
*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*
Di balik pagar sinar merah berdiri dua orang tua, lelaki dan perempuan.
Yang lelaki berkumis tebal ala Pak Raden mengenakan pakaian hitam. Lelaki separuh baya itu menggenggam keris bagus pada tangan kirinya yang masih menyatu dengan sarungnya. Dia adalah Garok Bodong tanpa embel-embel gelar akademis.
Yang wanita juga separuh baya, berpakaian warna merah semerah darah. Pada tangan kanannya telah melebar sehelai kipas merah. Ia berjuluk Dewi Kipas Murka tanpa peduli lagi nama kelahirannya.
Keduanya tidak lain adalah dua orang sakti bayaran Demang Mahasugi.
“Tidak peduli kau siapa, Ratu Siluman. Tidak peduli kau semuda daun bawang, tidak peduli kau secantik kelinci, tidak peduli kau anak siapa. Serahkan Bola Hitam yang ada di tanganmu!” seru Garok Bodong.
“Hahahak!” tawa Alma Fatara mendengar to the point Garok Bodong. “Hei, Paman! Kenapa kita tidak berkenalan lebih dulu, agar pertarungan kita lebih asik?”
“Hmm!” Barok Bodong hanya bergumam mencibirkan bibirnya yang nyaris tertutupi oleh kumisnya.
“Kalian sudah mengenalku. Agar adil, sebutkan nama kalian, agar aku bisa membanggakan diri, siapa orang sakti yang aku bunuh hari ini!” seru Alma Fatara.
“Suombong!” maki Dewi Kipas Murka dengan wajah pahitnya.
“Hahahak! Aku adalah penentang pemikiran bahwa hanya orang tua dan sakti yang boleh sombong. Aku tidak akan meladeni Paman dan Bebek …. Eh ealah, Paman dan Bibi maksudku. Kenapa jadi ketularan si gendut Kangkung? Hahaha!” Alma Fatara sengaja berlakon guna menyulut emosi kedua pendekar senior itu.
“Benar-benar kurang susu asu!” geram Garok Bodong.
Tak!
Lelaki itu mencabut sedikit kerisnya, lalu mendorongnya dengan keras, sehingga kerisnya berbunyi galak.
“Hahahak …!” Alma Fatara tertawa kian terbahak, memamerkan dua gigi ompongnya yang begitu vulgar. “Paman, Bibi, aku tidak akan meladeni kalian jika aku melawan orang asing. Bukankah, kenal itu pertanda sayang?”
“Dasar bocah bau ompol,” rutuk Dewi Kipas Murka. Lalu serunya, “Kau berhadapan dengan Dewi Kipas Murka.”
“Ingat namaku baik-baik agar arwahmu tidak gentayangan saat kau mati. Namaku Garok Bodong!”
“Oh, Paman Garuk Bodong,” ucap Alma Fatara.
“Garok Bodong. Namaku Garok Bodong. Jangan kau lecehkan dengan salah menyebutnya!” bentak Garok Bodong marah.
“Hahaha! Aku hanya bercanda, Paman. Jangan terlalu pemarah seperti itu. Nanti justru Paman malah salah rebut bola. Ingin merebut Bola Hitam, karena saking marahnya, justru merebut bola Bibi. Hahaha!” kata Alma Fatara, seolah pertarungan dengan mayat-mayat hidup tidak memberinya ketegangan.
“Bocah Susu Asu!” maki Garok Bodong.
__ADS_1
“Kita langsung bunuh saja, Kakang,” kata Dewi Kipas Murka kepada pasangan sekutunya, bukan pasangan biologisnya.
“Tunggu, Paman!” seru Alma Fatara cepat sambil mengulurkan telapak tangannya tanda “tahan”. Ia lalu menunjuk ke belakang kedua calon lawannya. “Lalu mereka mau apa?”
Garok Bodong dan Dewi Kipas Murka cepat menengok ke belakang.
Ternyata beberapa tombak di belakang kedua orang sakti itu telah berdiri tiga orang besar. Mereka tidak lain adalah Ireng Cadas, Ireng Gempita dan Ireng Kemilau.
“Hei! Mau apa kalian, Ireng Cadas?!” tanya Garok Bodong dengan membentak.
“Kami hanya ingin menonton. Namun, jika Ratu Siluman bisa mengalahkan kalian berdua, kami bertiga akan mengabdi kepada Ratu Siluman!” seru Ireng Cadas yang juga didengar oleh Alma Fatara.
“Aku mendengar jelas kata-katamu, Kakang Ireng Cadas!” sahut Alma Fatara.
“Apa untungnya kalian mengabdi dengan Bocah Susu Asu itu?” tanya Garok Bodong sinis.
“Aku menjanjikan kedudukan yang berharga dan terhormat di dalam pasukanku dan di Kerajaan Siluman!” Yang menjawab justru Alma Fatara. “Aku juga menawarkan kalian berdua kedudukan yang terhormat di dalam pasukan dan kerajaanku, Paman, Bibi.”
“Tidak sudi!” ketus Dewi Kipas Murka.
“Hahahak!” tawa Alma Fatara melihat ekspresi wajah Dewi Kipas Murka.
“Lebih baik berkalang tanah daripada tidak merebut Bola Hitam di depan mata,” kata Garok Bodong.
Sess! Ctar!
Seset seset!
Bola Hitam menggesek tanah satu tombak di depan pagar sinar merah, menciptakan ledakan nyaring yang kemudian melesatkan belasan sinar biru berekor ke satu arah, yaitu ke depan. Sementara Bola Hitam melesat balik ke tangan Alma Fatara.
“Susu Asu!” maki Garok Bodong sambil buru-buru melompat tinggi ke udara.
“Keterlaluan!” maki Dewi Kipas Murka pula sambil berkelebat cepat naik mengangkasa.
Belasan sinar biru berekor dari Bola Hitam itu menebas pagar sinar merah. Tidak sampai sekedar menghancurkan pagar sinar merah, sinar-sinar biru terus melesat menyerang Garok Bodong dan Dewi Kipas Murka, serta apa saja yang dijumpai.
Kecepatan reaksi Garok Bodong dan Dewi Kipas Murka membuat mereka selamat dari serangan yang menebas beberapa pohon sekitar.
Tiga anggota Lima Pembunuh Gelap juga bereaksi dengan melompat mundur, khawatir jangkauan sinar-sinar biru itu sampai kepada mereka.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara sambil memandang kepada kedua lawannya yang baru turun dari langit seperti sepasang bidadari.
Krekr! Brusrk!
__ADS_1
“Susu Asu!” maki Garok Bodong lagi sambil buru-buru melompat menjauh meninggalkan tempatnya.
“Keterlaluan!” maki Dewi Kipas Murka juga sambil berkelebat cepat mengikuti Garok Bodong, seolah tidak mau jauh-jauh.
Tindakan mereka berdua karena ada satu pohon besar di pinggir jalan, yang dua pertiga diameter batangnya terpotong oleh sinar biru tadi, lalu secara perlahan bergerak miring kemudian jatuh ambruk dengan cepat ke bumi. Memang dasar jodoh, jatuh pohon tepat ke posisi kedua pendekar separuh baya itu. Karena itulah mereka buru-buru melompat menghindar.
“Hahahak …!” tawa terbahak Alma Fatara melihat kedua lawannya.
Set! Clap!
Tawa Alma Fatara terhenti saat ada sehelai kipas merah melesat cepat berputar-putar menyerangnya. Alma Fatara cepat melompat bersalto, membuat kipas tajam itu lewat di bawah punggungnya.
Namun, tiba-tiba sosok Dewi Kipas Murka muncul begitu saja tidak jauh dari posisi Alma Fatara bersaalto. Wanita berpakaian merah itu dengan sigap menangkap kipasnya, lalu langsung menyerang Alma Fatara yang baru mendarat.
Menggunakan gerakan berkecepatan tingkat tinggi, Alma Fatara agak kewalahan menghindari serangan kipas yang juga cepat. Itu terjadi karena kesiapan Alma Fatara belum sempurna.
Clap!
Tiba-tiba Garok Bodong muncul begitu saja di belakang Alma Fatara dengan keris terhunus dan langsung menusuk membokong.
“Curang!” desis Ireng Gempita melihat cara tarung Garok Bodong.
Alma Fatara tahu bahwa posisinya terjepit oleh serangan dua pendekar sakti. Namun, Alma Fatara sudah biasa menghadapi situasi seperti itu.
Maka, ketika Alma Fatara sibuk menghindari serangan kipas yang setajam pedang, Benang Darah Dewa pun diaktifkan.
Seiring ujung keris sudah pasti akan menusuk punggung Alma Fatara, dua ujung Benang Darah Dewa melesat cepat pula menembus kain jubah hitam Alma Fatara.
Tus tus!
“Ak!” jerit tertahan Garok Bodong saat ia merasakan dua suntikan yang dalam pada dua jari tangannya yang menggenggam keris.
Tusukan mengejutkan itu membuat genggaman jari-jari Garok Bodong lepas pada gagang keris sebelum menusuk punggung Alma Fatara. Seiring Garok Bodong menarik tangannya ke belakang, kerisnya juga terjatuh ke tanah.
Sementara itu, Alma Fatara tetap fokus menghindari serangan-serangan kipas Dewi Kipas Murka.
Garok Bodong cepat memeriksa jari-jari tangan kanannya. Ada dua titik yang mengeluarkan darah, tapi tidak banyak. Namun, jari tangannya terlihat gemetar karena memang sangat sakit.
Set! Tap!
Garok Bodong mengulurkan tangan kanannya kepada kerisnya yang tergeletak di tanah seperti anak terlantar. Keris itu tersedot ke dalam genggaman Garok Bodong.
“Susu asu!” maki Garok Bodong karena genggaman tangan kanannya lemah dan gemetar, jadi tidak bisa dipakai untuk memegang keris. Jika menggunakan tangan kiri, jelas tidak selihai tangan kanan.
__ADS_1
“Giliranku menyerang, Bibi!” seru Alma Fatara nyaring lalu tiba-tiba bergerak begitu cepat balas mengagresi Dewi Kipas Murka yang langsung terkejut. (RH)