Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
DEKET 30: Satu Lawan Dua


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)* 


 


“Giliranku menyerang, Bibi!” seru Alma Fatara nyaring lalu tiba-tiba bergerak begitu cepat balas mengagresi Dewi Kipas Murka yang langsung terkejut.


Dewi Kipas Murka terkejut karena ternyata Ratu Siluman yang semuda itu juga memiliki kecepatan setan. Tidak hanya itu, ternyata Alma Fatara juga kebal senjata tajam, karena dia berani menangkap sisi tajam kipas untuk mengunci serangan lawan, lalu balas mengagresi.


Set set set …!


“Aak ak ak!” jerit Dewi Kipas Murka beberapa kali saat dengan kecepatan nyaris tidak terlihat oleh mata, jari-jari Alma Fatara bertindak seperti dua pedang yang tajam.


Jari-jari tangan Alma Fatara membeset kedua tangan dan badan depan Dewi Kipas Murka.


Buru-buru Dewi Kipas Murka berkelebat mundur membawa sejumlah luka yang membuatnya berdarah-darah.


“Bocah bau ompol!” maki Dewi Kipas Murka seraya mengerenyit tapi menatap tajam ke arah Alma Fatara.


“Hahahak!” tawa Alma Fatara yang seakan-akan membunuh Dewi Kipas Murka sebelum mati.


Clap! Bross!


Tiba-tiba sosok Garok Bodong telah muncul di udara, tepatnya di belakang Alma Fatara dengan telapak tangan bersinar merah berpijar. Alma Fatara yang tahu, membiarkan saja dengan tetap melanjutkan tawanya, membuat lelaki berkumis tebal itu dengan bebas menghantamkan sinar merah berpijarnya.


Zing! Bang! Bross!


“Huaaakr!”


Tiba-tiba dinding sinar ungu bening lagi tebal muncul di belakang tubuh Alma Fatara, membuat sinar merah berpijar gagal menghantam Alma Fatara. Sinar merah berpijar yang menghantam dinding sinar ungu, langsung memantul balik dan menghantam tuannya sendiri yang masih melayang di udara.


Garok Bodong memekik keras saat dihantam kesaktiannya sendiri. Ia terpental jauh lalu punggungnya menghantam tanah jalanan dengan keras.


“Hoek!” Garok Bodong langsung muntah darah dengan wajah dan badan depannya hangus. Namun, itu tidak cukup untuk membunuhnya.


Garok Bodong cepat bangkit. Akan malu tidak terbantahkan jika dia harus tumbang oleh kesaktiannya sendiri.


“Langsung menuju ke kematian, Bibi Dewi!” teriak Alma Fatara sambil mengibaskan kedua tangannya tiga kali ulang.


Sezt! Sezt! Sezt …!


Des des des …!


Enam kiblatan sinar kuning melengkung tipis seperti sabit berlesatan menyerang Dewi Kipas Murka. Wanita separuh baya itu membentengi dirinya dengan deretan kipas sinar merah di depan badan.


Setiap sinar kuning ilmu Sabit Murka menghantam perisai kipas sinar, Dewi Kipas Murka termundur setindak.


Wusss! Swess! Bluarr!


Setelah menahan agresi ilmu Sabit Murka, Dewi Kipas Murka langsung mengipaskan kipas pusakanya.


Maka sinar merah besar berekor seperti meteor menabrak atmosfir bumi melesat secepat kilat. Namun, pada saat yang sama, Ratu Siluman juga melesatkan sinar emas menyilaukan mata.


Terjadilah peraduan dua kesaktian di tengah jarak, menciptakan ledakan tenaga sakti yang berbeda tingkatan.


Tak ayal lagi, Dewi Kipas Murka terpental kencang dengan muntahan darah di udara. Hal yang sama terjadi terhadap Alma Fatara. Ia pun terpental deras dan jatuh berdebam di tanah. Alma Fatara dalam kondisi tengkurap dan langsung tidak bergerak.


Sementara di ujung sana, Dewi Kipas Murka masih bisa bangkit meski dengan terhuyung dan mulut meneteskan darah kental.


Lagi-lagi Garok Bodong memanfaatkan sisi lengah Alma Fatara. Ia naik ke udara dengan keris bersinar biru gelap di tangan kiri.

__ADS_1


Seet! Clap! Tseb!


Garok Bodong melesatkan keris bersinarnya tepat ke arah punggung Alma Fatara yang tidak bergerak.


“Bocah Susu Asu!” maki Garok Bodong terkejut bukan main melihat tubuh Alma Fatara menghilang begitu saja seperti setan, membuat kerisnya hanya menancap di tanah.


“Giliranku main belakang, Paman!” seru Alma Fatara yang tiba-tiba muncul di udara, tepat di belakang Garok Bodong yang masih berada di udara.


Buss!


“Hakrr!” jerit Garok Bodong dengan tubuh meluncur deras ke depan, tapi tidak terkendali.


Satu sinar ungu dari Tinju Roh Bumi Alma Fatara menghantam telak punggung Garok Bodong.


Bugk!


Tubuh Garok Bodong menghantam akar pohon besar dengan begitu kuat.


“Aaak!” erang lelaki berpakaian hitam itu kesakitan.


“Hahahak!” tawa terbahak Alma Fatara melihat nasib Garok Bodong. Jika pendekar biasa, pasti sudah mati.


Wuss! Bruss!


Tiba-tiba sosok merah melintas terlalu cepat di depan Alma Fatara. Dan tahu-tahu Alma Fatar telah terkurung oleh kerangkeng sinar merah berapi-api. Bahkan di atas kepalanya juga tertutup pagar sinar merah berapi.


Swess swess!


Blar blar!


Tanpa menunggu dirinya dipanggang dalam kerangkeng panas itu, meski dirinya antiapi seperti jaket damkar, Alma Fatara langsung main Pukulan Bandar Emas.


Seet!


Bebasnya Alma Fatara disambut oleh lesatan kipas merah berselimut api besar. Namun, kipas api terbang itu justru ditangkap oleh tangan Alma Fatara, membuat Dewi Kipas Murka terkejut. Ia baru tahu, selain antisajam, ternyata lawannya juga antipanas.


Clap!


Tahu-tahu Alma Fatara muncul di hadapan Dewi Kipas Murka dengan kipas api di tangan.


“Bibi, aku kembalikan kipasmu,” ujar Alma sambil hendak menyodorkan kipas berapi di tangannya kepada Dewi Kipas Murka.


Clap!


Namun, Dewi Kipas Murka tiba-tiba menghilang begitu saja dan muncul di titik yang lain.


Clap!


“Bibi, ini kipasmu!” kata Alma Fatara sambil tiba-tiba muncul di depan Dewi Kipas Murka lagi.


Clap!


Lagi-lagi Dewi Kipas Murka menghindari Alma Fatara dengan menghilang dan berpindah tempat.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara melihat tingkah Dewi Kipas Murka. Lalu sahutnya, “Berarti kipas ini untukku saja, Bibi!”


“Jangan kau ambil senjata pusakaku!” teriak Dewi Kipas Murka yang sudah menderita luka parah.


“Tidak bisa. Aturan Kerajaan Siluman, segala harta milik lawan tarung atau lawan perang yang kalah menjadi milik Kerajaan Siluman. Adalah salah kalian sendiri yang tidak mempelajari aturan Ratu Siluman sebelum mengajaknya main nyawa! Hahaha!” seru Alma Fatara lalu tertawa.

__ADS_1


Blep!


Alma Fatara lalu memadamkan api pada kipas merah tersebut, kemudian menyelipkan di sabuknya.


“Paman, apakah kau masih sanggup bertarung?” teriak Alma Fatara kepada Garok Bodong.


“Susu asu!” maki Garok Bodong marah. Ia bergerak berdiri sambil menahan sakit. Lalu teriaknya seperti lakon manga, “Rasakanlah kesaktian Raga Sempurna-ku!”


Jress!


Tiba-tiba tubuh Garok Bodong diliputi sinar putih laksana orang suci.


“Tahan seranganku, Paman!” pekik Alma Fatara lalu tiba-tiba menghilang seperti setan.


Clap! Swess! Bluar!


“Aak!” jerit Dewi Kipas Murka dengan tubuh terlempar jauh, setelah Alma Fatara tahu-tahu muncul di atasnya dan membanting sinar emas menyilaukan.


Untung saja Alma Fatara membanting ilmu Pukulan Bandar Emas-nya di tanah dekat kaki, bukan langsung ke badan. Dewi Kipas Murka sangat tidak menduga serangan itu. Ia pikir Alma Fatara akan menyerang Garok Bodong.


“Hahahak …!” tawa terbahak Alma Fatara karena telah menipu Dewi Kipas Murka.


Kali ini Dewi Kipas Murka tidak bisa bangun lagi. Lukanya sudah terlalu parah.


Tinggallah Garok Bodong yang siap menyerang dengan ilmu pamungkasnya.


Wess! Zing! Buang!


Sosok bersinar Garok Bodong melesat secepat kilat dan tahu-tahu benturan dahsyat terjadi.


Ternyata, tubuh Garok Bodong menghantam dinding sinar ungu dari ilmu Tameng Balas Nyawa Alma Fatara. Hasilnya, tubuh Garok Bodong terpental balik dengan keras lalu jatuh ke dalam semak belukar.


Sementara itu, Alma Fatara terdorong dan terjengkang sejauh dua tombak. Namun, ia cepat bangkit berdiri.


“Uhhuk!” batuk Alma Fatara karena dadanya terasa sesak, tapi tidak sampai membuatnya terluka.


Dilihatnya Garok Bodong juga bergerak bangkit dengan sempoyongan. Kondisinya masih bersinar putih.


“Kita akhiri, Paman Garuk!” teriak Alma Fatara.


Dia lalu berjumpalitan seperti atlet senam lantai mendekati posisi Garok Bodong. Saat jaraknya kian dekat, Alma Fatara lalu melompat bersalto naik ke udara.


Buss! Bugg!


“Hukrr!”


Saat naik ke udara itu, Alma Fatara melesatkan sinar ungu dari Tinju Roh Bumi. Sinar ungu menghantam telak dada Garok Bodong yang tidak bisa menghindar. Seiring tubuhnya terjengkang keras ke semak belukar, sinar pada tubuh Garok Bodong pun padam.


Namun, kekuatan ilmu Raga Sempurna membuat Garok Bodong tidak langsung mati oleh Tinju Roh Bumi. Ia hanya menderita luka yang kian parah.


“Sepertinya pertarungan kita sudah berakhir, Paman. Jika suatu saat nanti Paman masih menginginkan Bola Hitam, aku tidak akan segan langsung membunuh,” ujar Alma Fatara kepada Garok Bodong yang tidak menanggapi, karena sibuk menikmati deritanya yang luar biasa.


Alma Fatara lalu berjalan pergi menghampiri keris yang tertancap di tanah. Diambilnya keris milik Garok Bodong. Ia pun memungut sarung kerisnya. Setelah itu, Alma Fatara pergi menghampiri Dewi Kipas Murka.


“Bibi, pertarungan kita selesai. Semoga kau bisa lolos dari kematian,” kata Alma Fatara.


Memang, luka yang diderita Dewi Kipas Murka bisa berisiko mematikan jika tidak segera diobati.


Alma Fatara lalu beralih kepada tiga orang bertubuh besar yang berjalan mendatanginya. Mereka adalah Ireng Cadas, Ireng Gempita dan Ireng Kemilau. (RH)

__ADS_1


__ADS_2