
*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*
Iwak Ngasin dan Juling Jitu sudah berada di atas perahu dalam kondisi basah kuyup.
“Pa-pa-pangeran ku-ku-ku ….”
“Kura-kura?” terka Anjengan memotong perkataan Gagap Ayu.
“Bu-bu-bukan! Pangeran kurang ajar!” tandas Gagap Ayu.
“Benar. Aku muak melihat tingkahnya!” kata Juling Jitu.
“Berani-beraninya dia mau menampar lelaki pujaan kita, Ayu,” kata Anjengan pula.
“Alma, kenapa dia menyebutmu calon istri?” tanya Iwak Ngasin.
“Pangeran itu pernah mengajakku menjadi istrinya dua tahun lalu, tapi aku menolaknya. Hahaha!”
“Kau sekarang adalah seorang ratu, meski hanya sekedar Ratu Siluman Ikan. Jadi seharusnya kau yang memilih pasangan, bukan kau yang dipilih,” kata Iwak Ngasin.
“Be-be-be ….”
“Betul?” terka Juling Jitu memotong kegagapan Gagap Ayu.
“Ka-ka-kali ini kau pintar, Jitu. Hihihi!” puji Gagap Ayu.
“Benar, Alma. Jika aku yang menjadi Ratu Laut, aku yang akan memilih, bukan aku yang dipilih. Aku akan memilih lelaki sebanyak yang aku mau,” kata Anjengan.
“Alma, lihat!” seru Juling Jitu keras sambil menunjuk ke arah darat.
Mereka semua segera pusatkan pandangan ke arah darat.
“Mereka membuat dinding mayat,” ucap Iwak Ngasin yang bisa memastikan bahwa apa yang mereka lihat adalah dinding dari tumpukan mayat yang sangat banyak.
“Mengerikan,” ucap Juling Jitu.
“Itu ma-ma-mayat prajurit Si-si-singayam!” sebut Gagap Ayu memperjelas.
“Pasukan Kerajaan Singayam terhadang,” kata Iwak Ngasin.
Di jalan darat, Pasukan Pamungkas pimpinan Pangeran Derajat Jiwa sudah muncul mendekati ke posisi tumpukan mayat prajurit Singayam yang mungkin jumlahnya ratusan, sehingga membentuk seperti dinding yang tinggi.
Mayat-mayat itu adalah para prajurit dari Pasukan Pertama pimpinan Arung Seto yang sebelumnya dibantai. Setelah Arung Seto dan sisa pasukan berkudanya kabur, para bajak laut bekerja dengan cepat menumpuk mayat-mayat yang bergelimpangan di jalan pinggir sungai.
“Perahu kita dihadang,” ujar Anjengan sambil memandang ke depan, ke arah hulu.
Alma dan yang lainnya juga memandang ke depan.
Ternyata ada tiga buah rakit bambu di sebelah depan. Ketiga rakit itu hanya mengambang di posisinya karena tertahan oleh galah yang ditancapkan ke dasar sungai. Setiap rakit dinaiki oleh dua orang berperawakan pendekar bajak laut.
Keenam lelaki di atas rakit memiliki tubuh yang besar-besar. Namun, mereka harus terkejut ketika melihat seekor ular hitam besar yang berenang telah mendirikan kepala dan badan atasnya.
__ADS_1
Alma Fatara lalu berkelebat di udara dan mendarat berdiri di atas kepala Mbah Hitam.
“Paman-Paman! Kakang-Kakang! Tidak ada hukuman yang pantas untuk kalian selain kematian!” seru Alma Fatara.
“Siapa pun kau, jangan kau pikir ular besarmu itu bisa menakuti kami! Kami sudah sering membunuh makhluk laut yang jauh lebih besar dari ular itu!” teriak salah seorang dari lelaki di atas rakit bambu, dia adalah Si Keong Samudera.
“Kita lihat, sehebat apa kalian sebagai bajak laut!” seru Alma.
“Kau bisa lihat betapa banyaknya mayat-mayat di atas sana. Dan sebentar lagi, mayat yang lebih banyak akan segera bergelimpangan! Hahaha!” sesumbar Si Keong Samudera.
Dari tempatnya berdiri, Alma Fatara bisa melihat keberadaan benda-benda besar yang ada di dalam air sungai. Bayangannya bisa terlihat jelas oleh Alma. Posisi benda-benda yang Alma duga adalah senjata jebakan itu, berada tepat di bawah posisi ketiga rakit yang menghadang.
Sementara itu Alma tidak bisa melihat keberadaan anggota bajak laut yang bersembunyi di darat, tetapi ia bisa merasakan keberadaan beberapa orang yang bersembunyi di balik dinding mayat.
Sementara itu di sisi atas.
Pasukan Pamungkas sudah berhenti sepuluh tombak dari dinding mayat. Pangeran Derajat Jiwa, Arung Seto dan pasukannya hanya bisa tergidik ngeri melihat tumpukan mayat itu. Mereka menyaksikan bagian dari kekejaman dan kengerian sebuah perang.
Mereka harus berhenti pada jarak itu karena di atas tanah jalan di depan mereka berserakan batu-batu sebesar-besar kepalan tangan. Banyaknya batu yang ditabur sepanjang sepuluh tombak itu memang bisa mengganggu pergerakan kaki para prajurit.
“Mereka bisa bekerja dengan sangat cepat,” ucap Arung Seto tegang. Ia tahu bahwa pembangunan dinding mayat dan pemasangan batu di jalan dilakukan dengan sangat cepat.
“Keparat setan mereka!” maki Derajat Jiwa. Tanpa pikir panjang, dia lalu memerintah, “Pasukan pertama, robohkan dinding mayat itu!”
“Majuuu!” teriak pemimpin prajurit pertama.
Maka sebanyak seratus prajurit bersenjata tombak dan tameng segera bergerak maju ke depan. Mereka melewati jalan berbatu.
“Pasang siaga tameng!” teriak pemimpin prajurit.
Maka seratus prajurit itu bergerak cepat, tapi berhati-hati dengan cara memasang perisai di depan tubuh mereka.
Set set set …!
Teb teb teb …!
“Aak! Akk! Akh!”
Tiba-tiba dari dinding mayat yang sedang didekati itu berlesatan anak-anak panah kecil-kecil menyerangi pasukan yang mendekat.
Kesiagaan pasukan itu membuat nak-anak panah bertancapan di tameng-tameng kayu. Meski ada beberapa prajurit yang terkena juga. Dan ternyata, anak panah-anak panah itu telah diolesi racun. Jadi meski terkena satu panah kecil, tapi itu bisa membunuh.
“Bertahan!” teriak pemimpin prajurit.
Pasukan itu cepat membentuk mode bertahan dengan turun lebih rendah berlindung di balik tameng.
Pangeran Derajat Jiwa dan Arung Seto terkejut melihat ada senjata pada dinding tumpukan mayat.
Anggota Bajak Laut Ombak Setan memang memasang banyak pipa-pipa bambu. Selain untuk memperkuat dinding mayat itu, pipa-pipa tersebut juga berfungsi sebagai laras panah, tempat keluarnya panah-panah yang ditembakkan dengan sistem perangkat khusus.
“Maju sepuluh langkah!” teriak pemimpin prajurit.
Drap drap drap!
__ADS_1
Seratus prajurit yang sudah berkurang itu serentak maju sebanyak sepuluh langkah, sambil tetap berlindung di balik perisai.
Tidak ada serangan dari dinding mayat.
“Maju dua puluh langkah!” teriak pimpinan prajurit agar semakin dekat ke dinding.
Drap drap drap!
Pasukan itu kembali maju bersama dalam barisan yang begitu rapat.
Set set set …!
“Berlindung!” teriak pemimpin prajurit keras.
Serentak para prajurit itu berjongkok dan berlindung di balik perisainya, ketika puluhan anak panah berlesatan dari pipa-pipa bambu kecil di dinding mayat.
Teb teb teb …!
“Akk!” jerit seorang prajurit yang terkena anak panah di saat panah yang lain menancap di perisai rekan-rekannya. Namun, hanya dia seorang yang harus tewas.
“Maju dobraaak!” teriak pemimpin prajurit keras. Ia menduga bahwa setelah anak panah dilepaskan, pasti ada kekosongan sejenak di busurnya.
“Seraaang!” teriak para prajurit itu sambil berlari kencang beramai-ramai.
Beberapa prajurit harus mengalami terkilir kakinya karena menginjak bebatuan yang berserakan. Namun, itu tidak menjadi kendala berarti. Sebab, pasukan itu akhirnya sampai kepada dinding mayat yang tingginya lebih tinggi dari kepala mereka.
Dengan menggunakan perisai, para prajurit itu menghantam dinding mayat dengan sekuat tenaga.
Dorongan oleh orang banyak itu akhirnya membuat dinding mayat bergerak doyong ke arah belakang dinding.
Blugk blugk blugk!
Maka mayat-mayat prajurit yang posisinya di atas pada berjatuhan seperti benda mati yang pasrah. Pada akhirnya, dinding mayat itu roboh separuh, tetapi mereka sudah bisa melihat apa yang ada di belakang dinding mayat.
“Woi woi woi! Hahaha!” teriak enam orang bajak laut yang sejak tadi bersembunyi di balik dinding mayat, lalu tertawa, seolah-olah kedudukan mereka tetap di pihak yang akan menang.
Keenam anggota bajak laut itu masing-masing membawa dua buah guci pada kedua tangannya. Sementara itu, masih ada sejumlah guci lain yang diletakkan di tanah yang masih basah oleh darah.
Guci-guci yang berisi minyak itu lalu dilempar jauh ke depan.
Prak! Prak! Prak!
Keenam guci minyak itu jatuh dan pecah di atas tumpukan mayat dan mengenai tubuh prajurit yang berkumpul di depan dinding mayat yang tinggal setinggi pinggang.
“Minyak! Munduuur!” teriak pemimpin prajurit. Ia cepat membaca situasi.
Sementara itu, salah satu anggota bajak laut sudah siap memanah dengan anak panah yang sudah berapi. Lelaki berusia tiga puluhan tahun itu hanya tersenyum setan sambil membidikkan panahnya. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ayo baca, like dan komen juga di chat story Om Rudi yang berjudul "Narator Horor"!
__ADS_1