Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
SMP 25: Mencari Bau Setan


__ADS_3

*Setan Mata Putih (SMP)*


 


Betok, Kungkang dan Jungkrik bekerja memanggul jerami dari pedati untuk diletakkan di tempat makan kuda.


“Apakah malam ini Setan Mantan Putih …. Eh eala, Setan Mata Putih, maksudku. Akan datang lagi?” tanya Kungkang kepada dua rekannya.


“Ah, apa iya tidak ada kuda lain selain di sini?” kata Jungkrik.


“Wah, jangan-jangan setannya tinggal di dekat sini,” kata Betok pula.


“Tapi aku yakin, nanti malam penjagaan di kandang kuda akan diperketat,” kata Jungkrik.


“Apakah kita akan dijagal juga? Eh ealah, dijaga juga, maksudku. Hehehe!” kata Kungkang yang suka terpelintir lidahnya. Memang, jika kondisinya cukup lelah, Kungkang akan semakin sering terpelintir lidahnya.


“Kau saja yang dijagal buat umpan setan itu. Hahaha!” kata Betok.


“Kungkang!” panggil seseorang tiba-tiba dari arah samping.


Meski yang dipanggil adalah Kungkang, tetapi yang berhenti dan menengok adalah ketiganya, seolah mereka bertiga satu paket.


Ternyata yang memanggil mereka adalah seorang prajurit kademangan.


“Waw!” desah ketiga lelaki gemuk bujangan itu terpukau dengan sepasang mata melebar dan mulut sedikit ternganga, tapi tidak sampai air liur melimpah.


Mereka terpukau bukan karena mereka penyuka sesama batangan, tetapi yang membuat mereka terpana adalah wajah indah nan cantik milik Ratu Kejar. Wanita gemuk dengan wajah yang begitu bersih dan hidung bangir itu adalah tipe mereka banget.


Namun, keterpesonaan mereka segera disembunyikan dengan bersikap normal. Hal itu karena mereka melihat keberadaan Raja Buru yang berperawakan pendekar. Jelas penampilan Raja Buru membuat mereka bertiga gentar, maklum mereka bertiga hanyalah tiga orang gendut penghitung dan pengurus kuda.


“Ada apa memanggil nanasku? Eh ealah, memanggil namaku, maksudku,” tanya Kungkang.


“Kedua pendekar ini mencari kalian bertiga,” jawab prajurit yang ditugaskan mengantar Raja Buru dan Ratu Kejar.


“Kenapa nama kami berdua tidak kau panggil juga?” protes Jungkrik.


Tiba-tiba Kungkang meletakkan jerami panggulannya ke atas jerami Jungkrik begitu saja, membuat rekannya itu bertambah beban.


“Itu tandanya, aku lebih utama dibandingkan kalian. Hehehe!” kata Kungkang lalu segera pergi menghadap kepada kedua pendekar gemuk itu.


Kungkang bersikap hormat kepada kedua pendekar tersebut. Ia tersenyum-senyum cengengesan, terutama kepada Ratu Kejar.


“Ada apa, Den Pendekar?” tanyanya dengan tubuh sedikit membungkuk dan kedua tangan bertemu di depan sangkar burungnya.


“Kami ingin mendengar cerita tentang setan yang menyerang kuda dan tunjukkan di mana kejadiannya,” ujar Ratu Kejar.

__ADS_1


“Oooh iya iya iya. Setan Mata Putih itu sangat menyeramkan. Matanya bersinar putih. Kutu-kutunya …. Eh eala, kuku-kukunya, maksudku,” cerita Kungkang bersemangat yang berujung kesalahan tekhnis. “Kuku-kukunya sangat panjang seperti ranting pohon. Dia membunuh dan mengisap darah kuda, bukan memakan daging kuda. Dia juga menyerang kami. Jika tidak percaya, Den Pendekar bisa tanya kedua sahabatku itu.”


Kungkang berbalik menunjuk Jungkrik dan Betok.


“Sumpah, aku tidak bolong. Eh eala, salah lagi. Maksudku, aku tidak bohong!” tegas Kungkang.


“Lagipula siapa yang menuduhmu berbohong,” sergah Raja Buru.


“Eh iya, maaf, Den Pendekar. Hehehe!” ucap Kungkang lalu cengengesan salah tingkah.


“Ayo, tinggalkan saja Kangkung!” kata Betok kepada Jungkrik.


Mendengar kata-kata Betok, Kungkang terkejut dan buru-buru berbalik mengejar kedua rekannya.


“Eeeh, jangan tinggalkan aku!” teriak Kungkang sambil menarik paksa tangan kedua sahabatnya, sampai-sampai jerami yang dipikul jatuh ke tanah. “Temani aku!”


“Bukankah kau lebih utama dari kami?” sindir Jungkrik sambil mendoerkan bibirnya.


“Hehehe! Iya iya iya, kita satu kebatuan. Ciahahaha, salah lagi. Kita satu kesatuan, maksudku,” kata Kungkang mengalah.


“Den Pendekar, hamba permisi!” ucap prajurit pengantar tadi.


“Silakan, Prajurit,” kata Raja Buru.


“Apakah menurut kalian, Setan Mata Putih itu benar-benar setan atau manusia jejadian?” tanya Ratu Kejar.


“Tidak, tapi manusia, Pendekar!” sanggah Jungkrik lebih lantang. “Sebab, dia bertarung seperti pendekar dan tidak bisa menghilang seperti setan.”


Raja Buru dan Ratu Kejar hanya terdiam sejenak mendengar dua jawaban yang saling bertentangan.


“Lalu di mana Setan Mata Putih menyerang?” tanya Raja Buru kemudian.


“Di dalam kandang!” jawab Betok.


“Di depan kandang!” jawab Jungkrik bersamaan dengan Betok.


Lagi-lagi jawaban kedua lelaki gendut itu saling bertentangan.


“Mana yang benar?” tanya Ratu Kejar.


“Yang benar itu, Setan Mata Putih membunuh kuda di dalam kandang, lalu menyerang kami di depan kandang. Tadi malam Ketua Prajurit sampai terluka parah terkena cakarannya, Den Pendekar,” jelas Kungkang.


“Ya, benar!” timpal Betok dan Jungkrik bersamaan.


“Kalian bertiga jangan ke mana-mana. Ayo ikuti kami!” perintah Raja Buru.

__ADS_1


Suami istri gemuk itu lalu berjalan pergi ke area depan kandang kuda, di mana sempat terjadi pertarungan yang mengeroyok Setan Mata Putih.


Betok, Jungkrik dan Kungkang segera mengikuti kedua pendekar tersebut.


Raja Buru dan Ratu Kejar berhenti di depan kandang besar kuda. Raja Buru lalu turun berlutut satu kaki dan satu telapak tangannya ia tempelkan di tanah yang keras.


Sers!


Selintas muncul kilatan sinar hijau yang menjalari tubuh gemuk Raja Buru dengan cepat, lalu lenyap. Hal itu mengejutkan ketiga pengurus kuda.


Ratu Kejar juga menyusul melakukan hal yang sama.


Sers!


Kembali ketiga pengurus kuda itu terkejut, saat melihat lintasan sinar hijau yang menjalari tubuh Ratu Kejar dengan sekejap saja.


Kedua pendekar gemuk itu sedang mengerahkan ilmu Endus Aroma Gaib. Itu adalah salah satu ilmu yang mereka miliki khusus untuk memburu jejak seseorang atau seekor binatang.


Keduanya mengendus-enduskan penciumannya. Sementara ketiga lelaki gendut hanya menyaksikan keanehan itu dengan perasaan tegang dan bertanya-tanya di dalam hati.


Dalam ritual ilmunya, Raja Buru dan Ratu Kejar bisa mencium dengan jelas berbagai macam aroma. Dalam proses penciumannya, mereka harus mengklasifikasi berbagai macam bau yang penciuman mereka endus. Ada bau badan kuda, bau kotoran kuda, bau manusia, bau ketiak, bau kentut, bau tanah, bau rumput, bau jerami, bau kayu, hingga bau makanan. Mereka juga mencium jejak bau darah kuda dan bau asing yang lain.


Raja Buru dan Ratu Kejar hanya bisa menduga jejak aroma asing itu adalah bau badan dari Setan Mata Putih. Baunya seperti bau seorang lelaki yang masih muda tapi bercampur bau darah kuda. Selain perpaduan dua bau itu, mereka juga mencium aroma asing yang tidak jelas jenisnya. Pada hakikatnya tiga aroma itu bercampur satu dan jejaknya berada dalam alur yang sama.


Dalam waktu kurang dari satu menit, Raja Buru dan istrinya telah berdiri dan bersikap normal kembali.


“Apakah Setan Mata Putih, tadi malam kabur ke arah sana?” tanya Raja Buru sambil menunjuk ke arah pagar luar yang cukup jauh, ke arah area berpohon dari wilayah kediaman Demang Mahasugi.


“Benar!” jawab Betok, Jungkrik dan Kungkang bersamaan.


Raja Buru dan Ratu Kejar segera berjalan ke arah yang dimaksud. Ketiga lelaki gendut mengikuti.


“Den Pendekar hebat sekali, bisa mencium bau tubuh setan itu,” ucap Betok memuji.


“Namanya juga pendekar, Botak. Eh ealah, Betok maksudku,” kata Kungkang. “Coba jika kita juga pendekar, pasti kita juga bisa mencium setan penyedot duda itu. Eh eala, penyedot kuda, maksudku.”


“Kau itu sudah waktunya istirahat dengan tenang, Kangkung. Sejak tadi bicaramu selalu meledek. Loh kok ikut salah? Selalu meleset, maksudku,” kata Jungkrik.


“Hahaha …!” tawa Kungkang dan Betok menertawakan Jungkrik yang mendadak latah seperti Kungkang.


“Ssst!” desis Raja Buru sambil menengok kepada ketiga lelaki gendut di belakangnya.


Sontak ketiga lelaki gendut itu terdiam, menutup bibirnya serapat bibir kerang.


Raja Buru menunjuk kepada seekor kucing yang sedang tertidur pulas di bawah sebatang pohon petai. Maka pahamlah mereka maksud desisan Raja Buru. (RH)

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Audio Book Om Rudi "MARANTI" sudah up loh, yuk putar, dengar, like, dan komen! Sambil nunggu Alma Fatara up.


__ADS_2