Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
DEKET 39: Sasaran Baru


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*  


“Kediaman Tengkorak Sabit Putih”.


Itulah tulisan yang muncul di daun yang terbakar, kemudian lenyap karena dimakan api sampai habis.


Api memang menjilati tangan Alma Fatara yang memegang daun pemberian Kungkang, tetapi kulit tangan yang halus itu tidak terbakar sedikit pun. Bahkan Alma Fatara tidak merasakan panas sedikit pun.


Hal itu membuat Demang Sungkara dan yang lainnya hanya bisa mendelik. Dengan tenangnya Alma Fatara membuang sisa daun yang masih terbakar ke lantai panggung.


Di sisi lain, Kungkang berwajah pucat karena ketakutan. Jelas ia sangat takut akan mendapat hukuman atas kejadian itu.


“Jangan takut seperti itu, Kakang Kungkang. Aku tidak akan menghukummu. Hahaha!” kata Alma Fatara kepada Kungkang yang baru saja terjungkal dan terguling dari panggung ke bawah.


Pada saat itu, di luar pagar halaman muncul rombongan pasukan berkuda yang banyak. Mereka tidak lain adalah Pasukan Sayap Pelangi dan Pasukan Sayap Laba-Laba yang sudah bergabung. Namun, belum terlihat keberadaan Pasukan Sayap Panah Pelangi pimpinan Panglima Tampang Garang.


Rombongan pasukan berkuda itu berhenti di luar pagar halaman. Tidak berapa lama, pembawa panji Pasukan Sayap Pelangi Alis Gaib datang masuk dengan berjalan kaki. Sebagai wanita pembawa panji di punggungnya dan menyandang Pedang Siluman Hijau, Alis Gaib terlihat lebih berkelas. Dua tukang kuda yang dia lewati bahkan tidak diliriknya.


Alis Gaib naik ke panggung dan langsung berjalan ke depan meja Alma Fatara.


“Sembah hormatku, Gusti Ratu!” ucap Alis Gaib sambil turun berlutut menghormat.


“Bagaimana?” tanya Alma Fatara.


“Ineng Santi dan Pasukan Sayap Pelangi menyelesaikan tugas dengan baik, Gusti Ratu. Namun, Panglima Nining Pelangi terluka parah!” lapor Alis Gaib dengan kemantapan jiwa.


“Bagus. Siapkan pasukan untuk perjalanan berikutnya!” puji Alma Fatara lalu langsung memberi perintah berikutnya.


“Baik, Gusti Ratu!” ucap Alis Gaib patuh.


Alis Gaib lalu menghormat sambil melangkah mundur dan turun dari panggung, kemudian melangkah pergi. Alma Fatara bangkit dari duduknya.


“Panglima Besar, siapkan pasukan untuk melanjutkan perjalanan!” perintah Alma Fatara kepada Anjengan.


“Baik, Gusti Ratu,” ucap wanita besar itu. Ia lalu melangkah pergi, tapi tidak membuat panggung bergetar saat ia berjalan.


“Mohon dimaafkan, Kakang Demang, urusan kami di Kademangan ini sudah selesai dan kami harus melanjutkan perjalanan,” ujar Alma Fatara dengan santun kepada Demang Sungkara.


“Jangan seperti itu, Gusti Ratu. Seharusnya aku yang memohon maaf karena tidak memberikan jamuan yang selayaknya,” ucap Demang Sungkara merasa tidak enak batin.


“Hahahak!” tawa Alma Fatara. “Tidak mengapa, Kakang Demang. Aku mohon diri, Kakang Demang, Paman-Paman!”

__ADS_1


Semua lelaki yang duduk di kursi semuanya berdiri sambil tersenyum lebar melepas kepergian Ratu Siluman itu.


Alma Fatara berjalan diiringi oleh Demang Sungkara dan Kembang Bulan menuju tempat kuda ditambatkan. Cucum Mili dan yang lainnya juga segera bergerak menuju ke tempat kuda ditambat.


Betok buru-buru menyiapkan kuda Alma Fatara.


Ketika Alma Fatara menaiki kudanya, anggota Pasukan Genggam Jagad segera menaiki kuda masing-masing.


Demang Sungkara hanya menjura hormat melepas kepergian Alma Fatara dan pasukan besarnya. Para prajurit dan warga yang ada di halaman itu juga turut menjura hormat. Jika Demang saja menjura hormat, sudah pasti kedudukan Alma Fatara sangat tinggi. Itu anggapan mereka.


Saat pergerakan pasukan meninggalkan depan kediaman Demang Sungkara, Alma Fatara mendekatkan kudanya kepada kereta kuda milik Bandar Bumi.


“Apakah lukamu serius, Panglima Nining?” tanya Alma Fatara sambil berjalan bersama kudanya di sisi kereta kuda yang disaisi oleh Tenggak Telaga, tapi di dampingi oleh Ineng Santi.


Ineng Santi masih mengalungkan ujung Cemeti Jerat Asmara-nya di leher pemuda yatim itu.


“Cukup parah, Gusti Ratu,” jawab Nining Pelangi.


“Apakah dia Bandar Bumi?” tanya Alma Fatara.


“Benar. Ineng Santi yang membunuhnya. Kami menangkap anaknya,” jawab Nining Pelangi sambil menunjuk Tenggak Telaga dengan wajahnya. “Kami juga mendapat harta rampasan berupa kereta kuda, empat ekor kuda, perhiasan emas, kunci dan pusaka Pisau Anak Iblis. Pisaunya ada pada Ineng Santi.”


“Kenapa kondisinya menghitam seperti itu?” tanya Alma Fatara.


“Lalu kunci apa yang kalian dapat?” tanya Alma Fatara lagi.


“Kami juga tidak tahu. Anak Bandar Bumi tidak mau memberi tahu,” jawab Nining Pelangi.


“Jika tidak ada yang tahu itu kunci apa, buang saja jauh-jauh!” perintah Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu,” ucap Nining Pelangi. Ia lalu memanggil anak buahnya yang berkuda tidak jauh di belakang kereta kuda, “Mayang Wangi!”


“Hamba, Panglima!” sahut Mayang Wangi yang menyimpan semua perhiasan rampasan dan kunci.


“Gusti Ratu memerintahkan untuk membuang jauh-jauh kunci yang kita dapatkan,” ujar Nining Pelangi.


“Baik, Gusti Ratu!” ucap Mayang Wangi patuh.


“Jangan! Jangan dibuang!” teriak Tenggak Telaga tiba-tiba sambil menengok kepada Mayang Wangi.


“Kenapa tidak boleh dibuang?” tanya Alma Fatara sambil menghampiri posisi sais bersama kudanya.

__ADS_1


“Itu kunci harta keluargaku, Gusti Ratu,” jawab Tenggak Telaga dengan wajah yang hendak menangis.


“Jangan buang kunci itu!” perintah Alma Fatara cepat kepada Mayang Wangi. Dia memang sengaja memancing Tenggak Telaga. Jika kunci itu sangat penting, Tenggak Telaga pasti tidak mau kehilangan kunci tersebut.


Tiba-tiba Tenggak Telaga melepas tali kendali kuda penarik kereta dan buru-buru bersujud di tempat duduknya menghadap Alma Fatara.


“Meski kalian membunuh ayahku, tapi tolong selamatkan ibu dan adikku dari tawanan Tengkorak Sabit Putih, Gusti Ratu. Tolong selamatkan keluargaku, Gusti Ratu. Aku mohon. Huuu huuu!” rengek Tenggak Telaga sambil menangis lagi.


Mendengar hal itu, terkejutlah Ineng Santi, Nining Pelangi, dan beberapa anggota Pasukan Sayap Pelangi yang dekat dengan kereta kuda. Namun, Alma Fatara bersikap biasa saja. Sebelumnya dia telah mendapat informasi dari Ireng bersaudara tentang kemungkinan bahwa keluarga Bandar Bumi disandera oleh Tengkorak Sabit Putih.


“Berarti kau tahu di mana kediaman Tengkorak Sabit Putih, Kakang?” tanya Alma Fatara, meski ia tahu bahwa Ineng Santi dan Tiga Penjaga Emas tahu letak kediaman Tengkorak Sabit Putih.


“Iya,” jawab Tenggak Telaga.


“Antarkan aku ke kediaman Tengkorak Sabit Putih. Jika Kakang berbuat baik kepada kami, kunci harta keluarga akan aku kembalikan dan kami akan membebaskan ibu dan adik Kakang,” janji Alma Fatara.


“Baik, terima kasih, Gusti Ratu!” ucap Tenggak Telaga begitu gembira sambil sujud-sujud lagi. Kesedihannya seolah terobati.


“Lepaskan lehernya, Kakak Ineng!” perintah Alma Fatara.


“Baik,” ucap Ineng Santi.


Ia lalu melenyapkan Cemeti Jerat Asmara-nya dari leher Tenggak Telaga.


“Jika Kakang tidak bekerja sama, maka lupakan semua tawaraanku,” kata Alma Fatara.


“Aku tidak akan berani, Gusti Ratu,” ucap Tenggak Telaga. Keangkuhannya selama ini benar-benar hilang di hari ini.


“Kakak Ineng, pergilah bersama Panglima Nining Pelangi dan Pasukan Sayap Pelangi kembali ke kediaman Demang Mahasugi. Minta Belik Ludah untuk mengobati Panglima Nining!” perintah Alma Fatara.


“Baik, tetapi setelah mengantar mayat Bandar Bumi, aku akan segera menyusul ke kediaman Tengkorak Sabit Putih,” kata Ineng Santi.


“Baik,” ucap Alma Fatara. Lalu panggilnya kepada Mayang Wangi, “Mayang Wangi, serahkan harta rampasan kepada Geranda, termasuk kuncinya!”


“Baik, Gusti Ratu. Tapi bagaimana dengan pisau pusakanya?” tanya Mayang Wangi.


“Biarkan dimiliki oleh Kakak Ineng. Oh ya, minta Tiga Penjaga Emas untuk mengembalikan kuda tunggangannya. Kita memiliki empat kuda baru, berikan kepada mereka,” jawab sang ratu.


“Baik, Gusti Ratu,” ucap Mayang Wangi patuh. Dia lalu menjalankan kudanya untuk mendatangi Geranda.


Maka, setelah itu, Pasukan Genggam Jagad dipecah. Pasukan Sayap Pelangi kembali ke Kademangan Kubang Kepeng bersama Ineng Santi dengan membawa mayat Bandar Bumi. Begar dan Nuri Glatik bersama tiga pendekar bayaran Demang Mahasugi juga ikut pulang ke Kademangan Kubang Kepeng.

__ADS_1


Sementara trio gendut diberi pilihan oleh Alma Fatara. Mereka memilih tetap ikut dengan rombongan Alma Fatara.


Ketika hendak keluar dari Kademangan Nuging Muko, Pasukan Sayap Panah Pelangi kembali bergabung dengan rombongan Alma Fatara. (RH)


__ADS_2