Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Dewa Gi 13: Penguasa Bukit Tujuh Kepala


__ADS_3

*Dendam Wanita Gila (Dewa Gi)*


 


Sudah ada empat lelaki tua yang duduk di kursi-kursi kayu yang ditata dalam format melingkar. Ada delapan kursi yang tersedia sesuai dengan jumlah maksimal yang diharapkan akan datang.


Kakek botak yang tidak lain adalah Jerat Gluduk, menjadi tuan rumah. Kakek kedua yang sudah hadir yaitu Hantu Tiga Anak.


Kakek ketiga bertubuh gagah dengan pakaian berwarna merah terang bercampur warna hijau gelap. Di kedua lenganya tersemat senjata logam bergagang seperti pisau sepanjang lengan. Kakek berhidung besar, berkumis dan berjenggot hitam itu bernama Perkasa Rengkah, Ketua Perguruan Amuk Bumi di Bukit Satu.


Kakek keempat bertubuh setengah bungkuk dengan rambut putih yang digelung rapi di atas kepala. Ia mengenakan jubah kuning lusuh dan bertongkat lancip pada bagian bawahnya yang bisa menusuk apa saja. Dia bernama Lelaki Tombak Petir, ketua dari Kelompok Tombak Petir.


Clap!


Tiba-tiba seorang kakek gondrong berambut putih, bertubuh jangkung dengan pakaian serba hitam, muncul begitu saja di tengah-tengah mereka. Hal itu menunjukkan level kesaktiannya setinggi apa. Kakek berjenggot tanpa kumis itu bernama Galah Larut. Dia adalah guru dan ketua di Perguruan Kaki Bayangan di Bukit Tujuh.


“Selamat datang, Galah Larut. Duduklah!” sapa Jerat Gluduk.


“Sepertinya ada perkara yang terlalu penting sampai kau mengumpulkan kami semua, Jerat?” kata Galah Larut dengan wajah dingin.


“Aku sudah curiga, tetapi dia belum mau menjawab,” timpal Perkasa Rengkah dengan tatapan sinis.


“Hahaha! Ada apa ini ramai-ramai?” tawa dan tanya seseorang yang tidak terlihat. Sauaranya jelas adalah kakek-kakek, tetapi wujudnya tidak tampak.


Wusss!


Tiba-tiba segelombang angin kencang bertiup yang menerbangkan debu dan dedaunan kering di area sekitar.


“Kalau datang selalu membuat berantakan!” gerutu Lelaki Tombak Petir yang sudah tahu siapa yang akan muncul.


“Hahaha!”


Dari kejauhan muncul seorang kakek berjubah hijau mengilap sambil tertawa santai berkepanjangan. Kakek berambut putih pendek itu memelihara kumis dan jenggot putih pendek yang melingkari bibir hitamnya. Dia adalah pemimpin kelompok Pemanah Ujung Pelangi yang menguasai Bukit Enam. Namanya Kebo Pute.


“Hahaha! Sudah berapa lama kita tidak pernah berkumpul?” tanya Kebo Pute yang tidak membutuhkan jawaban. “Apakah aku orang terakhir yang tiba?”


“Kita tunggu Silang Kanga,” kata Jerat Gluduk.


“Kenapa Silang Kanga?” tanya Perkasa Rengkah.


“Karena pertemuan ini menyangkut dosa masa lalu kita,” jelas Jerat Gluduk.


“Omonganmu tidak mengenakkan, Botak,” kata Hantu Tiga Anak.


Kebo Pute sudah tiba di antara mereka dan langsung duduk di kursi. Kini ada enam kakek yang berkumpul, tapi mereka bukan bermaksud membentuk “komunitas kakek-kakek paling dicari nenek-nenek”.


Semuanya sudah duduk di kursi.

__ADS_1


“Lebih baik tidak usah menunggu Silang Kanga. Dia itu sedang terluka dalam!” kata satu suara nenek-nenek tiba-tiba.


Mereka semua terkejut ketika melihat ke arah teras rumah Jerat Gluduk, kecuali Jerat Gluduk sendiri.


“Setahuku istrimu tidak setua itu, Jerat,” kata Perkasa Rengkah.


“Dia memang bukan istriku,” kata Jerat Gluduk.


“Lalu siapa dia?” tanya Perkasa Rengkah.


“Aku adalah perempuan yang sangat kau benci, Perkasa!” bentak si nenek yang adalah Wulan Kencana. Dia berjalan mendatangi para lelaki tua itu.


Terkejut Perkasa Rengkah dibentak seperti itu. Rasa terkejutnya sampai ke dalam hati.


“Perempuan yang sangat aku benci adalah Wulan Kencana. Apakah dia …,” ucap Perkasa Rengkah dalam hati.


“Kau mirip dengan Wulan Kencana,” tegur Galah Larut setelah si nenek tiba di antara mereka.


“Tertawalah kalian sepuasnya!” teriak Wulan Kencana dengan wajah marah.


“Hahaha …!” Hanya Kebo Pute yang tertawa terbahak menertawakan Wulan Kencana. “Kesialan apa yang menimpamu, Wulan? Kau dikutuk oleh siapa?”


“Diam kau, Kebo!” bentak Wulan Kencana marah.


“Pasti kau yang punya ide mengumpulkan kami semua, Wulan?” terka Lelaki Tombak Petir.


“Apakah kau tidak mengundang Setan Gagah?” tanya Hantu Tiga Anak.


“Tidak, karena dia tidak memiliki dosa telah memperkosa Suraya Kencani,” kata Wulan Kencana.


“Apa?!” pekik terkejut sebagian dari kakek-kakek itu.


“Bukankah Suraya Kencani sudah gila dan kesaktiannya sudah lumpuh?” tanya Hantu Tiga Anak.


“Benar. Adikku itu masih gila, tapi kesaktiannya telah kembali. Silang Kanga adalah korban pertamanya. Jika tidak aku tolong, mungkin Silang Kanga sudah mati. Aku hanya ingin mengingatkan kalian, Suraya Kencani mungkin akan memburu kalian,” kata Wulan Kencana.


Hari ini, Wulan Kencana bisa bicara lebih terkendali dibandingkan dua hari lalu.


“Aku tidak khawatir, aku bukan lagi lelaki yang dua puluh tahun lalu. Kesaktianku sudah bisa diandalkan!” koar Perkasa Rengkah.


“Jika demikian, aku tidak akan membahas perkara dosa kita terhadap Suraya Kencani. Aku ingin memberi tahu kalian satu kabar besar, yang akan membuat kalian berhenti tertarik untuk mendapatkan Kipas Raja Dunia ….”


“Tunggu, Wulan!” potong Kebo Pute. “Jika kabar itu lebih berharga dari mendapatkan Kipas Raja Dunia, kenapa kau sudi memberitahukan kepada kami?”


“Benar. Apakah kau bermaksud menjebak kami?” tukas Perkasa Rengkah.


“Sebutlah seperti itu,” kata Wulan Kencana, kali ini dia tidak marah. “Tentunya kalian sudah tahu bahwa bukan aku lagi penguasa Perguruan Bulan Emas. Aku telah dikalahkan oleh Ratu Siluman tidak jelas itu. Kemarin, kalian semua pasti telah mendapat undangan dari Ratu Siluman. Jadi aku meminta bantuan kalian untuk membunuh Ratu Siluman di saat pesta itu.”

__ADS_1


“Tidak. Aku tidak memiliki permusuhan dengan Ratu Siluman itu. Kau saja dibuat seperti ini olehnya, apalagai kami,” kata Galah Larut.


“Benar. Itu adalah urusanmu sendiri, tidak usah bawa-bawa kami!” tandas Perkasa Rengkah dengan tatapan sinis.


“Baiklah, hanya yang mau bersekutu denganku yang berkesempatan mendapatkan Bola Hitam,” kata Wulan Kencana.


“Bola Hitam?!” sebut para kakek itu serentak, termasuk Jerat Gluduk yang juga baru mendengar hal itu.


“Ratu Siluman itu memiliki Bola Hitam. Itulah sebabnya aku bisa kalah dari perempuan gila itu. Aku saat ini masih memendam luka dan aku tidak mungkin muncul di pesta Perguruan Bulan Emas. Namun, jika kalian semua bersikap tolol, aku akan memakai cara lain,” kata Wulan Kencana.


Para lansia itu terdiam, lalu saling pandang sesamanya.


“Baik, aku ikut!” kata Perkasa Rengkah.


“Baik, aku juga ikut!” kata Lelaki Tombak Petir.


“Katakan apa rencanamu, Wulan!” kata Hantu Tiga Anak.


“Kalian mengeroyok Ratu Siluman. Hanya itu,” jawab Wulan Kencana. “Yang aku butuhkan adalah memiliki kembali perguruan dan murid-muridku. Bola Hitam aku akan serahkan kepada kalian.”


“Hahaha! Aku tidak percaya kau tidak berminat dengan Bola Hitam, Wulan. Aku mengenalmu, Wulan,” ujar Kebo Pute santai yang didahului dengan tawanya.


“Aku tidak mengincar Bola Hitam, tetapi aku mengincar satu benda milik Ratu Siluman yang bisa membuatku memiliki kesaktian seratus pusaka,” jawab Wulan Kencana.


“Kesaktian seratus pusaka? Aku baru kali ini mendengarnya,” kata Lelaki Tombak Petir.


“Tidak perlu kau tahu tentang urusanku yang kau tidak tahu sama sekali!” bentak Wulan Kencana.


“Menjengkelkan!” desis lelaki Tombak Petir sambil menatap tajam kepada Wulan Kencana.


Clap!


Tiba-tiba Lelaki Tombak Petir menghilang dari duduknya. Kejap berikutnya dia telah muncul di udara, di atas mereka semua.


Wulan Kencana yang dapat menangkap gelagat mengancam, terkejut.


Set!


Clap clap clap …!


Seiring Lelaki Tombak Petir melesatkan tongkat dari atas, para kakek berhilangan dari tempat duduknya masing-masing.


Tongkat Lelaki Tombak Petir yang berselimut aliran listrik berwarna kuning, menargetkan Wulan Kencana. (RH)



 

__ADS_1


YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.


__ADS_2