
*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*
Suasana berubah total.
Selama tiga hari lamanya kelompok Bajak Laut Kepiting Batu menyandera Demang Baremowo dan istrinya, plus para prajurit dan pelayan, serta menciptakan ketakutan terhadap warga Kadipaten Dulangwesi. Kini kondisi yang terjadi justru sebaliknya.
“Hahaha …!” Suara tawa para bajak laut terdengar ramai tanpa beban utang, atau tuntutan pertanggungjawaban terhadap anak gadis orang.
“Hua hua hua …!” Mereka kembali bisa dengan bangga meneriakkan gertakan khasnya.
Semua itu terjadi lantaran di hadapan mereka kini tergelar berlimpah santapan lezat dan minuman yang nikmat. Apalagi mereka tahu, orang yang memasak makanan itu adalah Nyi Bungkir, nyonya cantik jelita yang mempesona, meski jarang tersenyum merona.
Orang-orang yang memasak makanan adalah para pelayan keluarga Demang Baremowo, bahkan dibantu oleh sejumlah wanita warga yang dipanggil khusus. Namun, Nyi Bungkir yang bertindak sebagai kepala koki, sehingga judulnya “masakan Nyi Bungkir”.
Tidak ada arena ancam-mengancam lagi. Tidak ada warna permusuhan lagi. Tidak ada gelagat siasat licik lagi. Rumah Demang Baremowo benar-benar berubah menjadi tempat pesta besar.
Iwak Ngasin, Juling Jitu, Anjengan, dan Gagap Ayu bahkan berbaur dengan Udang Karang yang sudah girang, Mutiara Laut Hitam, Paus Ijo, Gede Gaya dan anggota bajak laut lainnya. Mereka duduk berhampar tikar pandan di tanah halaman rumah Demang.
“Su-su-sudah aku ka-ka-katakan, kau itu cocok de-de-dengan Pa-pa-paus Ijo!” kata Gagap Ayu kepada Anjengan.
“Hahaha …!” tawa para bajak laut.
Setiap mendengar Gagap Ayu bicara, mereka selalu tertawa terbahak-bahak, tetapi Gagap Ayu tidak ambil jantung.
“Secara hukum, gendut ketemu gendut akan menghasilkan hidup yang sial!” bantah Anjengan.
“Hu-hu-hukum yang mana?” tanya Gagap Ayu.
“Hahaha …!” tawa para bajak laut lagi, apa lagi mereka senang melihat keduanya bertengkar, karena lucu.
“Hukum yang aku ciptakan!” kata Anjengan.
“Da-da-dasar ubur-ubur la-la-laut! Memangnya kau si-si-siapa, hah?!” bentak Gagap Ayu, lalu memutus kepala bebek panggang dan dilemparkannya kepada Anjengan yang berseberangan duduk dengannya.
Puk!
Kepala bebek tidak berdosa itu tepat mengenai wajah Anjengan, seketika membuatnya marah seperti monster ubur-ubur.
“Hahaha …!” Begitu kencang Iwak Ngasin, Juling Jitu dan para bajak laut tertawa melihat nasib Anjengan.
“Cari mati kau, Gagap Penyek! Beraninya kau menghina Dewi Laut!” teriak Anjengan murka, lalu tiba-tiba dia melompat menerkam Gagap Ayu, seperti kucing yang melompati hamparan hidangan.
“Hajar!”
“Cekik!”
“Cubit!”
“Ayo, Anjengan!”
__ADS_1
“Ayo, Gagap!”
“Hahaha!”
Teriak para bajak laut ramai-ramai dan sebagian justru tertawa.
Ternyata, meski tidak sempat mnghindar, tapi Gagap Ayu sudah siap. Tubuhnya memang terjengkang ke belakang dengan tubuh besar Anjengan menindih di atasnya, tetapi kedua telapak kaki Gagap Ayu masuk ke perut Anjengan.
“Aaa!” pekik Anjengan saat kedua kaki Gagap Ayu bertolak keras ke atas, melempar tubuh berlemak itu ke atas, lepas landas dan lepas pegangan.
Brakr!
Tubuh Anjengan jatuh begitu saja ke atas hidangan di atas tikar, membuat sebagian hidangan itu menjadi berantakan. Namun, para bajak laut bukannya marah, tetapi justru bersemangat.
“Gede Gaya, kau taruhan untuk siapa?” tanya Paus Ijo.
“Gagap Ayu!” jawab Gede Gaya.
“Aku pilih Anjengan, dia itu memiliki ciri-ciri wanita impianku!” kata Paus Ijo.
“Yang kalah, cuci kapal selama sepurnama,” timpal Udang Karang.
“Setuju!” seru Paus Ijo dan Gede Gaya bersamaan.
Para bajak laut yang lain, yang sedang asik makan, segera meninggalkan tempat duduknya, mereka segera datang berkerumun menontong perkelahian Gagap Ayu dan Anjengan. Sementara kedua tangan mereka masih memegang dua jenis makanan.
Sementara itu, Alma Fatara, Cucum Mili, Demang Baremowo, dan Nyi Bungkir, hanya menengok sebentar melihat kepada keributan. Mereka duduk berempat di kursi kayu yang mengelilingi meja kayu bundar di teras.
“Dua sahabatku, Anjengan dan Gagap Ayu. Hahaha!” jawab Alma santai lalu tertawa ringan.
“Apakah mereka akan dibiarkan begitu saja?” tanya Demang Baremowo.
“Itu sudah biasa mereka lakukan, biasanya merebutkan lelaki yang tidak jelas. Nanti juga mereka akan berhenti sendiri,” jawab Alma. Lalu katanya kepada Cucum Mili, “Waktunya kau menjelaskan tujuanmu meyerang kademangan ini, Kakak!”
“Kelompok-kelompok bajak laut yang berbeda telah membentuk sekutu, yang dipimpin oleh Bajak Laut Ombak Setan, yang diketuai oleh Ronggo Palung yang berjuluk Hantu Dasar Laut. Kami menginginkan dua kadipaten wilayah pesisir menjadi wilayah kekuasaan kami. Karenanya, kami melakukan penyerangan ke beberapa wilayah, menjadikan pejabat dan penduduknya sebagai sandera. Jika Prabu Manggala Pasa tidak memenuhi permintaan kami, maka semua sandera akan kami bunuh, termasuk Demang dan warganya,” jelas Cucum Mili.
“Lalu kenapa Kakak Cucum memilih kademangan, bukan ibu kota kadipaten?” tanya Alma memotong.
“Kurang sopan!” hardik Cucum Mili. “Dengarkan saja, jangan memotong penjelasan orang tua!”
“Hahaha!” Alma hanya tertawa.
“Awalnya aku difungsikan sebagai pasukan bantuan jika Bajak Laut Ombak Setan yang menguasai ibu kota Balongan dikepung pasukan Kerajaan Singayam. Tapi, rencana di sini jadi rusak gara-gara kau!”
“Hahaha! Aku hanya datang dengan damai, tetapi Kakak yang berniat buruk kepadaku!” balas Alma. “Tapi, sepertinya aku akan ke Balongan. Aku memiliki banyak orang akrab di sana. Aku harus memastikan mereka baik-baik saja. Sepertinya aku akan menjadi pengacau bagi sekutumu.”
“Lebih baik kau jangan ikut campur, Alma,” saran Cucum Mili.
“Tergantung situasi di Balongan nanti. Jika pemberontakan kalian bisa dipadamkan oleh pasukan kerajaan, aku tidak akan turut campur. Lagi pula, usaha kalian akan sia-sia dan pastinya kalian akan dihabisi oleh Kerajaan. Lebih baik Kakak dan Bajak Laut Kepiting Batu mundur dari rencana gila kalian. Kekuatan kalian sangat tidak sebanding dengan kekuatan Kerajaan Singayam,” ujar Alma.
__ADS_1
“Karena itu kami menempuh cara sandera,” kata Cucum Mili.
“Apakah kalian pikir Prabu Manggala Pasa adalah seorang begawan welas asih, yang memilih melepas tanah kekuasaannya demi menyelamatkan nyawa rakyatnya? Prabu Manggala Pasa memiliki pusaka yang membuatnya tidak bisa dilukai oleh kesaktian apa pun,” kata Alma.
Terbeliak Cucum Mili dan Demang Baremowo mendengar hal itu, sebab mereka baru tahu.
“Dari mana kau tahu, Alma?” tanya Nyi Bungkir.
“Aku pernah melihat pusaka itu dan kehebatannya,” jawab Alma. Lalu tanyanya, “Siapa saja kelompok bajak laut yang ikut bergabung dalam sekutu?”
“Selain Bajak Laut Kepiting Batu, ada Bajak Laut Elang Biru yang dipimpin oleh Biru Segara, dan ada Bajak Laut Gunung Samudera yang dipimpin oleh Siluman Naga Laut. Mereka memiliki armada kapal yang kuat,” jawab Cucum Mili.
“Kakak, kau pilih mati atau mencari peluang hidup bersama dengan Pangeran Sugang Laksama?” tanya Alma.
Terkesiap Cucum Mili mendapat pertanyaan seperti itu. Ia tidak langsung menjawab. Ia berpikir lebih dulu.
Sebelumnya, Dukun Sirip telah memberi masukan kepadanya agar memilih cinta daripada kematian.
“Dasar Anak Setan!” makinya pelan. Lalu jawabnya, “Jika aku memilih mati, aku tidak akan menerima tawaran pengobatanmu, Alma. Kau lihat, aku sudah memakai bedak khusus untuk wajahku agar bisa membuat Pendekar Pedang Dedemit tidak jijik dengan kulit hitamku.”
“Hahahak!” tawa Alma terbahak.
Sementara itu, sorak-sorak semangat para anak buah Cucum Mili terdengar kian seru dan semakin ramai. Rupanya, Anjengan dan Gagap Ayu sedang saling tarik rambut, benar-benar bertarung sebagai wanita sejati.
Menjadi pertanyaan sendiri, meski keduanya berkelangi sengit, tetapi keduanya tidak sekali pun menggunakan kesaktiannya untuk saling melukai.
Sementara itu, Iwak Ngasin dan Juling Jitu tidak ikut larut dalam kegembiraan para bajak laut. Mereka justru bingung memikirkan cara untuk melerai Ajengan dan Gagap Ayu.
Namun, pada satu ketika, Anjengan dan Gagap Ayu tiba-tiba berhenti sendiri karena terkejut, membuat sorakan dukungan penyemangat dari para bajak laut juga berhenti mendadak.
Hal itu terjadi ketika kedua wanita gemuk dan kurus itu menangkap keberadaan sosok pemuda tampan berpakaian hitam dan berkulit putih cemerlang. Sosok yang berdiri di antara para anggota bajak laut itu, seperti sebutir mutiara di antara kulit-kulit kerang. Jika para bajak laut terkesan dekil, maka sosok itu terkesan bersih berwibawa.
“Mbah Hitam!” sebut Anjengan terkejut.
“Mbah Hi-hi-hitam!” sebut Gagap Ayu.
Kedua gadis perawan itu buru-buru melepas jambakannya dari rambut sahabatnya. Keduanya cepat-cepat merapikan rambut dan pakaian mereka, sambil tersenyum-senyum canggung kepada sosok pemuda tampan yang memang adalah Mbah Hitam. Pemuda siluman itu sedikit pun tidak tersenyum, tatapannya begitu dingin.
Saat para bajak laut menyadari kehadiran Mbah Hitam, yang berada di dekat orang asing bagi mereka itu, segera bergerak mundur menjauh.
“Siapa orang tampan itu?” tanya Cucum Mili. Ia menatap serius kepada Mbah Hitam.
“Itu Mbah Hitam, Siluman Ular yang mengabdi sebagai pengawalku,” jawab Alma seraya tersenyum. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ayo baca, like dan komen juga di chat story Om Rudi yang berjudul "Narator Horor"!
__ADS_1