
*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*
Delapan kuda berhenti di sisi utara Desa Julangangin, di mana terdapat undakan-undakan seperti tangga alam yang memanjang. Pada undakan itu ada bangunan-bangunan rumah dan kedai makan.
Kedelapan kuda ditunggangi oleh para pemuda, enam lelaki dan dua wanita, yang kesemuanya memiliki jari-jari tangan berwarna hitam pekat. Rombongan itu dipimpin oleh Giling Saga, salah satu murid utama di Perguruan Jari Hitam.
Setelah menempuh perjalanan berkuda yang cepat dari perguruan, mereka akhirnya tiba di Desa Julangangin, tempat Giling Saga dan gurunya diracun di kedai makan Mbah Lawut.
“Di sini kau dan Guru diracun, Giling?” tanya gadis cantik berpakaian kuning yang rambutnya digelung sebagian di atas kepala. Ia lebih tua lima tahun dari usia Giling Saga. Namanya Rinai Serintik.
“Benar. Mungkin kita bisa menanyakan lokasi Perguruan Bulan Emas kepada Mbah Lawut,” kata Giling Saga.
Setelah mereka menambatkan kuda-kudanya, mereka mengikuti langkah Giling Saga sebagai orang yang sudah pernah datang ke desa itu.
Sebelumnya, Giling Saga pulang ke perguruan dan mengajak hampir seluruh murid Perguruan Jari Hitam untuk menyerang Perguruan Bulan Emas.
Namun, mereka memiliki kendala. Sebanyak lima puluh murid yang berangkat, tidak semuanya memiliki kuda. Akhirnya mereka memecah diri menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama adalah delapan murid utama perguruan yang pergi dengan berkuda, karena mereka harus berlomba dengan waktu. Kelompok kedua adalah lima belas murid berkuda lainnya, tetapi dengan kecepatan sedang agar tidak begitu menguras tenaga. Dan kelompok ketiga adalah tiga puluh murid pejalan kaki yang terdiri dari murid-murid tingkat rendah. Setiap kelompok dipimpin oleh murid utama.
Giling Saga langsung naik menuju ke kedai ayam panggang madu Mbah Lawut. Seorang pelayan segera menyambut kedelapan pelanggan yang datang.
Di kedai itu, ada beberapa pelanggan lain, beberapa di antaranya berperawakan pendekar. Aroma lezat yang tergambar kemanisannya sudah tercium dengan kuat.
“Selamat datang, para pendekar. Silakan, silakan!” sambut sang pelayan. Meski ia ingat dengan Giling Saga, tetapi bukan wewenang dia untuk mengurus perkara orang lain.
“Maaf, Kisanak. Kami ingin bertemu dengan Mbah Lawut,” kata Giling Saga santun.
“Oh, iya. Mbah Lawut ada di belakang. Tunggu sebentar,” kata pelayan itu.
Sang pelayan lalu berbalik pergi dan langsung menuju ke belakang, ke bagian pemanggangan ayam madu.
__ADS_1
“Mbah, pendekar yang dulu diracun di sini datang bersama sejumlah temannya. Mereka mencari Mbah,” ujar si pelayan kepada lelaki tua berambut dan berjenggot putih.
Kakek yang bernama Mbah Lawut terdiam sejenak. Ia lalu memberikan kipas yang dipegangnya kepada pelayannya. Tanpa berkata-kata, Mbah Lawut meninggalkan pelayannya dan langsung pergi ke bagian depan kedai makannya.
“Mbah Lawut!” sapa Giling Saga sambil menjura hormat ala pendekar.
Rinai serintik dan keenam rekan lainnya segera menjura hormat kepada orang tua itu.
“Giling Saga dan murid-murid Perguruan Jari Hitam,” sebut Mbah Lawut. “Selamat datang. Apakah ada yang bisa aku bantu?”
“Kami ingin bertanya tentang lokasi Perguruan Bulan Emas, Mbah,” ujar Giling Saga santun.
“Apakah kalian belum tahu di mana Perguruan Bulan Emas berada?” tanya Mbah Lawut.
“Kami hanya tahu di kisaran Bukit Tujuh Kepala,” jawab Giling Saga.
“Desa inipun termasuk di kawasan Bukit Tujuh Kepala. Aku memang banyak mengenal murid-murid Bulan Emas karena mereka sering mampir makan di sini, tapi aku sebagai orang biasa tentu tidak pernah datang ke sana,” jelas Mbah Lawut.
“Mungkin Pengemis Kaya lebih bisa membantu mereka,” kata Mbah Lawut kepada pendekar tua yang disebut bernama Pengemis Kaya.
“Maafkan kami, Tetua,” ucap Giling Saga sambil menjura hormat ala pendekar. “Mungkin Tetua Pengemis Kaya bersedia memberi kami petunjuk untuk sampai ke Perguruan Bulan Emas?”
“Hehehe! Aku akan memberi sedikit petunjuk, karena aku memang tidak tahu banyak. Aku juga tidak sepakat dengan perbuatan orang Bulan Emas yang sombong-sombong itu, apalagi sampai menculik seorang pendekar tua sakti dengan cara curang. Aku hanya menyarankan kalian untuk menggunakan jasa seorang pemandu. Perlu kalian tahu, daerah Bukit Tujuh Kepala itu termasuk yang rumit di muka bumi, karena daerah ini memiliki banyak daerah berbahaya. Jika kalian tersesat, bisa-bisa kalian masuk ke daerah yang salah. Dan itu sangat berbahaya,” tutur Pengemis Kaya.
“Tapi, siapa pemandu yang Tetua maksud?” tanya Giling Saga.
“Mbah Lawut bisa memberi saran untuk itu, tapi alangkah baiknya jika kalian makan ayam panggang madu, sekalian bayarkan pula ayamku ini. Hitung-hitung tanda terima kasih kalian. Hehehe!” kata Pengemis Kaya.
“Hahaha! Kalian tidak akan diracun seperti guru kalian,” kata Mbah Lawut yang didahului dengan tawa ringannya. Ia menduga bahwa murid-murid Perguruan Jari Hitam khawatir mengalami nasib seperti guru mereka.
__ADS_1
Giling Saga memandang Rinai Serintik dan beberapa rekannya.
“Bukankah kau bercerita bahwa Mbah Lawut yang menolongmu saat keracunan, tentunya tidak mungkin Mbah Lawut memberikan hidangan yang beracun. Terlebih kita sudah satu hari berkuda terus dan belum makan,” kata Rinai Serintik.
“Sambil kalian menunggu di sini, aku akan mengutus orang untuk mengirim pesan kepada Tikus Belukar bahwa kalian ingin menggunakan jasa pemandu,” kata Mbah Lawut.
“Baik, Mbah. Kami akan menunggu sambil makan. Tolong sajikan kami delapan ayam, Mbah,” kata Giling Saga.
“Baik, kalian duduklah terlebih dulu. Tentunya rekan-rekanmu belum pernah merasakan ayam panggang maduku. Hahaha!” kata Mbah Lawut lalu tertawa santai.
“Baik, Mbah,” kata Giling Saga.
“Silakan, silakan!” kata Mbah Lawut.
Giling Saga dan rekan-rekannya lalu pergi mengambil duduk di sekitar meja yang masih kosong. Mbah Lawut dan beberapa pelayannya segera bekerja dengan cepat untuk menyiapkan pesanan rombongan Giling Saga.
Terlihat Pengemis Kaya sudah selesai bersantap. Dia raih tongkat kayu hitamnya yang memiliki lekukan tidak beraturan.
“Lawut! Bayaranku dibayarkan murid-murid Rereng Busa!” teriak Pengemis Kaya.
“Baik, Pendekar,” ucap seorang pelayan sambil membungkuk menghormat.
“Hati-hatilah kalian jika menyerbu ke Bulan Emas!” kata Pengemis Kaya kepada Giling Saga dan rekan-rekannya.
“Terima kasih, Tetua!” ucap Giling Saga.
Pengemis Kaya yang berjubah biru gelap lusuh itu melangkah pergi dengan ujung tongkat terdengar mengetuk di setiap langkah.
“Lalu bagaimana dengan rombongan Dendeng Pamungkas dan Nining Pelangi?” tanya Kulung, pemuda yang bertubuh agak pendek tapi kekar, yang satu meja dengan Giling Saga, Rinai Serintik dan Jernih Mega.
__ADS_1
“Karena kita sudah beri mereka petunjuk tentang desa ini, nanti kita titip pesan saja kepada Mbah Lawut,” jawab Giling Saga. (RH)