Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Guru Bule 38: Kehebatan Wulan Kencana


__ADS_3

*Perguruan Bulan Emas (Guru Bule)*


 


“Jika kau tidak mau memberikan Telur Gelap, maka aku akan mengambil Bola Hitam darimu, Wanita Gilaaa!” teriak Wulan Kencana penuh kemarahan. “Hiaaakr!”


Sambil berteriak buas, wanita tua itu lalu melesat secepat kilat kepada Alma Fatara yang duduk di atas kuda.


Membiarkan wanita gila itu sampai di antara mereka, kemungkinan akan membahayakan rekan-rekan yang lain. Karenanya, Alma Fatara tidak mau membiarkan Wulan Kencana sampai bersama serangannya.


Ketika Wulan Kencana menunjukkan pertanda akan menyerang, Alma Fatara pun telah siap.


Bross! Swess!


Wulan Kencana maju dengan lengan kanan diselimuti gelombang sinar jingga yang cantik di mata, tapi mengerikan di perasaan. Jangan tanya bagaimana kombinasi itu bisa terjadi.


Saat yang bersamaan, Alma Fatara juga melesat maju di udara dengan sinar emas menyilaukan mata bercokol di telapak tangan kanan, siap dihantamkan.


Namun, sebelum kedua wanita itu bertemu dan adu kesaktian di pertengahan jarak, sesuatu terjadi.


“Aak!” jerit Wulan Kencana sebelum ia menghantam Alma Fatara dan Alma menghantamnya.


Jika dilihat secara slow motion, sebelum keduanya saling menghantamkan ilmunya yang berwujud sinar jingga dan emas menyilaukan, ujung dua Benang Darah Dewa lebih dulu melesat jauh ke depan. Fokus Wulan Kencana yang lebih kepada pergerakan Alma dan pandangannya terganggu oleh silau dari sinar emas, membuat Wulan Kencana tidak melihat kedatangan dua ujung Benang Darah Dewa.


Karenanya, Wulan Kencana menjerit sebelum bentrokan terjadi, karena dua ujung benang lebih dulu sampai dan menusuk cepat otot lengan kanannya. Tusukan itu terjadi beberapa kali dalam ritme yang sangat cepat.


Tusukan itu jelas mengganggu pengerahan ilmu Wulan Kencana di tangan kanan dan membuatnya gagap. Akibatnya, Alma Fatara yang lebih dulu menghantamkan Pukulan Bandar Emas.


Swess! Bluarr!


Sinar kuning menyilaukan mata pun menghantam tubuh Wulan Kencana. Ledakan tenaga dahsyat terjadi sebelum Wulan Kencana menghantamkan kesaktiannya. Seharusnya itu alamat buruk bagi Wulan Kencana.


Tubuh Wulan Kencana terlempar deras ke belakang seperti lemparan batu yang kencang.


Brukr!


Lesatan tubuh orang tua itu bahkan menabrak beberapa tubuh muridnya sehingga terpental seperti pion bowling.


Alma Fatara telah berdiri gagah di tanah meski ia seorang wanita. Ia menunggu hasil dari serangannya yang langsung dahsyat tanpa main-main.


Akhirnya Wulan Kencana berhenti dari terlemparnya. Tanpa disangka oleh Alma sendiri, ternyata Wulan Kencana tubuhnya tidak hancur dan dia bisa berdiri kembali.


“Ini lawan yang berat,” ucap Alma Fatara lirih kepada dirinya sendiri. “Tapi dia pasti terluka parah.”


“Arrgg!” teriak Wulan Kencana murka dengan mulut penuh darah.


Ia berdiri sempoyongan dan memandang buas kepada Alma Fatara.


“Aku tidak akan pernah kalah! Akulah yang tercantik! Akulah yang tersakti! Aku tidak akan pernah kalah! Hahahak …!” teriak Wulan Kencana dengan ekspresi yang mengerikan. Ia lalu tertawa terbahak-bahak.


“Lebih baik kalian semua menjauh agar lebih aman!” seru Alma kepada semua orang yang tidak bertarung.

__ADS_1


Semua orang pun mengindahkan seruan Alma yang bijak. Mereka semua bergerak mundur, termasuk rombongan berkuda Alma.


Kini, Ratu Siluman dan Ketua Perguruan Bulan Emas saling berhadapan jarak jauh tanpa adanya penghalang.


Wulan Kencana mengangkat tangan kanannya lurus ke atas, tetapi terlihat jelas bahwa si nenek mengerenyit menahan sakit. Memang, sudah ada luka yang agak parah pada otot lengan kanannya, yang akan sangat mengganggu jika menyalurkan tenaga sakti di tangan kanan.


“Cuih! Keparat jahanaaam!” teriak Wulan Kencana marah besar.


Ia lalu mengangkat tangan kirinya lurus ke atas. Tangan itu kemudian bersinar putih terang dan pada genggamannya ada sinar putih menyilaukan yang tampak mengerikan. Itu adalah ilmu Surya Putih, seperti ilmu milik Suraya Kencani.


Clap!


Tiba-tiba Wulan Kencana menghilang dari tempatnya. Namun, kecepatan tidak terlihatnya tidak membuat jejak sinar putih menyilaukan di tangannya hilang. Terlalu cepat lesatan sinar putih menyilaukan mendekati Alma Fatara.


Alma Fatara tidak bergeser dari tempatnya berdiri menghadapi kedatangan yang super cepat itu.


Bless! Zing! Bless!


“Akhhr!”


Tahu-tahu sosok Wulan Kencana sudah tiba beberapa depa di depan atas Alma Fatara, yang ternyata juga sudah bertameng dinding sinar ungu.


Wulan Kencana menghantamkan sinar putih menyilaukan di tangan kirinya kepada Alma. Namun, sinar itu terhadang oleh dinding sinar ungu bening yang tebal. Yang terjadi adalah sinar putih menyilaukan itu langsung memantul mengenai tubuh Wulan Kencana.


Seperti seorang menendang bola kaki ke tembok dengan jarak yang sangat dekat, dengan kekuatan yang sangat kuat. Bola itu kemudian memantul balik mengenai wajah penendang bola. Seperti itulah perumpamaannya.


Tak ayal lagi, tubuh Wulan Kencana terlempar melambung dengan darah tersembur banyak dari mulutnya.


Clap!


Tus tus tus …!


“Ak ak ak …!” jerit susulan Wulan Kencana saat dalam satu waktu dadanya ditusuk berulang kali oleh Benang Darah Dewa.


Bugk!


“Hukr!”


Ketika punggung Wulan Kencana menghantam tanah, darah kembali terlompat keluar dari dalam mulutnya. Kini, Wulan Kencana terbaring dengan bagian dada yang bersimbah darah, karena luka tusukan berulang dari Benang Darah Dewa.


“Aku tidak bisa kalah, aku tidak bisa kalah!” ucap Wulan Kencana seperti orang mengigau.


Setelah berkata seperti itu, Wulan Kencana masih bisa bangun dengan gerakan yang pelan.


Soas!


Kali ini, sinar jingga meyilaukan mata yang bercokol di tangan kiri Wulan Kencana. Itu adalah ilmu pamungkas si nenek yang bernama Jingga Berkuasa, ilmu yang mengalahkan Surya Putih milik Suraya Kencani.


“Luar biasa kau, Nek!” puji Alma Fatara.


“Aku tidak akan pernah sudi kalah oleh wanita gila sepertimu!” bentak Wulan Kencana.

__ADS_1


Jarak kedua pemimpin wanita itu tidak begitu jauh.


Bsoss! Zing! Bsoss!


“Akh!” jerit Wulan Kencana dengan tubuh terlempar jauh lalu jatuh di teras gedung utama dengan posisi tengkurap.


“Uhgk!” keluh Alma Fatara dengan tubuh terpental deras pula lalu jatuh berguling-guling di tanah keras.


“Gusti Ratu!” pekik Pasukan Genggam Jagad bersamaan.


Sebelumnya, Wulan Kencana melesatkan sinar jingga menyilaukannya dari jarak yang cukup dekat. Alma kembali menggunakan jasa ilmu perisai Tameng Balas Nyawa. Sinar jingga ilmu Jingga Berkuasa menghantam dinding sinar ungu.


Sinar jingga itu memang dipantulkan kembali menghantam tuannya sendiri. Namun, untuk pertama kali, kekuatan ilmu yang menghantam dinding sinar ungu bisa tembus dan mementalkan Alma Fatara, meski kekuatan yang lolos ke dalam hanya separuhnya saja.


“Guru! Guru! Guruuu!” sebut murid-murid Perguruan Bulan Emas cemas.


“Guru mati atau tidak, sepertinya kita sudah kehilangan guru!” kata Galak Gigi, Ketua Sayap Kiri.


Terdiamlah murid-murid yang mendengar perkataan Galak Gigi.


“Guru masih hidup!” seru seorang murid, saat dia melihat tangan kanan Wulan Kencana bergerak meraih dinding gedung.


Setelah tangan kanannya, kini tangan kiri Wulan Kencana yang bergerak meraih diding.


Sementara di sisi lain, Alma Fatara telah kembali berdiri tanpa cedera.


“Ilmu apa yang dimiliki Wulan Kencana sehingga ia tidak mati-mati?” tanya Balito Duo Lido kepada Rereng Busa.


“Dia memiliki ilmu Raga Abadi, membuatnya sulit mati meski terkena kesaktian apa pun,” jawab Rereng Busa, orang yang paling mengenal kepribadian Wulan Kencana.


Buss!


Alma Fatara melompat naik ke udara lalu melesatkan ilmu tinjunya. Satu sinar ungu berpijar melesat cepat ke arah Wulan Kencana yang sedang bergerak pelan untuk bangkit kembali.


Clap! Bluarrr!


Tiba-tiba saja, tubuh Wulan Kencana lenyap begitu saja, membuat sinar ungu berpijar menghancurkan sisi bawah dinding bangunan dengan dahsyat. Dinding depan gedung pun hancur dan menciptakan lubang besar.


Namun, setelah serangan gagal itu, tidak terlihat Wulan Kencana muncul.


Mereka semua pun mencari keberadaan Wulan Kencana.


“Tidak usah dicari, dia sudah pergi!” seru Balito Dua Lido yang melihat kelebatan Wulan Kencana pergi meninggalkan tempat itu.


“Aku Ratu Siluman, dan pasukanku Pasukan Genggam Jagad, mengambil alih perguruan ini!” teriak Alma Fatara kepada seluruh murid Perguruan Bulan Emas.


Maka, terkejutlah semua murid Perguruan Bulan Emas. (RH)


 


__ADS_1


 


YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.


__ADS_2