Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mis Tegel 12: Bajak Laut yang Tersisa


__ADS_3

*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*


Ternyata perkiraan Cucum Mili benar. Hujan deras itu berlangsung cukup lama, membuat air sungai dangkal tersebut kian meninggi. Secara perlahan air merambat naik ke mulut gua.


Cuaca hujan membuat mereka hanya mendapat sedikit kayu kering untuk api unggun. Gagap Ayu seperti anak manja kepada Anjengan yang memeluknya. Sementara Kembang Bulan merapat kepada Alma Fatara. Dan Iwak Ngasin mau tidak mau memilih merapat kepada Juling Jitu, tapi hanya merapat saja, tidak berpelukan.


Tidak terlihat keberadaan Mbah Hitam di ruang depan mulut gua itu.


Api unggun yang kecil tidak bisa mengusir dingin dan menghapus gelap. Pada bagian dalam gua masih ada dua lorong sempit yang begitu gelap.


Sezz!


“Jiaak!” pekik Iwak Ngasin dan Juling Jitu tiba-tiba sambil terlompat dan berpelukan merapat di dinding gua.


Hal itu terjadi ketika tiba-tiba kaki mereka dirayapi oleh sesuatu yang gelap.


Namun, tahu-tahu ular hitam dari jelmaan Mbah Hitam sudah berdiri di tengah-tengah mereka di atas lingkaran badannya.


“Hahahak …!” Meledaklah tawa Alma dan rekan-rekannya melihat keterkejutan kedua pemuda itu.


Buru-buru keduanya saling melepas diri dari pelukan, seolah mereka baru saja memeluk sesuatu yang menjijikkan. Membuat yang lain kian tertawa.


“Hamba, Gusti Ratu,” ucap Mbah Hitam.


“Apa yang kau temukan, Mbah Hitam?” tanya Alma.


Sebelumnya Alma telah memerintahkan Mbah Hitam untuk memeriksa bagian dalam gua itu. Agar lebih mudah memeriksa dalam kondisi yang gelap, Mbah Hitam berubah wujud menjadi ular.


“Gua ini berujung tidak begitu dalam. Masih ada tiga ruang gua di dalam dengan lorong yang sempit. Tapi ternyata, di dalam ada tiga orang manusia yang sedang bersembunyi, Gusti Ratu,” lapor Mbah Hitam.


Mendengar itu, seketika mereka yang menahan hawa dingin jadi terbeliak matanya.


“Ya sudah, biarkan saja. Pastinya mereka tidak ada hubungannya dengan kita. Jangan sampai kehadiran kita justru membuat mereka takut,” kata Alma.


“Tapi, Gusti Ratu. Ketiga orang itu adalah anggota Bajak Laut Ombak Setan yang melarikan diri dari Ibu Kota Balongan,” kata Mbah Hitam.


Melebar sepasang mata Alma Fatara. Cucum Mili dan Anjengan kompak bangkit berdiri, sampai-sampai Gagap Ayu yang sedang bermanja pada Anjengan terlempar dan tersungkur di dekat api. Namun, tidak ada yang tertawa.


“Bagaimana kau bisa mengenali mereka?” tanya Alma serius.


“Aku sangat kenal. Ketika aku menyelamatkan sandera, salah satu dari mereka aku bunuh dan tiga lainnya kabur,” kata Mbah Hitam. “Aku sangat kenal wajah-wajahnya.”


“Ayo tangkap!” teriak Alma Fatara sambil bangkit berdiri.

__ADS_1


Komando Alma itu seketika membuat mereka semua berdiri. Hawa dingin seketika sirna tersingkir oleh semangat perang yang kembali menyala.


Teriakan Alma Fatara ternyata sampai samar-samar terdengar ke dalam gua, mengejutkan tiga orang yang bersembunyi di dalam gelap gulitanya gua.


“Siapa sebenarnya orang-orang itu?” tanya satu suara wanita cemas dan tegang.


“Apakah mungkin mereka prajurit-prajurit Singayam?” tanya si lelaki.


“Sepertinya mereka tahu keberadaan kita,” kata wanita kedua.


Ternyata mereka terdiri dari dua wanita dan seorang lelaki.


Ketiga orang itu lebih dulu berada di dalam gua sebelum kemudian rombongan Alma datang untuk berteduh dan bermalam. Karena mereka merasa adalah buronan kerajaan, jadi mereka memilih diam bersembunyi di ujung dalam gua.


Bluar!


Alangkah terkejutnya ketiga orang itu saat tiba-tiba terdengar suara ledakan keras yang disertai getaran halus pada struktur gua.


Si lelaki langsung bersiap dengan busur dan panahnya. Kedua wanita juga siap dengan tombak dan golok masing.


Alma Fatara yang memimpin masuk ke dalam gelapnya gua langsung menggebrak dengan menghancurkan tiang gua, bertujuan memberi ketakutan kepada tiga orang yang bersembunyi di dalam.


Swess!


Melihat lesatan sinar emas menyilaukan itu, terkejut sekali ketiga orang bajak laut yang bersembunyi. Wajah mereka yang berjongkok di pojokan dinding gua terlihat dengan jelas. Mereka tidak lain adalah Karang Genit, Alis Kuning dan Kulit Jeruk.


Bluarr!


Hingga akhirnya sinar emas menyilaukan itu menghantam sebongkah batu besar dalam gua. Ledakan yang jauh lebih dahsyat dari sebelumnya terjadi. Gelombang ledak dan serpihan batunya menghantam ke segalah arah.


Karang Genit, Alis Kuning dan Kulit Jeruk terpental hebat menghantam dinding dan lantai gua beberapa kali, karena pusat ledakan tidak begitu jauh dari posisi mereka.


Cukuplah satu Pukulan Bandar Emas membuat ketiga anggota Bajak Laut Ombak Setan itu terkapar tanpa perlawanan. Namun, mereka bertiga belum mati.


Setelah ledakan dahsyat tadi, kondisi kembali gelap gulita. Telunjuk di depan hidung saja tidak bisa terlihat.


Swess!


Suasana seketika berubah terang benderang menyilaukan, ketika Alma Fatara yang sudah berdiri di atas sebongkah batu menyalakan ilmu Pukulan Bandar Emas di tangan kirinya tanpa melepasnya.


Karang Genit, Alis Kuning dan Kulit Jeruk yang menggeliat kesaktian tidak bisa melihat wajah Alma karena terhalang oleh kesilauan.


“Seret mereka!” perintah Alma Fatara.

__ADS_1


“Baik, Gusti Ratu!” ucap Mbah Hitam lalu merayap cepat dan melilit tubuh Kulit Jeruk.


“Aaak!” erang Kulit Jeruk ketika tubuhnya dililit kuat oleh Mbah Hitam lalu langsung membawanya menuju ke luar.


Melihat musuh yang menjadi korban keganasan Alma adalah wanita, Iwak Ngasin dan Juling Jitu seketika bersemangat. Sampai-sampai mereka berlari kecil menjemput Karang Genit.


“Lepaskan!” teriak Karang Genit mencoba berontak saat kaki kanannya ditarik oleh Iwak Ngasin.


Tuk tuk!


Namun, Juling Jitu cepat menotok tubuh Karang Genit, sehingga berhenti meronta. Ia dan Iwak Ngasin lalu bersama-sama menarik kaki Karang Genit satu-satu.


“Hahahak!” tawa Iwak Ngasin dan Juling Jitu seperti seorang penjahat seksual.


Anjengan dan Gagap Ayu juga melakukan hal yang sama. Mereka menotok dan menarik kaki Alis Kuning ke luar gua.


Kedua wanita anggota bajak laut itu benar-benar diseret seperti korban G-30S PKI yang akan dimasukkan ke dalam lubang buaya darat.


Ketiga anggota musuh itu dibawa sampai ke mulut gua tempat ada api unggun kecil.


Ternyata, hujan deras telah reda dan berganti dengan hujan gerimis. Air sungai sudah masuk hingga ke tengah mulut gua, bahkan nyaris menyentuh kayu-kayu api unggun. Kuda-kuda pun sudah berdiri di atas air.


Alma berjalan keluar tanpa sinar emas di telapak tangannya lagi. Ia langsung berjalan ke luar menerabas air sungai.


“Bawa mereka keluar!” perintah Alma Fatara.


Dengan semangat Iwak Ngasin, Juling Jitu, Anjengan, dan Gagap Ayu terus menyeret Karang Genit dan Alis Kuning yang tidak berdaya. Kedua tawanan itu bahkan dibiarkan masuk ke dalam air sungai yang meluap. Mbah Hitam juga terus bergerak membawa Kulit Jeruk dalam lilitannya.


Kedalaman air sungai sampai setinggi pinggang. Namun, Alma dan yang lainnya tidak peduli bahwa mereka sedang berbasah-basahan, padahal tadi mereka menghindari hujan.


Meski Karang Genit dan Alis Kuning biasa menyelam di dalam air laut, tetapi mereka harus menderita ketika tubuh mereka ditarik di dalam air sungai, sampai-sampai air harus masuk ke dalam pernapasan dan tenggorokan.


“Jitu, kita akan pesta bajak laut panggang! Hahaha!” kata Iwak Ngasin, bermaksud memberi horor kepada Karang Genit.


“Pasti, tapi kita kuliti dulu!” kata Juling Jitu bersemangat, seolah mereka lupa dengan pertikaian sebelumnya.


“Biar mereka merasakan bagaimana menuju kematian!” kata Anjengan pula.


“Se-se-setujuuu!” teriak Gagap Ayu.


“Gantung mereka di pohon. Besok pagi baru kita bunuh perlahan sebagai hukuman dari perbuatan kejam mereka!” perintah Alma Fatara.


Cucum Mili memilih berlari di atas air sungai untuk sampai ke tanah luas di seberang. (RH)

__ADS_1


__ADS_2