Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Dewa Gi 16: Nenek Muka Kelam


__ADS_3

*Dendam Wanita Gila (Dewa Gi)*


Wanita tua berselimut kain hitam itu berjalan tertatih menaiki undakan tangga berlumut. Selain selimutan kain itu menutupi tubuhnya, juga menutupi wajahnya. Dengan bantuan tongkat bambu biasa berwarna hijau, ia mendaki.


Dari arah yang berlawanan, seorang lelaki bertubuh mini melompat-lompat menuruni tangga tersebut. Lelaki mini itu tidak lain adalah Yono, anggota kelompok Tikus Belukar.


“Apakah kau berniat ke Candi Alam Digdaya, Nek?” tanya Yono ketika dia tingginya sejajar dengan si nenek. Yono yakin bahwa perempuan berselimut kain hitam itu adalah nenek-nenek, karena melihat jari tangannya yang keriput dan bertongkat.


“Apakah kau orang Tikus Belukar?” tanya si nenek dengan sedikit mengangkat wajahnya.


“Benar, Nek. Apakah kau membutuhkan pemandu untuk lebih mudah masuk jauh ke dalam Candi?” jawab dan balik tanya Yono. Lalu katanya lagi dengan cepat, “Tapi kau harus bayar mahal.”


“Bagaimana bila aku membayar dengan kalung emas?” tanya si nenek.


“Aku harus lihat dulu sebesar apa kalung emasmu,” kata Yono.


Si nenek lalu menyelinapkan tangan kirinya ke balik selimutnya. Ketika ia menyentuh kalungnya, tangannya menarik menghentak, membuat kalungnya putus. Ketika tangan kirinya kembali keluar, tangan itu sudah terlihat memegang seuantai kalung emas yang putus tapi memiliki mata kecil berwarna biru terang.


Yono lalu turun dua undak anak tangga untuk mengambil kalung itu dari tangan si nenek. Sejenak Yono memperhatikan kalung tersebut. Sangat jelas bahwa kalung itu memiliki nilai yang tinggi.


“Dengan kalung ini, aku bisa mengantar Nenek sampai Gerbang Ratu.”


“Gerbang paling jauh yang bisa kau antar sampai mana?” tanya si nenek.


“Gerbang Ratu adalah gerbang terjauh yang bisa aku antar. Adapun Gerbang Raja tidak ada izin dari Penjaga Candi,” jelas Yono. “Tapi aku harus tahu dulu, siapa pelanggan yang sedang aku layani.”


“Namaku Nenek Muka Kelam. Aku sedang menderita luka parah, aku mau mencari obat di Alam Digdaya.”


“Baiklah, Nek. Ayo kita naik!” ajak Yono sambil menaruh kalung di tangannya ke balik pakaiannya.


Mereka berdua lalu menaiki tangga yang masih ada beberapa puluh undak lagi.


“Siapa namamu?” tanya Nenek Muka Kelam.


“Yono, Nek. Aku adalah orang terbaik Tikus Belukar. Aku bahkan bisa mencapai Gerbang Raja. Dan itu hanya aku. Namun, aturan Candi melarang pengantaran sampai gerbang itu. Nenek berasal dari mana?”


“Aku berasal dari luar lingkaran Bukit Tujuh Kepala. Aku dengar-dengar, perguruan-perguruan penguasa tujuh bukit mengirimkan orang-orangnya ke Candi. Apakah benar seperti itu?”

__ADS_1


“Benar, Nek. Semua perguruan dan kelompok yang ada di wilayah Bukit Tujuh Kepala sudah mengirim wakil-wakilnya masuk ke Candi Alam Digdaya.”


“Apakah sudah ada yang keluar?” tanya Nenek Muka Kelam.


“Belum. Murid-murid Bulan Emas yang masuk lebih dulu, belum juga keluar. Sudah lebih sepekan lamanya.”


“Uhhuk uhhuk!” batuk Nenek Muka Kelam.


“Dari suara batukmu, lukamu parah, Nek,” kata Yono.


“Karenanya aku butuh obat yang sangat mujarab untuk bisa menyembuhkan lukaku,” kata si nenek.


Sambil berbincang-bincang, tak terasa mereka tiba di atas anak tangga teratas. Setelah tangga itu, ada jalan datar sejauh belasan tombak. Jalan itu diapit oleh rimbunan pohon cemara yang tumbuh begitu rapat, menjadi dinding hijau di kedua sisi jalan.


Setelah jalan itu, ada lagi tangga berketinggian beberapa puluh anak tangga. Pada puncaknya ada sebuah gapura batu berwarna hitam dan memiliki tulisan besar di atasnya berwarna putih kusam. Tulisan yang berbunyi “Putri” itu terbuat dari batu putih.


“Itu adalah Gerbang Putri, Nek!” tunjuk Yono. “Tapi sebelum itu, kita harus izin lebih dulu kepada Penjaga Candi.”


Saat menaiki tangga menuju Gerbang Putri, mereka hanya melihat tangga dan gerbang serta pepohonan di kanan dan kiri. Namun, ketika mereka sampai pada anak tangga ke dua puluh lima dari tangga Gerbang Putri, tiba-tiba mereka melihat ada jalan datar berbatu di sebelah kanan. Jalan itu terlihat hanya jika mereka berdiri pada anak tangga tersebut.


Jalan datar berbatu itu menuju ke sebuah pintu batu yang terbuka. Pintu itu milik dari bangunan candi kecil. Di sisi depan kanan dan kiri pintu ada patung monyet besar yang sedang berjongkok, tetapi wajahnya menunjukkan kebengisan dengan sorot mata yang tajam dan terkesan hidup.


Tanpa bertanya, Nenek Muka Kelam berjalan tertatih lebih dulu menuju candi kecil yang terbuat dari susunan batu hitam. Yono mengikuti di belakang.


Setibanya, tanpa diarahkan oleh Yono, si nenek lalu mengusap kepala patung kera besar yang ada di sebelah kiri. Yono agak terkejut melihat hal itu.


“Berarti nenek ini sudah pernah datang ke sini,” pikir Yono.


Nenek Muka Kelam lalu memasuki pintu dengan harus menuruni tangga yang berjumlah sepuluh undak. Selanjutnya ada lorong gelap yang berujung pada tirai merah bercahaya, karena ruangan di balik tirai adalah ruangan yang terang.


Sementara Yono tetap berada di luar, menunggu.


“Apa niatmu datang ke Candi Alam Digdaya?” tanya satu suara wanita ketika Nenek Muka Kelam berhenti tepat di depan tirai.


“Aku ingin mencari obat mujarab dan Jarum Kesaktian,” jawab Nenek Muka Kelam.


“Masuklah!” perintah suara wanita yang masih terdengar muda itu.

__ADS_1


Si nenek pun menyibak tirai dan melangkah masuk.


Nenek Muka Kelam masuk ke sebuah ruangan cukup besar yang terbuat dari batu tapi sangat indah karena penuh dengan seni. Ukiran-ukiran batu, tiang-tiang batu berpahat, dan patung-patung batu berwujud binatang siluman, membuat ruangan itu terlihat indah sekaligus seram. Ada aroma kayu cendana yang kental memenuhi ruangan itu.


Di atas sebuah batu pualam berwarna hijau gelap dan berbentuk kubus, duduk bersila seorang lelaki separuh baya berwajah tampan. Ketampanan di usia tua itu terlihat dari bentuk hidung mancung, alis yang tebal, sisiran rambut gondrongnya yang rapi, dan sedikitnya keriput pada wajahnya. Warna kulitnya pun putih cerah. Ia mengenakan pakaian serba putih dengan ujung jubah yang nyaris menutupi batu yang didudukinya. Dialah orang yang sering disebut dengan nama Penjaga Candi. Hanya dia dan dewa yang tahu siapa nama aslinya.


Penjaga Candi tidak sendiri, dia ditemani oleh dua orang wanita muda yang keduanya cantik-cantik, tapi berkulit hitam manis. Meski hitam, keduanya memiliki jenis kulit yang glowing. Wanita berambut panjang berpakaian warna kuning bernama Semanis Madu. Wanita yang berambut digelung berpakaian warna hijau muda bernama Semanis Sari.


Nenek Muka Kelam lalu berhenti di lantai yang memiliki ukiran berpola gambar matahari. Letaknya tiga tombak dari batu pualam. Si nenek turun duduk bersimpuh. Seperti seorang hamba kepada rajanya, Nenek Muka Kelam menghormat dengan penuh khusyuk.


“Sembah hormatku kepada Penjaga Candi,” ucap Nenek Muka Kelam.


“Tunjukkan wajahmu dan sebutkan namamu yang sebenarnya!” perintah Penjaga Candi dengan suaranya yang berwibawa laksana seorang raja.


Nenek Muka Kelam lalu menyingkap kain penutup wajah dan kepalanya. Maka tampaklah wajah yang kulitnya berwarna hitam semua. Hitam seperti warna rambut. Menyeramkan dengan mata yang memerah.


“Aku bernama Wulan Kencana, Ketua Perguruan Bulan Emas,” ujar Nenek Muka Kelam.


“Aku tidak akan bertanya tentang sebab kondisimu. Kau pun dulu pernah masuk ke candi ini, tetapi hanya sebatas Gerbang Ratu. Aku hanya mengingatkan, cari dan ambillah apa yang kau inginkan sejak sebelum kau sampai di sini. Jika kau melanggar, maka tanggung sendiri akibatnya,” kata Penjaga Candi datar.


“Baik, Penjaga Candi,” ucap nenek yang ternyata adalah Wulan Kencana yang masih hidup.


“Dengan siapa kau datang?” tanya Penjaga Candi.


“Dengan anggota Tikus Belukar yang bernama Yono.”


“Sampai mana dia akan mengantarmu?”


“Gerbang Ratu.”


“Baiklah, kau boleh pergi, Wulan!” perintah Penjaga Candi.


“Terima kasih. Sembah hormatku kepada Penjaga Candi,” ucap Wulan Kencana sambil tetap memeluk tongkat bambunya.


“Hmm!” gumam Penjaga Candi tanda mengiyakan.


Si nenek lalu beringsut mundur seperti seorang abdi. Setelah mundur sejauh dua tombak, ia bangkit dan berbalik. Tidak lupa ia kembali merapikan selimut kain hitamnya untuk menutupi wajah hitamnya. (RH)

__ADS_1



YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.


__ADS_2