Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mis Tegel 20: Pelumpuhan Singkat


__ADS_3

*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*


 


“Serang!” teriak keempat guru tongkat bersamaan memerintahkan murid-muridnya.


“Seraaang!” teriak para murid tongkat ramai-ramai sambil maju menyerang bersama.


Alma Fatara hanya tertawa melihat serbuan kedua puluh sembilan pendekar tongkat itu. Sikap yang benar-benar meremehkan.


“Majulah jika ingin mati!” teriak Cucum Mili sambil melompat tinggi naik ke udara dengan kesepuluh jari tangan menjepit delapan butir kelereng.


Set set set …! Blar blar blar …!


Tidak tanggung-tanggung perlawanan yang diberikan oleh Ratu Kepiting alias Putri Angin Merah. Wanita bercadar merah itu melesatkan ke delapan kelerengnya ke delapan titik berbeda.


Delapan ledakan tanah terjadi beruntun sebelum serbuan itu mencapai Alma Fatara. Seketika itu juga belasan pendekar bertongkat berpentalan dan langsung berkaparan menahan sakit pada lukanya. Cucum Mili sengaja tidak menargetkan langsung kepada tubuh lawan demi menghindari kematian langsung. Jika pun nanti memang ada yang mati, berarti mereka belum beruntung.


Sementara Tampang Garang bekerja seperti mesin melakukan pemanahan berulang dalam ritme cepat.


Set set set …!


“Akk! Akk! Akk …!” jerit-jerit para pendekar tongkat yang terkena panah Tampang Garang.


Sebanyak sepuluh anak panah yang Tampang Garang miliki, tidak ada satu pun yang tidak dapat jatah. Tampang Garang kali ini bertindak welas asih, semua panahnya dia bidikkan ke paha dan betis lawan, tidak mengincar organ vital yang bisa membunuh.


“Gadis-gadis cantik, seraaang!” teriak Anjengan yang memimpin keempat wanita rekannya.


Kelima wanita itu tiba-tiba muncul dari arah belakang dan menyerang kelompok musuh yang tersisa tinggal delapan orang.


Buk!


Anjengan langsung disambut dengan gebukan tongkat putih. Namun, Anjengan seolah kebal dan tidak menunjukkan kesakitan apalagi terluka, membuat lawannya mendelik.


“Aku cekik mati kau!” teriak Anjengan murka lalu melesat cepat menabrak peluk lawannya. Beruntung lawan Anjengan juga wanita yang bisa dengan bebas ia cekik dengan ketiak berlemaknya.


Buk buk buk!


Gagap Ayu main jarak jauh, tapi bukan online. Ia kirimkan Tinju Karang Baja menghajar lawannya.


Sementara Penombak Manis memainkan tombak ikannya yang berukuran lebih kecil dibandingkan tongkat lawan. Namun, jika masih satu lawan satu, Penombak Manis masih bisa unggul. Terlebih senjatanya memiliki bagian tajam dan runcing sehingga lebih unggul dalam melukai lawan.

__ADS_1


Sementara itu, Alis Gaib mengamuk. Ia membacoki tongkat lawan sampai terluka, maksudnya tongkatnya yang terluka. Meski kondisinya belum fit dari luka, tetapi Alis Gaib menunjukkan totalitasnya sebagai anggota baru Ratu Dewi Dua Gigi.


Berbeda dengan Kembang Bulan. Dia ramai berteriak-teriak.


“Awas dari belakang! Jangan lepaskan, Anjengan! Serang kakinya, Manis! Bacok terus, Alis!” teriak Kembang Bulan tanpa turun bertarung. Dia ramai dan sibuk sendiri.


Adapun pendekar lebihnya, diurus oleh Cucum Mili yang dengan mudah melumpuhkan mereka.


Keempat guru tongkat hanya bisa terperangah melihat murid-murid mereka dihajar sampai habis dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, meski tidak dibuat mati.


Alma Fatara tiba-tiba berkelebat pergi meninggalkan kedai makan itu.


“Kejar!” seru Ki Rusuh lalu cepat berkelebat berlari di udara mengejar Alma Fatara.


Ketiga guru tongkat lainnya cepat mengikuti tindakan Ki Rusuh. Mereka tidak lagi mempedulikan murid-murid yang terkapar, karena pusaka yang mereka incar ada pada Alma Fatara.


Warga yang telah memusatkan perhatiannya kepada pertarungan di depan kedai makan, segera berhamburan menjauh ketika Alma Fatara datang hendak melewati mereka.


Dua tiga kali tolakan di tanah berbecek, tubuh Alma Fatara yang terbang seperti capung di atas rawa, akhirnya tiba di lantai panggung arena yang masih basah oleh air hujan.


“Bawa gadis itu sampai urusan mereka semua selesai!” perintah Alma Fatara kepada ular Mbah Hitam yang menunggu bersama sanderanya di tengah panggung.


“Baik, Gusti Ratu,” ucap Mbah Hitam patuh. Ia lalu merayap pergi dengan cepat.


Keempat guru tongkat datang mendarat pula di lantai panggung arena. Mereka langsung mengurung posisi Alma Fatara. Tatapan keempatnya begitu tajam kepada Alma, karena bernafsu ingin merebut Bola Hitam dan juga tegang karena belum tahu sejauh mana kesaktian wanita muda belia itu.


Jika semuda itu saja Alma sudah berstatus Ratu Siluman, kemungkinan besar kesaktiannya tidak bisa diukur. Seperti itulah kira-kira penilaian keempat guru tongkat. Karenanya, wajar jika mereka tegang berhadapan dengan Alma Fatara yang tampil sederhana dengan kehitamannya yang basah.


Adipati Dodo Ladoyo yang masih memendam kemarahan, memilih untuk menyaksikan pertarungan itu dari atas tribun yang kosong. Di sana dia duduk dikawal oleh Komandan Gegap Rawu dan beberapa prajurit. Ia sudah memerintahkan Agung Rupo untuk memenuhi tuntutan Alma Fatara demi keamanan nyawa Kinai, putrinya yang disandera oleh Mbah Hitam.


“Siapa yang mau bertaruh untuk kemenanganku?!” teriak Alma Fatara kepada khalayak umum tiba-tiba.


Para warga Ibu Kota jadi terkejut mendengar seruan Alma dan mereka saling pandang, seolah minta pendapat sesama rekan judinya.


“Aku Alma Fatara, Ratu Siluman Ikan! Aku Ratu Dewi Dua Gigi, akan bertarung melawan empat tetua guru tongkat. Siapa yang bertaruh untuk kemenanganku, kalian akan menang!” seru Alma lagi.


“Aku bertaruh sekantung kepeng untuk kemenangan Ratu Siluman Ikan yang sangat cantik dan sakti!” teriak si anak pejabat kepada teman-temannya.


“Aaah, tidak mungkin. Perempuan itu bau kencur. Secara akal, para guru lebih banyak ilmunya dan lebih tinggi kesaktiannya!” bantah rekannya yang juga berpakaian bagus. “Aku bertaruh dua kantung kepeng untuk para guru!”


“Aku juga untuk para guru!” kata yang lain.

__ADS_1


“Pasti, untuk kemenangan para guru tongkat!”


“Para guru!”


“Guru-guru pasti menang!”


“Kau yakin tetap bertaruh untuk gadis ingusan itu, Geranda?” tanya petaruh lain kepada anak pejabat kadipaten bernama Geranda.


“Ya, aku yakin. Jika semua memilih keempat guru tongkat, bukan bertaruh namanya!” kata Geranda, tetap yakin memilih bertaruh untuk kemenangan Alma.


Ternyata, bukan hanya mereka yang memutuskan memasang taruhan untuk pertarungan tingkat tinggi yang akan terjadi, di sisi lain para warga yang punya jiwa judi juga memasang taruhan melawan rekan-rekannya.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara melihat antusias penonton yang jiwa judinya tinggi, meski yang bertaruh untuk kemenangannya hanya dua hingga tiga orang saja, lebih banyak yang bertaruh untuk kemenangan para guru.


“Ratu cantik itu ompong! Hahaha!” teriak seorang penonton sambil menunjuk Alma Fatara.


“Hahahak …!” Meledaklah tawa para penonton melihat fakta bahwa wanita cantik jelita yang mengaku ratu itu ternyata ompong gigi depan atasnya.


Alma Fatara justru kian tertawa mengikuti tawa para penonton, seolah sama-sama lucu.


Alma Fatara lalu beralih kepada para guru tongkat yang belum sempat diajaknya bicara secara serius.


“Apakah Kakek berempat sama-sama menginginkan Bola Hitam?” tanya Alma.


“Benar!” jawab mereka kompak.


“Hahaha! Jika kalian berhasil merebut Bola Hitam, itu sama saja bunuh diri. Mana mungkin Bola Hitam dibagi-bagi?” kata Alma Fatara yang membuat keempat orang tua itu hanya terdiam, mempertahankan sikapnya.


Alma Fatara lalu beralih kepada Pengemis Tongkat Celaka.


“Kek, apakah kau melawanku untuk merebut Bola Hitam atau membalas kematian Pangemis Batok Bolong?” tanya Alma.


“Tentu aku bermaksud membalas kematian sahabatku!” jawab Pengemis Tongkat Celaka demi menjaga gengsinya.


“Jika begitu, menyingkirlah lebih dulu, biarkan aku membuat ketiga guru serakah ini bungkam!” kata Alma Fatara.


Mendelik mata tua Pengemis Tongkat Celaka mendengar anjuran Alma.


“Tidak tidak tidak! Aku juga menginginkan Bola Hitam!” ralat Pengemis Tongkat Celaka.


“Hahahak!” tawa Alma mendengar perkataan itu. “Berarti tidak usah kau bawa-bawa balas dendam pada kesempatan hari ini. Intinya kalian berempat adalah orang tua-orang tua yang serakah.”

__ADS_1


“Haaah! Jangan banyak sesumbar, Anak Kencur!” teriak Dempak Debar kesal.


“Tenang, Kek. Izinkan aku sombong sejenak. Karena kalian mengincar Bola Hitam, maka aku berbaik hati untuk tidak membuat kalian malu dengan pusaka itu. Aku akan menunjukkan kelayakanku memiliki Bola Hitam. Aku akan melumpuhkan kalian berempat dengan kesaktianku sendiri tanpa bantuan Bola Hitam,” ujar Alma. Lalu teriaknya keras, “Bersiaplah, Kakek-Kakek!” (RH)


__ADS_2