Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
DEKET 42: Ratu Siluman Tiba


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*  


Semua anggota Keluarga Tengkorak yang hadir di kediaman Tengkorak Sabit Putih agak dilanda ketegangan, seolah yang akan datang adalah musuh yang begitu hebat.


Mereka semua sudah merasakan aura pusaka tersohor di dunia persilatan ujung timur Tanah Jawi, yaitu Bola Hitam warisan Raja Tanpa Tahta.


Drap drap drap …!


Tidak berapa lama, mereka samar-samar sudah mendengar suara derap kaki kuda yang berlari sedang. Setelah itu, dari ujung jalan yang tergelar beberapa tombak di depan rumah, muncul rombongan berkuda lebih dari dua puluh ekor.


“Itu mereka,” ucap Tengkorak Sabit Putih dengan tatapan tajam. Ada sedikit debar jantung yang ritmenya agak bertambah cepat di dalam dadanya.


Mereka melihat bendera hitam bergambar laba-laba besar di dalam kegelapan. Ada pula dua panji pasukan, yakni panji Pasukan Sayap Panah Pelangi dan Pasukan Sayap Laba-Laba.


“Yang mana Ratu Siluman?” tanya Tengkorak Tongkat Kepang.


“Terlalu banyak wanita cantiknya,” ucap Tengkorak Burung Putih.


“Wanita cantik sedap, wanita cantik sedap!” kicau Bocor, burung kakaktua putih si kakek.


“Sebenarnya kau burung jantan atau betina, Bocor? Kau mengerti saja rasa wanita cantik,” tanya Tengkorak Burung Putih.


“Bocor burung jantan, jantan yang bertelur!” jawab Bocor.


“Hahaha!” tawa Tengkorak Pengendali Sukma mendengar Bocor.


Ketika para pendekar sepuh itu menunggu sampainya Pasukan Genggam Jagad sampai di depan mereka, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh teriakan bertenaga Panglima Besar Anjengan.


“Pasukaaan, siapa kita?!” teriak Anjengan.


“Pasukan Genggam Jagad!” teriak seluruh orang di dalam rombongan berkuda, kecuali Tenggak Telaga, Jenggot Sejenggut dan Kumis Kalong.


“Hua hua hua!” teriak Anjengan lagi.


“Hua hua hua!”


“Wik wik wik wik wik!”


“Wik wik wik wik wik!”


Terkesiap para orang tua itu mendengar yel-yel Pasukan Genggam Jagad. Mereka terkejut bukan karena gentar, tapi lebih kepada tidak menyangka.


Namun, giliran Pasukan Genggam Jagad yang dibuat terkejut oleh tindakan Tengkorak Ratu Maut.


Ketika kuda terdepan sudah mulai mendekati halaman rumah Tengkorak Sabit Putih, tiba-tiba Tengkorak Ratu Maut melompat ke depan sambil mengibaskan kepala tongkatnya nyaris menyentuh tanah.

__ADS_1


Bress!


Tiba-tiba garis api yang panjang muncul menghadang di depan kaki kuda Gede Angin, Penombak Manis dan Tenggak Telaga. Kobaran apinya tinggi hingga sedada orang dewasa. Kemunculan garis api yang menutup jalan bagi Pasukan Genggam Jagad, membuat tiga kuda terdepan panik karena langsung merasakan hawa panas.


Api itu pun menjadi penerang alam yang mulai gelap.


“Mundur! Mundur!” teriak Gede Angin sambil berusaha menenangkan kudanya.


Maksud Gede Angin adalah mundur sedikit agar kuda mereka bertiga bisa mundur menjauhi api. Asap api membuat Alma Fatara dan pasukannya melihat keberadaan Keluarga Tengkorak jadi berbayang samar.


“Tengkorak Sabit Putih!” teriak Tenggak Telaga tiba-tiba yang membuat Tengkorak Sabit Putih mendelik sangar. “Bebaskan ibu dan adikku!”


“Keparat celeng! Kenapa Tenggak Telaga bergabung bersama pasukan Ratu Siluman?” rutuk Tengkorak Sabit Putih.


“Ayahku sudah mati, sekarang bebaskan ibu dan adikku!” teriak Tenggak Telaga lagi.


Cukup terkejut para Tengkorak yang lain mendengar bahwa Tengkorak Sabit Putih ada menyandera orang.


“Mati saja kau, Bocah!” desis Tengkorak Sabit Putih sambil menusukkan dua jari tangan kanannya.


Suuut!


Dari ujung dua jari itu melesat segumpal tenaga tanpa warna melewati pagar asap dan menargetkan Tenggak Telaga di atas kudanya.


Penombak Manis yang memiliki penglihatan khusus, cepat bertindak dengan melesatkan tombaknya tepat ke depan tubuh Tenggak Telaga. Tindakan Penombak Manis itu mengejutkan rekan-rekannya, tetapi kemudian tombak itu terpental kencang saat ujungnya dihantam oleh gumpalan tenaga kiriman Tengkorak Sabit Putih.


Tsek!


Tombak Penombak Manis terpental kencang dan menancap di tanah samping.


Alangkah terkejutnya Tenggak Telaga mengetahui apa yang terjadi sangat dekat di depan matanya. Ia langsung menengok memandang Penombak Manis dengan napas tersengal karena syok. Ia nyaris saja mati. Penombak Manis hanya memberi senyum secuil kepada pemuda yang lebih tampan dari suaminya itu.


“Rupanya ada pendekar muda hebat juga dalam pasukan itu,” ucap Tengkorak Sabit Putih.


“Tidak ada orang yang boleh melewati garis api itu, kecuali Ratu Siluman!” seru Tengkorak Ratu Maut kepada pasukan tersebut.


“Hahaha!”


Seruan Tengkorak Ratu Maut itu dibalas dengan tawa perempuan, tapi bergaya bapak-bapak.


“Wahai para tetua dari Keluarga Tengkorak, Ratu Siluman tidak akan datang ke sana jika keluarga Bandar Bumi yang disandera tidak dibebaskan!” teriak Anjengan atas perintah Alma Fatara.


“Beraninya kau tawar-menawar denganku, Ratu Siluman!” teriak Tengkorak Sabit Putih marah.


“Hahahak!” tawa Alma Fatara mendengar kemarahan Tengkorak Sabit Putih.

__ADS_1


“Beraninya kau tawar-menawar dengan Ratu Siluman, Tua Bangkot!” balas Anjengan. Untuk yang ini, Anjengan tidak mendapat arahan dari Alma Fatara.


Namun, Alma Fatara tetap tertawa mendengar kegalakan kakak angkatnya.


“Ratu Siluman, jika kau tidak datang ke sini, kami yang akan menyerang ke sana!” seru Tengkorak Sabit Putih.


“Coba saja jika berani!” teriak Anjengan menantang. Lalu teriaknya lantang, “Pasukan Sayap Panah Pelangi!”


“Siap!” pekik kesepuluh wanita personel Pasukan Sayap Panah Pelangi serentak.


Semua personel Pasukan Sayap Panah Pelangi sebenarnya sudah kehabisan anak panah saat bertempur melawan Pasukan Pedang Biru dan pasukan mayat. Namun, kali ini mereka tetap bergerak serentak pasang busur dan menarik senar tanpa memasang anak panah.


Ketika senar-senar busur sudah ditarik dengan maksimal, pada busur itu muncul anak panah sinar merah, tetapi tidak langsung dilepas. Tampang Garang pun menarik senar busurnya. Beberapa anak panah sinar putih muncul di busurnya yang siap lepas.


“Jangan gegabah Sabit Putih. Kesaktian kita memang lebih tinggi dari mereka, tetapi mereka berjumlah banyak. Lihat saja pasukan panahnya, bukan pasukan panah biasa,” kata Tengkorak Burung Putih.


“Aku baru tahu jika kau yang terkenal sakti, tapi main sandera-menyandera,” kata Tengkorak Tongkat Kepang.


“Itu bukan urusanmu, Kepang!” sentak Tengkorak Sabit Putih kepada nenek berkepang itu.


“Ratu Siluman dan Bola Hitam sudah datang ke depan mata, jangan sampai karena hal yang tidak perlu kalian membuang kesempatan,” kata Tengkorak Pengendali Sukma.


Tengkorak Sabit Putih lalu berseru kembali kepada pasukan berkuda di seberang garis api yang tidak padam-padam.


“Aku akan membebaskan istri dan anak Bandar Bumi jika Ratu Siluman berani datang ke hadapan kami!”


“Hahaha!” tawa Alma Fatara. Lalu serunya pula, “Baik. Aku pegang kata-katamu, Kek!”


Alma Fatara lalu memanggil Anjengan dan Cucum Mili agar mendekatkan kudanya.


“Kalian jangan ada yang ikut campur. Ini adalah pertarunganku. Jika aku mati, bawa jasadku kembali ke kediaman Guru. Kakak Cucum, jika aku mati, lanjutkan Kerajaan Silluman,” kata Alma Fatara memberi wasiat.


“Tapi, Alma. Kami sudah berjanji setia kepadamu, maka itu kami pun siap mati untukmu!” desis Cucum Mili.


“Aku tahu. Kalian lihat, di sana ada tujuh anggota Keluarga Tengkorak berkesaktian seperti Tengkorak Pedang Siluman. Patuhi perintahku jika kalian memang telah mengabdi setia kepadaku,” tandas Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu!” ucap Cucum Mili dan Anjengan patuh.


“Hea hea hea!” gebah Alma Fatara memacu kudanya dengan kencang.


Mendengar suara lari kuda yang kencang, semua anggota Keluarga Tenggkorak berdiri menunggu. Aura Bola Hitam semakin jelas mereka rasakan, membuktikan bahwa yang datang adalah Ratu Siluman.


Pada akhirnya, sesosok kuda muncul melompati kobaran api bersama penunggangnya yang cantik jelita dengan kesegarannya yang masih belia.


Gaya Alma Fatara yang seperti satria berkuda, sejenak membuat kaum keriput itu terpukau. (RH)

__ADS_1


__ADS_2