
*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*
Semua terkejut melihat pemuda penunggang kuda yang datang. Sebab mereka mengenal wajah pemuda itu, tapi tidak mengenal namanya. Pemuda yang tampannya setengah kilogram itu, tampil menonjol di antara para penonton Pertandingan Jagoan Tongkat di Kadipaten Guruput beberapa hari lalu.
“Eh, dia!” sebut Juling Jitu sambil menunjuk si pemuda.
“Hahaha!” tawa si pemuda kepada Alma Fatara dan lainnya sambil menghentikan lari kudanya.
“Hahaha!” tawa Alma akhirnya setelah agak terkesiap melihat kemunculan salah satu fansnya ketika dia bertarung melawan empat guru tongkat di Guruput.
Pemuda berpakaian warna biru gelap itu segera menjura hormat kepada Alma Fatara.
“Sembah hormat hamba, Gusti Ratu,” ucap pemuda itu. “Nama hamba Geranda, Gusti Ratu.”
“Selama dua hari kau mengejar kami. Apa tujuanmu, Kakang Geranda?” tanya Alma Fatara seraya tersenyum, seolah menyambut senang kedatangan pemuda yang membawa beban berat di pinggangnya.
“Izinkan aku bergabung dan mengabdi kepada Gusti Ratu Siluman,” ujar Geranda.
“Apa yang kau harapkan dengan bergabung mengabdi kepadaku? Pertimbangkan, aku dan para sahabatku selalu bertemu dengan kondisi yang berbahaya,” kata Alma.
“Tidak apa-apa, Gusti Ratu. Aku orang yang suka bertaruh untuk yang berbahaya-berbahaya. Nanti kalau Gusti Ratu bertarung lagi dengan musuh, aku akan bertaruh untuk kemenangan Gusti Ratu, agar Gusti Ratu bertarungnya lebih semangat!” jawab Geranda berapi-api, sampai-sampai air ludahnya gerimis terbatas di sekitar bibirnya saja.
“Hahaha!” tawa Alma mendengar alasan Geranda. “Apakah kau sudah memikirkannya seribu kali dan meminta izin istrimu?”
“Hahaha! Gusti Ratu menggoda hamba. Hamba belum punya istri ….”
Plak!
Tiba-tiba Anjengan menampar belakang kepala Geranda.
“Jangan sembarangan bergurau kepada Gusti Ratu!” hardik Anjengan.
“Iya iya iya!” ucap Geranda sambil manggut-manggut kepada Anjengan dengan wajah yang mengerenyit merasa bersalah.
Geranda lalu kembali beralih kepada Alma Fatara.
“Hamba sudah sangat memikirkannya, Gusti Ratu. Hamba bahkan membawa semua uang hamba,” kata Geranda lalu menepuk kantung kain yang berat di pinggangnya. “Harta hamba masih ada di kuda.”
Memang, terlihat bahwa di kuda Geranda masih ada dua buntalan kain yang cukup besar. Entah apa isinya.
“Apakah kau bisa bertarung?” tanya Alma Fatara.
“Bisa,” jawab Geranda.
__ADS_1
Bluss!
Geranda lalu memunculkan dua sinar kuning berwujud bunga teratai yang menempel di kedua telapak tangannya. Sebentar kemudian, dia memadamkannya.
“Hamba juga jago bertaruh, Gusti Ratu,” katanya.
“Hahaha! Aku sudah melihatnya di Guruput,” kata Alma. Lalu katanya lagi, “Melihat keseriusanmu, aku akan menerimamu. Namun, berjanjisetialah kau bersama dengan yang lain!”
“Baik, Gusti Ratu!” jawab Geranda bersemangat dengan wajah sumringah.
“Kakak Putri, apakah kau akan mengabdi setia kepadaku? Mengabdi kepadaku tidak akan menghalangimu tetap menjadi ratu di Bajak Laut Kepiting Batu atau ratu di istana. Hahaha!” tanya Alma Fatara.
“Tidak!” tegas Cucum Mili.
Terkejutlah Tampang Garang, Penombak Manis dan Alis Gaib mendengar nama Bajak Laut Kepiting Batu. Sebab, kelompok bajak laut itu telah berkhianat dari sekutu yang dipimpin oleh Bajak Laut Ombak Setan.
“Siapa sebenarnya kau, Putri Angin Merah?!” tanya Penombak Manis bernada tinggi tiba-tiba, sambil berdiri dan menunjuk ke arah Cucum Mili.
Pertanyaan Penombak Manis membuat kondisi tiba-tiba berubah tegang. Alma Fatara agak mendelik karena ia tersadar telah mengungkap identitas Putri Angin Merah.
Cucum Mili pun terkejut ditanya galak seperti itu. Ia lalu bangkit dan menyingkap tabir cadarnya.
“Aku adalah Ratu Kepiting, Ketua Bajak Laut Kepiting Batu yang telah mengkhianati Ronggo Palung dan Bajak Laut Ombak Setan!” tandas Cucum Mili buka-bukaan, tapi bukan buka-bukaan pakaian.
Tampang Garang dan Alis Gaib juga jadi berdiri dan menghadap kepada Cucum Mili.
Hardikan Alma seketika mengena ke hati-hati anggota bajak laut itu, termasuk kepada Cucum Mili.
“Aku tidak mau di dalam gerombolanku ada permusuhan serius atau dendam yang mengarah kepada maut. Jika kalian masih memendam kemarahan kepada Bajak Laut Kepiting Batu dan masih memiliki sisa pembelaan kepada Bajak Laut Ombak Setan, maka aku yang bertanggung jawab. Aku yang menaklukkan Ratu Kepiting dan kelompoknya. Aku pula yang memaksa mereka berkhianat kepada Hantu Dasar Laut dan aku pula yang memusnahkan Bajak Laut Ombak Setan,” jelas Alma Fatara. “Saat ini juga kalian aku beri pilihan ulang. Jika kalian masih merasa anggota Bajak Laut Ombak Setan, maka pergilah. Aku tidak akan membunuh kalian. Namun, jika kalian sudah merasa bukan seorang bajak laut, maka lupakan kematian Bajak Laut Ombak Setan dan pilih, mau mengabdi kepadaku sebagai pemimpin kelompok ini, atau memilih mengabdi kepada Ratu Kepiting yang telah menjamin nyawa kalian?”
Tampang Garang, Penombak Manis dan Alis Gaib akhirnya saling pandang seolah minta isyarat. Namun akhirnya, Penombak Manis yang lebih dulu turun berlutut. Tampang Garang dan Alis Gaib kemudian ikut berlutut.
“Kami memilih mengabdi setia kepada Gusti Ratu Siluman. Kami akan melupakan masa gelap kami sebagai anggota bajak laut,” tegas Penombak Manis.
“Hamba juga, Gusti Ratu!” ucap Tampang Garang.
“Hamba juga, Gusti Ratu!” ucap Alis Gaib.
“Bagus. Kecuali Kakak Putri, ikutilah perkataan Mbah Hitam!” perintah Alma Fatara tegas dan berwibawa.
Maka Mbah Hitam maju lebih ke depan, di depan rekan-rekannya. Ia lalu turun berlutut menghormat. Kecuali Cucum Mili, semuanya mengikuti posisi berlutut Mbah Hitam dan cara menghormatnya.
“Disaksikan Dewa di langit!” seru Mbah Hitam dengan suara kakek-kakeknya.
“Disaksikan Dewa di langit!” ucap yang lainnya dengan lantang dan khidmat.
__ADS_1
“Disaksikan seluru makhluk yang terlihat dan tidak terlihat!” seru Mbah Hitam lagi.
“Disaksikan seluru makhluk yang terlihat dan tidak terlihat!” seru yang lainnya mengikuti.
“Aku bersumpah suci!”
“Aku bersumpah suci!”
“Akan mengabdikan nyawa dan raga kepada Ratu Siluman Ratu Dewi Dua Gigi!”
“Akan mengabdikan nyawa dan raga kepada Ratu Siluman Ratu Dewi Dua Gigi!”
Mbah Hitam lalu turun bersujud di tanah. Yang lain pun mengikuti turun bersujud. Mereka diam untuk sesaat dan tidak bangun lagi.
“Bangunlah! Janji suci kalian aku terima!” perintah Alma Fatara berwibawa.
Mbah Hitam dan yang lainnya bangkit dari sujudnya dengan kusyuk, tetapi ada rasa kebanggaan di dalan hati mereka. Cucum Mili hanya berdiri menyaksikan.
“Peristiwa ini aku namai Janji Suci Tiga Jalan. Kalian, sebagai orang-orang yang mengucapkan janji suci hari ini, aku janjikan bukan sekedar sebagai pengabdi atau prajurit Pasukan Genggam Jagad, tapi aku akan berusaha mengangkat kalian. Bercita-citalah dari sekarang untuk menjadi penguasa dunia tanpa perlu kerajaan dan wilayah!” seru Alma berkomitmen.
“Apakah itu mungkin, Gusti Ratu?” tanya Tampang Garang.
“Hahaha!” Alma justru tertawa. “Aku punya keyakinan aku bisa melakukannya. Jika kalian ingin bisa melakukannya, maka jagalah kesetian kalian. Sama seperti kalian, aku juga tidak menyukai pengkhianatan. Mulai saat ini, Mbah Hitam aku tegaskan sebagai pengawal setiaku. Anjengan aku angkat sebagai Panglima Pasukan Genggam Jagad!”
“Hah! Hahahak!” kejut Anjengan, lalu berujung tawa senang.
“Meski Anjengan bukan yang tersakti di antara kalian, tapi kepatuhan kepada pemimpin menjadi nomor satu. Sebagai sebuah pasukan bernama besar, jumlah kalian memang sangat kecil. Namun, jangan kecil hati, karena aku adalah ratunya. Hahaha!”
Alma lalu menghentikan tawanya dan melirik ke arah yang jauh. Ia mendengar ada kedatangan orang lain.
“Bangunlah kalian semua, bersiap untuk berangkat!” perintah Alma Fatara.
“Baik, Gusti Ratu!” ucap mereka serentak sambil menghormat, kemudian bangkit berdiri.
“Geranda, tanyakan kepada orang itu, ke arah mana menuju Alas Kutu!” perintah Alma.
“Baik, Gusti Ratu!” ucap Geranda lalu berlari pergi untuk menghadang pedati sapi yang berjalan santai menuju titik pertigaan.
“Cie cie cieee, ada panglima baru,” goda Juling Jitu sambil mencolek lengan besar Anjengan.
“Hahaha! Sekarang kalian harus berhati-hati kepadaku!” kata Anjengan kepada ketiga sahabatnya.
“Ji-ji-jika urusan ri-ri-ribut, aku akan tetap tidak su-su-sungkan untuk me-me-menghajarmu, Anjeng!” kata Gagap Ayu.
“Coba saja, aku akan tetap mengcekikmu sampai tidak punya isi perut!” balas Anjengan.
__ADS_1
“Eh, tidak usah ribut, lihat Iwak, masih terlihat sedih,” kata Juling Jitu.
“Hahaha!” Mereka malah tertawa menertawakan kelesuan Iwak Ngasin yang belum move on dari penghajaran Surken kepadanya. (RH)