Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
DEKET 27: Pasukan Mayat


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)* 


 


“Aku harus menyelamatkan diri, Pasukan Pedang Biru sudah berakhir,” pikir Alis Biru yang melihat pasukannya dengan cepat bertumbangan. Pasukan Genggam Jagad terlalu kuat bagi pasukannya.


Alis Biru segera berbalik lalu berkelebat pergi meninggalkan pasukannya, padahal bertarung pun belum dia lakukan.


Sleet!


“Aaak!” jerit Alis Biru saat tiba-tiba ada sekelebatan bayangan hitam melintas dan menyambar lilit tubuhnya.


Ternyata bayangan panjang itu adalah seekor ular besar berwarna hitam yang tidak lain adalah Mbah Hitam. Seperti memeluk orang yang sangat dicintainya, Mbah Hitam melilit Alis Biru dengan kuat sekali, seakan-akan tidak mau melepaskannya sampai mati.


Pada akhirnya, Pasukan Pedang Biru telah dipadamkan. Sebagian besar mereka gugur dalam pertempuran tidak seimbang tersebut. Banyak pula yang terluka dan sudah tidak bisa melanjutkan pertarungan.


Sementara itu, nasib Dua Tengkorak Putih yang sebelumnya tampil dengan kepercayaan diri tinggi, masih terbilang mujur. Mereka dilarang untuk dibunuh.


Juling Jitu memberi obat penawar kepada Tengkorak Telur Bebek yang terkena dua keris mini.


“Semua sudah teratasi, Gusti Ratu!” lapor Panglima Besar Anjengan.


“Geledah semua mayat dan mereka yang terluka, sita semua harta benda mereka!” perintah Alma Fatara.


“Termasuk pedang mereka?” tanya Anjengan. Ia berpikir, jika semua pedang dikumpulkan, itu akan berat dan cukup susah membawanya.


“Iya. Kumpulkan, itu bisa dijual atau digunakan oleh pasukan kita,” tandas Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu,” ucap Anjengan patuh.


Maka, Anjengan memerintahkan pasukannya untuk mengambil semua harta rampasan pasukan musuh, termasuk harta milik Dua Tengkorak Putih. Selain memiliki pedang, ternyata anggota Pasukan Pedang Biru juga memiliki uang jajan sekepeng dua kepeng, bahkan ada yang memiliki perhiasan emas di balik pakaian. Bahkan Tengkorak Telur Bebek yang sudah tidak memiliki telur, keranjang telurnya pun disita.


Geranda menjadi sangat sibuk dengan catatannya mendata barang-barang rampasan mereka.


Ketika Alma Fatara dan para panglimanya menunggu pasukan selesai mengumpulkan harta rampasan, tiba-tiba angin bertiup agak kencang menerpa area pertempuran yang penuh mayat itu.


“Angin bertiup aneh, Gusti Ratu,” ujar Cucum Mili sambil memandang alam sekitar. Sebagai ketua kelompok bajak laut, dia sangat sering mengamati tiupan angin.


“Aku juga bisa merasakan keanehannya,” kata Alma Fatara.


“Apanya yang aneh?” tanya Ineng Santi tidak paham.


“Angin tiba-tiba bertiup kencang hanya di sekitar tempat ini. Coba lihat pepohonan di atas bukit, tidak begitu kencang,” jelas Cucum Mili. “Rasa anginnya juga berbeda.”

__ADS_1


Ineng Santi pun memperhatikan kondisi alam. Rambut dan kain pakaian mereka berkibar. Dedaunan yang telah gugur terlihat beterbangan rendah.


Sementara personel Pasukan Genggam Jagad yang sedang sibuk mengenali kuda-kudanya dan mengumpulkan harta rampasan, mereka tidak menyadari adanya perubahan kondisi alam.


Juling Jitu menjambak kain penutup wajah salah satu mayat anggota Pasukan Pedang Biru.


Blet!


“Hahahak …!” tawa terbahak Juling Jitu saat melihat wajah di balik topeng kain yang dibukanya.


Wajah mayat itu ternyata bergigi terlalu tonggos. Di lehernya ada seuntai kalung berantai tipis.


“Jitu, kenapa kau tertawa sekeras itu?” tanya Kolong Wowo yang terkejut mendengar kerasnya tawa Juling Jitu.


“Hahaha! Giginya!” jawab Juling Jitu sambil tertawa dan menunjuk wajah si mayat.


Kolong Wowo lalu mendekati Juling Jitu dan turut melihat wajah si mayat.


“Hahahak!” tawa Kolong Wowo pula pada akhirnya. “Awas, nanti kau digigitnya! Hahaha!”


“Seandainya saja giginya terbuat dari emas, aku rontokkan sekalian. Hahaha!” tawa Juling Jitu sambil mengulurkan tangannya meraih kalung emas di leher.


Namun, sepasang mata mayat yang tanpa sinar kehidupan itu tiba-tiba bergerak melirik, lalu balik lagi ke tengah.


Tap!


“Aaak!” jerit Juling Jitu kian keras saat tiba-tiba tangan kiri mayat itu memegang pergelangan tangannya yang mencoba menarik kalung.


“Arrg!” raung mayat itu sambil mencoba menggigit tangan Juling Jitu dengan gigi-gigi tonggosnya.


“Mayat setan!” maki Juling Jitu sambil cepat menendang wajah mayat itu, sehingga tangannya gagal digigit.


Juling Jitu sudah berhasil menarik putus kalung si mayat, tetapi tangannya tetap dicekal dengan kuat.


“Lepaskan tanganku, Mayat Jelek!” teriak Juling Jitu sambil adu tarik dengan mayat yang kembali hidup lagi itu.


Cras!


Tiba-tiba Kolong Wowo menebas tangan mayat dengan pedang yang dipungutnya. Tangan Juling Jitu pun lepas dari tarikan, tetapi potongan tangan mayat masih mencekal di tangannya.


“Aaark!” raung si mayat sambil bergerak bangkit seperti orang sehat wal afiat.


“Mayatnya hidup lagi!” pekik Juling Jitu.

__ADS_1


Sekilas Juling Jitu dan Kolong Wowo melihat ke sekitar. Mereka kian terkejut karena melihat sejumlah mayat telah bergerak bangkit.


“Mayatnya hidup lagi!” teriak pendekar lain di titik yang lain.


“Kurang ajar, mayat genit!” maki pendekar wanita yang tanpa sengaja tercolek oleh gerakan si mayat yang tiba-tiba hidup.


“Mayat-mayatnya ada yang menghidupkan!” teriak yang lain.


Kegaduhan tercipta di kubu Pasukan Genggam Jagad. Mereka segera menjauhi mayat-mayat tersebut.


Keterkejutan tidak hanya melanda Pasukan Genggam Jagad, tapi juga anggota Pasukan Pedang Biru yang belum mati. Namun, mereka tidak semujur mayat-mayat itu, mereka tetap dalam kondisi terluka parah.


“Kurang ajar, rupanya ini siasat licik Bandar Bumi membiarkan Pasukan Pedang Biru bunuh diri!” geram Tengkorak Bayang Putih yang memahami mengapa Pasukan Pedang Biru nekat menyerang pasukan yang lebih kuat.


Pemuda botak itu memilih menyeret tubuhnya untuk menepi ke bawah sebatang pohon.


“Pasukaaan, bertarung kembaliii!” teriak Panglima Besar Anjengan sambil menghunuskan pedangnya ke udara tinggi-tinggi.


“Pasukan Sayap Laba-Laba, beri rasa sakit kematian kepada mereka untuk kedua kalinya. Biar mereka tahu, mati itu sakit! Hiaaat!” teriak Panglima Arung Seto lantang, lalu dia berkelebat mendatangi satu mayat hidup dan langsung menusukkan pedangnya ke perut lawan.


Tseb!


Mayat hidup itu tersentak, lalu tersentak lagi ketika Arung Seto mencabut pedangnya.


“Arrgk!” raung si mayat hidup sambil kedua tangannya cepat mencekik leher pemuda tampan itu.


“Akk!” pekik Arung Seto. Cekikan si mayat begitu kuat.


“Pasukan Sayap Pelangi, beri mayat-mayat itu ciuman terakhir!” teriak Panglima Nining Pelangi pula.


Para pendekar wanita pun kembali terjun bertarung. Mereka yang sudah duduk di atas kudanya masing-masing, kembali turun ke medan laga.


Bagian trio gendut yang kembali kelabakan untuk mengamankan kuda-kuda mereka agar tidak sawan lantaran bertemu banyak mayat hidup.


Zerzz!


Arung Seto cepat menyetrum mayat itu dengan ilmu listriknya. Mayat tersebut berkelojotan dalam posisi berdiri. Cekikannya pada leher Arung Seto lepas dengan sendirinya.


Namun, ketika Arung Seto melepaskan sentuhannya pada si mayat, mayat itu kembali bergerak liar dan menyerang.


Mayat-mayat itu bergerak kaku dan cenderung lebih lambat dari gerakan manusia hidup, sehingga muda untuk diserang kembali dan dihindari serangannya.


Namun, pukulan dan tendangan bertenaga dalam tinggi, sabetan dan tusukan pedang yang melukai, tidak bisa membunuh mayat-mayat itu untuk kedua kalinya. Bahkan hingga tubuh mereka berputusan oleh pedang, mereka masih bisa bergerak dan mendatangi lawannya. (RH)

__ADS_1


__ADS_2