Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
SMP 26: Cinta Jitu dan Serindu


__ADS_3

*Setan Mata Putih (SMP)*


 


“Tolong aku, Kakang Jitu!” teriak Yuyu Serindu yang dalam kondisi tubuh terikat tali sinar putih. Sementara leher jenjang mulus wanita bertubuh langsing tapi padat itu ditempeli oleh mata pedang lelaki yang menyanderanya.


“Jangan putus harapan, Serindu!” teriak Juling Jitu yang sedang dikepung oleh lima lelaki yang semuanya berwajah brewok dan berpedang. “Aku pasti akan menolongmu. Aku tidak akan membiarkanmu terluka sedikit pun!”


Yuyu Serindu adalah salah satu wanita cantik anggota Pasukan Sayap Panah Pelangi. Entah dari mana datangnya kelompok lelaki brewokan? Mereka tahu-tahu muncul dan menyandera Yuyu Serindu.


Kondisi Yuyu Serindu benar-benar membuat Juling Jitu begitu marah. Jiwa kepahlawanannya terpancing keluar. Apalagi Yuyu Serindu adalah wanita yang cantik. Saat itu dia sedikit pun tidak teringat dengan istrinya yang manisnya seperti tombak.


Ada pepatah mengatakan, “Jika bunga sudah tumbuh, daun pun kering dengan sendirinya”. Padahal, daun itu tumbuh lebih dulu sebelum bunga.


“Hiaaat!” teriak kelima lelaki berpedang sambil serentak merangsek maju dengan tusukan pedang masing-masing ke arah Juling Jitu.


Paks!


Namun, sebelum salah satu ujung pedang sudah ada yang sampai, Juling Jitu telah menghantamkan telapak tangannya ke bumi. Satu gelombang tenaga sakti yang hebat menjalar cepat ke sekeliling, melemparkan tubuh kelima pengeroyok itu ke atas tanpa terkontrol.


Entah, sejak kapan Juling Jitu memiliki ilmu sehebat itu? Sebelumnya, dia tidak pernah menggunakan kesaktian semacam itu.


Seset seset!


“Ak! Ak! Ak …!”


Dengan gerakan yang begitu cepat, Juling Jitu menyebarkan senjata barunya, yakni Jarum Kuku Rambut yang sangat beracun.


Kelima lelaki brewok itu berjeritan selagi mereka mengangkasa saat terkena serangan jarum-jarum beracun.


Bubuk bubuk!


Kelimanya jatuh ke tanah seperti rontoknya nangka busuk. Kelimanya menggeliat sambil menjerit kesaktian yang sangat. Namun, Juling Jitu sudah tidak peduli.


Dengan tatapan juling yang tajam, Juling Jitu memandang ke arah lelaki brewok yang menyandera Yuyu Serindu. Terlihat jelas bahwa lelaki itu terkejut dengan nasib kelima rekannya yang satu per satu mengembuskan napas terakhirnya.


Clap!


Tiba-tiba Juling Jitu melesat seperti menghilang karena terlalu cepatnya.


Set! Tep!


“Aaak!” jerit lelaki brewok penyandera Yuyu Serindu ketika sosok Juling Jitu berkelebat terlalu cepat di sisinya. Tahu-tahu satu keris mini beracun telah menancap di sisi kanan lehernya.


Tang!


Pedangnya jatuh terlepas dengan sendirinya dari tangan. Yuyu Serindu yang telah bebas dari ancaman pedang, cepat mendorong punggungnya ke badan depan lelaki di belakangnya.


Lelaki brewok itu jatuh terjengkang sambil memegangi lehernya yang sudah mendapat kecupan maut dari keris beracun.


“Serindu, kau tidak apa-apa, Sayang?” tanya Juling Jitu yang datang kepada Yuyu Serindu dengan membawa kecemasan.

__ADS_1


“Aku tidak apa-apa, Kakang Jitu. Tapi bagaimana dengan tali sinar ini?” tanya Yuyu Serindu.


“Tenang, kekasihmu ini adalah pendekar sakti tanpa tanding,” kata Juling Jitu penuh jumawa, dagunya terangkat beberapa inci.


Jress!


Tiba-tiba telapak tangan kanan Juling Jitu bersinar ungu menyilaukan, mirip dengan ilmu Tinju Roh Bumi milik Alma Fatara.


Tass!


Dengan tangannya itu, Juling Jitu meraih tali sinar putih yang mengikat tubuh dan tangan Yuyu Serindu. Lalu digenggam dengan kuat sehingga putus dan tali itupun lenyap dengan sendirinya.


“Kakang Jitu!” pekik Yuyu Serindu girang sambil menghamburkan dirinya memeluk erat tubuh pemuda gagah tapi juling di depannya.


“Serindu, aku bisa mati jika sampai kehilanganmu!” ucap Juling Jitu berbisik sambil balas memeluk erat tubuh kurus Yuyu Serindu.


“Aku juga, Kakang. Cium aku, Kakang,” kata Yuyu Serindu lirih, seolah mengandung rasa cinta yang poool.


Alangkah bahagia dan berdesirnya hati Juling Jitu mendengar permintaan yang penuh harapan itu. Dengan jantung berdebar kencang, ia menarik kepalanya sehingga wajahnya berhadapan pas dengan wajah cantik Yuyu Serindu.


Juling Jitu pun memonyongkan mulutnya dan siap menempeli bibir Yuyu Serindu yang tersenyum menahan rasa malu yang indah.


“Juling Jitu!” teriak satu suara perempuan lain tiba-tiba.


Alangkah terkejutnya sepasang muda dan mudi itu. Acara temu bibir pun gagal menempel karena mereka langsung berpaling ke arah sumber suara.


Ternyata, Ratu Siluman Alma Fatara telah berdiri dengan tatapan yang marah kepada mereka berdua.


Terkejutlah Juling Jitu saat diingatkan bahwa dia memiliki seorang wanita yang handal di atas ranjang. Ia pun berubah panik karena tertangkap basah oleh Alma Fatara. Namun, kedua tangannya masih saja memeluki tubuh Yuyu Serindu yang justru tersenyum-senyum setelah sempat terkejut.


Bruss!


Tiba-tiba tubuh Yuyu Serindu ambyar seperti patung debu yang tertiup angin. Hal itu sangat mengejutkan Juling Jitu. Seketika ia merasa sangat kehilangan. Hatinya berubah menjadi sangat sedih.


“Serinduuu!” teriak Juling Jitu kencang dan panjang.


Alangkah terkejutnya Penombak Manis yang duduk bersila, saat suaminya yang sedang tertidur di dekatnya berteriak menyebut nama seseorang.


Plak!


Penombak Manis langsung saja menepak bibir Juling Jitu yang agak terbuka.


“Ampun, Gusti Ratu!” pekik Juling Jitu sambil tersentak bangun terduduk dengan mata yang terbuka lebar dan napas terengah-engah. Cahaya api unggun yang agak jauh masih bisa memperlihatkan matanya yang merah.


“Nama siapa yang kau sebut di dalam mimpimu, Kakang?!” tanya Penombak Manis dengan membentak suaminya yang baru terbangun dari mimpi indah berujung buruk.


“Eh, tidak, tidak ada nama siapa-siapa,” sangkal Juling Jitu yang masih gelagapan, seolah sukmanya belum terkumpul semua.


“Tidak mungkin kau berteriak memanggil nama Serindu jika kau tidak bertemu dengannya di dalam mimpi!” tandas Penombak Manis.


“Tidaaak. Aku hanya bertemu dengan Gusti Ratu,” sanggah Juling Jitu sambil tersenyum samar, karena dia teringat dengan Yuyu Serindu, terutama pada bagian mimpi yang begitu terasa nyata.

__ADS_1


“Aku sangat tahu bahwa Kakang sedang berdusta. Kakang tidak bisa membohongi pandanganku,” kata Penombak Manis dengan wajah yang merengut, sebagai simbol dari kecemburuannya.


“Tapi itu hanya mimpi, Sayang. Jangan marah seperti itu,” bujuk Juling Jitu lalu memajukan wajah kusutnya ke dekat wajah istrinya, sambil memonyongkan bibirnya hendak mencium.


“Ehhem!” dehem Anjengan yang berjalan mendekat.


Cukup terkejut Juling Jitu. Buru-buru dia membatalkan niatnya.


Malam itu memang masih awal, masih jauh untuk dikatakan larut.


Sebelumnya, Juling Jitu mendapat tugas dari Alma Fatara, yaitu tidur di awal malam. Penombak Manis menemani suaminya dalam melaksanakan tugas tersebut. Makanya, ketika Juling Jitu terbangun dari mimpinya, para pendekar Pasukan Genggam Jagad belum ada yang tertidur. Sebagian dari mereka ada yang masih melaksanakan tugas yang telah dibagi.


“Bagaimana hasilnya?” tanya Anjengan.


“Dia malah mimpi selingkuh,” jawab Penombak Manis.


“Hahahak!” tawa Anjengan. “Tapi itu hanya mimpi.”


“Benar hanya mimpi, tapi jika mimpi bersama wanita lain, apalagi hidungnya lebih mancung dari hidungku, pasti wanita di dalam mimpi itu akan terkenang selalu di dalam ingatannya,” tandas Penombak Manis.


“Hahahak!” tawa Anjengan lagi. Lalu sarannya, “Lebih baik kalian selesaikan masalah kalian di tempat yang sepi, agar tidak didengar orang.”


“Aku sangat mau, tapi apakah Manis mau,” kata Juling Jitu cepat.


“Huh!” dengus Penombak Manis.


“Bagaimana dengan mimpimu? Apakah Alma berhasil masuk ke dalam mimpimu?” tanya Anjengan mengalihkan topik.


“Iya. Alma datang di dalam mimpiku,” jawab Juling Jitu.


“Berarti Alma berhasil mempelajari Kitab Titah Mimpi. Apa yang Alma katakan kepadamu?” tanya Anjengan.


“Alma mengingatkanku bahwa aku memiliki istri yang hebat di atas ranjang,” jawab Juling Jitu sambil tersenyum genit dan melirik istrinya.


“Dasar pendusta baru!” maki Penombak Manis sambil mendorong dada suaminya.


Juling Jitu terjengkang, sementara Penombak Manis bangkit berdiri dan melangkah pergi. Hal itu membuat Juling Jitu buru-buru bangkit berdiri.


“Aku harus menjinakkan macan manisku dulu, Anjeng!” pamit Juling Jitu lalu buru-buru mengejar istrinya masuk ke dalam kegelapan malam di kaki bukit itu.


Sementara itu, Anjengan segera pergi menuju ke tangga bukit untuk naik.


“Anjeng!” panggil Geranda sambil berlari menghampiri panglima itu. “Kau mau ke mana?”


“Naik menemui Gusti Ratu,” jawab Anjengan sambil tersenyum kepada Bendahara Kerajaan Siluman itu.


“Aku ikut. Aku ambil obor dulu,” kata Geranda lalu berbalik pergi lagi.


Anjengan terpaksa berhenti dan berdiri menunggu pemuda yang dalam beberapa hari ini memikat hatinya. (RH)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Audio Book Om Rudi "MARANTI" sudah up loh, yuk putar, dengar, like, dan komen! Sambil nunggu Alma Fatara up.


__ADS_2