Dendeng Pamungkas di antara mereka.


"Dendeng tadi terkena dua serangan sekaligus," kata seorang di antara mereka. "Sepertinya dia tewas, Kakang."


Terkejutlah Brata Ala.


"Biar aku kembali maju untuk menjemputnya. Kalian teruslah mundur!" kata Brata Ala.


"Jangan, kau dalam kondisi terluka, Brata. Biar aku yang mencari Dendeng Pamungkas," kata Kulung.


"Baiklah, hati-hati, Kulung," ucap Brata Ala.


Maka, Brata Ala dan rekan-rekan terus bergerak mundur. Mereka yang sehat memanggul rekan yang tewas agar bisa bergerak lebih cepat untuk menjauhi daerah kekuasaan Perguruan Bulan Emas. Sementara Kulung kembali maju menuju titik pertarungan tadi.


Namun, belum lagi Kulung mencapai area yang dia tuju, dari arah yang berlawanan muncul banyak api obor di kejauhan. Obor-obor itu dibawa oleh puluhan murid-murid Perguruan Bulan Emas yang berlari menuju area pertempuran.


"Periksa daerah ini, bunuh langsung orang yang kalian temukan!" teriak seorang pemimpin dari rombongan itu.


Puluhan murid Bulan Emas yang berbekal obor segera memeriksa daerah yang berantakan oleh sejumlah potongan dahan pohon.


"Bagaimana ini? Jika aku memaksa bertahan atau nekat maju, aku justru akan tertangkap. Apalagi aku tidak tahu posisi Dendeng Pamungkas saat terkena serangan ...," pikir Kulung yang diam mengintai di balik kegelapan.


Akhirnya, Kulung memutuskan mundur secara senyap. Ia harus membatalkan untuk mencari tubuh Dendeng Pamungkas, terlebih sejumlah murid Bulan Emas terlihat bergerak ke arah posisi Kulung bersembunyi. (RH)

__ADS_1


__ADS_2